
Entah sudah berapa lama Rara menangis, ketika dia sadar waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Rara turun ke lantai bawah mencari Ali yang belum juga masuk kamar.
"Mbok Ali dimana?" Tanya Rara ketika dia bertemu dengan mbok Atun dia dapur. Sepertinya mbok baru saja mengisi air di teko yang akan Rara bawa pergi ke kamar.
"Ali ikut pak Putra, mbk. Tadi diantara ke sini, tapi Ali nangis dan gak mau pulang," mbok atau menjelaskan.
Rara mengangguk, sebagai tanda paham.
"Mbak Rara mau makan? Kalau iya biar lauknya saya hangatkan lagi."
"Boleh mbok, tapi saya mau sholat isya dulu," ujar Rara sambil pergi ke kamar mandi dapur untuk mengambil wudhu.
*****
Adam pergi dari rumah dengan perasaan campur aduk tak menentu. Takut, sedih, cemas dan menyesal menjadi satu, membuat dia mengeram frustasi karenanya, hingga suami Rara memukul setir mobil berkali-kali.
Dia begitu cemburu saat mengetahui ada pria lain yang mencintai Rara. Sangat tidak rela ketika ada orang lain yang begitu mendambakan Rara. Adam takut jika Rara pergi bersama pria itu dan meninggalkan dirinya. Dia takut tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakan sang istri yang selama ini sudah dia sia-siakan.
Ingin Adam memohon pada Rara untuk memberikan kesempatan ke dua kepadanya dan membiarkan dia mencintai istrinya itu, membahagiakan Rara dan memperlakukan prempuan yang selalu setia mendampinginya dengan baik. Tapi sayang suaranya hanya tercekat di tenggorokan tidak mau keluar, membuat dada Adam begitu sesak.
Tidak pernah dia merasa setakut ini, bahkan saat dia bertengkar hebat dengan Maelin saja Adam tidak takut dan tidak cemas jika wanita itu pergi darinya atau meninggalkannya. Bahkan saat Maelin mengatakan putus pun Adam tidak secemas sekarang. Bahkan saat Maelin menangis dan meninggalkan dirinya ketika Adam akan menikah dengan Rara juga dia tidak sefrustasi ini. Tapi kenapa dengan Rara rasanya sangat berbeda.
Dia marah begitu mendengar Rara menyebutkan pria lain. Dia emosi hanya dengan mendengar cerita masa lalu istri nya.
Ada apa dengan ku? Kenapa aku harus merasa seperti ini? Kenapa aku harus marah? Kenapa aku merasa tidak terima? Bukankah harusnya aku senang saat Rara minta cerai. Bukankah harusnya aku bahagia saat dia melepaskan ku dan membiarkan aku bersama Maelin. Tapi kenapa aku malah tidak ingin berpisah darinya? Kenapa aku malah ingin dia ada di sisih ku? Selalu bersama ku selamanya?
Begitu banyak pertanyaan yang hinggap di otaknya, tapi tak satupun jawaban yang dia temukan. Hingga Adam berteriak frustrasi.
"Aaahhgghh!!!" Suami Rara meremas rambut karena kesal.
Adam membelokan mobilnya ke sebuah bar yang berada di sebuah hotel di kota kecil tempat tinggal Rara.
Satu-satunya bar paling mewah yang Adam ketahui. Karena selain di Vegas dia tidak tahu dimana lagi bar yang sesuai dengan standar Adam. Maklum, dia jarang pulang juga jarang bergaul.
Adam memasuki ruang besar yang di hiasi lampu remang-remang sehingga nyaman bagi mata pengunjung yang datang.
Adam yang memang jarang nongkrong tempat itu membuat kedatangannya langsung jadi pusat perhatian.
Meski dia datang hanya dengan mengenakan pakaian sederhana yaitu kemeja putih yang lengannya sudah di gulung hingga siku dan celana kain hitam yang membungkus kaki panjangnya, tetap saja semua itu tidak bisa mengurangi ketampanan Adam yang berada di atas rata-rata.
Kesederhanaan itu malah membuat sosok Adam terlihat sangat berwibawa. Apalagi dengan lelah yang mendominasi di wajahnya membuat suami Rara terkesan sebagai sosok pekerja keras.
Membuat para kaum hawa yang ada di sana enggan untuk menurunkan pandangan mereka meski sedetik saja.
