Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 56. Belum Terungkap


__ADS_3

Setelah mengantar Ali ke sekolah dan Rara bekerja, Adam lanjut pergi ke rumah Eka.


"Assalamu'alaikum mama!" Salam Adam begitu melihat Eka yang ada di halaman rumah.


"Walaikumsalam salam," jawab Eka dengan nada sinis.


Tak perduli dengan respon sang mama yang rada kurang suka, Adam pun menghampiri Eka yang sedang mencabuti rumput di taman bunga depan rumah, mencium punggung tangan perempuan yang menjadi cinta pertamanya, tak perduli meski tangan itu kotor penuh tanah.


"Sendiri aja ma?"


"Ya."


"Papa kemana?"


"Ke pasar," jawab Eka, "kamu udah sembuh?" Tanya sang mama sambil kembali pada kegiatan awal, mencabuti rumput.


"Seperti yang mama lihatlah," balas Adam sambil mengikuti kegiatan sang mama.


Eka Memeng suka menanam bunga, dan kegiatan dia ketika pagi hari adalah merawat tanaman sambil bermandikan cahaya matahari pagi, jadi tidak heran dengan rumah orang tuanya yang penuh bunga warna warni, beda dengan Rara yang tidak hobi berkebun.


Saat tengah asik membantu Eka mencabuti rumput handphone ada berbunyi, membuat pria tampan itu harus menyingkirkan sebentar guna menerima panggilan masuk.


Adam duduk di kursi yang ada di depan teras rumah Eka, menyilangkan kakinya dan menempelkan benda kesayangan sejuta umat itu di telinga kirinya.


"Hallo Assalamu'alaikum!" Sapa Adam pada sang penelpon yang tidak lain adalah Monica.


Walaikumsalam mas Adam! Mas Adam apa kabar? Kenapa beberapa hari ini sulit sekali di hubungi?" Tanya perempuan itu dengan nada manja.


"Maaf," jawab Adam sambil mengetuk-ngetukan jarinya pada lengan kursi, sedang matanya sibuk mengamati sang mama.


"Kata Rain mas Adam sakit? Sekarang gimana? Sudah sembuh belum? Sudah ke dokter belum? Aku cemas tahu!" Tutur Monica penuh perhatian.


"Alhamdulillah aku sudah sembuh, sudah berobat juga. Kamu gak usah kwatir."


"Gimana aku gak khawatir coba, kalau mas Adam aku telpon gak di angkat, di wa juga gak di bales."


Adam terseyum, "ya aku sedang sakit jadi jarang pegang HP. Lagipula aku gak enak angkat telpon kamu di depan anak istri ku," jujur Adam apa adanya.


"Memang Kenapa?"


"Aku gak mau dia cemburu dan perfikir yang bukan-bukan tentang hubungan kita."


"Bukanya itu bagus?"


"Maksud kamu?"


"Kenapa harus perduli sama orang lain. Cukup kita yang tahu dan menjalani, tidak usah perdulikan apa pandangan orang lain pada kita."


"Tapi dia istri ku Monic, tentu saja Ali harus perduli pada dia. Oh ya, memang ada apa kamu telpon aku terus. Ada hal penting atau gimana?" Tanya Adam menyelidik.


"Em...," Terdengar Monica berfikir dulu sebelum menjawab, "Sebenarnya aku kangen sama mas Adam. Tapi selain itu aku mau minta tolong sama mas buat bantuin aku survey tanah di kota sini, karena rencana aku pengen buka butik di kota ini saja," alasan Monica.


"Loh, gak jadi buka butik di Jakarta?" Adam terkejut mendengar jawaban Monica.


"Di Jakarta juga, tapi setelah yang di sini. Di sini yang utama nanti di Jakarta yang cabangnya."


"Kenapa begitu? Kok tiba-tiba berubah rencana?"


"Ya, karena kalau aku langsung pulang ke Jakarta aku bakal jauh sama kamu, dan gak tahu kapan lagi bakal ketemu sama mas," jujur Monica.


