Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 122. Kencan Mainstream 2


__ADS_3

"Ya!" Jawab Rangga manatap. "Mau nonton apa?" Rangga mengalihkan tatapannya dari poster-postrer film di depannya pada Aisyah. "Ini!" Rangga menunjuk poster fast and furious 9 yang ada di dekatnya.


Aisyah mengeleng, "aku geli kalau lihat yang botak-botak gitu," tutur Aisyah terus terang. Bergidik ngeri saat membayangkan.


"Yang botak tuh bikin enak loh, apa lagi kalau di belai-belai," sambung Rangga sambil tersenyum penuh arti.


"Enak yang punya rambut, kalau di belai terasa."


Seketika tawa Rangga pun pecah, membuat Aisyah menatap heran pada pria di sebelahnya, "gak bisa ngebayangin gimana bentuk kepala adik ku kalau punya rambut," ucap Rangga di sela tawanya.


"Emang adik mu botak?" Tanya Aisyah kepo.


"Heem," Rangga mengangguk mantap.


"Masak sih? Emang gak ada rambutnya?"


"Gak ada. Bersih licin. Polos."


"Masak sih, kok bisa gak ada rambutnya. Sakit atau gimana? Kok gak ada rambutnya."


Aisyah makin penasaran saja dengan cerita Rangga. Otaknya berfikir jika mungkin calon adik iparnya kelak ada kelainan gen atau gimana.


"Emang dari sananya di desain seperti itu. Sama tuhan emang di desain kepala adik ku gak ada rambutnya."


"Kok gitu?"


"Ya, kalau ada rambutnya bakal aneh jadinya."


"Maksud kamu?"


"Maksud aku, adik kecil ku yang ini, yang aku bawa kemana-mana."


Rangga mengakhiri tatapannya pada pangkal pahanya. Aisyah yang mengikuti tatapan pria itu seketika memukul lengan Rangga.


"Dasar mesum!" Umpat gadis itu setelah tahu jika Rangga mengerjainya. Wajah Aisyah memerah begitu dia tahu adik kecil yang pria itu maksud apa. Rangga terbahak-bahak hingga membuat orang-orang di sekeliling menatap kepo kearah mereka berdua.


Beruntung mereka memakai masker dan kacamata hitam jadi wajahnya tidak terekspos. Coba kalau tidak, Aisyah sudah menggali tanah untuk sembunyikan.


Aisyah berjalan pergi, meninggalkan Rangga yang masih tertawa.


"Bagaimana kalau yang itu? sepertinya bagus?" Aisyah menunjukkan sebuah poster besar bertuliskan mission posible, "aku suka sama pemainnya ganteng," aku Aisyah jujur.


"Wah... Jangan-jangan kamu suka sama aku juga karena aku ganteng ya?" Rangga menaik turunkan alisnya.


"Emang situ ganteng? Pede bener jadi orang?" Aisyah menatap dengan ekspresi mencemooh.


"Kalau aku gak ganteng kamu gak bakal mau pergi kencan sama aku."


"Jelas. Karena gak mungkin aku jalan-jalan sama orang yang kena stroke."


Lagi-lagi Rangga tertawa karena jawaban Aisyah.


"Udah sana beli tiket. Jangan ketawa aja?" Pinta Aisyah.


"Siap nona. Laksanakan!" Rangga hormat layaknya pasukan sebelum pergi.

__ADS_1


Rangga meninggalkan Aisyah duduk di kursi. Sedangkan dirinya pergi menuju loket untuk membeli tiket. Melihat antrian di depan loket yang begitu panjang membuat Rangga bisa menebak jika film itu baru rilis beberapa waktu lalu.


Lima belas menit kemudian, Rangga kembali lagi menghampiri Aisyah yang sedang bermain handphone.


"Maaf lama." Rangga saat berdiri di depan gadis itu, membuat Aisyah mengalihkan tatapannya dari handphone kearah Rangga.


"Di maafkan. Karena aku tahu antriannya panjang." Aisyah tersenyum manis. Meski senyum itu terhalang masker.


"Yuk!" Rangga mengulurkan tangannya pada Aisyah membuat gadis itu berdiri. Aisyah menerima tangan Rangga, mereka pergi berburu.


Rangga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum film di mulai. Bagaimana jika kita beli minuman dan popcorn dulu?" Rangga menoleh pada Aisyah yang juga menoleh pada dirinya.


"Boleh."


****


Setelah membeli sekotak popcorn ukuran large dan dua gelas minuman soda. Keduanya masuk ke dalam ruangan teater dimana film akan di putar.


Aisyah mengikuti langkah Rangga yang mencocokan nomor dari kertas kecil yang dia pengen pada kursi.


"Beneran ini tempat duduk kita?" Tanya Aisyah menatap Rangga curiga saat mendapati kenyataan jika tempat duduk mereka ternyata pojok belakang tempat para pasangan asik pacaran.


Rangga tertawa, "hanya menukar dengan beberapa remaja yang mencintai uang ketimbang suasana romantis."


"Terus kenapa sebelah mu sana kosong?" Tanya Aisyah saat melihat beberapa kursi dibarisan sebelah Rangga kosong tak berpenghuni.


Rangga nyengir, "Biar gak ketahuan oleh yang lain kalau kita berdua orang tua yang mojok di bioskop." Pria itu terkekeh di akhir kalimatnya.


"Dasar!" Aisyah memukul dada bidang Rangga.


"Kurang tahu. Jika di lihat dari posternya sih sepertinya dektetif. Misi yang mustahil gitu."


