
Adam sampai rumah saat ke adalah rumah masih sepi. Tidak ada satu orang pun disana. Rara belum pulang kerja, Ali juga belum pulang sekolah, dan si mbok? Gak tahu asisten rumah tangganya itu ada dimana, karena motor matic yang biasa di gunakan oleh perempuan setengah baya itu juga tidak ada.
Mungkin mbok sedang menjemput Ali di sekolah atau kalau tidak pergi belanja ke pasar. Karena sekarang hari Rabu, hari pasaran di pasar induk yang ada di dekat kantor kecamatan.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Adam langsung masuk rumah. Beruntung dia punya kunci sendiri, jadi tidak harus menunggu saat Adam hendak pulang sewaktu-waktu.
Adam langsung masuk Kamar kerja Rara, meletakkan tas kerjanya di atas meja. Kemudian dia naik ke lantai dua, dimana kamar tidur utama berada.
Rumah Adam memang terbilang cukup besar untuk ukuran keluarga kecil mereka. Karena Rumah itu terdiri dari dua lantai dan lima kamar tidur.
Kamar Rara dan Ali ada di lantai dua. Sedangkan kamar tamu dan ruang kerja Rara, juga kamar si mbok ada di lantai satu.
Karena Rara kasihan jika si mbok di letakkan di kamar belakang, dimana kamar pembantu berada. Maka dia meminta mbok menempati kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerja Rara bersebelahan dengan ruang keluarga.
Alasannya biar Rara juga ada teman di rumah kalau malam hari.
Sedangkan kamar pembantu yang ada di belakang Rara gunakan untuk menyimpan barang pecah belah kebutuhan rumah tangga.
Adam membuka pintu warna coklat tua di depan matanya, dan wangi bunga Gardenia langsung tercium di kamar berukuran 5x6 itu. Wangi khas sang istri.
Di rebahkan tubuhnya yang letih pada kasur bersprei warna nude, yang dari aromanya baru di ganti tadi pagi, karena masih tercium harum pewangi baju yang biasa Rara gunakan.
Adam mengistirahatkan tubuhnya di kasur yang empuk. Dia sangat lelah hari ini, kepalanya pusing, badannya panas, mungkin dia terkena demam. Karena beberapa malam akhir-akhir ini Adam sering berendam air dingin berjam-jam guna meredakan hasratnya yang membuncah setiap malam.
"Hm, rupanya aku sudah tua sekarang," guman Adam.
Mengomentari dirinya yang daya tahan tubuhnya sudah menurun, tidak seperti dulu lagi.
Dan sedihnya saat sakit seperti ini pun dia harus tinggal di rumah sendiri, tidak ada orang yang menemani maupun merawatnya.
Tidak mau larut dalam kesedihan hatinya yang tiba-tiba melow, Adam memejamkan matanya, memaksakan diri untuk tidur.
*
Jam tiga sore Rara baru pulang kerja, dan kedatangan di sambut oleh mbok Atun yang membukakan pintu untuk majikannya.
__ADS_1
"Mas udah pulang mbok?" Tanya Rara.
Karena tadi jam sebelasan Si mbok bilang telpon Rara dan bilang kalau Adam pulang ke rumah, karena mobilnya ada di garasi. Tapi mbok sendiri gak tahu Adam pergi kemana setelah itu, karena sosoknya tidak kelihatan di rumah.
"Mungkin di kamar mbok," jawab Rara lewat telpon.
Karena biasanya suaminya kalau baru pulang langsung tidur lantaran capek habis perjalanan jarak jauh, nyetir sendiri lagi.
"Udah mbok cari di kamar mbak Rara, tapi mas Adam gak ada disana."
"Oh, mungkin pergi ke rumah mama, atau kalau gak pergi sama temennya. Nanti biar Rara telpon, tanya mas ada dimana?"
"Iya mbak," jawab mbok Atun yang langsung mengakhiri obrolan mereka setelah keduanya saling mengucap salam.
Dan setelah itu Rara menelpon Adam sampai beberapa kali, tapi tidak ada satupun panggilannya yang di jawab oleh sang suami, Rara kirim WA juga sampai sekarang belum di baca, apalagi di balasnya.
Mbok Atun mengikuti langkah Rara dari belakang.
"Lha mas Ali gak ikut pulang sama mbak Rara?" Tanya perempuan itu lagi saat menyadari jika majikannya pulang sendiri.
"Memang tadi yang jemput mas Ali, mas Rangga?"
"Iya, dia yang mau," jawab Rara.
Si mbok mengangguk paham.
Memang semenjak Rangga jadi ketua UPTD enam bulan yang lalu, sekarang tugas menjemput Ali pulang sekolah menjadi rutinitas harian Rangga jika iparnya itu tidak sibuk.
Setelah menjemput baru nanti Ali di antarkan ke rumah, atau ke sekolah Rara, ke rumah Eka, dan tak jarang juga ikut ke kantor Rangga. Terserah kemana anaknya ingin pergi.
Tapi akhir-akhir ini memang Ali lebih senang ikut ke kantor Rangga, karena ada Zulfa anak pegawai di UPTD yang merupakan teman sekelas Ali.
Rara menaruh tas leptop ke ruang kerja, kemudian dia berjalan naik ke Lantai dua dimana kamarnya berada.
Sedangkan si mbok, langsung pergi menuju dapur, menyiapkan menu makan siang mereka yang sudah kelewat jam.
__ADS_1
****
Rara yang masuk kamar terjingkat kaget saat tatapan mendapati sosok tubuh tengah tidur meringkuk di atas kasur sambil memeluk guling.
Sebaris senyum tipis menghampiri bibir Rara tatkala dia sadar ternyata suami ada di rumah bukan kelayaban di luar sana.
Tapi kenapa kata si mbok tadi mas gak ada di rumah? Atau jangan-jangan emang si mbok yang gak tahu kalau mas tidur di kamar kali, pikir Rara.
Setelah mengganti seragam kerjanya dengan baju rumahan biasa Rara menghapiri Adam yang masih terlelap dalam mimpi guna membangun sang suami untuk makan siang. Karena kalau sedari tadi pagi Adam di kamar tentu pria itu juga belum makan siang.
Rara duduk di tepi ranjang, di dekat tubuh Adam yang sedang berbaring miring, menghadap ke arah dirinya.
"Mas!" Panggil Rara Sambil menepuk pelan lengan Adam, "Bagun! Ayo makan siang dulu!" Ucap Rara.
"Engh...."
Lengkuhan Adam sebagai tanda jika tidurnya terganggu.
"Mas!" Panggil Rara lagi.
Tetap saja sang suami tidak respon.
Rara menyentuh pipi sang suami, tujuan utamanya untuk mengelus dan menepuk nya pelan agar lelaki itu membuka mata, namun yang di dapati Rara lebih dari itu.
Tubuh Adam terasa panas di telapak tangannya, membuat Rara melebarkan matanya sekilas, ekspresi dia terkejut.
Kemudian di rabanya kening Adam untuk mengukur suhu tubuh sang suami.
"Astaga mas, ternyata kamu demam," refleks Rara saat mendapati suhu tubuh Adam di atas normal, bahkan bibir dan wajah lelaki yang tidur disisih itu sudah pucat.
Lekas diambil nya termometer dari laci nakas sebelah dia, untuk mengukuhkan suhu tubuh Adam, yang ternyata saat itu mencapai 39,2.
Mungkin efek karena Adam tidak makan dan minum obat jadi demamnya bisa sampai setinggi itu.
Rara kembali pada tujuan awal, membangun Adam supaya makan siang dulu.
__ADS_1
*****