Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 118. Akhir dari Monica


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan dua jam, kini mereka berdua sampai pada bandara internasional Kulonprogo Yogyakarta.


Marcell di jemput oleh mobil supir pribadi keluarganya yang sudah dia hubungi lebih dahulu untuk mengantarkan Ke rumah orang tua Monica.


"Memang apa yang mau kamu katakan sama orang tua ku? Kok kayaknya penting banget? Kamu mau ngelamar aku ya?" Tanya Monica saat mobil sudah berjalan menuju Bantul.


"Apa yang mau aku omongkan itu tidaklah penting. Yang penting semua itu demi kebaikan kamu," kata Marcell sambil menatap Monica lembut.


"Tapi mas gak ninggalin aku lagi kan? Aku gak bisa hidup tanpa kamu," akunya sedih.


Marcell hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Monica. Jemarinya mengelus kepala perempuan itu lembut dan penuh sayang.


"Jangan banyak pikiran. Nanti gak baik buat kesehatan kamu. Slow saja ok!" Pinta lelaki itu.


Monica mengangguk tanda meng iya kan permintaan Marcell.


Mobil Marcell memasuki kawasan pedesaan tempat tinggal orang tua Monica. Sedangkan gadis itu menjadi petunjuk jalan bagi sang supir, setelah dua kali belok kanan dan sekali belok kiri kini mobil berhenti di sebuah rumah joglo berhalaman luas. Pagar rumah terbuat dari bunga teh-teh yang di potong setinggi satu mater, sedangkan di halaman rumah ada pohon mangga yang sedang berbunga.


Pak Yanto sang supir, membelokkan mobil memasuki halaman rumah orang tua Monica, tampak disana ada seorang anak perempuan sedang bersepeda keliling halaman, mungkin dia anak Monica. Melihat ada tamu yang datang, bocah itu langsung turun dari sepeda dan berlari ke dalam memanggil kakek dan neneknya.


Sedangkan Marcell yang turun lebih dulu, langsung memutari mobil membuka pintu sisi tempat Monica berada, mengulurkan tangannya guna membantu prempuan itu keluar.


"Makasih," jawab Monica seraya tersenyum manis. Marcell menjawab dengan senyum. Mereka bersama-sama melangkah menuju rumah, dimana kedua orang tua Monica dan gadis kecil itu sudah menyambutnya di teras rumah.


Monica langsung memeluk sang ibu begitu mereka sudah berhadapan, sedangkan Marcell, sebagai sopan santun dia menyalami tangan orang tua Monica bergantian, begitu pun dengan Yanto.


"Monggo nak Marcell dan pak Yanto mari masuk!" Perintah bapak Monica mempersilahkan tamunya.


"Pulang kok gak ngomong-ngomong sih ndok, tahu gitu kan ibu siap-siap," bisik sang ibu, saat mereka mengikuti bapak dan Marcell dari belakang.


"Aku juga gak tahu Bu, mas Marcell tiba-tiba ngajak aku pulang ke Yogyakarta dan mau ketemu bapak ibu," jujur Monica balas berbisik.

__ADS_1


Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan sang ibu langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan minum bagi para tamunya.


Putri yang melihat ibunya datang langsung bergelayut maka di pangkuan sang mama, mungkin gadis kecil itu begitu kangen sang ibu yang sudah beberapa bulan ini tidak di lihat. Sedangkan pak Yanto masih sibuk bercak-bercak dengan bapak Monica.


Marcell memindai seluruh ruangan tamu minimalis ini, rumah tamu bercat putih dengan beberapa bingkai foto terpasang di dindingnya sebagai hiasan. Ada foto Monica, putri, bapak ibu dan foto keluarga besar mereka yang semua sudah berumah tangga dan pisah rumah.


Hanya Monica dan Putri yang masih tinggal bersama mereka paska perceraian Monica dengan sang suami beberapa tahun lalu.


Tak seberapa lama ibunda Monica datang lagi, membawa nampan yang berisi empat cangkir teh panas, dan dua piring ubi goreng yang masih mengeluarkan uap panasnya, mungkin baru saja diangkat dari kuali.


Sebelum memulai pembicaraan, Marcell meminta Monica membawa putrinya ke kamar, bermain dengan anaknya di sana tanpa harus ikut gabung. Karena bagaimanapun juga Marcell tidak mau dia shock yang berujung malah memperparah ke adanya, Monica mengangguk setuju, kemudian mengajak anaknya untuk pergi ke kamar sambil membawa beberapa paper bag berisi mainan dan oleh-oleh yang sempat Marcell beli saat di jalan tadi.


Setelah bisa basi sebentar mengenai kedatangannya Marcell pun memberitahu kepada kedua orang tua itu prihal Monica yang mengalami HPD atau Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) yang bahasa kasarnya haus perhatian.


