
Adam baru saja selesai menjemur handuk yang barusan dia gunakan di teras belakang ketika kedua keponakannya Wahid dan Azam datang menghampiri dirinya.
"Lek, pinjem mobil remote sama robot Ali yang kemarin!" Pinta Wahid, "tadi kami sudah bilang sama Ali. Kata Ali mainannya di simpan di lemari," lanjut bocah itu, yang di yakinkan dengan anggukan Azam yang berdiri di sebelah sang kakak.
Ali memang membawa beberapa main saat berkunjung di rumah Ratna guna dia bermain di sana.
Anaknya itu memang punya banyak mainan di rumah. Satu kamar penuh, dengan berbagai variasi harga. Mulai dari harga seribu rupiah sampai harga jutaan rupiah.
Ali punya dua set super city Garage, yang harganya lebih dari dua juta. Ada juga kereta api lengkap dengan gerbang, rel, stasiun dan perumahan penduduk desa dengan hiasan lampu warna warni yang ada taksir harga hampir lima juta.
Entah siapa yang membelikan mainan Ali dengan harga semahal itu. Apakah dia itu Rangga, mama, papa ataupun Rara, karena jujur jika Adam sendiri dia tidak pernah memberikan mainan pada Ali dengan harga fantastis begitu.
Meski dia kaya tapi rasanya berlebihan jika untuk anak seusia Ali saja harus punya mainan yang harganya lima juta, tapi nyatanya Ali memang punya banyak mainan yang bahkan anak-anak seusianya tidak bakal mampu membeli.
Adam mengamati dua ponakannya yang masih mengenakan baju kemarin sore, terlihat jelas jika keduanya belum mandi.
Entah apa yang dikerjakan Lani hingga jam sembilan pagi begini anaknya belum ada yang mandi? Jika itu Ali tentu Adam akan marah pada istrinya karena melihat anaknya masih rembes begitu. Untung Rara tipe ibu yang pengertian dan cinta kebersihan jadi jam tujuh pagi adalah waktu maksimum untuk Ali bermalas-malasan.
"Kalian berdua mandi dulu baru nanti balik lagi kesini. Kalau belum mandi gak lek kasih pinjam mainan Ali," tutur Adam memberitahu.
"Iya lek," jawab Wahid sambil mengandung tangan adiknya untuk pergi dari rumah sang nenek.
"Nanti mainannya lek taruh ruang tamu ya. Jadi kalian bisa main disana," sambung Adam.
"Iya lek," jawab Azam.
Kemudian kedua adik kakak itu pergi ke luar rumah lewat pintu samping yang ada di ruang keluarga.
Adam memang di rumah sendirian, karena Rara, Ali dan ibu mertuanya pergi ke pasar untuk berbelanja sehabis mereka sarapan tadi. Sedangkan Adam yang tadi malam pergi dengan Jamal dan baru pulang jam tiga pagi tadi memilih untuk tidur lagi sehabis sholat subuh ketimbang ikut ke pasar, karena dia memang masih ngantuk sekali.
Adam kembali ke kamar untuk mencari dimana mainan Ali berada.
Pria itu membuka pintu lemari baju Rara seperti yang di infokan Wahid tadi, tapi Adam tidak menemukan mainan putra di lemari tiga pintu itu, padahal papa Ali sudah mencari-cari mainan itu di sela-sela gamis sang istri yang tergantung di lemari gantung. Siapa tahu mainan itu ketutup baju pikir Adam. Namun nyatanya nihil, dia tidak menemukan apapun disana.
Dimana Ali naruh mainan itu? Pikir Adam, sambil matanya memindai seluruh sudut kamar sang istri.
"Mungkinkah di lemari buku?" Guman Adam.
Pria itu berjalan mendekati bufet berisi buku milik Rara yang di desain gabung dengan meja belajar sekaligus.
Adam membuka satu persatu pintu laci bagi bawah lemari hingga mata menemukan main Ali tergeletak di sebelah box yang ada di dalam bufet.
"Box apa ini?" Tanya Adam yang di buat penasaran oleh kotak barang yang modelnya lumayan unik meski sedikit berdebu. Mungkin karena lama tidak tersentuh.
Setelah mengeluarkan mobilan milik Ali, Adam mengeluarkan kotak berbentuk kubus dengan tinggi 30cm yang terbuat dari triplek dengan gambar lukisan mawar merah dari dalam lemari. Selama dia menjadi suami Rara baru kali ini Adam melihat kotak itu di kamar sang istri.
Adam menghentikan gerakan tangan yang hendak membuka penutup box itu karena mendengar ketukan dari luar.
Diambilnya mobil remote dan robot milik Ali untuk di serahkan pada ponakannya yang menunggu di balik pintu.
"Main di rumah saja, jangan jauh-jauh!" Pesan Adam pada keduanya.
"Iya lek," jawab Wahid.
Setelah menyerahkan Bumblebee pada Azam kedua bocah itu pergi dari kamar Adam.
__ADS_1
Adam membuka tutup box itu, dan betapa terkejutnya saat dia melihat isi dalamnya.
***
Rara yang baru pulang dari pasar memarkirkan motor maticnya di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah sang ibu.
Berjalan masuk dengan membawa tas jinjing yang penuh dengan belanjaan. Di belakangnya menyusul Ali dengan tiga permen kapas warna pink di tangan, yang sengaja dia beli untuk di bagian pada Wahid dan Azam.
"Kalian main di sini sendiri? Lek kemana?" Tanya Rara pada ponakannya.
"Ada di kamar Bi," jawab Wahid.
