Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 57. Mencoba Jujur


__ADS_3

"Kamu kenapa?" Tanya Adam saat mendapati mata Rara memerah, "kamu menangis?" Tanya pria itu sambil mengelus Surai hitam bergelombang milik sang istri.


"Gak, cuma mata aku kelilipan saja," ucap Rara sambil menutup pintu ruang kerja.


"Bener? Bukan karena menangisi?" Selidik Adam curiga.


Rara diam, tidak menjawab.


"Lagi pula kenapa tiba-tiba pulang sekolah langsung ngurungdiri di ruang kerja begitu, pakai acara kunci pintu segala lagi," selidik Adam yang memang curiga dengan sikap Rara.


Rara yang ditatap tajam oleh mata hitam Adam hanya dapat nyengir, meski hatinya sakit dan pengen nangis juga jerit sekencang-kencangnya tapi semua itu dia tahan demi sebongkah rahasia.


"Cuma memeriksa beberapa hal saja, gak penting juga kok. Udah ah yok kita makan. Aku dah lapar," ucap Rara sambil menarik tangan Adam membawa pergi dari depan ruang kerjanya menuju ruang makan.


****


Rara mengambilkan nasi dan lauk untuk Adam secukupnya, begitu juga untuk Ali, yang sore ini ikut makan bersama mereka, kemudian baru Rara mengambil nasi dan lauk untuk diri sendiri.


Mereka bertiga duduk dan makan dengan tenang. Tidak seperti biasanya yang selalu bercerita dan bercanda, sampai akhir Adam yang buka suara lebih dulu.


"Ra!"


"Ra!"


"Rara!" Panggil Adam pada Rara yang sibuk melamun.


"Hey....," Adam mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Rara yang membuat mama Ali kaget sekali.


"Kenapa mas?!" Tanya Rara sambil menunduk sedikit wajahnya agar terlihat terkena tangan Adam.


"Kamu kenapa ngelamun? Makan kok sambil ngelamun? Ngelamunin apa sih?" Omel Adam tidak suka


"Gak ada ah," elak Rara, berbohong. Karena entah kenapa pikiran dia memang tidak bisa lepas dari pesan yang ada di Wa suaminya tadi.


"Ra!" Panggil Adam lagi.


"Hem," Rara menatap Adam, yang duduk di depannya, sambil menyuapkan nasi dalam mulut.


"Kapan kamu mau belanja? Soalnya nanti sore mas mau pergi sama Rangga," ungkap Adam dengan tak menghentikan aktivitas makannya.


"Emang mau kemana?" Tanya Rara penasaran.


"Mau lihat perkebunan kelapa sawit. Rangga bilang mau beli kebun jadi minta temani mas buat survey kira-kira bagus gak gitu."


Rara mengangguk paham, "kalau gitu terserah mas aja. Kalau sore sibuk ya malam gak apa-apa. Habis Isya' gitu. Kalau gak besok juga gak apa-apa."

__ADS_1


Adam mengangguk setuju.


"Mas!" Panggil Rara ganti, membuat Adam yang ada di sebrang meja menatap ke arahnya.


Rara menghentak aksi makannya, menatap Adam dengan seksama, ingin tahu reaksi sang suami tentang hal yang akan dia tanyakan.


"Nomor yang kemarin telpon kamu semalam telpon lagi," aku Rara.


"Terus?" Jawab Adam santai.


"Terus aku angkat, tapi dia diam saja gak ngomong apa-apa. Langsung dimatikan gitu saja telponnya," jujur Rara memberi tahu pada Adam.


"Emang itu nomor siapa mas, kenapa telpon kamu jam dua pagi gitu," selidik Rara.


Namun sayang raut wajah Adam tenang seperti biasa, tidak tegang, marah ataupun kecewa, membuat Rara semakin penasaran saja.


"Nomor Monic," jawab Adam enteng, terkesan tak acuh dan tak perduli, seolah tidak terjadi apa-apa.


Rara mengernyitkan dahinya.


"Inget Monica gak? Pacar Marcell yang kita ketemu di Yogyakarta dulu. Cewek cantik yang ngobrol sama kamu," Adam mengunakan.


"Hem, terus kenapa dia telpon kamu malam-malam gitu?" Selidik Rara.


"Dia suka telponin mas malam-malam gitu?"


"Gak juga, memang kenapa? Kamu curiga kalau mas selingkuh gitu?" Tanya Adam balik sambil menghentikannya makannya dan menatap Rara tajam, membuat udara di sekitar Rara menipis seketika hingga dia serasa sesak napas.