Adam memposisikan tubuhnya di depan meja bar dan meminta bartender melayaninya, dia memang butuh peralihan malam ini. Peralihan dari perasaanya terhadap Rara yang tiba-tiba membunuhnya.
__ADS_1
Sambil menunggu minuman yang dia pesan. Adam membuka tiga kancing kemeja bagian atasan, melonggarkan kerah baju yang rasanya membuat dia tercekik.
Justru penampilan Adam semakin terlihat seksi di mata para perempuan. Sehingga dua prempuan yang duduk tak jauh dari kursi Adam pun tersenyum genit ke arahnya.
Adam bersikap tak perduli, dia fokus mengambil minum yang di sodorkan bartender dan mulai menyesapnya, namun gerakannya terhenti saat dia merasa jika ada sesuatu yang merayap di atas tubuhnya.
Adam melirik ke bawah sebentar, didapatinya sebuah jemari lentik dengan kuku bercat merah tengah mengusap pahanya pelan.
"Butuh hiburan, bang?" Tanya pemilik suara seksi itu.
Adam menatap wanita yang kini berdiri di sisihnya dengan seringai tipis, lalu kembali meneguk minumannya.
"Aku Laura," katanya "Abang kelihatan sangat putus asa. Mau aku hibur?"
Adam tak acuh dengan tawaran Laura. Dia memang sangat putus ada dan kacau saat Rara minta cerai dan dia butuh hiburan untuk menenangkan pikirannya saat ini. Dan prempuan penggoda ini ingin Adam menghabiskan malam bersamanya.
"Aku akan membantu Abang mencapai pelepasan yang sempurna, jika Abang mau."
Laura menawarkan diri seraya mengigit bibirnya secara sensual supaya membuat Adam tertarik padanya, tapi sayang Adam tidak pernah tertarik dengan j*lang seperti ini. Apalagi prempuan di depannya sekarang? Laura bahkan tidak bisa membuat miliknya tegak berdiri.
"Aku sudah beristri, jangan mengangguk ku."
Adam menyingkirkan jemari itu dari pahanya. Kemudian dia kembali menyodorkan gelasnya yang sudah kosong pada bar tender minta di isi lagi.
Laura duduk di kursi tinggi sebelah Adam, menyilangkan kakinya hingga rok mini berbelahan tinggi yang dia kenakan menampilkan seluruh pahanya yang mulus dan sangat mengoda para lelaki hidung belang.
"Biarlah aku menghibur mu sayang. Aku akan membuat mu tidak akan melupakan aku setelah malam ini."
Laura berbisik di telinga Adam dengan jemarinya mengelus dada Adam yang di biarkan sedikit terbuka.
Mendapati sikap Laura yang kelewat batas Adam menyentuh jemari itu, memegang dan meremasnya dengan kencang.
"Hentikan pemainan murahan mu ini gadis. Kamu bahakan tidak lebih cantik dan seksi dari istri ku. Milikmu juga tidak lebih besar dari milik istri ku," Adam menurunkan pandangan nya pada dada Laura yang memang terlihat lebih kecil dari milik Rara, "Bagaimana bisa kau berniat mengoda ku dengan barang kecil milikmu itu, hm?" Adam membisikkan kata-kata itu di telinga Laura.
Adam menaikkan dia menaikan sebelah alisnya dan sebuah senyum miring saat Laura menatap matanya.
"Pergi saja kau dari hadapan ku. Karena aku tidak ingin melihat wajah jelek mu ini," ucap Adam sambil menghempaskan tangan Laura secara kasar. Membuat Laura berdecak kesal karena sudah dihina.
"Brengsek!" Maki Laura sambil pergi dari sisih Adam. Tapi suami Rara tetap tenang, tak perduli dengan semua itu.
Adam memang sudah muak dengan para wanita yang selalu merayunya setiap di pergi ke tempat-tempat seperti ini.
Wajahnya yang tampan dan dompetnya yang tebal memang selalu menarik wanita untuk mendekati dirinya. Beruntung selama ini Adam dapat mengontrol diri sehingga tidak pernah tergoda para perempuan genit itu.
Meski begitu Adam selalu kembali lagi ke tempat-tempat maksiat itu setiap kali dirinya ada masalah ataupun butuh bke tentang.
