
Adam masuk kamar tamu, Membukakan jas dan kemeja yang dia kenakan, lalu mengantinya dengan kaos dan celana terening milik Rangga yang tersimpan di lemari. Mau bagaimana lagi, Rara mengunci pintu kamarnya membuat dia tidak bisa masuk meski sekedar untuk menukar baju.
Adam merebahkan tubuhnya diatas kasur, berguling ke kiri dan ke kanan, mengubah posisi tidur nya ke sembarang arah berharap mendapatkan posisi yang nyaman, namun nyatanya hanya kesal yang dia dapat.
Adam tidak tahu, kenapa Rara bisa begitu marah dan mengunci diri bergitu, padahal niat dia cuma menasehati saja namun kenapa reaksi istrinya begitu berlebihan sampai mengunci pintu segala. Sekarang dia jadi gak bisa masuk kamar. Adam menendang-nendang udara di depannya, dadanya naik turun menandakan jika dirinya teramat sangat kesal.
Tidak tahu harus berbuat apa akhirnya Adam memilih diam, meletakkan sebelah tangannya diatas kening, menurut matanya membiarkan pikirannya menerawang jauh, hingga kantuk datang menghampirinya dirinya.
Sedangkan dikamar sebelah, Rara juga tidak kalah kesal dengan Adam, mama Ali ingin rasanya menguliti suami yang tidak tahu diri itu.
Ingin dia pergi jauh dan mengingat cerai Adam, mengakhiri pernikahan mereka begitu saja, namun melihat wajah Ali polos Ali yang tengah terlelap tidur membuat dia tidak tega melihat anaknya itu sedikit.
Membuat Rara tidak tega melihat anaknya kehilangan figur seorang ayah. Bahagia jika Ali bertanya kenapa mereka tidak bersama lagi? Jawaban apa yang harus Rara berikan pada putranya?
Ali masih terlalu kecil untuk memahami maslahah orang dewasa. Terlebih lagi Rara tahu menjadi seorang janda itu tidak semudah yang orang pikirkan. Tidak segampang yang orang omongkan. Apalagi setatus janda yang pisah karena cerai itu masih begitu tabu di masyarakat.
Seberapa baik pun Rara jika dia bercerai pasti semua orang akan menyalahkan dirinya, menganggap dia yang tidak becus merawat suami hingga bercerai, meski orang tidak tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi, pastilah tetap Rara yang akan di salahkan. Tapi jika tidak bercerai lalu bagaimana dengan hatinya? Apakah dia sanggup hidup dengan Adam yang selalu menyakitinya seperti ini?
Memang Adam tidak memukul, tapi bagaimana bisa suaminya itu meragukan dirinya. Jika memang harus bersabar? Seberapa banyak stok kesabaran yang harus dia miliki untuk menghadapi sikap Adam yang begitu egois.
"Ya Tuhan, kenapa cobaan dalam rumah tangga ku begitu berat? Kenapa suamiku lebih percaya kepada orang lain ketimbang harus pada ku, istrinya sendiri?
Aku harus apa? Berilah aku petunjuk dalam mengambil keputusan sehingga aku tidak salah dalam melangkah. Tunjukan aku jalan yang tidak menyakiti aku juga anak ku, ya Allah," ratap Rara lewat doanya.
Di kecupnya pipi Ali yang tengah terbuai mimpi. Hanya anak itu lah satu-satunya alasan dia bertahan kepada Adam selama ini.
Di raihnya jemari kecil Ali dalam genggamannya. Di ciumnya berkali-kali tangan itu, sebelum di dengan erat dengan kedua tangan Rara.
"Doain mama kuat menghadapi ini semua ya sayang? Doain mama bisa memperoleh jalan keluar terbaik buat masalah mama. Sehingga kita berdua tidak ada yang terluka dengan keputusan yang mama ambil di kemudian hari," lirih Rara pada putranya sambil Berlinang air mata.
__ADS_1
Rara memeluk Ali, mencoba menenangkan wajahnya pada punggung kecil putranya, mencoba mencari kedamaian disana, dengan sebelah tangannya memeluk Ali secara posesif, seoalah takut jika bocah itu pergi dari sisihnya.
****
Marcell melepaskan jas putih yang dia kenakan lalu menyampaikan di bahu Monica, mengancingkan bagian depan sehingga menutupi gaun Monica yang sudah berubah warna.
Pria itu memeluk bahu Monica menuntun prempuan itu pergi dari sana. Tak lupa tatap membunuh Marcell lemparan pada setiap orang-orang yang berbisik-bisik dengan tatapan kepo kearah mereka berdua sambil menatap kearah mereka berdua sepanjang jalan menuju pintu keluar ballroom. Tempat dimana acara Kan Petra beda.
Meskipun prempuan itu sudah bukan pacaranya lagi, tapi Marcell tidak suka melihat Monica di perlakukan semena-mena apa lagi sampai di permalukan di depan umum begitu. Apalagi disana tidak ada yang dikenal perempuan itu, lalu jika bukan Marcell siapa lagi yang akan menolongnya.