Rara menghembuskan nafas berlahan, mencoba rileks, "Aku cuma penasaran saja. Habis mencurigakan begitu. Selama kamu ada di rumah dia telpon kamu terus. Gak mungkin kan kalau gak ada apa-apa telpon kamu pagi siang sore malam gitu. Kayak selingkuhan yang di tinggal pergi pacarnya aja," kesal Rara juga cemburu.


"Aku juga gak tahu kenapa dia kayak gitu. Padahal kita gak ada hubungan apa-apa, selain hanya urusan pekerjaan saja."


Rara menaikkan alisnya, "mas kerjasama bareng Monic?"


"Iya. Dia pengen buka butik dan dia nyuruh aku buat desain bangunan butik punya dia. Itu juga Marcell yang nyuruh."


"Oh...." Rara ber oh panjang.


"Tapi bener kan mas gak ada hubungan apa-apa sama Monica?" Rara mencoba meyakinkan diri.


"Gak ada. Gak usah kamu pikirkan, dia memang premi aneh, gak usah curiga apa lagi cemburu, gak penting ok," imbuh Adam yang seolah tahu maksud hati Rara.


Rara mengaguk, ada kelegaan tersendiri di hatinya mendengar pengakuan sang suami. Meski begitu bukan berarti Rara menghapus aplikasi WhatsApp ada dari komputer nya.


****

__ADS_1


Nyatanya benar apa yang di katakan Adam, jika dia dan Monica tidak ada hubungan apa-apa, karena setelah konfirmasi Adam sore hari itu hingga Adam kembali ke kantor Monica tidak pernah mengirim pesan lagi di WA suaminya.


Perempuan itu juga tidak menelpon Adam, pagi siang sore seperti beberapa waktu lalu. Mungkin Adam yang marah atau Adam yang melarang Monica Rara juga tidak tahu yang jelas mereka tidak berkomunikasi lagi di depan Rara.


Rara juga mencoba mengerti dengan tidak curiga, karena konsep dalam rumah tangga adalah dengan saling percaya pada pasangan masing-masing dan Rara pun begitu, dia ingin percaya pada Adam bahwa suaminya tidak salah langkah di luaran sana.


"Mas pergi dulu ya Ra! Kamu jaga diri baik-baik di rumah!" Pesan Adam sambil mencium kening Rara sebagai salam perpisahan.


"Kamu juga ya sayang. Sehat-sehat di rumah. Jaga mama baik-baik, papa kerja dulu!" Ucap Adam sambil mencium kening dan kedua pipi putranya.


"Iya papa. Papa juga baik-baik di sana!" Pesan Ali sambil balas mencium pipi sang papa.


Adam terseyum, "ok sayang!" Ujarnya seraya membentuk huruf O dengan kedua jarinya.


"Aku berangkat dulu Ra!" Pamit Adam.


"Hati-hati di jalan mas," pesan Rara.


"Aku berangkat dulu ya mbok, nitip Rara sama Ali!"


"Iya mas, hati-hati di jalan!" Pesan mbok Atun.


Setelah mencium puncak kepala Rara dan Ali secara bergantian Adam berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah.


Sore itu memang mereka bertiga, mbok, Rara dan Ali ada di teras depan rumah mereka, melepas Adam untuk pergi kerja keluar kota.


Posisi jarak yang jauh membuat Adam memilih pergi sore hari ketimbang berangkat subuh. Soalnya banyak pekerjaan yang harus dia persiapan untuk besok pagi dan kalau mengerjakan di rumah pasti tidak akan selesai karena banyak gangguan, salah satunya Ali yang kerap ngajak dia mabar.


Apalagi kemarin Adam baru memberikan mainan baru anaknya saat mereka belanja bersama.


Entah kenapa melepaskan kepergian Adam kali ini terasa berat bagi Rara, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang terasa ringan dan biasa saja.


Namun kali ini, ada perasaan tidak rela saat suaminya akan pergi bekerja.


Rara menenangkan hatinya yang gundah dengan mengatakan tidak apa-apa, demi menyenangkan diri sendiri dan menenangkan hati yang mendadak melow.


"Ayo mah masuk!" Ajak Ali menarik tangan Rara yang masih mematung di teras rumah pada mobil Adam sudah pergi dari tadi.


Baik-baik kamu disana ya mas, aku dan Ali menuggu kamu di rumah, pesen hati Rara yang berharap sampai pada hati Adam.


*****


Jangan lupa kasih hadiah buat Rara ya!


Maaf nyatanya baik Rara maupun Monica tidak berarti dalam hidup Adam.

__ADS_1


__ADS_2