
Rangga menatap kesal kearah Eka yang sedari tadi selalu ribut memintanya untuk menelpon Adam atau Rara, lantaran selama Adam pergi habis magrib tadi hingga tengah malam buta anak kesayangan Eka belum memberikan kabar.
"Kalau mama gak bisa telpon ya sama saja dong ma, Rangga juga gak bisa hubungi dia," Rangga menjelaskan, "mungkin mas Adam masih di pesawat jadi handphonenya gak aktif ma."
Rangga memegang bahu Eka menenangkan sang mama.
"Gak, gak, gak mama mau kamu coba telpon dulu. Bisa jadi Adam kesel sama mama karena sedari tadi ngerecokin dia terus, bertanya udah sampai mana? terus dia kesal dan nomor mama di blokir."
"Gak mungkin lah ma, anak mama tidak sejahat itu ma."
"Siapa tahu. Pokoknya mama mau kamu telpon mas mu sekarang! Tanya udah sampai belum? Gimana keadaan Ali? Gimana keadaan rara?!" Paksa Eka.
Jika sudah melihat sang mama dengan mode nyonya besar begini Rangga juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan sang mama. Dengan perasaan kesal dan dongkol kepada Eka Tangga menghubungi Adam.
Setelah bunyi Tut beberapa kali barulah terdengar suara di seberang sana.
"Hallo, assalamu'alaikum!" Sapa Tangga begitu dia merasa ada yang mengangkat panggilannya.
Namun belum memperoleh jawaban dari sebrang handphone di telinganya sudah pindah kepemilikan menjadi milik Eka. Rangga hanya dapat menghela nafas sabar-sabar melihat perbuatan sang mama.
"Gimana Dam, sudah sampai? Sudah ketemu Rara?" Tanya Eka terus terang.
"Udah ma, Adam sudah sampai tadi jam 10 malam. Udah ketemu Rara dan ngobrol sama dia juga kok."
"Pokoknya dibalik-balikin Rara ya biar dia mau pulang?"
"Sip ma, itu mama tenang saja. Pokoknya Adam bakal urus masalah ini hingga beres biar Rara pulang bareng kita besok."
Eka yang mendengar jawaban putranya terseyum senang, sedang Rangga yang berada di dekat sang mama mencibir.
"Ali gimana? Masih demam?" Tanya Eka lagi.
"Udah mendingan ma. Sekarang dia udah tidur di peluk Rara tuh."
"Itulah Dam. Anak mu itu kangen sama ibunya. Makanya kamu jadi orang tua jangan suka bertingkah biar anak tidak yang jadi korban."
"Ok. Siap bos. Ma udah dulu ya. Udah malam Adam mau istirahat dulu."
"Iya sudah sana istirahat. Kita ngobrol lagi besok."
"Ok ma. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah urusan selesai. Eka menyerahkan handphonenya ke Rangga kembali.
"Gimana ma?" Tanya Rangga. Meski pun dia sudah tahu jawabannya namun tetep saja bertanya.
"Beres. Sudah bertemu Rara. Besok mereka pulang."
"Rara ikut pulang kan?"
Eka mengangguk.
Rangga tersenyum senang. Dalam hati dia berkata 'akhirnya bisa modusin Rara lagi'.
**
Pagi hari.
Selesai sholat subuh, Rara membantu Mbak Ida di dapur membuat sarapan untuk para tamu mereka pagi ini.
Adam beserta rombongan akan kembali ke Pekanbaru nanti jam sembilan pagi, dengan jet pribadi yang Adam sewa.
__ADS_1
Meski hubungan mereka belum membaik namun melihat suami dan putranya datang untuk menjemput, Rara tidak mungkin menolak dan memaksa tinggal di Bali bersama Elisa, apalagi dia juga harus masuk kerja, dan Adam juga telah memohon memintanya pulang ke rumah.
