Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 133. Musuh Baru


__ADS_3

Elisa yang menyadari jika gaya menyapa mereka tidak bersahabat menjadi penasaran siapa musuhnya kali ini, karena setahu dia Rara adalah cewek baik dan selalu mengalah jadi aneh kalau sampai punya musuh. Sehingga muncul ide setan di otaknya untuk mencari tahu sekaligus membuat orang jengkel.


"Siapa Ra?" Bisik Elisa di telinga kiri Rara.


Saat tubuh Elisa sudah kembali tegak berdiri, Rara menatap wajah sahabatnya, dan Elisa mengedipkan sebelah matanya sebagai kode, Rara menampilkan senyum manis di balik maskernya seketika dia tahu maksud hati istri Anders.


"Niken. Istri bang Tony," balas Rara ganti berbisik pada Elisa.


"Tony siapa? Emang aku kenal?"


"Ketua OSIS saat kita SMA dulu. Inget gak?"


"Cowok yang naksir kamu?"


"Iya cinta pertama aku."


"Teruskan kenapa dia judes sama kamu?"


"Karena dia sakit hati."


"Lho kok?"


"Iya dia pacaran sama mas Adam, tapi mas Adam malah nikah sama aku."


"Oh...." Elisa manggut-manggut paham. "Kayaknya dia dendam banget sama kamu ya? Makanya dia ngajak ribut gitu?" Bisik Elisa lagi.


Rara mengedikan bahunya tanda tidak tahu, "mungkin."


"YA.....!!!" Bentak Niken kencang.


Aksi bisik-bisik Rara dan Elisa seketika terhenti saat mendengar teriakkan Niken.


Rara dan Elisa juga kedua teman Niken terkejut, saat mendengar bentakan itu. Refleks mereka berempat memegang dada dan aksi bisik-bisik Rara dan Elisa juga terhenti dengan sendirinya. Lalu keduanya menatap Niken dengan ekspresi tanpa dosa.


"Gak sopan banget kalian jadi orang, bisik-bisik di depan orang lain. Kalau berani ngomong langsung, jangan bisik-bisik busuk."


Suara Niken yang tinggi menarik perhatian beberapa pengunjung mall sehingga mereka menghentikan langkahnya, mulai bergerombol untuk mendekat meskipun masih pada jarak aman.


"Dasar caper. Gak di restoran gak dia mall caper terus. Kenapa gak laku? Gak ada yang godain? Makanya nyari perhatian?" Ucap sahabat Niken yang berhijab kuning.


Rara kenaikan alisnya, tersenyum mengejek, "laku atau gak, gak ada hubungannya sama elo."


"Apa gue gak denger? Kamu ngomong apa? Coba ulangi lagi?"


Prempuan yang mengenakan dress selutut warna merah yang berdiri tepat di depan Rara mencondongkan tubuhnya, memasang telinga baik-baik meminta Rara mengulang ucapan.


"Kalau ngomong tuh di buka maskernya biar jelas, biar gak kayak orang gagu," ujarnya dengan tangan bergerak guna menggapai masker yang Rara gunakan.


Dengan sigap Rara mundur selangkah, menghindar ke samping, menepis tangan itu sebelum menyentuh maskernya.


"Jangan kurang ajar ya!" Ancam Rara dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Malu kalau semua orang tahu wajah jelek mu?" Cibir teman Niken dengan suara tinggi, seolah memberitahukan kepada semua orang tentang sosok Rara.


"Atau wajah mu yang penuh dengan jerawat," sambung prempuan berhijab kuning. Kemudian tertawa mengejek Rara dan Elisa.

__ADS_1


Mendengar ucapan kedua sahabat Niken mau tidak mau beberapa pengunjung mall malam itu mulai penasaran dengan wajah keduanya, apakah benar buruk rupa atau cantik.


Niken yang tahu bagaimana bentuk wajah Rara menyenggol lengan sahabatnya tapi terlambat, kata-kata sudah terucap dan tidak bisa di tarik lagi.


Elisa yang mendengar hinaan itu smrik devil kearah Niken cs.


Rara dan Elisa adalah dua orang cinta damai, bertengkar dan main otot di depan banyak orang tentu bukan mereka banget.


Elisa Kemudian menyenggol lengan Rara, kedua sahabatnya itu saling tatap dengan melempar senyum manis. Seolah memberi kode satu sama lain.


Elisa membuka maskernya yang berwarna senada dengan hijab yang dia kenakan yaitu hitam.


"Aku jelek aja kamu gak laku, apalagi aku cantik?" Tutur Elisa, memamerkan wajah putih mungil, imutnya di depan semua orang sambil senyum manis.


