
Sepeninggalan Adam dan Rara, Rangga mengajak Aisyah untuk meninggalkan area pesta.
Setelah mengantarkan Aisyah pulang ke rumah pak Dani, Rangga kembali lagi ke hotel untuk menemui seseorang.
Beruntung dia punya seorang teman yang bekerja sebagai manajer hotel dimana ualang tahun Kan Petra di laksanakan sehingga bisa membantu Rangga memperoleh apa yang dia mau.
"Makasih atas bantuannya," ujar Rangga sambil menepuk bahu pria berjas navy yang berdiri di sebelahnya.
"Gak usah sungkan brow. Inilah gunanya teman untuk saling membantu."
"Ya, ya, ya...."
"Memang siapa sih itu cewek? Calon bini elo?"
"Hahaha..." seketika Rangga tertawa, "doain saja!"
"Tenang aja, gue doain semoga di mudahkan."
"Amin..."
Setelah menerima sebuah benda warna hitam dari pria yang dia panggil Yan itu Rangga pun pamit pulang.
Sekarang tinggal melihat apa yang sebenarnya terjadi, pikir adik ipar Rara saat melangkah pergi menuju dimana mobilnya terparkir.
****
Rangga begitu kaget ketika membuka pintu dan mendapati Adam sudah tidur di kamarnya, terlebih saat melihat sang kakak mengenakan baju miliknya, membuat pria tampan itu hampir tidak percaya dengan penglihatan, bahkan adik Adam beberapa kali mengucek matanya untuk meyakinkan jika yang dua lihat tidak salah dan matanya masih normal juga baik-baik saja.
Karena bagi Rangga suatu hal yang tidak mungkin saat Adam memakai baju orang lain. Karena dia tahu kakaknya itu gila kebersihan dan paling benci jika barang-barang pribadinya di sentuh orang lain, dan sekarang? Apakah itu beneran atau hanya Rangga yang berhalusinasi.
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu! Kayak aku maling saja kamu tatap sampai segitunya," sergah Adam saat melihat Rangga hanya bengong sambil mengamati dua dari atas ke bawah dan kembali lagi keatas dengan mulut terbuka.
Cepat Rangga mengelengkan kepala, "bukan gitu, heran saja, tumben."
"Terpaksa, karena kamar sebelah di kunci Rara dari dalam dan aku gak bisa masuk."
Rangga menaikkan alisnya, "kalian ribut? Berantem?"
Tidak menjawab pertanyaan Rangga Adam hanya mendengus.
"Matikan lampu kalau mau tidur!" Ujar suami Rara lalu menutup tubuhnya hingga sampai kepala dengan selimut.
Malu rasanya saat sang adik tahu jika dirinya berantem dengan sang istri apalagi sampai harus di usir dari kamar begitu. Tapi mau bagaimana lagi kenyataan memang begitu dan Adam juga tidak bisa menyembunyikan itu dari Rangga.
Melihat Adam yang enggan memberi pernyataan, Rangga hanya dapat mendegus. Kemudian pria itu melepas jas dan kemejanya sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak seberapa lama terasa kasur di sisih ujung yang lain bergerak, saat Rangga menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Kemudian terasa selimut yang Adam pakai di tarik dengan paksa, membuat papa Ali menoleh ke samping kanannya.
__ADS_1
"Rese amat sih jadi orang," omel Adam.
"Aku dingin kalau tidur gak pakai selimut."
"Makanya tidur pakai baju."
Karena Rangga emang terbiasa tidur hanya dengan telanjang dada. Katanya kalau pakai baju itu gerah dan gak nyaman.
"Dasar porno!" Omel Adam lagi.
"Belagu loh, kayak anak gadis aja, lihat beginian bilang porno, Atau jangan-jangan kamu naksir sama aku? Jadi takut nih? Jangan-jangan nanti kalau aku tidur tubuh ku kamu raba-raba lagi," ungkap Rangga sambil menyilangkan kedua tangannya memeluk dada.
Adam yang melihat kelakuan sang adik menatap dengan jijik kemudian,
'Bhug'
Sebuah guling menghantam kepala Rangga dengan tiba-tiba, hingga membuat pria itu mengaduh karena mendadak jadi pusing.
"Biar otak Lo gak geser dari tempatnya."
Lekas Adam menghindar saat Rangga memberikan serangan balasan pada sang kakak, yang berujung adik kakak itu saling perang bantal layaknya anak umur sepuluh tahunan.
****
Setelah sholat subuh bergantian kakak beradik itu melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Adam langsung masuk ke dapur untuk membuat sarapan seluruh keluarga, Rangga langsung masuk ke ruang gym Adam untuk mencoba alat olahraga yang baru di beli oleh kakaknya Beberapa Minggu lalu, sedang Rara dan Ali belum nampak batang hidungnya.
