
Rara tidur di atas kasur sambil memeluk bantal. Air matanya turun deras bagaikan banjir bandang. Sesekali prempuan itu mengigit ujung bantalnya buat mengekspresikan rasa sakit ya dia terima.
Ingin sekali dia menganggap apa yang di katakan Monica itu bohong, tapi kenapa buktinya terlalu nyata. Adam bercinta dengan Monica. Dan sekarang Monica hamil anak suaminya, setelah itu Adam ingin bercerai dari Rara demi bisa menikahi Monica. Rara merasa menjadi orang paling bego sedunia. Bagaimana bisa dia tidak tahu jika suaminya berselingkuh selama satu tahun berlalu.
Rara menarik kerudungnya asal-asalan dan mengacak-acak rambutnya. Dia begitu sangat frustasi.
Setelah berdebat dengan argumen sendiri setiap kali membaca WhatsApp dan mengatakan jika semua itu tidak benar dan baik-baik saja kini dia tahu jika Adam ternyata berkhianat di belakangnya. Terbongkar semua kebusukan Adam yang membuat dunia Rara runtuh seketika.
Rasanya gak ada semangat lagi untuk menempuh hari esok. Rasanya pengen mati aja saat ini. Hati Rara benar-benar sakit, dan rasanya lebih sakit ketimbang saat dia menerima kenyataan jika dirinya dipaksa nikah dengan Adam dan meninggalkan Rangga. Sekarang semua telah hancur. Yang ada Rara hanya ingin mencabik-cabik Adam dan Monica supaya dia puas, supaya dia lega. Supaya mereka tahu bagaimana sakit yang dia rasakan sekarang ini. Yang dia rasakan, Rara hanya ingin membunuh dua orang penghianat itu agar merasa lega.
Rara menangis hingga tertidur di kasur. Tidak tahu seberapa lama dia tidur, saat bangun jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul empat sore. Perempuan itu pun langsung terlonjak kaget seketia saat dia teringat Ali.
"Anak ku!"
Seketika Rara terduduk karena teringat belum menjemput Ali dari sekolah. Dengan perasaan cemas dan khawatir dia langsung melompat dari tempat tidur dan keluar kamar secara buru-buru.
"Mbok!" Teriaknya.
"Ali dimana? Sudah di jemput apa belum?" Tanya Rara sambil berlarian mencari ke beranda mbok Atun di rumah.
"Mbok....!" Panggil nya lagi.
Mbok Atun yang berada di belakang langsung masuk ke dalam begitu mendengar teriakkan Rara memanggil dirinya.
Perempuan itu tahu, kalau Rara sudah teriak-teriak begitu pasti dia sedang cemas atau panik lantaran sesuatu.
"Ada apa mbak Rara?" Tanya mbok saat mendapati Rara berjalan tergesa-gesa menuju ke arah.
"Al..Ali, ke...kemana mbok? Aku lupa menjemput nya? Ya ampun mbok kenapa mbok gak ngingatkan saya jemput Ali ke sekolah," suara Rara terputus-putus karena balapan dengan nafasnya yang naik turun sama suara yang di keluarkan.
"Ali sudah pergi berenang mbak. Sudah pergi dari tadi jam tiga. Tadi bapak sama ibu yang nganterkan," mbok Atun memberitahu. Karena sekarang memang hari Kamis dan itu jadwalnya Ali pergi les renang. Sebenernya tadi mbok berencana untuk meliburkan Ali saja karena tidak ada yang mengantar, Rara juga kelihatannya tidak bisa hari ini. Tapi Ali maksa ingin pergi berenang dan meminta mbok Atun untuk menelpon Bu Eka untuk mengantarkan sang cucu, bersyukur Ali memang sosok cucu kesayangan jadi Eka dan Syaputra pergi bersama.
"Oh ya sudah mbok kalau gitu, makasih," ucap Rara kemudian berbalik pergi meninggalkan mbok Atun.
