Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 35. Hak Dan Kewajiban


__ADS_3

Area 21+ yang belum cukup umur harap menyingkirkan.


Jangan dekat-dekat. Skip saja jika perlu karena banyak sawan bertebaran pada bab ini.


*****


Tak seberapa lama Rara keluar dari dalam kamar mandi dengan setelan baju tidur kurang bahan.


Rara menyilangkan tangannya guna menutupi belahan dadanya yang terekspos sempurna. Biarpun mereka sudah menikah bertahun-tahun, namun LDR dan jarang bertemu membuat Rara masih malu setiap kali suaminya menatap dia dengan begitu intens dan mesra. Kesannya kayak masih pertama bertemu saja.


Adam terseyum puas melihat mahakarya di depannya.


Jika apa yang di lihatnya pada Monica tadi musibah, namun yang di lihatnya pada Rara kini baru rezeki anak Soleh.


Walau dada Rara tidak sebesar milik Monik, namun terlihat sangat pas di tubuh ramping istrinya yang tinggi semampai itu. Layaknya patung manekin, Rara terlihat sempurna.


Adam berdiri, meng hampiri sang istri dan memeluk pinggangnya, kemudian mencium bibir Rara sekilas.


Kemudian berlalu pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi dan wudhu dengan senyum mengembang.


Sepeninggalan Adam, Rara meremas dadanya, merasakan detak jantung yang begitu cepat seolah rusak.


Sedang wajahnya bersemu merah, menahan malu dan halu jadi satu.


Untuk menyembunyikan ke gugupan nya Rara naik ketempat tidur dan menarik selimut hingga batas dada, menantikan lampu kamar hingga jadi temaram, sehingga rona merah pada wajahnya juga tersamarkan.


Mereka memang sudah lama menikah, namun entah kenapa Rara masih saja gugup saat Adam berlaku manis padanya, dia masih grogi dan berdebar-debar tak karuan layaknya malam pertama mereka. Mungkin kah karena efek mereka yang jarang bertemu, sehingga membuat suana selalu canggung begini, dia juga tidak tahu.


Melihat suasana kamar yang sudah redup, Adam yang keluar dari kamar mandi langsung berbaring di sebelah sang istri.


"Ra!" Panggilnya.


"Sudah tidur?" Tanya Adam.


"Belum," jawab Rara pelan, sambil memejamkan matanya.


Adam mengeser tubuh nya mendekati sang istri.


"Kok ngadep sana sih tidur nya, memang kamu gak kangen sama mas?" Tanya Adam yang sadar posisi tidur Rara memunggungi dirinya.


Membuat Rara membalik tubuhnya menghadap ke arah Adam.


"Kangen," jawab Rara pelan.


Adam terseyum lembut, menatap mata istrinya, membuat tatapan mereka bertemu.


Sadar atau tidak pasangan suami istri ini saling terhipnotis satu sama lain, meski Adam menyangkal perasaan itu, tapi hatinya selalu tenang setiap menatap mata Rara. Itulah yang membuat dia tidak pernah was-was saat dirinya berbulan-bulan tidak pulang ke rumah ataupun mengacuhkan wanita yang berstatus istri. Karena Adam tahu, ada cinta yang begitu besar dari Rara untuknya.


Mata itu, mata bulat bening dengan bulu mata lentik yang selalu mengerjap indah tak pernah bohong, saat menunjukkan isi hati pemiliknya pada Adam.


Sedangkan Adam, sadar jika punya istri yang membutuhkan dia, namun sisi hatinya masih terbagi antara Rara dan Maelin. Kadang dia rindu Rara, kadang dia rindu Maelin. Membuat Adam sering bingung dalam kesendirian nya yang berujung sering tak memberi kabar ketimbang menyakiti.

__ADS_1


Jemari Adam menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rara.