Pukul 07.00 pagi Ali keluar kamar dengan kondisi sudah mandi, rapi dan wangi.
Ali mengenakan celana Chino pendek warna hitam dengan kaos berkerah warna merah. Tak lupa jam tangan besar melingkar di pergelangan tangan kirinya, rambutnya tersisir rapi.
"Pagi pa! Om!" Sapa Ali, sambil menoleh pada orang dewasa yang ada di ruang makan bergantian.
"Pagi sayang!" Jawab Adam.
"Pagi boy!" Jawab Rangga.
Ali langsung menarik kursi di sebelah Rangga, tempat dimana biasanya dia duduk.
"Wuih, cakep bener nihponakan om, mau kemana?"
Ali mendongakkan, menatap Rangga, "mau jalan-jalan lah om, memang mau kemana lagi. Kan papa janji mau ngajakin aku main ice skating."
"Oh...."
Rangga membulatkan mulutnya sambil menatap Adam, dan papa Ali mengangkat setuju.
__ADS_1
Tak seberapa lama setelah Ali keluar kamar, Rara pun muncul. Penampilannya tak kalah dari Ali, Rara mengunakan gamis warna tosca dan hijab warna senada dengan gamisnya. Jam tangan hitam melingkarkan di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegangi Sling bag warna putih.
Dengan mengabaikan keberadaan Adam, Rara berjalan mendekati Rangga, kemudian berkata,
"Bang! Kemana kunci mobil Abang? Aku mau pulang ke rumah sekarang. Jadi mobilnya biar aku yang bawa, Abang kalau mau pulang besok naik trevel aja ya bang!" Tutur Rara seraya menyodorkan tangannya di hadapan Rangga.
Perkataan Rara membuat tiga orang di ruang makan itu kaget.
"Lho, kenapa gak pulang sama-sama saja? Katanya kalian mau jalan-jalan dulu?"
Tanya Rangga seraya menatap wajah Rara, mengamati wajah perempuan yang sedari keluar kamar tadi sudah keliling sendu, bahkan matanya sedikit merah dan bengkak menandakan jika semalam dia menangis.
"Gak jadi bang. Aku banyak kerja yang harus ku urus. Jadi meski cepat-cepat pulang, biar semuanya lekas selesai. Lagipula gak ada gunanya aku di sini. Toh disini juga gak ada yang percaya dengan diri ku juga, yang ada aku makin kesel dan sakit hati saja," ucap Rara sambil melirik Adam sekilas, yang ternyata pria itu sedang menatapnya, Kemudian Rara kembali lagi membuang muka, engan memerhatikan sang suami.
"Dimana kuncinya?" Tanya Rara sekali lagi.
"Di laci meja TV."
Setelah mendapat jawaban dari Rangga, tatapan Rara beralih pada Ali yang sedang menatapnya.
"Ayo sayang kita pulang! Mama banyak kerja yang harus di urus."
Rara berjalan mendekati Ali, memegang tangannya hendak mengajaknya pergi.
"Ra!" Panggil Adam menghentikan kegiatannya itu, meski begitu Rara tidak menoleh pada sang suami.
"Ayo Ali kita pulang!"
"Katanya kita mau jalan-jalan dulu ma?" Tanya Ali.
Pertanyaan Ali membuat Rara tahu jika putranya enggan pulang ke rumah saat ini, sehingga Rara melepaskan genggaman tangan Ali dari tangannya.
"Ok. Kalau Ali mau jalan-jalan dulu sama papa gak maslahah. Nanti Ali bisa pulang bareng om Rangga."
Rara mengelus kepala putranya penuh sayang.
"Terus mama?" Tanya Ali sambil mendogak, menatap wajah Rara yang lebih tinggi dari posisi duduk Ali.
"Mama gak ikut. Mama mau pulang. Ali jangan nakal ya!"
Setelah berpamitan pada putranya Rara langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Namun Langkahnya terhenti saat tangannya di tahan oleh seseorang.
"Jangan seperti ini Ra? Aku minta maaf kalau sudah marah-marah sama kamu, tapi tolong kamu jangan seperti ini?"
Rara menepis tangan Adam dari tangannya hingga genggaman itu terlepas, "maaf untuk saat ini aku belum bisa maafin kamu mas! Biarkan aku pergi untuk menenangkan diriku sendiri dulu!" Ujarnya.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Rara melangkah, meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sama sekali. Meninggalkan perasaan bersalah pada hati Adam, sedih pada dada Ali dan kernyitan kepo di kening Rangga.
"Kenapa sih? Dia sampai marah begitu? Memang kalian berantem tadi malam? Kamu marah sama dia?" Brondong Rangga layaknya wartawan gosip.