
"Katakan padaku Rain, semua ini bohong kan? Apa maksud mu melakukan kebohongan seperti ini pada ku?" Tajam Adam pada Rain yang duduk di depannya.
"Rain!" Bentak Adam saat Rain hanya menundukkan wajahnya tanpa berani menatap mata hitam milik sang atasan.
Sudah tiga puluh menit mereka berada di restoran hotel Ibis, tempat dimana orang pemerintah ingin bertemu. Namun selama mereka menunggu hingga detik ini tidak ada tanda-tanda pegawai pemerintah yang datang menemui mereka. Hingga Adam tersadar jika semua hanya akal-akalan Rain saja.
"Rain!" Panggil Adam untuk kesekian kalinya.
"Maaf," lirih perempuan berambut sebahu dengan menunduk.
"Astagfirullah halazim Rain! Apa yang sebenarnya ada di otak kamu kenapa kamu sampai bohong seperti ini?"
Adam meremas gelas air putih di tangannya sebagai tanda dia marah.
"Maaf pak, saya melakukan semua ini demi bapak," jujur Rain takut.
Adam menghela nafas sebelum kembali bersuara.
"Apa maksudnya ucapan mu itu Rain?" Dengan suara sedikit melunak.
Rain meremas sisih kanan kiri rok hitamnya, mencoba meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apapun padanya. Berlahan dia mengangkat wajahnya menatap Adam, "saya melakukan itu supaya bapak tidak pergi dengan Bu Monic. Saya tidak suka bapak pergi bersama dia."
"Karena itu kamu bohong dan mengatakan kalau kita ada rapat, begitu? Biar aku tidak pergi dengan Monica?" Adam mencoba mengeklarifikasi.
Rain mengaguk.
"Kenapa kamu sampai bertindak sejauh ini. Biasanya kamu tidak pernah kelewat batas, Rain."
"Karena saya tidak suka dengan Bu Monica pak. Dia tampak terang-terangan mengoda bapak. Saya hanya tidak ingin image baik bapak di kantor turun gara-gara perselingkuhan bapak dengan Bu Monic."
Rain mencoba menyuarakan maksud hatinya. Karena selama ini dia terlalu mengagumi sosok Adam yang baik dan perhatian pada semua karyawannya. Bahakan Adam sering mengingatkan Karyawan prempuannya untuk berhati-hati dalam berbusana, jangan terlalu seksi supaya tidak membuat para pria yang melihatnya jadi n*fsu yang berujung melakukan p*lecehan s*ksual terhadapnya.
Tapi nyatanya Adam sendiri malah akhir-akhir ini dekat dengan Monica yang setiap datang ke kantor selalu berpakaian seksi dan kurang bahan.
Rain tidak suka mendengarkan gosip para karyawan yang menjelek-jelekkan Adam karena kedekatannya dengan Monica, karena itu dia selalu bersikap judes dan galak sama Monic berharap perempuan itu tidak datang ke kantornya lagi. Tapi Monica terlalu tidak tahu malu, dengan sikap Rain yang menyebalkan juga dia masih datang setiap hari untuk mencari Adam.
"Kamu berfikir terlalu jauh Rain. Aku dan Monica gak ada hubungan apa-apa. Tidak menjalin hubungan seperti yang kamu tuduhkan. Apa lagi sampai selingkuhan!" Sangkalan Adam, karena kenyataannya memang begitu bukan.
"Saya tidak tahu bapak memiliki hubungan atau tidak dengan Bu Monic, tapi saya melihat bapak menciuminya di sofa kemarin dan itu sukses membuat saya salah paham," jujur Rain sambil menunduk, dia malu sekaligus takut jika Adam marah.
Adam yang duduk di depannya seketika terbatuk karena tersedak ludah sendiri saat mendengar pengakuan Rian.
"Ka ka kamu mengintip ku Rain?" Tanya Adam tidak percaya juga malu karena aksi mesumnya terciduk oleh sekretaris sendiri.
Cepat Rain mengelengkan kepalanya, "tidak pak, buka begitu."
__ADS_1
"Terus?"
Adam menatap tajam, menjelajahi wajah di depannya dengan tatapan tidak suka, membuat udara di sekeliling Rain menipis seketika hingga dia merasa sesak nafas.
"Bu..bu..bukan begitu pak. Hanya tidak sengaja. Saat saya masuk..." Rain tidak meneruskan kata-katanya.
Dia hanya mencoba tersenyum menampilkan wajah tak berdosa.
"Harusnya kamu ketuk pintu dulu kalau mau masuk ruangan saya," kesel Adam.
Rain pun menjelaskan maksudnya jika siang itu dia akan memberi beberapa berkas yang harus Adam tanda tangani, dia sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban dari Adam yang berujung dia membuka pintu begitu saja, dan ternyata dia melihat Adam sedang mencium mesra Monica di sofa. Lantaran malu melihat adegan mesum itu Rain keluar lagi dengan badan gemetaran karena shock.
"Bapak telah menodai mata suci saya!"
Hardik Rian sambil menutup mata dengan kedua tangannya. Sedangkan Adam, sungguh malu dia mendengarkan penjelasan sang sekretaris.
Bagi Rain Adam sudah dianggap sebagai kakak sendiri karena itu dia ingin membebaskan sosoknya dari jeratan wanita jadi-jadian seperti Monica.
Ada rasa tidak rela jika Adam yang baik harus rusak begitu saja. Karena Adam memang yang mengajari Rain jadi sekertaris yang dulu tidak tahu apa-apa sampai bisa seprofesional ini.