"Maksud kamu apa Monic."

__ADS_1


"Jelas kan maksud aku, aku gak bisa jauh sama mas. Oh ya tadi malam aku telpon mas Adam, tapi yang angkat mbak Rara."


Adam kaget mendengar perkataan Monica.


"Terus kamu bilang apa sama istri ku?"


"Gak ada. HP nya langsung aku matikan."


Ada kelegaan sendiri untuk Adam saat mendengar jawaban dari pacar Marcell.


"Monica, sekarang aku ada di rumah, tolong jangan telpon-telponan aku lagi. Aku gak mau berantem sama istri ku gara-gara kamu."


"Terus aku gimana? Kalau aku kangen gimana?"


Belum sempat Adam memberi jawaban sudah terdengar suara Eka menyapanya.


"Siapa yang telpon kamu Dam? Kok anteng gitu? G*ndik kamu yang kemarin?" Selidiki Eka.


"Monic, udah dulu ya aku sibuk. Kapan-kapan kita Sambung lagi. Tolong jangan telpon atau wa aku lagi ok!" Tegas Adam kemudian menantikan sambungan telpon secara sepihak.


"Kata mu gak ada hubungan apa-apa, tapi nyatanya masih juga beruntun sama perempuan itu," sinis Eka saat Adam sudah kembali mendekati sang mama.


"Aku memang gak ada hubungan apa-apa sama Monica ma," jujur Adam sambil membantu Eka memangkas daun bunga pucuk merah.


"Terus kenapa dia telponin kamu terus kama memang kalian gak ada hubungan?" Eka kepo.


Dia cuma mau minta tolong aku buat survey lokasi tempat dia membuang butik. Kita cuma ngomongin masalah pekerjaan saja."


Eka mencebik, "alasan. Biasanya memang gitu, kalau mau pada selingkuh memang banyak alasan, yang ujung-ujungnya tidur bareng."


"Terserah deh, mama mau percaya sama aku atau tidak itu urusan mama, yang jelas aku sudah jujur sama mama. Lagi pula meskipun aku selingkuh mama juga gak bakal ngomong itu sama Rara kan?"


Eka membulatkan matanya, menatap tajam kearah Adam.


Adam terseyum penuh kemenangan, serasa diatas angin saat melihat Eka terdiam tidak tidak dapat menjawab. Karena semua yang dikatakan Adam benar apa adanya.


Rasa sayang yang begitu besar pada Rara dan Ali membuat Eka dan Syaputra takut kehilangan mereka berdua hingga membuat keduanya lebih memilih menyimpan sendiri keburukan Adam ketimbang membeberkan yang berujung membuat Rara pergi dari kehidupan mereka.


Eka memukul lengan putranya yang sudah kurang aja itu, mengejek orang tuanya hingga Adam meringis sakit.


"Mama itu penganiayaan namanya," omel Adam sambil mengusap-usap lengannya akibat pukulan Eka dengan batang parang yang dia pegang.


"Biar kamu tahu rasa."


Adam cemberut.


"Meski mama tidak lapor sama Rara, bukan berarti mama membenarkan kamu perselingkuhan Dam," omel Eka.


"Karena mama pernah di selingkuhin papa?"


Eka menghentikan aktivitas dan menatap pada Adam, seolah bertanya dari mana kamu tahu?"


"Papa yang cerita semuanya sama aku waktu di apartemen kemarin."


Eka menundukan pandangan nya dan menghela nafas.


"Tenang saja ma. Aku gak bakalan ngelakuin hal sebrengsek papa pada Rara, mama gak usah kwatir itu."


"Mama cuma takut aja, kamu bakal menyesuaikan di kemudian hari karena sudah menyia-nyiakan dia."


"Tenang sana ma, itu gak bakal terjadi," Adam menepukan bahu Eka guna meyakinkan hati sang mama, sekaligus memberi tahu jika dia berbeda dengan sang papa.

