
'Mas!"
Panggil Rara pada Adam yang bengong menatapnya.
"Mas!"
Panggilnya lagi saat Adam tidak juga bereaksi.
"Mas Adam!"
Ulang Rara dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya, hingga membuat Adam kaget dan tersadar dari terpesonanya akan sosok Rara.
Adam tersenyum lembut ke arah istrinya yang malam itu keliatan begitu cantik nan seksi menggoda.
Adam yang melihat Rara mendekat, menepuk pahanya memberi tanda agar Rara duduk di pangkuannya. Ibunya Ali pun mengikuti permintaan sang suami, prempuan itu duduk pangkuan Adam dengan manja, Rara melingkar kedua lengannya pada leher Adam.
"Gimana penampilan aku?" Tanya Rara dengan suara manja.
Adam pun mengatakan jika penampilan Rara cantik dan seksi dan Adam suka dengan itu. Adam juga bertanya apakah bajunya Kekecilan? Karena tampak olehnya squishi Rara terjepit dan hanya muat separuh, separuhnya keluar hampir tumpah.
Rara menjawab iya kecil, apalagi bagian dada yang begitu sangat sesak. Membuat Adam kembali berfikir, apakah dia salah memilih ukuran baju.
"Padahal mas belinya ukuran L. Ternyata malah kekecilan. Mungkin itu ukuran L yang kecil kali ya?Atau besok mas beli yang ukuran XL aja?"
Seingat Adam memang ukuran baju Rara itu L. Beberapa kali dia membelikan baju sang istri dengan ukuran L selalu pas.
"Gak usah, beli L saja lagi. Ini mungkin karena aku yang tambah gemuk makannya sempit. Maklum udah lama gak senam jadi BB-nya naik. Besok kalau udah rutin senam sama nge-gym juga BB aku stabil lagi. Gak gemuk gini!"
"Gak apa loh gemuk. Makin gemuk malah bagus kok, makin berisi. Kalau dipeluk makin hangat."
"Asal mas gak ngerasa meluk sapi saja, karena istrinya kegemukan."
"Ya gak lah. Masak istri cantik kok di samakan dengan sapi," ucap Adam. Kemudian pria itu mengecup bibir pualam Rara yang malam ini sedikit manis akibat sisa obat kumur yang barusan istrinya pakai.
"Alah merayu!" Goda Rara pada Adam.
"Merayu istri sendiri boleh dong? Malah bisa ngurangin dosa. Apalagi kalau istrinya yang sampai ngerayu suami, pahalanya besar banget tuh."
"Dasar modus, bilang saja kalau mau dirayu!" Kilah Rara yang tahu akal bulus Adam.
Pria itu pun tertawa, "tahu aja kamu," ucapnya sambil kembali mengecup bibir Rara.
"Gak usah di kecup-kecup, kalau mau langsung aja!"
Rara memberi lampu hijau pada Adam dengan cara membalas kecupan suaminya dengan c*uman singkat.
"Kan pemanasan Ra. Biar kedepannya makin lancar," ucap Adam kemudian membalas c*uman Rara yang singkat menjadi c*mbuan panjang. Keduanya pun terkekeh saat ciuman itu terlepas.
Melihat reaksi Adam yang begitu baik Rara pun mengungkap isi hatinya untuk mewarnai rambutnya menjadi pirang seperti rambut Monica. Karena Rara pikir jika rambutnya pirang akan kelihatan lebih bagus.
"Boleh, toh kamu seperti itu juga karena ingin tampil cantik di depanku bukan?"
__ADS_1
Rara mengangguk, meng-iya-kan ucapan suaminya.
"Apa pun boleh asal itu bisa membuat kamu bahagia."
Mendengar apa yang barusan Adam ucapkan membuat Rara begitu bahagia, hingga mama Ali mengecup bibir suaminya beberapa kali sebagai ungkapan jika dia sangat senang.
Hingga membuat tangan Adam menahan tengkuk Rara, sehingga kepala perempuan itu tidak bisa mundur, dan bibirnya terus menempel pada bibir Adam.
Adam mengubah kecupan itu menjadi ciuman panjang yang menggairahkan. Tak lupa tangan Adam yang sebelahnya sudah bereaksi dengan *******-***** squishi milik Rara yang putih mengoda iman dengan ukuran sangat pas di tangan kesar Adam membuat nafsu kedua orang dewasa itu kembali mengudara.
Rara yang selalu tidak tahan oleh setiap sentuhan Adam pun mend*sah saat ciuman Adam beralih tempat dan permainan tangan pria itu menjadi lebih liar dari sebelumnya.
Dan setiap ******* itu seolah menjadi motivasi tersendiri bagi Adam untuk memuaskan istrinya.
Senyum bahagia terukir di bibir tipisnya tatkala melihat istrinya yang terpejam nampak begitu menikmati permainan yang mereka ciptakan.
"Aaaahhhh."
Bibir pink bak pualam itu menyuarakan suara lembut nan manja yang sebagai ungkapan kenikmatan yang dia rasakan.
Kedua tangannya saling menggegam bertautan sebagai bukti jika tubuh mereka telah menyatu. Adam pun ikut memejamkan matanya ketika dirasakannya dirinya hendak mencari puncak kenikmatan tertinggi dunia.
Mencoba menikmati kenikmatan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata saat dia menyemburkan bayi-bayi kecebong yang dia produksi kedalam rahim Rara.
Rasanya begitu sangat lega dan manis sekali, meski peluh dan keringat membanjiri tubuh mereka di kamar yang panas ini walau AC sudah terpasang full.
Adam mempererat tubuh Rara yang terengah-engah kedalam pelukannya, membiarkan kulit lembut sang istri menyentuh kulit polosnya saling bergesekan satu sama lain.