Selain itu dia juga tahu Adam sudah menikah, meskipun Rain tidak terlalu kenal dengan Rara, dan mereka juga bertemu hanya dua kali dan itu juga cuma sebentar, tapi Rain tahu hati perempuan itu sama. Pasti bakal terluka jika tahu suaminya selingkuh. Dan Rain juga memberitahukan Adam bagian perasaan Rara jika melihat itu semua.
"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan Rain. Dan aku juga berterima kasih kamu ikut memikirkan rumah tangga ku. Tapi perlu kamu ketahui kalau aku dan Bu Monica itu tidak memiliki hubungan khusus seperti yang kamu bayangkan selama ini. Mengenai apa yang kamu lihat itu adalah suatu kesalahan yang memang seharusnya tidak terjadi."
Rain mengaguk.
Rain setuju dengan permintaan Adam.
"Saya akan menyimpan dengan rapat pak."
"Bagus. Terimakasih Rian."
"Tapi sebagai tutup mulut bapak harus traktir saya makan siang sekarang," ucapnya sambil nyengir.
"Makan saja apa yang kamu mau. Saya traktir sampai puas," kata Adam.
"Hore... makasih pak. Bapak memang yang terbaik," jawab Rain dengan cengiran yang khas dan wajah tanpa malunya seperti biasa.
Adam menjentikkan jarinya memanggil pelayan agar mendekat, untuk memulai memesan menu makan siang mereka berdua.
****
'Brak!'
Monica menutup pintu ruang kerja Marcell dengan kencang hingga pria itu refleks memegang dada, kaget karenanya.
__ADS_1
Monica sangat kesal, dia jalan dengan menghentak-hentakan kakinya mirip ABG yang sedang ngambek. Melemparkan tas tangan begitu saja ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya pada kursi single yang berada di depan meja kerja Marcell.
Marcell memang tahu jika pacarnya sulit dalam mengendalikan emosi, tapi dia tidak pernah melihat perempuan cantik itu sampai bersikap sekasar ini. Mirip kuntilanak kesurupan.
"Aku tuh kesal banget tahu sama Rain. Kenapa gadis itu bersikap sok kecantikan begitu. Benar-benar menyebalkan," curhat Monica menggebu-gebu dengan tangan meremas kertas di meja Marcell menahan geram.
"Padahal aku kesana mau traktir dia makan siang. Bukanya niat baik ku di sambut dengan baik malah dia berulah. Menolak gitu aja. Sok sibuk, bilang gak bisa, ada rapat dan banyak lagi alasan yang dia keluarkan. Membuat aku pengen mencabik-cabik mukanya itu.
Tampangnya saja polos dan innocent tapi nyatanya mulut dia itu mirip ular berbisa. Beracun dan menyebalkan."
Marcell hanya menjadi pendengar yang baik untuk Monica, membiarkan kekasihnya mengeluarkan emosi dan kekesalannya tanpa menyela. Karena kalau dia ikut ngomong urusannya bakal panjang dan dia juga bisa kena amuk yang berujung tidak dapat jatah dari Monic.
Marcell juga tidak tahu kenapa Rain begitu benci pada pacarnya padahal mereka juga baru kenal, dan belum lama. Awal mereka ketemu keduanya baik-baik saja Rain begitu ramah pada Monica.
Tapi semakin kesini, sekertaris Adam itu tidak suka dengan Monica, malah terbaca jelas dari bahasa tubuhnya jika gadis itu menabuh genderang perang pada sang pacar.
Dan sebab utama masalah itu dia tidak tahu, begitu pun Adam. Membuat keduanya tidak mau terlalu pusing dengan urusan perempuan yang setia ketemu bagaikan kucing dan anjing.
"Sabar sayang! Mungkin mereka beneran sibuk," Marcell mengelus pucuk kepala Monica dengan lembut, mencoba menenangkan sang pacar.
"Aku tuh dan sabar loh beb. Tapi Rain tuh benar-benar kelewat batas," jawab Monica sambil menatap Marcell, menunjukkan betapa kesalnya dia.
"Jadi mau kamu gimana? Biar kekasihku yang cantik ini gak kesal lagi?" Tanya Marcell sambil mencium pipi Monica sekilas.
Monica memang mudah marah, tapi mudah juga ditenangkan. Dengan kata-kata manis dan rayuan gombal sedikit saja Monica sudah luluh kembali dan membuang semua kemarahannya.
Kebersamaan mereka yang lebih dari dua tahun ini membuat Marcell banyak tahu karakter Monica dan cara menangani gadis itu.
Monica tidak bisa dikasari, orang nya cenderung egois dan mau menang sendiri. Selain itu Monica juga haus kasih sayang dan perhatian. Dia selalu mencari cara supaya orang lain pemperhatikan dirinya.
Kata psikiater yang menangani dia beberapa waktu lalu, sifat Monica yang seperti itu efek dari gagalnya rumah tangga dia yang pertama. Suami yang sering melakukan KDRT dan ketidak pedulian anggota keluarga yang lain pada dirinya membuat dia selalu haus perhatian.
"Aku maunya kamu marahin Rain," biar dia kapok.
Tutur Monica sambil bergelayut manja dia lengan Marcell.
"Ok. Nanti biar aku bilang sama Adam. Biar Rain di pecat dan ganti sekertaris baru."
"Makasih sayang."
Monica mencium bibir Marcell sebagai ungkapan terimakasihnya dan Marcell pun membalas perbuatan sang kekasih dengan suka rela.
Setelah beberapa saat saling berciuman, keduanya berjalan keluar kantor untuk makan siang. Dengan tangan Monica memeluk lengan Marcel secara positif.
****
__ADS_1
Jangan lupa. Berikan vote dan bunga untuk Rara.