Monica yang shock akan kejadian tadi masih menangis sedih meski sudah berada dalam pelukan Marcell. Sesekali dia mengusap air mata yang menetes di pipi. Monica hanya pasrah saat pria itu membawanya keluar ballroom.
"Kamu tidur di mana?" Tanya Marcell saat mereka sudah berada di depan lift.
"Hotel Labersa."
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana," ujar Marcell.
Marcell menuntut Monica masuk kedalam lift lalu menekan tombol bertuliskan angka satu.
"Kenapa kamu tidak tidur di hotel sini saja? Kan biar cepet kalau pulang?"
Monica menoleh, menatap Marcell yang juga menatapnya. Prempuan itu mengeleng, "aku... kehidupan ku tidak seperti dulu lagi," lirihnya sambil menunduk. Monica malu untuk mengakuinya.
"Setelah mas agak ada, kehidupan ku gak seperti dulu lagi. Butik juga gak berjalan lancar, iklan juga sepi. Aku...ah sudahlah lah aku gak ingin membahas ini," jujur Monica.
"Kenapa?"
Pertanyaan Marcell tidak terjawab karena lift lebih dulu terbuka dan mereka keluar dari lemari kecil itu.
__ADS_1
Marcell mengantarkan Monica pulang dengan taksi karena dia tidak menyewa mobil saat tiba di kota itu. Karena hotel tempat dia menginap juga satu bangunan dengan lokasi pesta sehingga Marcell merasa tidak memerlukan mobil untuk berpergian.
Mereka saling diam hampir separuh perjalanan. Marcell membiarkan Monica bersandar manja dia bahunya, menumpangkan kepalanya di pundak Marcell dan mengapit lengannya sehingga mesra. Seperti halnya saat mereka masih pacaran dulu.
"Aku kangen sama mas, kangen banget. Tapi mau ngajak balikan aku malu. Merasa tidak pantas," aku Monica.
Marcell tersenyum tipis, baguslah kalau sadar, pikirnya dalam hati.
"Aku berharap kita bisa balikan lagi kayak dulu meski itu semua juga gak mungkin. Bukan karena aku ngarepin mas karena mas kaya bukan itu, tapi aku merasa tanpa kamu hidup aku terasa hampa. Dulu aku pikir mas gak perhatian sama aku sehingga aku mendekati mas Adam. Tapi ternyata salah, aku sama Adam karena penasaran saja dan ternyata aku cinta beneran sama mas Marcell," Monica kembali sesegukan, "aku gak tahu gimana nenangin hati ku kalau tiba-tiba kangen sama kamu. Kangen perhatian kamu, kangen saat kamu tanya aku sudah makan belum, dan banyak hal lainnya. Meski itu terdekat sepele tapi aku merindukannya."
Marcell hanya diam tidak menanggapi ucapan Monica, hanya tangannya saja yang mengusap kepala Monica mencoba menenangkan wanita itu.
Jujur dia juga merasakan hal yang sama, kangen kebersamaan dia dan Monica. Tidak bisa di pungkiri kebersamaan mereka selama dua tahun itu membuat dia mendadak kesepian saat tak ada wanita itu di sebelahnya. Biasanya Monica selalu brisik dan recok saat dirinya kerja lembur sampai malam, namun kini ketika dia pulang kerja rumah kosong tidak ada siapa pun yang menyambutnya.
Hal kecil seperti makan bersama, mandi bersama, olahraga bersama itu selalu membuat Marcell teringat pada Monica. Namun lagi-lagi selalu Marcell tepis dengan menghadirkan sosok perempuan itu yang tel*njang di depan Adam. Sosok Monica yang mencoba menggoda sahabatnya sendiri, sehingga memberi Marcell dapat menahannya diri untuk tidak menghubungi Monica lagi.
"Kamu masih sering datang ke dokter yang mas rekomendasikan?" Tanya Adam.
Monica menggeleng.
"Kenapa?" Tanya Marcell, kepanikan tampak diwajahnya yang tampan.
"Karena kalau aku pergi kesana hanya akan membuat aku inget kamu aja. Membuat aku makin kangen sama kamu. Jadi aku gak pernah datang lagi kesana."
"Astaga Monica, kamu tahu kan semua itu demi kebaikan kamu sendiri. Kenapa kamu tidak dapat buat kontrol tiap saat sesuai hari yang sudah di jadwalkan."
*****
Lha...Monica kenapa lagi itu?
__ADS_1
Kalau pengen tahu kenapa Rara masih bertahan meski Adam mengharapkan Maelin. jawabnya karena Rara tidak tahu. Adam tidak pernah bilang. Setahun Rara setelah pertengkaran mereka beberapa waktu lalu Adam benar-benar berubah. Karen Adam hanya menyimpan semua dalam hati dan Rara bukan cenayang yang bisa tahu isi hati manusia.
Maaf sebelumnya, bukan karena athor suka Rara teraniaya ya? Tapi nanti saat Rara melihat bukti nyata juga bakal bertindak. Sekarang kan Adam masih bermain rapi juga tidak menemui Maelin, jadi gimana bisa tahu. Kalau WhatsApp juga tidak pernah.