
Rara keluar apartemen Adam dengan perasaan galau. Semalam dia tidak menangis karena takut Ali bangunan karena isak tangisnya, tapi sekarang putranya lebih memilih Adam lantaran suaminya janji akan mengajak mereka untuk main ice skating. Padahal tanpa Adam pun Rara bisa mengajaknya bermain sampai puas jika Ali mau, tapi nyatanya Ali lebih memilih Adam ketimbang Rara.
Sebagai seorang ibu yang bijak Rara tidak bisa memaksa anaknya untuk menuruti kehendaknya saat Ali sendiri tidak mau, karena Rara sadar Ali memiliki hak untuk memilih dan kebahagiaan putranya adalah segala-galanya bagi dia.
Terlebih Adam dan Ali baru memasuki fase untuk berdekatan satu sama lain, mungkin Ali baru merasakan nikmatnya memiliki sosok ayah yang sesungguhnya dan Adam pun baru merasakan momen senangnya punya anak sehingga dia begitu memanjakan Ali, karena itu Rara tidak ingin menghancurkan Kebahagiaan mereka berdua.
Rara membawa mobil Rangga keluar basment apartemen Adam menuju jalan raya yang membawanya pulang ke rumah.
Pagi itu benar-benar sial untuknya karena terjadi kecelakaan lalu lintas membuat kemacetan mencapai belasan kilometer. Rara mencoba keluar dari kemacetan saat dirasa ada cela untuk meloloskan diri. Merasa kenal dengan jalan di sebelahnya Istri Adam belok ke sebuah gang untuk keluarga dari barisan mobil yang berjalan merayap seperti semut, namun sialnya Rara salah masuk gang, harusnya dia masuk gak pertama bukan yang kedua. Sekarang bukanya menemukan jalan pintas untuk pulang ke rumah malam menemukan jalan pintas untuk kembali ke apartemen Adam.
Merasa frustasi Rara akhirnya Rara menepikan mobilnya di pinggir jalan. Mama Ali meletakan kepala di setir menangis sesenggukan disana. Meratapi nasibnya yang tidak beruntung dalam berumah tangga.
Jika ada Ali Rara tidak akan sesedih ini karena bagi dia Ali adalah semangatnya, motivasi dan tujuan hidupnya. Rara bertahan menjalani hubungan rumah tangga hingga detik ini dengan Adam juga lantaran Ali, karena Rara tidak mau putranya kehilangan figur seorang ayah.
Tapi kini saat dia sedih dan Ali tidak ada bersamanya membuat Rara merasa di buang, merasa jika dirinya tidak penting bagi dua lelaki yang paling dia cinta. Ali yang tidak mau bersamanya, juga Adam yang lebih percaya orang lain ketimbang dirinya.
Tidak tahu seberapa lama Rara menangis, setelah tentang barulah dia mulai menjalankan mobilnya kembali. Namun belum lama dia berjalan handphonenya berdering, menandakan jika ada yang menelpon.
Rara mengacungkan sang penelepon hingga panggilan itu terhenti, namun lagi-lagi HP-nya berbunyi membuat istri Adam merogoh tas yang ada di kursi penumpang untuk mengambil beda sejuta umat yang dia miliki.
Rara meletakkan benda pipih itu pada holder di dasbor lalu menyambungkan dengan earphone bluetooth yang tersemat di telinganya.
"Hallo assalamu'alaikum!" Sapa Rara begitu telpon telah tersambung.
"Walaikumsalam, ini Rara ya?" Jawab dan tanya suara di seberang sana.
"Iya. Ini Siapa?"
"Ini Ely. Masih Inget gak sama aku, teman kamu?"
"Elisa?" Tangan Rara.
"Elisa Sulastri?" Ulang Rara lagi.
"Yup, bener sayang."
"Ely!" Saking kagetnya Rara sampai menginjak rem mendadak, untung saat itu lampu merah sehingga tidak terjadi kecelakaan karena ulah Rara yang berhenti tiba-tiba.
"Kamu apa kabar?" Tanya Rara yang saking senangnya sampai dia nangis lagi.
__ADS_1
"Kabar baik. Kamu apa kabar?"
"Kab- kabar a-aku jug-juga baik."
Rara yang di telpon Elisa jadi tambah sesegukan sehingga membuat mama Ali harus menepikan mobilnya lagi saat rambu lalulintas sudah berubah hijau.
"Hei kenapa kamu nangis?" Tanya Elisa yang bisa di panggil Lisa. Hanya Rara yang memanggil Lisa dengan Ely, sebagai panggilan sayang.
"Aku bahagia kamu hubungi aku. Karena aku kangen banget sama kamu," aku jujur Rara.
"Aku juga kangen banget sama kamu sayang. Pengen peluk dan cium kamu. Pengen kita bisa ketemu lagi? Bisa jalan-jalan dan makanan-makan kayak dulu? Bisa senang-senang bareng?"
"Kapan pun, kalau kamu balik ke Indonesia lekas kabarin aku biar kita bisa ketemu."
"Aku sudah di Indonesia saya. Aku sudah balik beberapa bulan lalu dan sekarang aku tinggal di Pekanbaru."
"Apa? Seriously?" Tanya Rara tidak percaya.
"Beneran."
"Aku juga sekarang ada di Pekanbaru."
"Benarkah? Jika begitu buruan kesini. Kita jalan-jalan bareng. Aku serlok ya? Aku tunggu, ok sayang."