Berlahan tapi pasti, Adam mencium kening sang istri dengan lembut seraya berdoa dalam hati, agar istrinya selalu di jadikan wanita Sholehah.


Membuat Rara memejamkan mata, menikmati daging lembab yang menyentuh kulitnya. Membuat hawa panas di tubuhnya meningkat.


Ciuman Adam beralih pada mata Rara yang terpejam, hidung mancung dan bibir Rara yang tampak pink alami karena selalu di rawat baik-baik.


Pelan tapi pasti bibir Adam mencium bibir Rara, semakin lama semakin dalam dan menuntut. Hingga Adam mengubah posisi tidurnya menjadi mengukung Rara di bawah tubuh kekarnya, tak lupa tangan Rara pun sudah memeluk leher Adam mesra.


Setelah ciuman panas mereka berakhir, kedua kembali saling tatap. Kemudian terseyum satu sama lain.


"Tau mau begini, gak usah pakai baju tidur sekalian," ujar Rara berkomentar.


"Kalau kamu gak pakai baju dari Bu Lina, belum tentu mas memulai," jujur Adam.


Keduanya sama-sama tertawa, menertawakan otak kotor mereka.


Selanjutnya Adam kembali mencium bibir Rara, kemudian beralih ke dagu dan leher mulus sang istri, tak lupa pria tampan itu meninggal jejaknya di sana, biar semua orang tahu.


Jika perempuan cantik mama Ali itu adalah miliknya, meski itu tidak akan terjadi karena Rara selalu berhijab kemana-mana sehingga tidak akan ada yang tahu tanda itu.


Sambil berciuman tak lupa tangan Adam menarik tali lingerie yang ada di dada Rara, sehingga baju tidur transparan dan kekurangan bahan itu terbuka yang menampilkan kulit putih mulus milik sang istri, meski Adam juga tidak melihat karena matanya terpejam saat menjelajahi tubuh Rara, sebagai ekspresi jika dia ikut menikmati setiap permainan yang mereka mainkan.


Tak mau ketinggalan dengan Adam, tangan Rara juga aktif membuka kancing piyama sang suami sehingga Adam telanjang dada.


Jemari lentik itu aktif mengelus punggung dan dada sang suami, sesekali menekan kepala Adam saat dirasa dia bibir Adam memberikan kenikmatan pada kulitnya.


Lengkuhan-lengkuhan kecil keluar dari bibir Rara tatkala tangan dan bibir Adam beralih pada gunung dan puncak yang Rara miliki.


Bukan hanya Adam yang melakukan penyerangan, tapi Rara juga melakukan hal yang sama agar skor mereka sama.


Mama Ali mendorongnya dada kekar Adam dan membaringkan diatas kasur lalu menindih tubuh pria itu, memberikan serangan seperti yang sang suami berikan padanya, membuat Adam memejamkan mata dan mendesah laknat akibat ulah sang istri.


Keduanya saling istirahat sejenak dan saling tatap, dengan nafas yang memburu penuh *****.


"Ciuman mu lebih pintar dari sebelumnya, apa selama mas gak ada kamu latihan sama orang lain?" Tanya Adam.


Rara terseyum, "maunya begitu, tapi lawannya hanya guling yang aku harap berubah jadi suami."


"Kangen ya?"


Rara mengangguk.


"Permainan mas juga lebih baik, apa selama di apartemen mas main dengan wanita lain?" Rara balik bertanya sambil menatap tepat di manik mata sang suami, mencari jawaban disana.


"Memang ada perempuan yang mau sama aku selain kamu?" Adam balik bertanya.


"Aku tidak tahu."


Tangan Adam menyematkan rambut Rara yang berantakan ke belakang telinga sehingga membuat wajah cantik itu lebih terlihat.

__ADS_1


"Tubuh ku tidak semurah itu yang bisa di jamah oleh banyak orang."


"Jika begitu kenapa tidak pulang? Apa tidak kangen sama sentuhan ku?"


