Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 135. Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Setelah makan malam Elisa datang ke kamar Rara membawa beberapa paper bag berisi baju dan beberapa main sebagai oleh-oleh untuk Ali. Semua itu Elisa beli saat mereka jalan-jalan kemarin, rencana mau dia berikan ketika sudah sampai di Pekanbaru saja namun apalah daya koper Elisa sudah tidak muat lagi jadi dia pikir di berikan sekarang saja pada Rara biar besok saat sampai rumah tidak harus buru-buru bongkar koper ketika hendak mengantar Rara pulang.


Ketika membuka kamar Elisa melihat Rara masih berkemas. Dia baru melipat baju-baju yang habis dari jemuran sore tadi.


"Nih buat Ali."


Elisa meletakan tas kertas di dekat Rara.


"Apaan?" Istri Adam menatap Elisa, kemudian menoleh pada barang-barang di sebelahnya.


"Oleh-oleh buat Ali dari aku. Packing sekalian karena koper aku udah gak muat."


"Oke. Makasih ya?" Ucap tulus Rara.


Mereka yang datang ke Bali tidak membawa apa-apa kini pulang dengan banyak barang. Elisa membawa sebuah koper ukuran jumbo yang isinya oleh-oleh semua, baik untuk tetangga maupun untuk asisten rumah tangganya.


Sedangkan Rara yang tidak pernah ke liburan ke Bali lebih parah lagi. Dia pulang dengan dua buah koper ukuran sama besar dengan milik Elisa. Isinya berbagai macam barang. Ada oleh-oleh, makanan, sovenir dan lainnya.


Setelah membantu Rara berkemas kedua keluar kamar untuk nonton tv sambil makan cemilan sehat yang sudah di siapkan oleh Mbak Ida. Kebetulan karena malam ini mereka memang tidak ada jadwal main di luar.


Berhubung besok penerbangan mereka pagi, jadi Elisa pikir lebih baik istirahat di rumah ketimbang keluar, supaya tidak terlambat bangun.


Mereka nonton Drakor dari Netflix bergabung dengan kedua anak gadisnya Mbak Ida yang memang pecinta Drakor sejati.


Saat sedang asyik-asyiknya nonton sambil bercerita terdengar suara bising di halaman villa. Lisa yang tahu jika itu suara helikopter langsung antusias menyambut kedatangan sang suami.


Tadi Anderson memang memberikan jika urusan sudah selesai dan akan kembali ke Indonesia, tapi Elisa tidak menyangka jika secepat ini.


Mereka Makai hijab sarung masing-masing yang tersampir di punggung sofa. Rara senang Anders datang meski tidak seantusias sang Elisa. Mereka bergegas turun ke bawah untuk membuka pintu. Elisa jalan lebih dulu dan Rara dibelakangnya.


Elisa yang membuka pintu depan tampak terkejut saat yang datang bukan Anderson sang suami, melainkan sosok pria tampan yang sedang mengendong anak kecil di depannya. Mengerjapkan matanya dua kali.

__ADS_1


'Siapa nih tamu tak di undang ganteng gini?' guman hati Elisa.


Elisa pikir itu hanya ilusi semata saat melihat ada pria tampan malam-malam begini mendatangi villanya, sehingga istri Anders hanya terdiam di depan pintu yang setengah terbuka, bahkan sebelah tangannya masih menggengam ganggang pintu.


"Permisi!"


Adam yang melambaikan tangan di depan wajah Elisa membuat gadis itu tersadar dari rasa kagumnya, merasa malu wajah Elisa merah bagikan udang goreng.


Setelah menguasai diri dengan cara pura-pura batuk kecil beberapa kali untuk mengusir canggung, Elisa hendak bertanya siapa mereka ketika lebih dulu mendengar suara Rara dari belakang punggungnya.


"Mas Adam!"


Adam yang hendak berbicara pada Elisa mendogak, menatap kearah sumber suara itu berasal. Begitupun Elisa langsung memutar kepalanya kebelakang menatap Rara.


"Rara!" Panggil Adam dengan perasaan luar bisa lega saat melihat istrinya lagi.


Elisa yang menyadari jika pria tampan di depannya adalah suami Rara, menyingkirkan, mempersilahkan mereka masuk, membiarkan pasangan suami istri yang sedang bermasalah itu melepas rindu.