__ADS_1


Eka terseyum, meski senyumannya menyimpan luka dan tanda tak yakin akan putranya.


****


Seharian ini, selama Rara di kantor pikirannya tak tenang. Dia ingin buru-buru pulang ke rumah, ingin melihat apa yang terjadi antara suaminya dengan perempuan semalam itu, dan siapa dia sebenarnya.


Sehingga saat jam pulang sekolah habis Rara langsung menghampiri Adam yang sore ini menjemputnya dan meminta sang suami langsung pulang ke rumah tidak mampir dulu ke mall untuk belanja barang harian sesuai rencana dia tadi pagi.


Tidak curiga dengan sang istri, Adam pun memenuhi permintaan sang istri, dia langsung memacu mobilnya menuju rumah.


Begitu sampai di rumah, Rara langsung ke luar dari mobil terburu-buru tidak memperdulikan Ali yang ada bersama mereka, membuat Adam yang melihat kelakuanku sang istri geleng-geleng kepala karena tidak biasanya Rara grusa-grusu begitu.


Rara langsung masuk ruang kerjanya, tak lupa mengunci pintu coklat gading itu dari dalam supaya Adam tidak masuk dengan tiba-tiba.


Cepat Rara membuka komputer yang masih menyala dan masih terkoneksi dengan sambung internet.


Rara membuka aplikasi WhatsApp milik Adam dan melihat beberapa pesan masuk di aplikasi obrolan milik sang suami. Rupanya Adam Sendiri belum menyadari jika WA nya sudah di copy oleh Rara.


Rasa cemas takut, dan juga penasaran menghampiri dirinya, membuat Rara menggigiti kuku jarinya untuk menetralisir Rara panik yang menghantui.


Rara mengklik mouse guna menggeser kursor kebawah dimana nomor itu berada dengan was-was. Detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya mirip orang yang ketahuan selingkuh oleh suami sendiri.


Rara mengklik nomor berujung 244 untuk melihat pesan baru yang masuk.


Dan benar saja ada empat pesan baru yang masuk disana, meski tak ada satupun balas dari Adam untuk nomor itu.


Rara membaca satu persatu.


xxx244:


[Mas]


[Mas Adam.]


[Sibuk ya?]


[Mas aku semalam telpon kamu, terus yang angkat mbk Rara dan langsung aku matikan deh, aku takut istri mu marah.]


Kalimantan pada pesan terakhir membuat Rara bagaikan di sambar petir siang bolong.


Kata-kata mbk Rara membuat dirinya syock seketika.


Hatinya begitu ngilu, hingga tak terasa air mata jatuh begitu saja.


Siapa perempuan itu? Kenapa dia bisa tahu namanya Rara? Kenapa bisa tahu istri Adam itu dia? Apakah mereka saling kenal?


Apa hubungannya dia dengan mas Adam? Apakah mereka selingkuh?


Begitu banyak pertanyaan hinggap di benak Rara namun tak satu pun jawaban yang dia temui.


Ingin rasanya Rara bertanya pada pemilik nomor itu siapa dia dan apa hubungannya dengan Adam? Tapi Rara menahan itu semua, dia tidak mau Adam curiga dan marah karena Rara sudah bertindak kelewat batas, Sehingga membuat Rara lebih memilih diam dan memantaunya lebih lama lagi. Berharap esok ada jawaban dari semua rasa penasarannya.


Lamunan Rara buyar oleh ketukan dari arah luar. Suara Adam yang memanggilnya.


"Ra, keluar geh, ayok makan dulu. Mas dah lapar nih!" Panggil ada dari balik pintu.


"Iya mas tunggu bentar!" jawab Rara sambil menghapus air matanya, dan mencoba bersikap sebiasa mungkin pada Adam suapaya dia tidak curiga.


*****


Jangan lupa beri hadiah yang banyak

__ADS_1


Maaf dalam bab ini belum ketahuan kalau Adam selingkuh.


Sabar menunggu ya!


__ADS_2