Meskipun Rara masih sakit hati pada Adam tetap saja dia memilih pulang ke rumah karena bagaimanapun juga Elisa punya suami, punya keluarga yang meski dia urus dan Rara tidak mau merepotkan orang lain dalam urusan rumah tangga dirinya. Memang sih Elisa tidak keberatan Rara tinggal bersama mereka namun sebagai teman tentu Rara harus perasaan juga bukan. Apalagi numpang disana gratis, kalau lama-lama takut dikira tidak tahu diri.
Setelah semua hidangan tersusun rapi di meja makan. Rara memberitahu Adam dan meminta sang suami untuk menginfokan pada seluruh tamu guna sarapan bersama, baru kemudian bersiap untuk kembali pulang.
"Mama jadi pulang ke rumah bareng kita kan pa?" Tanya Ali pada Adam yang sedang membantunya memakai sepatu.
"Jadi. Tuh mama udah siap-siap," tunjuk Adam pada koper Rara yang sudah tersusun rapi di pojok kamar, "tinggal bawa turun saja," lanjut pria tampan ini.
Ali tersenyum lebar. "Asik!" Teriak bocah itu girang. "Terus mama sekarang kemana?"
"Sedang mandi. Yuk kamu siap-siap dulu nanti kita tunggu mama di bawah."
Ali mengangguk setuju dengan usul sang papa. Bocah laki-laki itu memang sangat merindukan Rara. Buktinya begitu ketemu sang mama demam Ali langsung sembuh.
****
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Rara dan Adam beserta rombongan sampai di Pekanbaru.
Rara yang merasa bersalah karena pergi dari rumah merasa takut saat akan pergi ke rumah sang mertua. Takut Eka dan Syaputra kecewa dan marah padanya karena bagaimanapun juga perbuatan Rara memang tidak bisa di benarkan. Sehingga membuat wajah mama Ali menjadi pucat saat helicopters yang di sewa Adam berhenti di dekat rumah Syaputra.
Adam yang melihat perubahan wajah Rara menepuk bahu sang istri untuk menenangkannya.
"Gak usah takut semua baik-baik saja," Tutur Adam saat Rara menoleh ke arahnya suami.
"Kalau mama marah?"
"Gak akan."
"Kamu bakal belain aku di depan mama?"
Adam tersenyum, "bukan hanya cuma belain kamu di depan mama saja, aku juga bakal temani kamu buat ngomongin mama di belakang mama."
Rara tertawa mendengar jawaban Adam, "ngawur saja!" Rara memukul lengan Adam. "Masak kita gosipin mama."
Rara terseyum dan mengangguk setuju.
"Udah gak usah khawatir, semua baik-baik saja."
Adam mengelus kepala sang istri kemudian merangkul bahu sang istri. Mengajaknya jalan bersama sedangkan tangan dia yang satu lagi mengandeng Ali.
****
Eka menyambut kedatangan putra dan menantunya dengan ramah seperti biasa. Diantara mereka bertiga Eka, Syaputra dan Rangga tidak ada yang membahas masalah pertengkaran Rara dan Adam ataupun tentang kepergian Rara.
Masih dengan kebiasaan Eka sebelumnya sang mertua yang selalu ramah pada Rara dan hal itu membuat wajah tegang Rara berangsur-angsur berubah menjadi santai lagi.
Berhubung mereka datang saat tengah hari makan Syaputra meminta tamu-tamu Adam untuk makan siang dulu baru pulang ke rumah masing-masing. Karena mama Eka memang sudah menyiapkan menu spesial untuk menjamu para tamu dan tadi sang mama juga sudah memberi kabar pada Adam jika dia menyiapkan makan siang di rumah sehingga Adam tidak mengajak merek makan siang di restoran.
"Ini Ra, mama bikinan ikan bandeng bakar kesukaan kamu."
Eka mengeser piring berisi ikan bandeng bakar kearah Rara.
"Makasih ma," Rara tersenyum.
"Sama-sama. Kamu makan yang banyak."
"Iya."
