Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 139. Waktu untuk Berdua


__ADS_3

"Gak perlu ma. Aku dan mas Adam tidak perlu paket bulan madu. Hubungan kita baik-baik saja mesti tanpa liburan. Iya kan mas?"


Rara menoleh pada Adam meminta persetujuan sang suami, kemudian tersenyum manis dengan tatapan memaksa Adam untuk menjawab 'iya' pada Eka.


"Lagipula baru kemarin ambil izin, kalau izin lagi takut teman yang lain marah karena Rara kebanyakan izin."


Jelas Rara yang mendorong kembali amplop putih itu ketengah meja tanpa melihatnya terlebih dahulu. Dan lagi, hubungan dia dan Adam tidak seindah dulu. Adam yang sudah menyakitinya berkali-kali membuat Rara seolah mati rasa pada suaminya sehingga Rara pikir jika mereka bulan madu hanya akan membuat suasana makin canggung saja.


"Gak apa-apa Ra! Mama dan papa ikhlas ngasih ini semua. Anggap saja ini hadiah pernikahan kalian yang tertunda. Kan dulu pas kalian habis nikah mama dan papa gak ngasih apa-apa."


"Tapi ma..."


"Ini juga bisa membuat hubungan mu dengan Adam kembali membaik lagi. Mungkin dengan kalian bulan madu berdua bisa membuat kalian saling memahami satu sama lain," Syaputra menatap anak dan menantunya bergantian, "Membuat kalian bisa saling berkomunikasi dengan baik sehingga Adam bisa lebih memahami kamu," jelas sang papa.


"Lagipula liburannya bisa kamu pakai kapan pun kamu mau Ra, Tidak harus sekarang. Jangan kwatir itu tidak memiliki expired kok," tambah Eka.


Rara hanya dapat mengelengkan kepala. Entah bagaimana cara dia harus menjelaskan ke mertuanya jika itu semua tidak perlu. Jika memang Adam benar-benar mencintainya dan ingin menunjukkan rasa peduli pada dia dan Ali tidak harus menghabiskan uang banyak seperti itu dulu dan tidak harus melibatkan papa mama dulu namun memang dia mulai dari hati dan ke Adam sendiri. Percuma saja jika orang tua ikut berusaha, bersusah payah bahkan sampai mengeluarkan biaya untuk mereka tapi hati Adam tetap tidak bisa menerima Rara, untuk apa? Bukankah itu mubazir dan sia-sia belaka.


Beda Rara beda juga Adam, pria itu merasa bersyukur orang tuanya membantu dia berbaikan terhadap Rara. Mengerti posisinya jika untuk meluluhkan hati Rara itu sangat sulit. Meski sebelumnya mereka berdua sudah memarahi Adam habis-habisan karena sikap acuhnya terhadap Ali dan Rara selama ini, meski begitu sebagai orang tua dia tetap membantu anaknya melakukan sesuatu yang terbaik demi kebahagiaan putranya.


Tangan Adam yang hendak meraih amplop putih itu kalah cepat dengan tangan lain yang sudah mengambilnya.


"Kalau kamu gak mau buat aku saja Ra?"

__ADS_1


Suara Rangga membuat semua mata menatap pria tak tahu malu yang sudah berdiri di sebelah Rara. Entah kapan Rangga datang karena langkah kakinya tidak terdengar sama sekali mirip cenayang saja


"Kan lumayan Ra bisa jalan-jalan gratis. Jarang-jarang mama ngasih beginian," kemudian Rangga menyorongkan tubuhnya mendekati Rara, dan berbisik di teling Rara meski bisikan itu masih dapat di dengar oleh semua orang, "karena mama itu pelit."


Ucap Rangga sambil melirik ke Eka, sedangkan sang mama yang menjadi bahan gosip menatap putranya dengan horor. Seolah tidak takut Rangga pun melanjutkan kalimatnya, "dulu pas aku minta uang untuk ikut liburan ke Bali saja tidak dikasih Ra, padahal aku kan anak kandungnya tapi di perlakukan layaknya anak tiri." Curhat Rangga dengan wajah tampak sangat kesal ketika mengingat masa itu.