"Seperti misi mu menaklukkan hati ku begitu?"


Seketika Aisyah menoleh pada Rangga. Menatap wajah Rangga yang ada di dekatnya. Diam tidak berkata apa-apa. Meski dalam hati dia bergumam 'Ampun dah nih cowok ternyata beneran narsis.'


Tidak mendapat jawaban Akhirnya Rangga kembali duduk tegak di posisi semula. Namun belum ada lima menit Rangga sudah menoleh pada Aisyah yang juga menoleh pada pria di sebelahnya.


"Mau tanya apa lagi?" Potong Aisyah cepat sebelum Rangga mengeluarkan suaranya.


Pria itu nyengir, "gak ada. Cuka mau nyobain popcorn. Enak gak?" Alibi Rangga. Tangannya meraih kotak popcorn dari tangan Aisyah lalu memasukkan beberapa buah jagung ke mulutnya.


Asiyah mencebik, "alasan."


Rangga tertawa melihat.


"SHEEETTT...!"


Para penonton yang mendengar keheboh mereka sedari tadi memperingkatkan keduanya untuk diam.


****


"Semua gara-gara kamu, kita akhirnya di usir dari bioskop," gerutu Aisyah saat mereka berdua berjalan beriringan menuju area bermain di game zone.


"Mereka tidak mengusir kita, hanya menyuruh kita menyelesaikan masalah pribadi kita di luar," jawab Rangga tanpa dosa.

__ADS_1


Aisyah mencebik, "sama saja." Rangga terkekeh.


Ya, setelah beberapa kali di peringatkan para pengunjung bioskop untuk diam akhirnya mereka di suruh keluar oleh para penonton lain yang merasa terganggu dengan suara bisik-bisik Rangga dan Aisyah yang tak kunjung usai meski film sudah setengah jalan. Belum lagi suara tawa pria itu yang tiba-tiba kekuar saat Jawab Aisyah menurut dia lucu. Membuat Aisyah berkali-kali ngelus dada ketika menyadari ternyata Rangga tidak sejaim yang dia kenal selama ini. Nyatanya pria itu cenderung memalukan saat diajak jalan di tempat umum.


"Kita mau main apa sekarang?" Tanya Aisyah. Memindai sekeliling, mencari permainan yang kira-kira seru untuk mereka mainkan.


"Hem, ngedance aja yuk?" Ajak Rangga. Menarik tangan Aisyah pada dance game yang ada di dekat mereka.


Rangga memilih lagu yang akan mereka mainkan. Sedangkan Aisyah menginjakkan kakinya pada panah kiri kanan untuk mencoba sebelum Rangga menekan tombol start.


Kedua orang dewasa labil itu sibuk menginjak tanda panah yang menyala mengikuti alunan lagu sambil melompat-lompat dan bergandengan tangan. Wajah mereka yang sebagian tertutup masker hitam membuat orang-orang tidak mengenali kedua sehingga rasa malu Rangga dan Aisyah dapat di minimalisir. Apalagi ketika keduanya terbahak karena kaki mereka yang saling menginjak akibat kebablasan menekan pantai.


Tak di perdulikan orang-orang yang berbisik-bisik dan menatap kepo ke arah mereka berdua. Karena mereka terlalu asik pada aktivitas sendiri.


"Ah... capek!"


Aisyah mendudukkan tubuhnya pada kursi plastik yang ada di dekatnya. Meluruskan kakinya pada kursi yang terasa kram.


Rangga yang melihat itu tersenyum, "tapi happy kan?"


Aisyah mengangguk, "iya. Mau main apa lagi?" Gadis itu mendongak menatap wajah Rangga.


"Kita makan siang dulu baru nanti lanjut main lagi."


"Boleh. Kebetulan aku memang sudah lapar. Yok!"


Aisyah menarik tangan Rangga membawanya keluar dari area bermain. Mereka berjalan beriringan mencari restoran apa yang akan mereka jadikan tempat untuk makan siang.


****


Menjelang magrib Rangga baru mengantarkan Aisyah pulang ke rumah pak Dani.


"Sebenarnya aku sudah sering pergi berkencan seperti ini dengan teman-teman atau kekasihku dulu. Meski begitu pergi dengan kamu tetap saja memberiku kesan yang berbeda dan aku sangat bahagia," ungkap Aisyah tulus.


"aku juga bahagia bisa membuat mu senang."


Binar puas terpancar dari wajahnya saat mendengar perkataan Aisyah, "Jadi masih mau pergi kencan dengan ku lagi bukan?"


Rangga menatap Aisyah yang juga menatapnya meminta jawaban.


"Masih. Tapi aku ingin kencan mainstream yang khusus untuk kita berdua saja. Kalau bisa di tempat favorit kamu. Biar aku tahu apa yang biasa kamu lakukan untuk qualiti time."


"Baiklah. Aku jemput besok pagi jam delapan, dan semoga saja apa yang kamu tidak menyesal setelah tahu apa yang biasa aku lakukan." Rangga tersenyum licik kearah Aisyah.


"Gak akan," jawab wanita itu dengan senyum tak kalah licik dari Rangga.


"Ok. See you tomorrow."


"See you!" Balas Aisyah lalu turun dari mobil.


"Hati-hati dijalan!"


Aisyah melambaikan tangan pada Rangga yang menurunkan kaca jendela. Rangga mengangguk sebagai jawaban iya, lalu membalas lambaian tangan Aisyah.


****

__ADS_1


__ADS_2