"Mbak Rara gak makan dulu?" Tanya mbok Atun saat melihat Rara hendak keluar dari pintu dapur yang berhubungan dengan ruang makan.
"Iya mbok sebentar saya mau cuci muka dulu. Karena rasanya mata saya berat gak bisa melek," ucap Rara sambil nyengir.
Mbok mengangguk meng-iyakan. Karena mata Rara memang merah dan bengkak tanda orang habis nangis. Entah apa yang di tangisi hingga tampak nya begitu menyeramkan.
Sesuai rencananya semula, Rara kembali ke kamar untuk cuci muka sebelum turun kebawah untuk makan. Karena perutnya juga sudah lapar. Dia baru makan tadi pagi, itu juga cuma sedikit.
Rara mengambil tak ransel yang tergeletak di lantai sisih tepat tidur untuk di bawanya turun sekalian. Menyimpannya di ruang kerja.
Setelah meletakkan tas punggung nya di atas sofa yang ada di ruangan itu Rara berencana langsung keluar. Namun Langkahnya terhenti saat mendengar notifikasi pesan yang berbunyi dari layar komputer yang di biarkan menyala.
Rara mengurung niatnya menuju pintu dan berbalik arah melangkah kearah meja. Tangannya mengeser-geser mouse hingga tampilan layar 20" yang semula gelap berubah menjadi terang.
Rara menekan menu yang ada di bagy bawah layar, sehingga tampilan WhatsApp yang semula di minimalis terpampang lebar di depannya.
Ada beberapa pesan baru disana. Tapi yang baru masuk adalah pesan dari Monica karena nama prempuan itu yang berbeda paling atas.
Ada beberapa pesan baru dari wanita itu setelah seminggu dia tidak mengirimkan chat lagi pada Adam tanpa alasan yang jelas.
Rara membuka pesan itu.
__ADS_1
Monica:
P
Monica:
Mas
Monica:
Mas Adam.
Monica:
Lagi apa? aku kangen!
Monica:
Oh ya aku ngasih kejutan buat mas, dan semoga kamu suka.
Monica:
Love you 😘
Monica:
Sampai ketemu lagi.
Dada Rara langsung bergemuruh saat membaca isi pesan dari Monica. Amarah yang sudah mereda kini memucak lagi, hingga.
Rara mengibaskan tangannya guna menyapu bersih apa saja yang ada di atas meja.
"Prang."
"Brak!"
"Brook!"
Bunyi gaduh yang yang terdengar akibat barang berjatuhan ke Lantai. Ada gelas, ada piring, ada buku, tas dan semua kertas juga mainan Ali yang ada di dekatnya menjadi sasaran kemarahan Rara. Membuat mbok yang ada di dapur menghentikan aktivitas. Setelah itu semua Rara menutup pintu dengan kasar.
"Brak!" Suara pintu yang di banting membuat prempuan usia senja itu terjingkat kaget akibat ulah Rara. Untung saja mbok Atun tidak punya riwayat sakit jantung jadi dia tidak pingsan saat melihat sikap Rara berubah jadi ganas. Tidak seperti Rara yang selama ini dia kenal. Karena hampir delapan tahun dia bekerja di rumah Adam tak pernah sekalipun Rara bertindak kasar dan seingatnya juga baru kali ini.
****
Adam baru selesai mengisi bensin di SPBU. Sebelum akhirnya memarkirkan mobilnya di depan minimarket yang masih ada di wilayah SPBU itu.
Istirahat sebentar, pikirnya.
Adam mengambil handphone dari car holder yang terpasang di dashboard juga dompet sebelum keluar dari mobil. Dia masuk ke dalam minuman untuk membeli minum dan beberapa buah roti.
Perutnya terasa lapar. Karena tadi demi menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang ke rumah, Adam sampai tidak istirahat makan siang dan dia juga lupa meminta Rain membelikan maka siang untuk nya.
Adam duduk lesehan pada kursi tunggu yang di sediakan di depan minimarket, sesekali mulutnya menggigit roti dari tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mengaktifkan handphone.