Kedua orang tua Monica sontak kaget saat Marcell berkata seperti itu, sorot matanya menandakan ketidak percayaan sampai akhir Marcell mengeluarkan handphone Dan menujukan video kejadian antara Rara dan Monica di malam ulang tahun Kan Petra, dimana Monica merampas gelas minuman Rara dan menuangkan di bajunya agar basah dan kotor. Saat Rara terkejut dan panik, Monica berteriak dan menyalakan istri Adam Gana menarik simpati dan rasa iba seseorang. Monica menikmati semua tatapan ibu yang di tujukan kepada dirinya. Selain itu, Marcell mengeluarkan beberapa kertas dari tas yang dia bawa.


"Ini kunjungan Monica pada psikiater selama tiga tahu terakhir ini. Saya yang selalu menemani dia terapi selama ini, sampai enam bulan yang lalu dokter mengatakan jika dia sudah sembuh. Dan tidak tahu kenapa penyakit itu kini kambuh lagi," tutur Marcell seraya menyerahkan kertas-kertas berisi daftar kunjungan itu pada bapak dan ibu Monica.


"Dan nak Marcell?" Tanya bapak Monica.


"Hubungan saya dan anak bapak sudah berakhir dua bulan yang lalu. Monica yang mengakhiri. Karena itu saya tidak bisa senantiasa menemani dia seperti dulu lagi."


Lagi-lagi kedua orang tua itu kaget. Meski begitu tampak kebingungan di wajah keduanya, membuat Marcell tahu kemana arah pikiran dua orang itu.


"Masalah biaya, bapak ibu tidak usah kwatir. Untuk sementara ini biar saya yang tangung dulu sampai semua uang Monica kembali padanya."


Marcell menceritakan perihal Monica yang di tipu oleh manajernya dan sampai dia bisa menemukan prempuan itu maka biaya perawatan Monica bisa dia tanggung dan bisa di ganti saat Selena sudah ketemu atau semua uang Monica sudah kembali.


Marcell juga menjelaskan prihal property yang Monica miliki karena tidak mungkin untuk mantannya mengurus butik yang dia punya makan Marcell menyarankan jika dua buah butik milik Monica baik yang di Jakarta maupun Pekanbaru di sewakan atau di pasrahkan pada orang lain dengan bagi hasil 40 dan 60%. Sedangkan rumah yang di tempati Monica selama ini biar di sewakan saja untuk menambah pemasukan karena Marcell tahu Monica adalah tulang punggung kedua orang tuanya karena itu sebisa mungkin Marcell mengarahkan agar keluarga itu tidak jatuh miskin.


"Untuk mobilnya, nanti saya minta seseorang mengantarkan kesini. Jadi bisa bapak gunakan untuk kendaraan sehari-hari."

__ADS_1


Mendengar penjelasan panjang kali lebar dari Marcell, kedua orang tua Monica sangat bersyukur.


Tidak henti-henti kedua orang tua berusia lebih dari lima puluh tahun itu mengucapkan terimakasih atas bantuan yang Marcell berikan. Karena jujur jika tidak ada Marcell tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka, terlebih ketika tahu jika anak perempuannya ternyata mengalami ganggu jiwa.


"Tolong bapak ibu pastikan Monica selalu datang saat trapi ya pak Bu," pinta Marcell lagi.


"Kami harus membawa kemana nak, untuk berobat putri kami? Karena selama ini kita tidak pernah berurusan dengan dokter jiwa?" Tanya seorang lelaki yang Marcel tahu bernama Bowo.


Mantan Monica memberitahu jika pak Bowo bisa membawa Monica pada dokter Joko. Psikiater yang bekerja di rumah sakit umum Yogyakarta. Dia adalah teman dari dokter Tere, psikiater yang menangani Monica sebelumnya. Karena Monica tidak bisa lagi di Jakarta jadi Tere meminta Marcell menemui Joko untuk menangani Monica.


Sekalian lagi pak Bowo mengucapkan terimakasih pada Marcell.


Setelah bertukar nomor pada kedua orang tua Monica untuk berkomunikasi lebih lanjut Marcell pun pamit pulang.


"Mas pulang dulu ya. Lain kali mas main lagi!" Pamitnya pada Monica yang mengantar kepergian sang mantan di teras rumah.


"Hm."


"Jangan pergi kemana-mana sendirian, tanpa di temani bapak, ibu ataupun Putri," pesannya lagi.


"Hm. Mas juga hati-hati di jalan."


Marcell mengangguk setuju. Kemudian dia mencium pipi Monica sebagai salam perpisahan.


Marcell menurunkan jendela mobil tangan kepada seluruh keluarga Monica saat mobil mulai berjalan pergi meninggalkan halaman rumah itu.


Selamat berpisah Monica, semoga kamu lekas sembuh, bisiknya dalam hati.


*****


Semoga puas melihat penderitaan Monica. Dia di tipu dan jadi miskin, setelah itu penyakit jiwanya juga kambuh jadi harus di rawat lagi. Beruntung ada Marcell yang baik.

__ADS_1


Sekarang siap-siap untuk Marcell bergerak mendekati Rara.


__ADS_2