Rara mengambilkan nasi dan lauk untuk Adam dan juga Ali kemudian mereka semua makan dengan sedikit obrolan dan canda tawa satu sama lain. Meski begitu tidak ada satu pun yang menyindir tentang masalah Rara.
Ali yang sedang dalam masa pemulihan merasa ngantuk setelah makan siang. Mungkin karena obat yang tadi sudah beraksi sehingga membuat bocah itu menjadi ngantuk.
__ADS_1
"Di keloni dulu Ali Ra dia udah ngantuk itu," ujar Eka yang melihat Ali rebahan di sofa depan TV.
"Iya ma."
Rara mengangkat tubuh anaknya dan membawanya pindah ke kamar tidur.
Niat awal cuma mau nidurkan Ali saja namun apalah daya efek perut yang kenyang sehingga Rara pun ikut ngantuk dan tidur juga.
Rara yang sedang enak-enak terbuai dalam mimpi di bangunkan oleh Adam.
"Ra udah sholat belum?" Tanya Adam.
"Astaghfirullah mas, untung di bangunkan aku belum sholat Dzuhur."
"Buruan sholat, keburu waktunya habis. Sekarang udah jam tiga."
"Iya mas," jawab Rara, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi untuk wudhu.
Pintu kamar kembali di ketuk dari luar saat Rara baru melipat mukena.
"Ra!"
"Iya, ada apa?"
"Di panggil suruh ke depan."
Rara membuka pintu sedikit dan melongokkan kepalanya keluar, "Siapa yang manggil bang?" Tanyanya pada Rangga.
"Mama dan papa. Di tunggu di ruang tamu ya."
"Hm," jawab Rara.
Namun saat Rangga sudah pergi Rara kembali memanggil, "Bang!"
"Ya," Rangga menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Rara.
"Tahu gak apa yang mau di omongkan mama dan papa?" Tanya Rara penasaran. Kira-kira mereka bakal marah atau tidak.
Rangga mengangkat bahunya, "gak tahu. Mungkin bakal di pecat jadi mantu," jawab cowok itu sambil tersenyum jahil.
Mendengar jawaban Rangga Rara pun mencebikkan bibirnya, dasar ngaco."
*
Dengan perasaan cemas campuran kuatir, Rara berjalan ke ruang tamu dimana seluruh anggota keluarga Adam sudah berkumpul semua. Wajah Rara yang sudah tegang berubah menjadi pucat tanda dia takut di hakimi atas perbuatannya.
"Sini Ra, duduk disini!" Eka yang melihat menantunya datang langsung menepuk sofa sebelahnya meminta Rara duduk disana.
Mengikuti kemauan Eka, Rara pun duduk disebelah mama mertuanya.
Setelah semua berkumpul barulah Syaputra sebagai kepala rumah tangga buka suara.
"Ra, sebelumnya papa dan mama minta maaf, atas perlakuan Adam pada kamu selama ini. Jujur papa tidak tahu masalah dalam rumah tangga kalian sampai kemarin saat mama bercerita semuanya baru papa tahu jika rumah tangga kalian ada masalah.
Rara terseyum, menatap Syaputra, Eka dan Adam bergantian, kemudian berkata, "papa ngomong apa? Antara aku dan mas Adam gak ada masalah apapun kok."
Bohong Rara. Mesti rumah tangga nya di ujung tanduk kehancuran juga gak bakal dia jujur pada dua orang tua yang sudah di anggap orang tua sendiri itu.
"Maaf jika papa juga mama tidak bisa ikut campur terlalu banyak dalam masalah itu. Namun mungkin papa bisa ngasih sedikit solusi untuk kamu dan juga Adam."
Syaputra menyerahkan sebuah amplop pada Rara.
"Ambil Ra itu hadiah dari mama dan papa buat kamu."
__ADS_1
"Ini apa ma, pa?"
"Paket bulan madu untuk kalian. Kamu dan Adam," jawab Syaputra.