
"Kita akan Kencan disini?" Tanya Aisyah tak percaya. Melempar pandangan pada sekeliling tempat itu.
Rangga memarkirkan mobilnya pada sebuah Padang safana dengan sebelah danau berawan biru di tengahnya.
Meski danau itu di tertutup oleh Enceng Gandok hampir separuh permukaannya namun tidak mengurangi ke indahan yang di suguhkan.
Pohon-pohon Elm di taman mengelilingi danau sebagai tempat berteduh bagi para pengunjung.
Berdecak kagum dengan pemandangan yang di suguhkan di depannya. Binar bahagia tampak jelas di wajah Aisyah.
Aisyah memang tipe gadis yang mengekspresikan perasaan lewat sikap, jadi jika gadis itu sedih dan senang akan langsung terlihat dari wajahnya
Rangga mengangguk, "iya."
Aisyah membuka pintu mobil. Melompat turun setelah melepas seatbelt. Merentangkan kedua tangannya, menghirup udara yang masih bercampur embun pagi. Memenuhi paru-paru dengan udara segar dan menghembuskan berlahan.
Rangga turun dari mobil, mengambilkan tas ransel dari kursi penumpang. Kemudian berjalan menghampiri Aisyah.
"Kamu suka?" Tanya Rangga, saat sudah berdiri di sebelah gadis itu.
Aisyah menoleh, menatap Rangga, "Hem, suka banget. Aku gak nyangka kalau di kota ini ada tempat sebagus ini. Makasih udah bawa aku kesini."
Rangga mengusap puncak kepala Aisyah yang tingginya hanya sebatas bahu Rangga. "Sama-sama," jawabnya sambil tersenyum.
Rangga mengandeng tangan Aisyah dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menahan ransel yang ada di punggung.
"Yuk!" Rangga menarik tangan Aisyah, mereka berjalan beriringan menuju sebuah pohon Elm yang di tepi danau. Menghampiri lelaki tua yang sudah menunggu mereka di sana.
"Kita mau mancing?" Tanya Aisyah saat melihat Rangga mengeluarkan dua buah alat pancing dari tasnya.
"Hm, aku ingin makan ikan."
"Kalau cuma pengen makan ikan kenapa tidak beli di pasar saja. Kenapa mesti mancing segala, lama?" Bibir Aisyah meruncing tanda dia kesal. Sudah terbayang di benaknya betapa bosannya dia nanti menunggu umpamanya dimakan ikan. Secara danaunya seluas itu dan umpan mereka sangatlah kecil tentang kemungkinan ikan tahu kalau itu adalah makanan juga kecil, bahkan terkesan mustahil.
*
"Lihatlah sudah satu jam kita disini, tapi kamu juga baru dapat satu ikan kecil kayak gitu," komen Aisyah sambil melongok ke arah ember berisi ikan yang ada di belakang Rangga.
Mereka berdua berada di tengah danau dengan mengunakan sampan yang tadi pagi Rangga sewa dari nelayan untuk memancing.
Aisyah mengelap peluh yang membanjiri pelipisnya. Matahari mulai meninggi dan udara juga semakin panas. Mesti angin sesekali berhembus namun nyatanya tidak dapat menyejukkan sinar matahari yang membakar kulit.
Rangga yang melihat wajah Aisyah memerah karena kepanasan merasa kasian pada gadis itu. Dilepaskan switer yang dia kenakan, lalu diletakkan di kepala Aisyah untuk menutupi wajah gadis itu dari panas matahari.
"Maaf ngajakin kamu panas-panas gini," jujur Rangga. Tangannya mengusapnya kening dan pelipis Aisyah yang basah oleh keringat dengan ujung lengan switernya.
"Meski terpaksa tetep saja aku maafkan," ujar Aisyah. Gadis merucutkan bibirnya, meski kesal dia tetep mencoba sabar. Karena tidak mungkin dia berenang ketepian demi menyelamatkan diri dari neraka yang Rangga ciptakan.
Rangga tertawa mendengar jawaban judes gadis di sebelahnya.
Aisyah tidak segan menunjukan rasa bosannya pada Rangga. Apalagi dari tadi umpannya hanya habis begitu saja tanpa mendapatkan ikan. Membuat pria itu tak henti-hentinya tertawa karena melihat tingkah Aisyah yang begitu bete berat.
