
Adam menatap nyalang handphone nya yang masih menyala. Dengan tangan kanan yang masih memeluk erat tubuh sang istri, tangan kirinya mengambil handphone diatas nakas yang kebetulan berada tak jauh dari tubuhnya.
Melihat sebaris nomor baru di layar kaca itu. Meskipun tidak ada namanya Adam tahu siap pemilik nomor itu. Tentu saja dia pacar Marcell, nomor telepon Monica yang dia hapus beberapa hari lalu, karena Adam ingat ujung nomornya 244.
Tidak mau aktivitas dengan Rara terganggu, Adam menekan tombol merah di layar dengan jemari jempolnya sebagai tanda menolak panggilan.
"Siapa?" Tanya Rara sambil menatap wajah Adam.
"Tidak tahu, nomor baru, aku gak kenal," jawab Adam sekenanya.
"Terus kenapa HP-nya kamu matikan?" Tanya Rara saat melihat jemari gagah pria itu menekan kuat tombol notifikasi hingga handphone itu berlayar gelap.
"Aku gak mau ada yang menganggu aktivitas kita berdua sore ini, saat aku bersama mu," jujur Adam, sambil melemparkan HP-nya ke kasur begitu saja.
"Bentar lagi ju---" Rara tidak melanjutkan kata-katanya karena kerena kalimatnya di hentikan oleh c*uman Adam di bibirnya.
"Jangan seperti ini mas, kamu masih sakit. Biar kamu sehat dulu," omel Rara saat Adam menghentikan perang bibir mereka.
"Aku udah sehat Ra, udah gak sakit lagi. Kan sudah berobat kemarin."
"Kan virus nya belum mati semua."
"Kalau gitu kita setrum aja virusnya biar mati."
Rara menaikkan alisnya, "memang bisa? Yang ada virusnya nular sama aku karena mas cium aku terus."
Adam tergelak mendengar tuduhan sang istri yang seratus persen benar.
"Lagi pula ini sudah sore sebentar lagi Ali mandi," Rara mengingatkan Adam yang sudah mengukungnya di bawah tubuh kekar sang suami. Mendorong tubuh besar itu agar menyingkir, meskipun tidak berhasil.
"Tenanglah Ra, gak akan ada yang ganggu kita sore ini, begitu juga Ali," ucap Adam sambil membelai pipi mulus Rara dengan jemarinya.
Rara terseyum, emang bener-bener perayu ulang, gumamnya dalam hati.
"Bagaimana kalau Ali tiba-tiba masuk kamar dan melihat semuanya?" Tantang Rara.
"Gak bakal terjadi," tegas Adam kemudian bangkit guna mengunci pintu kamar yang sudah tertutup suapaya Ali tidak masuk.
Rara tertawa kecil sambil mengelengkan kepala, terlihat begitu lucu saat melihat tingkah suami yang begitu sangat berminat.
"Memang kamu gak mau meriksa senjata tempur mas, masih bisa berfungsi atau tidak. Nanti kalau tiba-tiba mas imp*tens seperti yang di ucapkan Rangga kemarin gimana?" Tanya Adam sambil kembali menghampiri Rara yang terlentang di atas tempat tidur dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.
__ADS_1
Rara tertawa mendengar semua itu, "gak mungkin lah," sangkalnya.
"Memang kamu tahu. Kan belum nyoba?"
"Dasar modus, bilang aja kalau mau."
Adam terseyum. Lalu kembali pria itu menc*um bibir pualam rasa strawberry milik Rara, yang berlanjut ke seluruh tubuh perempuan itu.
"Coba tebak Ra, menurut kamu berapa lama lagi punya mas itu gak bisa di gunakan?" Tanya Adam diantara kegiatan menc*mbui tubuh sang istri.
Pertanyaan Adam membuat Rara terbahak seketia, karena dia tahu arti tersembunyi di balik pertanyaan lelaki itu. Lekas jemari lentik Rara menarik handuk putih yang melilit pinggang sang suami lalu membuangnya asal, kemudian jemari itu mengelus dan senjata tempur Adam yang sudah kerasa, kencang dan tegang di bawah sana.
Senyum manis tercetak di bibir pink itu, sebelum dia memberi jawaban.
"Menurut aku, sampai mas umur 75 tahun juga dia masih bisa berdiri tegak," akunya jujur.
"Lama juga ya?" Adam terseyum senang.
"Lumayan lah."
"Kalau gitu aku gak perlu kwatir lagi Ra. Aku lega karena dia masih bisa berfungsi cukup lama dan bisa diajak bekerjasama seperti ini. Aku juga gak khawatir kamu bakal selingkuh dari aku," jujur Adam.
Rara memukul lengan suaminya yang selalu ngajak ngobrol saat mereka melakukan perjalanan menuju puncak.