Apakah mas belum bangun? Pikir Rara, karena tadi saat mereka pergi suaminya masih tidur karena semalaman dia pergi dengan temannya dan pulang hampir subuh, bahkan saat di bangunkan untuk sarapan juga Adam bilang nanti saja.
Rara menaruh belanjaan di dapur, lalu cuci tangan dan cuci kaki, kemudian dia kembali melangkah ke kamar.
Rara mengetuk pintu kamar sebagai formalitas, kemudian dia membuka pintu itu dan masuk.
"Mas!"
Panggil Rara pada Adam yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
"Sudah ma..."
Kata-kata Rara terhenti saat dia melihat kotak barang pemberian Rangga tergeletak dilantai begitu saja, sedangkan isinya berhamburan di atas kasur tempat tidur.
"Mas!"
Tidak ada sahutan.
Rara yang sudah tahu tabiat suaminya, merasa takut dengan ekspresi Adam saat ini. Karena ekspresi Adam lebih menakutkan dari pada saat dia marah karena Rara minta cerai dulu.
"A-ada apa?"
Tanya Rara gugup, ketika Adam tiba-tiba berdiri tepat di depannya.
"Bisa kau jelaskan ini?!"
Tanya Adam dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding.
Rara mundur selangkah saat Adam mengacungkan kertas-kertas yang sudah sangat dia kenali.
"Jelaskan semua ini!"
Ulang Adam sambil melemparkan surat-surat dan puisi dari Rangga dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.
"I-itu, itu dari mana kamu mendapatkannya?"
"JAWAB!"
Bentak Adam dengan suara keras menggelegar memenuhi kamar mereka berdua.
Rara terlonjak kaget dengan bentakan Adam yang lebih dari biasanya, membuat dia pucat dan terdiam seketika.
"Kemana suaramu? JAWAB?!"
__ADS_1
"Mas, i-itu..."
Rara tidak tahu harus berkata apa, jantung nya terpacu dengan cepat. Ekspresi Adam membuat dia begitu takut hingga membuat tenggorokannya seolah terhalang benda besar yang menghalangi suaranya.
"Jadi semua ini dari pria mu itu? Lelaki kere yang menjadi selingkuhan mu itu?"
Adam terkekeh saat mengatakan itu semua.
Rara mengeleng. Menunduk menatap lantai, nafasnya naik turun tak beraturan.
"Siapa? Siapa si R kurang yang sudah berani bermain-main pada pernikahan kita. Katakan?"
Bentak Adam sambil mencengkram kedua bahu Rara.
"Katakan! Siapa mantan sialan mu itu?! Orang yang berencana membawa mu kabur jika kamu tidak bahagia hidup bersama ku?"
Karena sedari tadi Rara hanya diam saja, membuat emosi Adam semakin menjadi hingga pria itu menendang pintu lemari kaca hingga hancur berantakan. Membuat Rara membelalakkan matanya, tak percaya.
Air mata Rara yang mengenang di pelukan jatuh seketika. Rara tidak tahu jika reaksi Adam yang mengetahui tentang mantannya akan sangat berlebihan seperti ini, hingga membuat suaminya berubah jadi raja iblis seketika.
"Apa kau berencana kabur bersamanya?"
Adam mencengkram pipi Rara dan menekannya dengan kuat.
"Masss....sakittt...."
"Sakit kata mu? Lebih sakit hatiku saat ini, Brengsek!"
Adam melepaskan cengkramannya dari pipi Rara, sampai Rara terhuyung kebelakang dan menabrak dinding. Membuat prempuan itu menangis. Tubuhnya bergetar.
"Kenapa kamu menangis, hah? Kemari!"
Adam mencengkram lengan Rara dan menariknya dengan kasar sehingga tubuh Rara menabrak tubuh jangkungnya.
Otak Adam serasa mendidih saat melihat isi box milik istrinya yang berisi semua barang-barang dengan inisial R. Adam jelas tahu semua barang itu bukan pemberiannya. Karena dia tidak mungkin memberikan barang murahan begitu pada istrinya.
Ada switer putih bersulamkan huruf R di bagian dadanya, ada sepatu putih, ada hijab bersulamkan R, boneka panda dengan huruf R, Tedy bear dengan huruf R.
Ada sebuah kotak perhiasan yang berisi kalung berbandulkan sebelah hati, yang mungkin melambangkan jika hati mereka terpisah karena Rara menikah dengan Adam. Ada kalung emas dengan inisial R ♥️ R, begitu pun juga gelang tangan dan juga gelang kaki berinisial sama.
Mahkota dari bunga, cincin dari rumput liar. Serta banyak kartu ucapan dan kertas-kertas yang berisi puisi cinta dari R.
Yang lebih membuat Adam marah adalah surat cinta dari R yang di kirimkan pada istrinya setahun yang lalu. Disana si pria sialan itu berkata akan membawanya pergi dari Adam jika sekiranya Rara tidak bahagia.
Adam merasa benar-benar di khianati oleh istrinya saat ini. Dia yang mencintai Maelin saja tidak menyimpan barang-barang kekasih dalam kehidupan Adam selama ini, tapi Rara? Benar-benar sesuatu yang tidak bisa di maafkan.
Membuat Adam serasa ingin menghabisi keduanya secara bersamaan biar hatinya puas.
"Kenapa kau menangis? Kamu menangis karena aku mengetahui rencana mu kabur dengan pria sialan itu?"
Rara mengeleng cepat.
"Kamu, kamu salah paham mas!"
*****
__ADS_1
Yang belum kasih vote silahkan kasih vote, yang belum kasih hadiah di tunggu!