__ADS_1
Untuk membungkam mulut prempuan di sebelahnya sebelum nyinyir Rangga mengeluarkan sekotak salad buah yang tadi dia bawa dari dalam tas.
"Dari pada kamu manyun terus mending makan. Aaag..." Rangga menyuapkan sepotong melon pada mulut Aisyah.
Lalu mereka kembali mancing, sambil makan dan bercerita. Membuka informasi, memberitahu pada pasangan tentang apa yang disuka dan tidak disukai.
*****
"Kalau aku dan Rara tengelam di danau ini, siapa yang bakal kamu tolong duluan? Aku atau Rara?"
Rangga yang sedang fokus pada alat pancingnya menoleh, saat mendapati pertanyaan yang menurut dia sangat konyol. Menatap wajah Aisyah dan terbahak.
"Aku tidak akan menolong keduanya," jawab pria itu di sela tawanya. Aisyah menaikan alisnya, hingga hampir menyatu, "Karena aku tahu kalian berdua adalah para prempuan tangguh yang bisa berenang dan menyelamatkan diri sendiri karena itu aku tidak harus susah payah menolong salah satu diantara kalian."
Aisyah memukul lengan Rangga karena kesal dengan jawaban pria itu.
"Rara bisa berenang, dan aku yakin kamu juga bisa berenang bukan?" Lanjut Rangga tidak memperdulikan rasa kesal Aisyah.
"Meski begitu?"
"Jadi berhentilah bersikap konyol dengan berandai-andai hal yang tidak penting ok." Rangga mengusap kepala Aisyah gemas.
Aisyah mencebik kesal.
****
Rangga menggelar matras yang dia bawa di bawah pohon Elm. Hari sudah siang, sinar matahari terasa begitu menyengat tidak tega rasanya Rangga mengajak Aisyah panas-panas begitu, sehingga adik Adam menghentikan kegiatan memancingnya di tengah danau.
"Mau sholat dulu tidak?" Tanya Rangga saat Aisyah sudah duduk santai bersandar pada pohon, menikmati sejuknya uap air yang terbawa oleh angin sepoi-sepoi, "kalau iya, di ujung sana ada warung. Kamu bisa bisa sholat disana. Aku kenal dengan pemilik warung itu."
"Aku lagi tidak sholat."
"Mau ke kamar kecil mungkin?"
"Lagi tidak pengen."
"Terus kamu pengen apa? Mau pulang?"
"Aku lapar. Pengen makan." Aisyah memegang perutnya memberitahu pada Rangga.
"Ok. Kalau begitu aku sholat dulu. Habis itu nanti aku bikinkan menu makan siang buat kamu. Kamu tidur saja dulu, nanti kalau semua sudah siap aku bangunkan."
Aisyah mengangguk mengikuti permintaan Rangga. Dia meletakkan ransel Rangga yang sudah kosong ke atas matras menggunakan sebagai bantal.
Sedangkan matanya masih fokus mengamati Rangga yang kembali turun ke danau untuk mengambil. Rupanya pria itu menyimpan sajadah dan sarung di mobilnya sehingga tidak harus pergi ke masjid untuk sekedar sholat Dzuhur.
Suasana sejuk membuat mata Aisyah yang semula mengamati gerak-gerik aktif Rangga terpejam. Gadis mengenakan celana jins warna hitam dan kemeja warna toska itu benar-benar terlelap. Bahkan Aisyah tidak terasa sama sekali saat Rangga menarik tas yang di gunakan sebagai bantal gadis itu dan mengeluarkan isinya.
Rangga membersihkan dan membakar tiga ekor ikan hasil mancingnya sebagai lauk makan siang mereka berdua. Sengaja dia hanya membawa nasi putih dan sambal juga lalapan dari rumah.
****
__ADS_1
"Ah...kenyang."
Asiyah mengusap perutnya. Nyatanya ikan bakar yang Rangga bikin sangat enak. Entah karena efek ikan segar dan sambal terasi atau efek Aisyah yang lapar, dia juga tidak tahu yang jelas menu makan siang kali ini membuat gadis itu lupa kalau dirinya sedang diet.