"Ma, mama!" Ali memanggil Rara dari balik pintu kamar, membuat goyangan Adam terhenti seketika. Sepasang suami istri itu saling tatap, menunggu jawaban satu sama lain.
"Ma, Ali mau mandi," suara Ali terdengar lagi sambil berusaha membuka kenop pintu yang terkunci dari dalam.
"Mas Ali," ujar Rara, meminta Adam menyingkir dari atas tubuhnya.
"Ra, nanggung udah di ubun-ubun nih," tolak Adam enggan pergi dari lubang buaya milik Rara.
Memang benar nanggung banget, Bahakan kepala Rara saja merasa pusing, saat di level hight harus turun seketia karena suara Ali yang memanggilnya. Tapi bagaimana pun juga Ali adalah anaknya dan sekarang memang sudah saatnya dia mandi.
"Ya, tapi anak mu mau mandi mas," protes Rara saat mendengar Ali memanggilnya lagi dari balik pintu.
Dengan wajah yang tampak begitu kesal dan tidak rela Adam mengeluarkan ular piton dari sarangnya. Menuruti permintaan sang istri. Tapi belum sempat Rara bangun dari tidurnya terdengar suara mbok menghampiri Ali di balik pintu.
"Mas Ali mandi sama mbok aja yok?!" Pinta pembantu Rara.
"Memang mama kemana mbok?"
__ADS_1
"Mungkin mama lagi istirahat."
"Kok pintunya di kunci, biasanya gak gitu!" Protes bocah kecil itu.
"Mungkin lupa. Yok, mas Ali mandi sama mbok aja," ajak mbok Atun pada Ali, yang kemudian di susul derap langkah menjauhi kamar mereka berdua.
Membuat senyum Adam terbit lagi.
Emang mbok Atun pengertian banget, puji Adam dalam hati.
Kemudian keduanya langsung melanjutkan pekerjaannya mereka yang tertunda. Sambil nyanyi menuju puncak ngemilang cahaya, mengukir cinta seindah asa.
*****
Malam telah larut, sepi senyap menyapa. Bunyi binatang-bintang malam bagaikan lagu pengiring tidur, membuat sebagian makhluk di bumi ini makin terlelap.
Tapi tidak untuk Adam, dia baru saja memperoleh kesadarannya, rasa haus menghampiri membuat dia terbang.
Begitu membuka mata, di depannya terpampang wajah bocah mungil yang tengah terlelap sambil memeluk guling. Wajah tampan nan rupawan yang merupakan fotocopy wajahnya tengah terbuai mimpi.
Di belakang Ali, ada Rara sang ibu yang sedang memeluk putranya, dengan posisi sama, mata tertutup dan nafas mereka terdengar beraturan.
Ya, mereka memang tidur bertiga di ranjang king size kamar Adam. Karena Ali, bocah itu belum berani tidur sendiri dan Rara juga tidak keberatan putranya tidur bersama mereka.
Adam mengelus rambut putranya penuh sayang. Meskipun dulu dia sempat kesal karena kehadirannya yang begitu cepat namun bersama dengan waktu kini dia bisa menyayangi anak itu. Karena Ali tumbuh dengan lucu dan menggemaskan.
Adam mencium kening putranya beberapa kali, hingga bocah kecil itu merasa terusik dan mengubah posisi tidurnya menghadap sang ibu dengan berbalik memeluk Rara, membuat senyum Adam terbit di bibir tipisnya.
Dari Ali, pandangan Adam pun beralih pada Rara yang memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka.
Adam, mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar kepala ranjang, berusaha mengelus pipi Rara dengan jemari tangannya.
Perempuan cantik yang setia menemani hidupnya selama hampir tujuh tahun ini. Bukan hanya teman hidup, Rara juga budak **** bagi Adam. Bagaimana tidak, Adam tidak pernah memberikan cintanya pada Rara, yang dia lakukan hanyalah friend and benefit dengan berkedok pernikahan. Malah lebih buruk dari itu. Adam hanya mengirimkan uang bulanan saja tanpa ada perhatian disana dan dia juga tidak pernah berusaha membuat Rara bahagia. Namun Adam selalu menuntut Rara untuk berbuat baik, sopan padanya dan memuaskan hasratnya di setiap pertemuan mereka.
Meski jujur keduanya sama-sama puas, tapi Adam melakukan tanpa ada rasa cinta. Semua hanya berdasarkan formalitas dan kewajiban saja. Juga keuntungan karena dia memiliki istri. Anggap saja sebagai bayaran karena dia mengirimkan uang setiap bulan pada Rara dan Ali.
Gerakan tangan Adam mengelus pipi Rara terhenti, saat tak sengaja tangannya lengannya menyenggol benda hitam yang dia lempar tadi sore di bawah sebelah bantal Ali.
*****
Begitu kejamnya Adam pada Rara.
__ADS_1
Besok kita hukum dia biar kapok.