Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 120. Titik Buntu


__ADS_3

"Kenapa sih? Dia sampai marah begitu? Memang kalian berantem tadi malam? Kamu marah sama dia?" Brondong Rangga layaknya wartawan gosip.


"Aku cuma bilang kalau aku kecewa sama dia," jujur Adam. Kemudian pria itu menghela nafas.


"Kecewa? Kecewa dalam hal apa? Memang apa dari Rara yang membuat kamu kecewa sampai marah sama dia?"


Rangga menyodorkan piring kosong pada Adam meminta sang kakak mengisinya dengan omelet nasi goreng Turki buatan Adam sebagai menu sarapan pagi ini. Begitu pun pada Ali, Adam memberi satu omelet ke piring putranya serta memberikan kerupuk dan makanan pendamping lainnya.


"Kamu kan tahu Rara tuh orang nya kayak gimana. Dia kan gak suka kalah. Mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi. Aku dah bilang sama dia sebelumnya kalau Monica bakal datang ke pesta karena pak Dani kasih dia undangan dan aku minta sama Rara jangan berurusan sama Monica yang berujung bikin malu diri sendiri, tapi Rara gak mau dengerin kata-kata ku, malah memperkeruh keadaan dengan nyiram Monica kayak gitu."


Adam bercerita dengan sendu, kesedihan tampak begitu jelas di wajahnya, "Kan jadi semua orang nyalahin dia. Menatap dan mengejek dia."


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau Rara yang menyiram perempuan itu? Memang kamu lihat?" Tanya Rangga sambil menguapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Karena aku paham karakter Rara itu kayak gimana," aku Adam.


"Tidak!" Sergah Rangga cepet, "kamu gak tahu siap Rara, karena kalau tahu dia bagaimana kamu gak bakal nuduh Rara seperti itu sebelum melihat buktinya langsung. Karena setahu aku Rara itu bukan gadis pendendam. Jika masalah sudah selesai ya sudah dia tidak akan dendam lagi pada orang itu.


Memang siapa sih prempuan itu? Perasaan aku gak pernah lihat. Bagaimana dia bisa kenal dengan Rara juga?"


Adam pun bercerita kalau Monica dulu pernah suka dengan Adam dan mencoba jadi pelakor dalam rumah tangga mereka. Bahkan Monica mengirim video mesum pada Rara dan mengatakan jika itu video dia dan Adam padahal samasekali itu tidak benar. Hubungan Adam dan Monica murni karena bekerjasama perusahaan tapi Monica meminta lebih. Dan Monica kesal karena ternyata usahanya untuk menghancurkan rumah tangga mereka tidak berhasil karena Adam dan Rara tidak bercerai.


Penjelasan Adam membuat Rangga paham pokok masalahnya.


"Mending kamu selidiki dulu kebenarannya, jangan asal nuduh saja. Karena aku yakin Rara juga pasti kecewa sama kamu karena merasa kamu lebih percaya pada orang lain ketimbang dirinya. Kalau sudah tahu lekas minta maaf biar rumah tangga kalian baik-baik saja. Tapi kalau kamu gak pengen baikan yang terserah. Malah bagus kalau kalian cerai saja ketimbang kamu selalu menyakiti Rara begitu. Toh kamu juga gak percaya sama dia kan?"


Rangga memberikan nasehat juga propoktor dengan nada seolah tak perduli keputusan apa yang akan diambil Adam padahal dalam hati dia harap-harap cemas.


"Huff," Adam menghela nafas. "Gak semudah itu dalam rumah tangga bilang cerai. Dan gak semua masalah bisa di selesaikan dengan cerai. Memang rumah tangga itu suatu permainan yang bentar-bentar mengatakan cetai. Sebesar apapun masalah dalam rumah tangga itu bisa di cari jalan keluarnya bukan setiap ada malasah diatasi dengan perceraian," tutur Adam menasehati sang adik.


"Aku akan menyelidikinya," lanjut Adam lagi.