'Memang ganteng suami Rara. Pantes saja jadi rebutan. Sampai mantannya saja gak bisa move on meski sudah punya anak dua', guman Elisa dalam hati.


"Mama!"


Panggil bocah itu. Ali menangis. Adam memberikan Ali dari gendongannya pada Rara.


"Kenapa mama ninggalin Ali? kenapa mama pergi ninggalin Ali? Mama jahat, mama gak sayang sama Ali!" Rancau bocah itu sesegukan sambil memeluk erat Rara seoalah takut jika dia lepas sang mama akan Gilang lagi.


"Maafkan mama sayang, Maaf!" Kata Rara penuh rasa sesal.


Rara menghapus air matanya yang mengalir turun. Dia memang bodoh, sudah bersikap ceroboh meninggalkan putranya begitu saja. Padahal selama Enam tahun Ali selalu bersamanya, selalu di sisinya dan bisa-bisanya Rara meninggal putranya begitu saja tanpa kabar sama sekali.


Adam yang melihat itu hanya diam tak berkomentar, meski dalam hati dia memakai dirinya sendiri, mengutuk karena kebodohannya dan keegoisannya anak istrinya yang harus jadi korban.

__ADS_1


Menyadari tubuh putranya yang hangat Rara pun kembali bertanya, "Ali sakit?"


"Dia gak mau makan ataupun minum susu sebelum ketemu kamu. Dia maunya makan di siapin sama kamu gak mau sama yang lain," adam menjawab pertanyaan istri.


"Kalau dia kurang sehat kenapa dibawah kesini segala? Kenapa tidak di biarkan istirahat di rumah. Di rumah kan ada mama, ada papa, ada Rangga juga yang bisa jagain Ali," Protes Rara sedikit marah.


Sebegitu takutnya kah Adam jika Rara tidak mau pulang ke rumah sampai Ali yang sakit saja dia ajak menjemput dia, pikir Rara.


Adam mengeleng, kemudian kembali berucap, "kamu kayak gak kenal anak mu aja. Bagaimana keras kepalanya dia. Karena dia maksa buat ikut makannya aku bawa dokter Nanda dan perawatannya untuk menjaga Ali saat di perjalanan. Karena kalau terjadi apa-apa pada Ali pasti kamu bakal nyalahin aku lagi. Lebih malah."


"Jelas iya." Jawab Rara tak acuh.


Melihat anaknya kurang enak badan, Rara membawa Ali ke kamar supaya istirahat, sedangkan Adam mengikuti dari belakang. Melihat istrinya Adam tidak mau lepas sedikit pun dari Rara, takut jika dia berkedip Rara akan menghilang lagi.


Sedangkan Elisa mempersilahkan para tamunya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


Berhubung mereka bilang sudah makan malam saat Elisa tanya makan istri Anders hanya meminta Mbak Ida menyiapkan minum dan makanan ringan untuk menjamu mereka.


Totalnya ada lima beserta Adam. Empat laki-laki dan satu perempuan. Pilot helikopter langsung pergi begitu penumpang sudah turun semua.


Kebetulan di villa ada beberapa kamar tamu yang masih kosong sehingga Elisa menyarankan malam ini mereka menginap di villa saja. Besok pagi jika tidak buru-buru langsung pulang boleh jika mau pindah ke hotel.


Dan sambil menunggu mbak Ida mempersiapkan kamar mereka bisa istirahat dan ngobrol-ngobrol dulu.


Sedangkan di dalam kamar.


Adam yang melihat Rara merebahkan putranya di atas ranjang pun buka suara, "Sehari ini Ali belum makan loh Ra."


Rara yang paham maksud terselubung suaminya untuk menyuapi anaknya bertanya pada putranya sebelum bocah itu lanjut tidur.


"Ali maem dulu ya? Mama buatkan bubur Jamur kesukaan Ali, mau kan?" Tanya Rara sambil mengelus kepala putranya.

__ADS_1


Ali memang paling suka bubur dicampur jamur tiram dan udang. Entah kenapa kebetulan saat tadi pagi Rara berbelanja di pasar dia membeli semua makanan kesukaan Ali. Padahal dia sendiri juga tidak tahu jika Ali akan datang, cuma merasa semua itu bisa mengobati sedikit rasa rindunya pada anaknya saja.


*****


__ADS_2