Eka yang mendengar kebusukan putranya hanya geleng-geleng,Begitu pun Rara, yang sangat Mengerti bagaimana karakter mama Eka hanya menanggapi dengan senyum dan wajah bodoh saja. Karena Rara tahu bagaimana Eka dan cerita Yang sebenarnya terjadi.


Kalau itu Rangga masih SMA dan anak ke dua papa putra itu di skorsing dari sekolah selama seminggu karena bolos sekolah dan terlibat tawuran masal dengan sekolah lain. Tapi bukannya merenungi kesalahannya selama diskors tapi malah minta uang untuk liburan ke Bali. Karena merasa bosan di rumah tidak ada kegiatan. Tentu saja Eka marah pada Rangga. Tapi emang dasar Rangga saja yang jahil jadi semua itu dijadikan alasan buat bahan gosip.


"Atau Rara mau liburan bareng Abang saja. Kita liburan bersama besok," usul Rangga, "kita tinggalkan mas Adam di rumah buat jaga Ali dan kita have fun berdua, gimana?" Rangga menarik-narik alisnya untuk menggoda Rara.


Meskipun perlakuan Rangga yang kadang mesra dan akrab terhadap Rara namun tidak ada satupun anggota keluarga Syaputra yang menyadari jika Rangga benar-benar mencintai Rara, karena sifat Rangga memang begitu, baik dan perhatian pada semua orang, sama seperti sifat sang papa. Jadi semua orang menganggap kebaikan, rayuan dan perhatian Rangga pada Rara hanyalah gurauan seperti biasanya, tidak lebih. Apalagi Rara juga tidak pernah baper dengan semua perhatian Rangga pada dirinya dan sikap keduanya juga tidak pernah menunjukkan kemesraan yang berlebihan satu sama lain.


"Kan Rara tidak mau pergi dengan kamu, jadi bagus buat aku saja."


"Gak ada, ini untuk aku dan Rara," paksa Adam, "ayo sayang kita pergi." Adam menuntut Rara untuk pergi dari ruangan tamu.


****


"Mas!" Panggil Rara saat mereka sudah sampai kamar, "aku gak mau liburan."


"Tapi aku mau Ra. Aku butuh ini, aku butuh waktu untuk berdua dengan kamu."

__ADS_1


"Waktu berdua bukan berarti liburan kan mas? Kita bisa menikmati waktu berdua dengan di rumah saja."


Adam mengeleng, "tidak. Selama ini aku tidak pernah membagikan kamu dan saat ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat kamu bahagia."


Mendengar semua penutur Adam, Rara pun bergumam, "percuma saja kita liburan jika di hati ku tidak ada kamu."


Adam yang mendengar gumaman Rara menatap sang istri dan bertanya, "Kamu ngomong apa?"


"Gak ada."


"Ra!" Adam memegang bahu Rara, "aku tahu selama ini aku selalu membuat kamu sedih dan menyakiti hati mu. Tolong beri aku kesempatan, beri aku kesempatan untuk membuat kamu bahagia."


"Membuat aku bahagia tidak harus mengajak aku jalan-jalan mas, tidak harus bulan madu."


"Iya aku tahu. Tapi aku ingin pergi liburan bersama kamu, berdua dengan kamu."


"Lalu Ali? Kita tidak lagi berdua tapi bertiga dan aku juga tidak mungkin meninggalkan Ali sendiri sedangkan aku dan kamu bersenang-senang."


"Bisa gak Ra, kamu gak usah berfikir terlalu jauh. Biarkan aku yang memikirkan ini semua, kamu dan Ali silahkan berbahagia dan ngikutin saja apa mau ku."


Mendengar Adam mengharapkan begitu Rara pun tidak memprotes lagi. Mungkin saat ini memang dia harus mengikuti apa yang suaminya inginkan.


"Mau kan liburan dengan ku?" Tanya Adam memastikan, "Tolong beri aku waktu untuk berdua dengan mu?!"

__ADS_1


Rara mengangguk setuju.


__ADS_2