Ali yang tidak tahu apa bahasa orang dewasa di sebelahnya hanya menatap Adam dan Rangga bergantian, kemudian bocah kecil itu lanjut makan menu sepesial dari sang papa.


Sedangkan Adam, pertengkaran dengan Rara sedikit banyak mempengaruhi moodnya, sehingga pria tampan itu hanya mendapat adik dan anaknya yang makan dengan lahap tanpa selera menyentuh nasi miliknya sendiri. Tidak ada istri di sebelahnya membuat perutnya mendadak terasa kenyang.


****


Selesai sarapan Adam kembali ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri, begitu pun dengan Rangga. Kemudian kakak beradik itu melaksanakan aktivitas mereka masing-masing.


Rangga pergi menjemput Aisyah untuk pergi berkencan sesuai dengan janjinya pada gadis itu semalam. Sedangkan Adam dan Ali pergi ke hotel tempat acar Kan Petra untuk melihat rekaman cctv kejadian antara Rara dan Monica.


Dengan mengandeng Ali, Adam menemui resepsi hotel dan berkata jika dia ingin bertemu dengan menejer hotel. Namun pihak resepsinya mengatakan jika menejer hotel mereka sedang tidak ada di tempat.


Adam pun berkata jika dia ingin melihat rekaman cctv di ballroom tadi malam.

__ADS_1


"Maaf pak. Rekaman cctv itu privasi hotel dan tidak semua orang boleh melihatnya," jawab satpam yang juga ikut bergabung di tengah obrolan mereka.


Adam pun menjelaskan jika salah satu korban dalam insiden di ballroom adalah istrinya dan dia ingin melihat itu untuk membuktikan jika istrinya tidak bersalah.


Namun tampaknya pihak hotel tidak percaya dengan omongan Adam yang membuat suami Rara menunjukan kartu namanya guna memberitahu siapa dia sebenarnya dan juga mengeluarkan ancaman akan menuntut pihak hotel kerena ikut menyembunyikan pelaku penganiayaan terhadap istrinya, Rara.


Melihat ancaman Adam dan juga sosok dan jabatan Adam serta hubungan baik antara pihak hotel dan perusahaan Adam maka satpam membawa mereka berdua menuju ke ruang pengawas.


Adam meminta dua orang berseragam hitam yang duduk di depan beberapa komputer untuk menunjukkan rekaman pada ballroom tadi malam, tepatnya pada meja prasmanan Diaman Monica dan Rara berada.


Setelah dicari beberapa saat ternyata tidak ada rekaman yang mengarah pada meja prasmanan.


"Maaf pak, rekaman yang bapak minta tidak ada."


"Tidak ada maksudnya gimana? Hilang atau memang daerah situ tidak di kasih cctv?"


"Dikasih cctv pak. Tapi cctv B4 yang terpasang di wilayah sana tidak ada rekannya. Sepertinya sudah di hapus," jelas pegawai yang dari tag namanya Adam ketahui bernama Budiman.


"Bagaimana bisa rekaman itu di hapus begitu saja. Padahal itu adalah bukti. Bagaimana pihak hotel ini bekerja?"


Adam murka saat tahu apa yang dia cari tidak ada. Dia benar-benar kecewa dengan fasilitas hotel yang ternyata tidak sebagus iklannya.


Melihat kemarahan Adam menejer yang baru pulang dari dinas luar meminta maaf karena atas kelalaian anak buahnya yang sudah membuat Adam tersinggung.


"Memang siapa yang meminta untuk menghapusnya?" Tanya manajer hotel.


"Trus kamu setuju?"


"Maafkan saya pak."


Budi menunduk, menunjukkan jika dia teramat menyesali perbuatannya.


Adam memijat pelipisnya. Menghajar dua orang di depannya juga tidak akan mengembalikan apapun juga.


"Maafkan kami pak Adam. Maaf karena sudah mengecewakan Anda," tutur sang menejer hotel sambil menunduk.