Ronde pertama permainan telah di selesaikan, tinggal menunggu ronde selanjutnya.
Dan salah satu waktu itu adalah saat mereka selesai memandukasih seperti sekarang ini. Jika Adam tidak terlalu lelah, Rara tidak kelelahan dan mereka tidak berniat nyambung ronda kedua, biasanya Adam dan Rara akan bercerita atau bercanda. Saling mengoda satu sama lain, begitu pun dengan malam ini.
Setelah semua kembali seperti semula, Adam yang awalnya tidur berdampingan dengan Rara melorotkan tubuh, membuat wajah berada tepat di depan dada sang istri.
Pria berambut ikal itu membenamkan wajahnya di antara gunung kembar Rara. Sesekali pria itu mengecup dan mengusap sekaligus meremas squishi milik sang istri.
Membuat Rara menggelinjang karena kegelian. Tak puas hanya begitu saja, Adam pun kembali berulah.
"Auw...sakit mas!"
Rara memukul lengan Adam saat pria itu menghisap kuat strawberrychip miliknya.
Bukanya marah Adam malah tergelak, "tadi waktu aku gigit gitu katanya enak! Malah nagih minta lagi, tapi sekarang bilangnya sakit!" Goda Adam.
Membuat wajah Rara merah seketika.
"Mana, aku gak ada bilang gitu!" Protes Rara tidak terima, untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Emang tidak bilang, tapi ******* kamu mewakili semua. Membuat aku jadi semangat," Adam tersenyum menggoda dia akhir kalimatnya, membuat Rara tambahan gemes.
Apalagi ketika sang suami kembali mengulum Chokchip milihnya dan menyesapnya, menikmati layaknya bayi yang menyusun pada sang ibu.
__ADS_1
"Ra!"
"Hm," jawab Rara sambil menunduk menatap wajah Adam yang juga mendogak menatapnya.
"Kan kamu sudah melahirkan, juga pernah menyusui, kok p*tingnya masih pink juga tidak berubah jadi hitam ya, Ra?"
Tanya Adam yang penasaran akan chip milik Rara yang tidak berubah warna.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku masih muda makanya warnanya pink, nanti kalau sudah tua baru berubah jadi hitam, aku juga tidak tahu."
Adam mengangguk setuju, "mungkin juga. Mungkin nanti setelah kamu punya anak tiga baru berubah jadi hitam ya, Ra? Kan sudah dirasakan banyak mulut juga beribu-ribu hisapan. Buktinya dulu pas baru nikah chip mu pink banget tapi sekarang juga udah gak seperti dulu lagi."
"Mungkin, aku juga tidak tahu. Emang kenapa kalau punya aku pink? Tidak hitam? Apa mas tidak suka?"
Rara menatap wajah Adam, yang tangannya sedang memainkan puncak gunung milik Rara, sesekali memilih, dan menariknya gemas. Kadang mulutnya juga ikut bermain menghisap dan menjilati layaknya permen lollipop, membuat Rara merasa geli tapi nikmat atas perlakuan bayi besarnya.
Seketika Adam mengeleng, "bukan. Bukan karena itu. Aku hanya penasaran saja. Aku tetep suka meski itu pink atau pun hitam. Bagi ku kalau hitam itu namanya Chokchip, sedangkan kalau pink namanya strawberrychip," jawab Adam sekenanya.
"Dasar mesum! Emang kue!"
Rara memukul bahu Adam yang tersenyum mesum ke arah dirinya. Sesekali sang suami membenamkan wajahnya pada dada Rara dan mengusek-usek squishi Rara dengan gemas, membuat sang istri kegelian.
Kedua pasangan suami Istri itu tertawa terbahak di tengah malam karena aksi konyol pasangan masing-masing.
"Geli mas!"
Teriak Rara saat mulut Rara kembali mengulum Chokchip miliknya.
"Geli tapi enak kan Ra?" Tanya Adam, mesum.
"Gimana kalau kita ulang sekali lagi?" Pinta sang suami.
Rara mengecup bibir Adam sebagai jawaban permintaan papa Ali.
Dan kejadian panas pun terulang beberapa kali lagi hingga keduanya tak bertenaga.
Adam langsung tergeletak lemas di sisih tubuh sang istri setelah menyelesaikan tiga ronde dengan beberapa kali nyambung permainannya.
Lengan pria itu, memeluk erat tubuh Rara yang sudah membenamkan wajahnya di dada bidang Adam dengan nafas yang teratur. Terlelap tidur.
Adam menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Rara, lalu dia pun ikut menyusul Rara menjemput mimpi.
****
Ali yang terbangun, kaget saat tidur mendapati mama papanya di kamar. Bocah itu melihat sekeliling yang tampak kosong, namun suasana terang di sekitar kamarnya membuat dia tahu jika hari sudah pagi. Karena jelas terlihat dari balik korden yang terbuka sedikit jika pepohonan hijau sudah dapat di lihat dengan mata telanjang.
Lekas Ali turun dari tempat tidur, mencari keberadaan sang mama di lantai bawah, karena jika pagi begini biasanya Rara sedang masak di dapur dibantu si mbok.
"Ma!" Panggil Ali mencari sang mama.
Bocah itu berjalan ke dapur, ke halaman belakang, ruang kerja Rara, ruang tamu dan halaman depan. Saat tidak mendapatkan Rara di lantai bawah Ali pun mulai menangis. Perasaan bocah itu begitu takut, takut jika mama papanya meninggalkan dirinya di rumah sendiri. Takut jika mereka pergi dan dia tidak di ajak, takut jika pergi dan tidak pulang lagi.
__ADS_1
****
Lah Ali tidak tahu jika sang mama sedang mencetak adik baru buat dia 🤣🤣🤣