Elisa adalah teman Rara sedari TK hingga SMA mereka selalu satu sekolah, selain itu dulu rumah Eli juga ada di sebelah rumah Rara, hubungan keduanya sangat dekat. Bahkan saking dekatnya dimana ada Rara di sana ada Elisa begitu pun sebaliknya. Tapi begitu lulus SMA mereka berpisah, karena Lisa dan keluarganya pindah ke Jakarta.
Lisa kuliah kedokteran di Jakarta yang membuatnya bertemu dengan Anderson suami Lisa sekarang. Setelah menikah Elisa tinggal di Roma bersama Anderson karena suami sahabat adalah pria berkebangsaan Italia.
Selama berpisah mereka keduanya baru sekali bertemu, yaitu saat ayah Rara atau pak Heri meninggal dunia.
Saat pernikahan Rara Elisa tidak bisa datang. Selain karena sahabatnya itu sudah ada di Roma, kala itu Eli juga dalam posisi habis keguguran sehingga tidak memungkinkan dia untuk terbang ke Indonesia menghadiri acara pernikahan Rara.
Eli hanya mengucapkan selamat lewat telpon dan mengirim hadiah lewat paket. Begitu pun saat kelahiran Ali. Meski keduanya jarang bertemu tapi komunikasi mereka berdua berjalan lancar. Mereka sering tukar kabar lewat email.
Setelah sekian lama mereka berpisah, baru kali ini Keduanya hendak bertemu. Tentu saja masing-masing penasaran dengan wajah dan kehidupan masing-masing.
Begitu mendapatkan alamat rumah Elisa yang dikirim sahabatnya lewat chat, Rara langsung memutar arah mobilnya yang semula menuju luar kota menjadi kembali masuk ke kota.
Rara pikir bertemu Elisa lebih mengasyikkan ketimbang dia pulang di rumah sendirian, galau karena tidak ada Ali dan kesal dengan perlakuan Adam malam tadi.
__ADS_1
Rara menuju perumahan elite Indah Permai. Perumahan itu memang baru di bangun baru-baru ini saja karena jaman dia kuliah dulu belum ada. Tapi Rara paham daerah sana karena wilayahnya tidak jauh dari rumah teman sekelasnya kala kuliah dulu dan dia lumayan sering main kesitu.
Setelah laporan dan minta izin pada satpam kompleks yang bertugas di sana, serta menunjukkan identitas diri, barulah Rara di beri izin masuk perumahan para sultan itu.
Rara menghentikan mobilnya pada rumah besar bercat putih dengan nomor 12, kemudian mengalihkan pandangannya dari pagar tembok yang tinggi di depannya ke layar handphone, mencocokan alamat yang di berikan dari Elisa. Setelah yakin jika dia tidak salah rumah barunya istri Adam menelpon temannya memberi kabar jika dia sudah di depan gerbang.
Tak lama kemudian Gerbang besi berwarna hitam setinggi dua meter di depannya terbuka, Rara membawa mobilnya masuk ke dalam rumah mewah berhalaman luas. Di teras rumah berdiri seorang perempuan cantik menunggunya.
"Eli ya?" Todong Rara begitu turun dari mobil pada perempuan yang menghampirinya.
Elisa tersenyum, kemudian mengangguk, Iya," jawabnya.
"Makin cantik," komentar Rara sambil menatap prempuan berjilbab di depannya dari atas ke bawah, balik lagi ke atas.
"Benarkah?" Wajah Elisa berubah jadi bahagia, perempuan itu merentangkan bagian paha gamisnya dengan kedua tangan lalu memutar ke kiri dan ke kanan layaknya anak kecil pamer baju baru.
Rara tersenyum senang, "bener cantik sekali," jujur istri Adam, sesuai kenyataan. Menurut dia Eli lebih cantik saat berhijab dari pada polosan, meski Rara sendiri tidak tahu kapan saja tanya itu mulai hijrah karena foto postingan foto Elisa di Ig prempuan itu beberapa bulan lalu beliau mengenakan hijab.
"Kamu juga makin cantik, Anggun dan keibuan. Makin kelihatan dewasa gak kayak dulu," puji Elisa ganti.
"Kamu lebih cantik di lihat secara langsung ketimbang di foto," lanjut Elisa.
"Jelas," narsis Rara. "Kalau si cantik sudah datang terus diapain?" Lanjut tanya Rara.
"Peluk!" Jawab Elisa sambil merentangkan tangannya tanda siap memeluk Rara. Begitu pun sebaliknya, keduanya saling berpelukan melemas rindu yang selama ini terbendung.
"Rara, aku kangen banget sama kamu," aku jujur Lisa.
Rara mengangguk dia bahu Elisa. "Aku juga," ucap Rara.
Rara yang cenderung cengeng, tidak dapat berkata-kata dia hanya menangis sambil memeluk sahabatnya erat. Perasaannya campur aduk, gak tahu harus gimana saking senangnya.
Lisa menepuk punggung sahabatnya, "kok malah nangis, kenapa?"
"Aku bahagia banget bisa ketemu kamu lagi," jujur Rara sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuhnya Elisa.
Lisa menghapus air mata di pipi Rara dengan jarinya, "jangan nangis nanti kamu jadi jelek lho. Udah jelek nangis lagi, jadi dobel jeleknya," ledek Lisa.
Rara yang merasa di goda tidak terima dia membalas mencubit pinggang ramping Lisa sampai sahabat mengaduh sakit. Kemudian keduanya saling menatap dan tertawa.
__ADS_1
Elisa menuntut Rara memasuk ke rumah, duduk di sofa ruang tamu, mereka berdua ngobrol disana. Tak lupa Elisa meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan minum dan cemilan untuk menemani mereka ngobrol.
****