
Untuk para reader, athor minta maaf karena lama gak UP. Setiap kejadian pasti ada alasannya kan? Nah alasan athor tidak up karena entah kenapa tiba-tiba sinyal di tempat athor hilang hingga 3 Minggu.
Jangankan buat buka app NovelToon, buat buka WA saja gak bisa. Jadi athor tidak bisa update.
Pernah nyoba maksa update tapi hasilnya gagal. maaf ya! 🙏🙏🙏
******
Keluar dari bandara, Elisa mencari taksi, menyebutkan sebuah tempat dan meminta supir taksi mengantarkan mereka disana.
Rara yang baru pertama kali pergi ke Bali tidak berkomentar Hanya mengikuti kemana sahabat pergi.
Taksi berhenti di sebuah restoran mewah. Keduanya turun dari mobil.
"Kita makan malam dulu ya? Baru nanti lanjut jalan-jalan. Aku sudah lapar," ucap Lisa sambil menoleh pada Rara.
"Boleh," jawab istri Adam.
Keduanya masuk kedalam restoran secara beriringan. Sengaja Elisa tidak mereservasi tempat karena memang tidak ada hal serius yang akan di bicarakan.
Rara mencari meja kosong yang agak mojok ke belakang biar tidak terganggu maktivitas orang lain, karena malam ini restoran lumayan rame.
"Masakan disini enak. Aku yakin kamu pasti suka. Biasanya aku dan Anders makan malam di sini." Elisa memberi tahu.
Rara yang baru pertama kali berkunjung pun hanya mengangguk. Elisa memanggil pelayan ketika mereka sudah duduk berhadapan.
"Pesen saja apa yang kamu mau, Aku yang bayar malam ini. Jangan kuatir sahabat mu sekarang sudah banyak uang, bisa traktir kamu sampai puas," ucap Rara dengan sedikit sombong. Dulu saat mereka masih bersama ketika SMA, uang saku Rara cuma sedikit sehingga tidak bisa traktir sahabatnya hingga puas, dan sekarang dia sudah bekerja dan punya uang sendiri sehingga bisa memberikan apa pun yang sahabatnya inginkan. Lagipula Rara bukan tipe orang yang tidak tahu diri. Elisa sudah membayari perjalanan mereka ke Bali dan Rara ingin balas Budi dengan membayar makan malam mereka.
"Ok lah, kalau begitu aku gak bakal sungkan buat pesen banyak." Elisa membuka buku menu yang di berikan oleh pelayan, begitu pun Rara.
Namun beda Elisa beda juga Rara, mama Ali yang jika makan di restoran mewah tidak perlu repot-repot membuka buku menu lantaran Adam sudah memesankan makan dan minum untuknya membulatkan matanya saat melihat daftar harga yang tertera di buka menu. Mengedipkan matanya dua kali Rara berharap salah lihat, tapi nyatanya matanya masih normal, berkali-kali dia melihat tetap saja angka di depannya tidak berubah, tiga ratus ribu untuk sepiring nasi goreng. Rara yang merasa semua itu konyol tidak bisa menahan tawa, lantaran otaknya langsung berfantasi membayangkan terbuat dari apa nasi goreng sampai semahal itu.
Elisa yang melihat sikap Rara menatap curiga sang sahabat, apalagi ketika perempuan di depannya tertawa cekikikan, "kamu kenapa Ra, Kesambet?" Curiga Elisa.
Rara mengelengkan kepalanya.
"Terus kenapa? Kok ketawa mencurigakan gitu?" Elisa kepo abis dengan tingkah Rara. Hingga dia mengacuhkan pelayanan yang masih berdiri di dekatnya menunggu perintah.
__ADS_1
"Gak, gak ada apa-apa," ucap Rara di sela tawanya.
Elisa yang tidak percaya bangkit memegang kening Rara, dengan ekspresi bingung, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya.
Rara menepis tangan Elisa, mengeleng kepalanya, mengusap ujung matanya yang berair.
"Duduk- duduk, aku gak apa-apa," ucapnya lagi saat sudah bisa mengatasi tawanya.
"Bener?" Elisa mencoba meyakinkan diri.
"Hm." Memasang wajah serius. Membalik buku menu di depannya. Rara melihat daftar makanan yang tertera di kertas itu.
"Terus kenapa kamu ketawa?" Selidik Elisa.
"Gak ada, cuma tiba-tiba kepikiran hal lucu aja."
"Apa sih, pokoknya harus cerita!" Paksa Elisa yang super penasaran.
Kemudian istri Adam menatap cewek berjilbab itu, bertanya pada Elisa tentang menu sepesial di restoran untuk mengalihkan rasa kepo sahabatnya. Karena bagaimanapun juga Rara tidak mau menjatuhkan harga dirinya di depan Elisa.
Setelah mendapat jawaban, Rara memesan beberapa menu yang direkomendasikan sang sahabat sebagai hidangan makan malam kali ini.