Katakanlah orang lain mungkin nongkrong di masjid atau musholla saat dirinya sedih dan gundah. Tapi nyatanya Adam tidak sebaik itu. Dia terbiasa segelas alkohol lebih baik untuk menghilangkan stres yang dia derita ketimbang curhat dengan pak ustadz di masjid. Hahaha mungkin setan di otak Adam memang jumlahnya sudah tak terhitung lagi. Sehingga dia pergi ke masjid buat numpang pipis doang.
__ADS_1
Adam baru saja menghabiskan gelas kedua tangannya ketika handphone nya di saku celana bergetar.
"Hallo mbok, Ada apa?" Tanya Adam saat sudah menempelkan benda berlogo Apple ke gigit di telinganya.
"Mas Adam dimana? Mbak Rara pingsan mas?"
"Apa mbok? Rara pingsan?" Adam mengulang ucap mbok, tak percaya.
"Iya mas. Mas Adam cepat pulang!" Pinta mbok Atun.
Setelah mengakhiri panggilan telpon nya Adam langsung pergi meninggalkan bar dengan langkah lebar.
Selama dalam perjalanan perasaan Adam tak tenang. Dia terus bertanya-tanya kenapa Rara bisa pingsan. Apa semua ini karena dirinya? Apa pertengkaran dengan dia tadi yang membuat istrinya pingsan.
Mbok bilang Rara baru selesai wudhu dan hendak sholat isya tapi begitu melewati ruang makan istri langsung ambruk begitu saja.
Dalam perjalanan pulang ke rumah Adam mampir di klinik dokter Nanda untuk meminta dokter itu memeriksa Rara.
Begitu Adam sampai rumah. Adam langsung mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke kamar tidur, karena mbok tidak kuat memapah Rara pindah ke kamar jadi mbok hanya merebahkan Rara di lantai ruang makan dengan di alasi oleh karpet bulu.
"Dia sakit apa dok?" Tanya Adam.
"Buka sakit yang sering mas Adam. Cuma lemas karena telat makan dan kekurangan nutrisi. Jika di lihat dari tidurnya yang gelisah dan tidak tenang aeperti Bu Rara memilih sedikit masalah yang membuat beliau terlihat stres begitu," jelas dokter Nanda.
"Iya, kelihatannya istri ku memang sedang ada sedikit masalah dok."
Mbok Atun yang mendengar itu melirik ke arah Adam.
Sedikit masalah. Bertengkar begitu hebatnya di bilang sedikit masalah. Dasar mas Adam, guman mbok Atun yang tadi memang mendengar pertengkaran majikan mereka. Entah apa yang mereka ribut kan hingga Rara sampai menangis meraung-raung begitu.
Apakah mas Adam selingkuhan, pikir mbok Atun lagi. Karena mereka hidup berpisah dan tentu biasanya lebih besar godain ketimbang mereka yang tinggal bersama.
Setelah memasang infus di lengan Rara dan memberikan beberapa resep obat untuk istri Adam, dokter Nanda pun pamit pulang.
"Jangan lupa perhatikan pola makannya mas Adam, supaya cepat sehat Bu Rara nya," pesen Dokter Nanda sebelum keluar dari kamar Rara.
Sepenggal dokter Nanda dan mbok. Adam menatap Rara yang tidur dengan pandangan sendu. Di tatapnya wajah Rara yang matanya terpejam. Istri tetep kelihatan cantik meski bibirnya Tampa pucat. Rara kelihatan sangat tenang saat tidur.
Membuat hati Adam begitu ngilu, karena selama ini sudah menyakiti hati istri yang begitu baik padanya.
"Maafkan aku yang telah menyakitimu hingga kamu harus sakit seperti ini," ucap Adam sambil mengelus kepala Rara dengan lembut dan penuh sayang.
"Tolong beri aku kesempatan kedua. Aku janji akan membahagiakan mu dan selalu membuat kamu terseyum," ujar Adam lagi.
Dielusnya pipi Rara penuh kelembutan dan di ciumannya kening sang istri beberapa kali sebelum Adam pergi mengambil baju ganti untuk Rara dan air hangat untuk membersihkan tubuh sang istri yang masih mengunakan baju dinasnya.
*****
__ADS_1
Tolong beri Adam kesempatan ke dua. Siapa tahu dia benar-benar tobat.