"Kangen, tapi aku tidak bisa pulang."


"Kenapa?"


Adam bingung untuk menjawab, sehingga dia memilih memberi perhatian.


"Kalau kamu tanya terus kapan kita mulainya. Bisa-bisa nafsuku hilang gara-gara banyaknya pertanyaan kamu."


Rara terkekeh.


Membuat Adam kembali mendorong tubuh sang istri kembali ke kasur dan ******* bibir itu rakus.


Meskipun tidak mencintai kata Adam, namun dia tidak pernah berhiyanat pada Rara. Bukan hanya itu saja bahkan perempuan yang dia izinkan menyentuh dan menjamah tubuhnya juga hanya Rara seorang.


Hanya sang istri yang di izinkan Adam melihat tubuh nya dari atas hingga ke bawah, semuanya.


Dia memang bersama dengan Maelin cukup lama, sering berduaan, bersama sepanjang hari, namun Adam tahu batasan. Hubungan dia dan Maelin hanya sebatas peluk dan cium saja tidak lebih.


Karena Adam memang mendapat pendidikan agama yang cukup saat kecil sehingga dia tahu batasan ketika berkencan dengan perempuan. Dia tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.


Begitu pun dengan Maelin. Adam ingin sesuatu yang sepesial dilakukan saat malam sepesial mereka, yaitu malam pertama mereka besok.


Tapi rupanya nasib berkata lain. Malam pertama Adam harus di lalui bersama Rara, dan hingga sekarang hanya sang istri yang di izinkan menjamah tubuhnya. Memberi rasa enak yang membuat dia ketagihan, meski sering di tahan setiap teringat akan Maelin.


Desakan-desakan kecil memenuhinya kamar hotel itu ketika Adam memulai menjalankan hak dan kewajibannya.


Tumbukan pelan tubuh Adam yang berakhir cepat dan tak terkontrol itu memberikan efek yang begitu besar bagi Rara, membuat dia sering terbangun melayang ke langit tinggi hingga tak dapat kembali ke bumi lagi.


Sehingga membuat Rara tak bisa melupakan sosok Adam dari hidupnya begitu saja. Kutukan malam pertama pada hak dan kewajibannya sebagian seorang istri membuat hatinya terikat pada sang suami.


Aktivis keduanya terhenti saat Rara merasakan rahimnya menghangat akibat hujan mayones yang Adam semprotkan, hingga membuat tubuh dua orang dewasa yang semula menegang itu kembali lemas setelah lengkuhan panjang yang menyuarakan nama pasangan masing-masing dari mulut mereka.


Adam memeluk sang istri dan mencium keningnya penuh sayang.


"Makasih sayang, sudah mengizinkan aku melaksanakan kewajiban ku," ucapnya.


Rara mengaguk diantara lengan kekar dan dada sang suami, memeluk tubuh Adam dan membenamkan wajahnya pada dada bidang itu.


"Besok liburannya bareng mas saja, jangan dengan teman-teman mu, aku ingin berduaan dengan kamu sampai kita pulang nanti," pinta Adam.


Rara kembali mengangguk pelan, tubuhnya yang lelah dan matanya yang ngantuk membuat mulutnya enggan bersuara.


Adam yang tahu posisi istrinya menarik selimut hingga batas dada, dan membiarkan Rara terlelap dalam dekapan hangatnya sebelum akhirnya dia pun melakukan hal sama, terpejam hingga subuh menyapa keduanya.


"Mengulang kegiatan semalam saat subuh juga enak Ra. Mau main satu ronde lagi?" tanya Adam pada sang istri saat mereka berdua terbangun dari tidurnya.


Rara mengerjapkan matanya lucu, membuat Adam mencium mata itu sebagai Star permainan.

__ADS_1


*****


Jangan lupa kasih hadiah buat Rara dan Adam yang udah selesai bikin adik buat Ali ya!


__ADS_2