"Kurang?" Tanya Rangga. Mengelap mulutnya dengan tisu, pria itu mengalihkan pandangannya dari wajah Aisyah ke kotak nasi di depannya.
"Memang masih ada lagi. Ikannya?" Tanya gadis itu sebelum mengambil mangkuk berisi air cuci tangan dari dekat paha Rangga.
"Masih ada banyak, Di danau."
"Mancing dulu?" Jawab Aisyah.
"Jelas."
"Hais, kalau gitu mending beli di pasar dari pada nungguin kamu mancing."
Rangga tergelak melihat ekspresi Aisyah yang mendadak jutek ketika mendengar kata mancing.
Bener-bener deh, gak Rara, gak Aisyah kalau diajak mancing pasti ngomel. Apa memang para perempuan itu tidak hobi memancing ya? Pikir Rangga.
Selesai makan Rangga melanjutkan acara mancing mania untuk menunggu sunset yang sudah di janjikan pada Aisyah. Sedangkan gadis yang sejak awal datang sudah merasa bosan itu lebih memilih menemani Rangga dengan tidur di bawah pohon.
"Aku mau kamu mancingnya di sini saja sambil jagain aku tidur. Aku takut kalau tidur sendiri disini nanti diperkosa orang lewat!" Pinta Aisyah sambil menepuk matras kosong Di sebelahnya, meminta Rangga duduk disana.
Rangga menoleh, menatap wajah Aisyah yang sedang menatapnya, "Memang kalau aku duduk disini ada jaminan kamu aman dan tidak di perkosa? Bagaimana jika yang melakukan itu aku?" Rangga menaikan alisnya.
"Hias, dasar mesum!" Aisyah mendorong tubuh Rangga agar menjauh darinya. "Kalau kamu berani merundung paksa aku. Bakal aku tuntut dan minta pertanggungjawaban!" Ancam gadis itu bersungguh-sungguh.
"Gak takut. Memang itu yang aku mau." Rangga menjulurkan lidahnya. Membuat Aisyah mencebik kesal.
"Mau apa kamu?" Tanya Aisyah panik saat melihat Rangga berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Aisyah.
"Mau menuruti permintaan kamu." Rangga menipiskan bibir membentuk senyum penuh arti.
"Jangan macam-macam kamu ya?" Aisyah menyilangkan kedua tangannya ke dada. Tatapannya menyelidiki penuh waspada pada Rangga.
Rangga tertawa melihat tingkah Aisyah, "Ketahuan banget kalau ngarep di apa-apain, padahal aku cuma mau duduk Disini."
Rangga menjatuhkan tubuhnya pada tempat dimana Aisyah bilang tadi.
Sial! Umpat Aisyah dalam hati.
"Siapa juga yang ngarep. Dasar aneh!" Sangkal Aisyah. Pipinya merona merah karena malu. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri dalam danau saat itu juga.
Nyatanya, demi apapun juga Rangga menuruti permintaan Aisyah. Pria itu mancing dipinggiran sambil menemani sang gadis istirahat.
Rangga memberikan pahanya pada Aisyah untuk di jadikan bantal gadis itu tidur, meskipun dia merasa kakinya kesemutan dan mati rasa karena tidak bergerak sedari tadi, namun melihat wajah lelap dan tenang Aisyah Rangga tidak tega membangunkannya.
Pepohonan yang rindang, angin sepoi-sepoi bertiup, perut yang kenyang dan tubuh yang lelah membuat Rangga beberapa kali menguap juga. Pria itu mengeser sedikit tubuhnya ke belakang hingga punggungnya bersandar pada pohon Elm, untuk mengurangi capek.
Hembusan angin sejuk yang menerpa wajahnya membuat mata Rangga terasa berat. Meski dia sadar harus menjaga Aisyah yang tertidur di pelukannya tapi nyatanya Rangga juga tak kuasa menolak rahmat tuhan hingga akhirnya mata itu semakin terasa berat untuk di buka dan terpejam.
__ADS_1
Adik Adam terlelap tidur dengan kail pancing di tangan terjatuh karena tak kuasa untuk menahan beban. Keduanya pun sama-sama tertidur terbuai mimpi. Dengan Aisyah menghadapkan wajahnya pada perut Rangga, tangan memeluk pinggang kekar pria itu erat.
*****