Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 103. Persiapan


__ADS_3

Adam membawa Rara ke salon muslimah untuk perawatan tubuh. Sengaja Adam memilih salon khusus untuk istri karena Rara berhijab, alsan lainnya juga karena Adam tidak ingin semua orang melihat aurat Rara terutama para lelaki.


Sebagaimana suami pada umumnya, Adam menunggu istrinya melakukan perawatan di ruang tanggu yang sudah sediakan oleh pemilik salon. Layaknya bos besar pada umumnya, pria itu menyibukkan diri dengan tablet yang dia bawa, sesekali tampak Adam menelpon seseorang membicarakan sesuatu, kemudian kembali lagi mengulik tablet.


Bagi Adam tidak ada hari tanpa kerja, jika dia bisa liburan berhari-hari di rumah maka dia juga harus siap lembur untuk beberapa malam. Seperti halnya sekarang, Sembari menunggu Adam memeriksa beberapa laporan yang Rain kirim kemarin, di temani secangkir kopi yang dia pesan pada pegawai salon.


Setelah empat jam menunggu akhirnya Rara keluar juga. Uang memang tidak menipu, sekarang penampilan Rara lebih cantik dan segar ketimbang saat dia masuk tadi. Istrinya juga makin wangi, aroma madu dan susu tercium dari tubuh Rara.


"Lama ya?" Tanya Rara saat sudah berdiri di depan Adam.


"Lumayan. Lumayan lumutan nungguin kamu."


Rara nyengir, "kan tadi udah di bilang kalau perawatan di salon pasti lama, tapi mas maksa pengen nungguin. Jadi bukan salah aku dong."


"Iya, memang bukan salah kamu. Salah mas yang bandel. Karena mas takut kalau ninggalin kamu, nanti kamu dibawa kabur orang, gara-gara gak tahu jalan pulang."


Rara tertawa, begitu pun juga Adam.


"Kalau nyasar tinggal pakai google map aja."


"Kalau nyasarnya di hati pakai apa hoyo?"


"Pakai telepati lah. Emang mau pakai apa lagi?"


"Pakai perasaan dong."


Kedua pasangan itu keluar dari salon sambil bergandengan tangan dan bercakap-cakap bercakap-cakap ringan menuju dimana mobil Adam terparkir.


"Kita makan siang dulu ya? Mas laper banget!"


"Boleh," jawab Rara sambil memasang seatbel di tubuhnya.


"Kamu mau makan apa?"


Adam menoleh, menatap Rara yang juga menatapnya.


"Apa saja yang penting enak dan bikin kenyang."


"Ok bos!"

__ADS_1


"Ali gimana? Sudah makan siang belum dia? Tadi di dalam aku gak sempat main HP, karena pijatannya enak aku malah ketiduran," jujur Rara memberi tahu.


"Untung kamu gak ngeces ya pas tidur?" Goda Adam yang langsung di jawab cubitan gemas oleh Rara.


Adam mengusap-usap pahanya yang sakit akibat ulah tangan sang istri.


"Udah. Tadi aku telpon dia saat mereka lagi makan mie instan."


"His! anak itu, kalau aku gak pasti minta di bikinkan mie instan," omel Rara tentang ke biasan Ali yang suka mengambil kesempatan saat sang mama pergi.


"Gak apa-apa lah, sekali-kali. Kan gak tiap hari juga."


"Sekalian seminggu kalau satu bulan kan jadi empat kali."


"Iya deh ngalah. Kalau urusan sama ibu-ibu mah gak pernah kalah," jujur Adam sambil melirik Rara yang memanyunkan bibirnya tanda dia kesal.


****


"Kamu belum pernah makan di sini kan?" Tanya Adam sambil membelokan mobilnya ke restoran Cina.


Rara mengeleng, "Belum. Kalau pergi dinas bareng teman-teman makanya itu-itu saja gak pernah di restoran Cina, Jepang atau Perancis gitu."


"Udah ku minta bang Rangga buat ngurus. Dia bilang kalau sudah nemu tempat yang cocok buat aku nanti bakal di kabarin," bohong Rara, lantaran tidak ingin menghacurkan harapan Adam.


"Pokoknya minta di usahakan. Makin cepat makin baik."


Rara mengangguk tanda mengiyakan permintaan sang suami.


Adam memarkirkan mobilnya pada lahan parkir VIP, rupanya suami Rara pelanggan VIP restoran tersebut sehingga bisa mendapatkan tempat parkir yang berada tepat di depan pintu masuk, sehingga mereka tidak harus jauh-jauh berjalan.


Adam memesan banyak makanan untuk Rara, karena ini pertama kali bagi sang istri makan disana maka papa Ali ingin menjamunya.


"Kamu tahu Ra, disum disini enak banget coba deh," ujar Adam sambil menyapit sebuah disum dan menyuapkan ke mulut Rara.


"Gimana? Enak kan?"


Rara mengacungkan jempolnya, "Eenya...banyet..."


Rara mencoba mengatakan enak banget dengan mulut yang penuh dengan disum.

__ADS_1


"Di telan dulu baru ngomong!"


"Bener mas, enak banget," ujar Rara mengulangi ucapannya.


Kemudian Adam bergantian menyuapi menu-menu lainnya pada Rara, meminta sang istri mencoba satu persatu.


"Kayaknya restoran ini baru ya mas? Soalnya jaman aku kuliah belum ada."


Karena seingat Rara saat jaman dia kuliah dulu daerah sini masih penuh dengan penjualan bunga dan tanaman, tidak ada restoran di sana.


Adam membenarkan ucapan sang istri, "restoran ini memang baru. Baru buka lima tahun yang lalu. Perusahaan mas yang desain dan membangunnya. Menurut kamu bagus gak?"


Rara mengamati sekeliling. Kebetulan kali ini mereka duduk di ruang leguler jadi bisa melihat desain interior secara menyeluruh.


"Bagus kok. Desain dan modelnya kekinian banget. Jadi nyaman buat nongkrong. Kayaknya cocok buat semua kalangan."


"Heem, mas setuju. Kayaknya kamu emang cocok jadi istri arsitek deh, jadi bisa mengomentari bangunan."


Rara tertawa mendengar penuturan Adam yang berniat memujinya.


"Besok kapan-kapan mas ajak kamu jalan-jalan keliling Eropa. Disana ada banyak bangunan yang bisa kamu komentari."


"Wah....kalau diminta jadi komentar kayak gini biasanya bayarannya mahal loh mas. Kan komentar ekskutif."


"Tenang aja, kalau itu mah mas siap kapan pun kamu mau. Siang malam terus bonus pagi juga mas mau kok."


Rara yang mendengar ucapan Adam sudah mulai tidak beres melempar sedotan yang dia punya pada Adam, membuat pria itu terbahak.


Begitu selesai makan mereka langsung pulang ke apartemen. Selain hari sudah sore, Adam juga ada janji dengan MUA yang akan makeup Rara untuk acara nanti malam.


*


Adam, Rangga dan Ali menuggu Rara yang sedang di makeup oleh MUA yang telah Adam boking untuk sang istri.


Mereka duduk di sofa ruang tamu, menunggu dengan sabar penampilan Rara yang ada di kamar.


Setelah satu jam lebih menuggu akhirnya Rara berdiri di depan mereka bertiga, membuat lelaki beda usia itu menatap tak percaya pada sosok perempuan di depannya.


"Ini.... beneran mama?" Tanya Ali.

__ADS_1


Bocah itu mengerjapkan matanya tak percaya.


__ADS_2