"Hm," guman Adam.


"Ayo sayang kita pergi dari sini!"


Adam menuntun Ali mengajaknya pergi dari ruangan berukuran 3x3 meter yang di penuhi komputer.


"Heran, kalau beneran istrinya kenapa gak datang dari semalam. Malah datang pas pagi-pagi gini? Bukanya sudah terlambat?"


Gerutu teman Budi tapi masih dapat di dengar oleh Adam, karena dia berjalan belum terlalu jauh.

__ADS_1


"Lagipula kenapa orang yang datang semua bilang korban adalah istrinya, memang tuh cewek punya berapa suami? Bingung aku?" Jujur Budi.


"Memang ada berapa orang yang datang?" Tanya sang menejer.


"Tiga orang pak," jawab keduanya serempak.


****


Tidak mendapatkan apa yang dia mau membuat Adam seketika bad mood, pria itu menjadi tidak bersemangat. Bahkan saat mengantarkan Ali main ice skating pun Adam meminta putranya bermain sendiri sedangkan dirinya hanya duduk di pinggir lapangan.


Pikiran tertuju pada ucap Rangga tadi pagi jika Rara bukan tipe pendendam, hal itu membuat dia merasa bersalah kenapa langsung marah begitu saja pada Rara dan tidak percaya pada istrinya dan bodohnya Adam kenapa tidak terfikir untuk mengecek cctv yang ada disana untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya.


Mungkin benar kata orang, jangan mengedepankan ego, sehingga tidak bisa berfikir secara realistis. Sekarang dia menyesal karena masalahnya dengan Rara mengalami jalan buntu, Adam tidak tahu bagaimana harus mencari solusi.


Selain itu, pikir Adam juga tertuju pada omongan pengawasan beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika tiga orang lelaki mengaku suami dari salah satu korban. Jika cuma satu, Adam percaya itu mungkin Marcell yang ingin melindungi Monica. Tapi jika tiga? Siapa saja? Apakah Monica punya pacar lain? Atau Rara? Suami Rara jelas dirinya? Lalu siapa orang yang tertarik dengan kejadian itu jika bukan dia dan Marcell. Masih ada dua sosok misterius yang memporak-porandakan otak dan pikiran Adam. Terlebih sampai saat ini nomor Rara tidak bisa di hubungi membuat Adam serasa ingin salto sambil guling-guling di lapangan bola saking setresnya.


Ali yang melihat sang papa tak semangat pun mendekati Adam.


"Papa mau pulang? Mau nyusul mana di rumah?" Tanya bocah itu saat sudah duduk di sebelah Adam, membuat pria itu terlonjak kaget mendengar suara Ali tiba-tiba. Buru-buru Adam menengok kiri kanan mencari posisi Ali.


"Tidak," Adam mengeleng lemah, "papa tetap di sini, temani kamu main."


"Ali sudah selesai kok. Kita bisa pulang sekarang," ujar bocah itu yang tahu jika orang tuanya sedang tidak bersemangat.


"Tidak sayang, lanjutkan bermainnya, papa akan temani kamu kemanapun kamu mau."


Adam mengusap rambut putranya, sehingga rambut yang semula rapi kini menjadi berantakan, meski begitu tidak mengurangi ketampanan pada wajah putranya.


"Kalau begitu papa jangan cemberut doang!"


Ali menarik kedua ujung bibir Adam hingga membuat sang papa tersenyum, "papa harus senyum!"


"Yuk kita main!" Ali menarik tangan Adam agar berdiri dari duduknya. Adam yang tidak ingin mengecewakan Ali pun mengikuti apa kemauan putranya.


Mereka berkeliling lapangan sambil bergandengan tangan.


"Habis dari sini kita ke mana boy?"


"Makan eskrim di McD ya?"


"Hm, sip!"


****


Udah di kasih up dobel.

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote dan hadiah sebanyak-banyaknya ya!


__ADS_2