Tempat duduk pojok di belakang, terhalang oleh pot dan tanaman hias membuat wajah keduanya ibu muda itu tidak tampak jelas, apa lagi mereka mengenakan masker juga, membuat para pengunjung yang lain menatapnya mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang curiga, ada yang kepo, ada yang mencemooh dan ada pula menuduh Rara dan Elisa cari perhatian.
Selesai dengan makan malam, Elisa membawa Rara pergi ke sebuah mall, untuk mencari baju ganti sebelum mereka pulang ke villa.
Namun lagi-lagi perbedaan gaya hidup terjadi disana. Elisa yang gaya hidupnya sudah menjadi kaum sosialita melangkah dengan pasti tanpa keraguan saat menuju sebuah toko mereka terkenal. Berbeda dengan Rara yang gaya hidupnya selalu sederhana.
Rara terlihat ragu, otaknya sibuk berfikir apakah dia harus mengikuti Elisa atau memanggil mengajaknya pindah toko.
Melihat sahabatnya tidak ada di sebelah Elisa menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, melihat langkah Rara yang ragu-ragu, dia berbalik arah, menghampiri mengandeng lengan istri Adam mengajaknya pergi ke toko yang dia mau tanpa dapat di tolak.
Elisa mengajak Rara memberi beberapa baju kembaran untuk mereka berdua, katanya biar seru, karena mereka tidak punya baju yang sama.
"Gak mau, kayak anak panti aja," tolak Rara tentang ide gilanya Elisa.
"Mau dong Ra, ayo!" Elisa megoyang-goyang lengan mama Ali berharap luluh hatinya.
__ADS_1
"Lagipula nih, kalau kita pakai baju kembraan nanti kalau suami kita nanti salah masuk kamar gimana? Kalau suami mu masuk kamar ku karena ngira aku adalah kamu gimana?"
"Ya gak apa-apa, kalau gitu lebih seru. Artinya kita bisa bikin arisan suami." Elisa berkata sambil tersenyum lebar.
Rara mendorong kening gadis itu, "Dasar gak waras," komen Rara kemudian berlalu pergi meninggalkan Elisa.
Elisa tertawa, melihat ekspresi Rara yang kesal terlihat lucu bagi dia.
"Ayo Ra kita beli baju kembaran sekalian tuker suami," ucap Elisa lagi sambil berlari mengejar Rara yang sudah berjalan menjauh.
"Ogah."
"Ayolah..."
"Ogah. Aku kagak mau kembaran sama kamu."
"Bodoh, biarin, ayo!"
Dengan tenang supernya Elisa menarik lengan Rara membawanya ke bagian piyama membuat Rara tidak bisa menolak permintaan itu.
"Dari pada cuma baju tidur kembaran. Giman kalau kita beli lingerie kembaran aja?"
Usul Rara langsung disambut yes oleh Elisa. "Kamu emang cocok jadi teman mesum ku," komentar Elisa sambil berjalan menuju bagian underwear.
****
Rara tak henti-hentinya tertawa sambil memegangi perutnya yang mulai kaku, saat melihat Elisa memakai desi dan bandana telinga harimau setelah lingerie model harimau loreng, ditambah pose Elisa yang dibuat sama persis seperti foto cewek-cewek pada majalah dewasa.
"Sekarang gantian kamu!" Elisa memberikan sepasang dasi dan bandana telinga kucing pada Rara setelah aksinya berakhir, meminta mama Ali memakainya. Merebut handphone dari tangan Rara siap mengabadikan momen langka itu.
"Ogah aku gak mau," tolak Rara. Kembali merebut ponsel dari tangan Elisa.
Elisa menjauhkan benda hitam itu dari jangkauan tangan Rara, "Cepetan, aku mau lihat aksi kamu kalau goda Adam pakai baju itu gimana?" Paksa Elisa.
Kedua tadi sepakat membeli lingerie bercorak binatang untuk menggoda suami masing-masing dengan menunjukan aksi-aksi eksotis di depan pasangannya kelak. Namun Rara yang merasa tidak sanggup melakukan itu memilih ingkar janji ketimbang di ketawakan dan menanggung malu.
"Rahasia gak bakal aku tunjukkan ma kamu, takut nanti kamu paste," ucap Rara sambil mencoba kabur dari kamar pas.
__ADS_1
Rara yang sudah membuka pintu dicoba di hentikan oleh Elisa sehingga terdengar bunyi brak! bruk! broak! dari dalam kamar pas akibat kegaduhan mereka berdua yang saling berebut gagang pintu. Bersama suara cekikikan keduanya membuat beberapa pengunjung yang ada di luar menatap curiga ke arah kamar kecil itu, bahkan para SPG sudah siaga di depan pintu siap memberikan pertolongan. Jika mereka keluar dalam kondisi babak belur mungkin.
******