Adam membuka aplikasi bergambar telpon berwarna hijau yang memiliki titik warna merah bertuliskan sebuah angka sebagai pemberitahuan seberapa banyak jumlah pesan masuk.
__ADS_1
Adam menekan aplikasi itu guna melihat siapa saja yang sudah menghubungi dirinya beberapa jam terakhir ini.
Padangnya tertuju pada nama Monica yang ada di bagian paling atas. Meski tidak ada pesan baru dari wanita itu untuk nya. Tetep saja semua itu membuat dia heran.
Adam menaikkan sebelah alisnya. Bagaimana bisa nama Monica ada di atas. Sedangkan dirinya dan prempuan itu tidak pernah berhubungan lagi semenjak kejadian di apartemen Marcell kemarin. Dan sekarang? Ada apa ini?
Adam menekan nama Monica sekali untuk melihat dan dia terkejut saat mendapati pesan dari wanita itu yang di kirim satu jam lalu.
Adam mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa pesan Monica sudah terbaca, padahal jelas selama dalam perjalanan tadi dia tidak bermain handphone kecuali menyalakan musik untuk menemani perjalanannya. Dan sekarang, siapa orangnya yang sudah kurang ajar menyabotase akun WhatsApp nya ini. Yang diam-diam menyelidiki dirinya. Marah Adam saat merasa jika dia kecolongan.
Apakah itu Rara? Pikir Adam.
Karena seketia dia teringat kata-kata mbok siang tadi yang bilang kalau Rara suka menangis setelah keluar dari ruangan kerjanya.
Apakah Rara menangis karena membaca chattingan dirinya dengan Monica? Kata hati Adam.
"Hais..." Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tanda dia kesal setengah mati.
"Perempuan itu. Bisa-bisa nya dia menyabotase akun ku dan bodohnya aku sampai tidak menyadarinya selama ini."
Cepat Adam menghabiskan rotinya agar lekas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Jika jalanan tidak macet maka satu jam lagi Adam sudah sampai di rumah.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Adam sambil menekan bell yang berada di sebelah kanan pintu.
"Walaikumsalam!" Jawab suara dari dalam yang bersamaan dengan suara anak kunci di putar. Tak seberapa lama muncul mbok Atun di depannya.
"Ali dan Rara dimana mbok?" Tanya Adam pada si mbok, sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Ali ada di rumah Bu Eka dan mbak Rara ada di kamar," jelas mbok Atun.
"Hem..."
Adam berjalan menuju ruang kerja Rara yang di ikuti oleh si mbok di belakang.
"Mas..." Mbok berusaha menghentikan gerakan Adam namun terlambat karena itu lebih dulu terbuka.
Mata Adam membulat sempurna saat melihat pemandangan di depannya.
"Astaga mbok ada apa ini? Apa ada gempa bumi barusan? Kenapa berantakan sekali?" Tanya pria itu saat melihat ruang kerja sang istri mirip kapal pecah.
"Mbak Rara mas?"
"Rara yang melakukan ini semua. Dimana dia sekarang?" Tanya Adam dengan suara datar mengimindasi. Dia benar-benar marah dan kecewa setelah mengetahui jika istrinya menyabotase akun miliknya dan sekarang dia menghacurkan semua barang seperti wanita tak bermoral saja. Sangat tidak cocok menjadi seorang guru dan panutan.
Bagaimana bisa prempuan itu menghadapi muridnya yang bandel jika mengontrol emosi saja tidak bisa? pikir Rara.
"Di kamar," jawab mbok takut.
"Tolong bereskan semua ini mbok. Dan buang semua barang yang tidak berguna," perintah Adam. "Dan juga tolong simpan ini!"
Adam memberikan tas dan jas kerjanya pada mbok Atun. Sedangkan dia berjalan menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.
Adam membuka pintu cokelat muda itu dengan emosi yang membuncah Beruntung pintu tidak dikunci sehingga dia bisa langsung masuk begitu saja.
"Rara!" Panggil Adam.
__ADS_1
*****