Lanjut Rara mengikuti jejak Elisa melepas maskernya, menampilkan wajahnya yang cantik, putih mulus tanpa cacat di depan semua orang.


Menatap Niken Cs, "iri, bilang bos!" Sambung Rara.


Tidak menunggu jawaban dari hinaannya pada Niken dan kawan-kawan yang masih bengong terkaget karena wajah mereka berdua. Rara dan Elisa berbalik badan dan pergi meninggalkan ketiganya.


Membuat Niken yang hendak berucap menelan kembali kata-kata. Istri Tony hanya dapat meremas ponsel di tangan, menahan amarah


Niken mengigit giginya hingga berbunyi geretuk gigi yang beradu. Sorot matanya tajam seolah ingin mencabik-cabik orang. Kemudian mengajak para sahabatnya meninggalkan tempat itu juga sebelum lebih malu lagi lantaran menjadi tontonan para pengunjung yang melihat.


****


Setelah merasa apa yang mereka butuhkan sudah dapat semua, malah berlebih karena kedua membeli beberapa perhiasan juga, Rara dan Elisa pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.


"Berapa?" Tanya Rara pada kasir saat mesin pemindai harga tidak lagi berbunyi yang menandakan jika belanjaan dia sudah di total semua.


Prempuan berseragam merah biru itu menyebutkan sebuah nominal yang membuat Rara hampir pingsan saat mendengarnya.


Seumur-umur belum pernah dia berbelanja sebayak ini. Biasanya jika shopping paling banyak Rara hanya habis dua puluh juta, itu pun jarang sekali. Karena Rara memang tidak pernah berbelanja barang branded ala kaum sosialita. Meskipun istri CEO tapi hidup dia sangat sederhana pakai, tas, dan sepatu yang dia gunakan sehari-hari memang barang KW semua kalaupun ada yang asli itu Adam yang membelikan. Lagipula hidup di desa KW dan asli orang juga tidak ada yang tahu.


Sekarang bersama Elisa hanya shopping beberapa jam saja dia harus menghabiskan uang tabungannya selama satu tahu. Uang sebanyak itu bisa dia gunakan untuk berinvestasi, membeli perkebunan kelapa sawit sebanyak 4 Ha sebagai tabungan di hari tua tapi kini dia habiskan untuk membeli barang harian yang kegunaannya juga tidak terlalu penting hanya demi sebuah gengsi. Katakanlah Rara menyesal sekarang.


Rara yang bingung dengan pikirannya sendiri antara membeli atau mengembalikan barang-barang itu tidak kunjung mengeluarkan kartu dari dalam dompet, istri Adam terdiam karena masih syok.


"Mbak, mbak, gimana?" Panggil sang kasir.


"Ra, di tanya tuh?" Elisa yang baru datang ke kasir akhirnya menyenggol lengan Rara yang masih bengong.


"Eh...iya...iya ada apa?" Rara tergagap karena terkejut. Menoleh pada Elisa.


"Ditanya mbak kasir?"


"Iya mbak gimana?" Tanya Rara pada prempuan yang berdiri di balik meja hitam sebatas pinggang.


"Ini belanjaan mau diambil atau tidak? Atau mau di kembalikan saja?" Tanya kasir agak kasar karena sedari tadi Rara di tanya tak kunjung memberi jawaban. Sehingga prempuan cantik itu berfikir jika Rara tidak punya uang.


Rara tersenyum manis, "Ba...."


Belum sempat Rara menjawab sudah terdengar suara dari belakang yang memotong jawabannya.


"Kenapa? Gak kuat bayar ya? Belagu sih. Miskin juga Sok kaya beli barang bermerk segala, sekarang malu deh gak kuat bayar."

__ADS_1


Tidak menoleh pun Rara tahu jika itu suara Niken. Rara hanya dapat memutar matanya, tidak tahu dosa apa sehingga dia harus ketemu nenek sihir itu. Tidak menanggapi ucapan Niken, Rara mengeluarkannya kartu ATM dari dalam dompetnya, namun saat hendak menyerahkan pada kasir buru-buru tangan Rara ditahan oleh Elisa.


"Biar aku saya yang bayar," ujar istri Anders.


"El gak usah, aku bisa bayar sendiri. Uang aku gak bakal habis jika hanya buat bayar segini saja," tolak Rara, "lagipula belanjaan ku habis banyak."


"Huh, sok drama," sambung sahabat Niken yang muak dengan kedua orang di depannya.


"Buruan bayarnya, gak lihat orang pada ngantri apa? Kalau gak punya uang bilang aja gak usah sok drama di depan kasir." Sambung teman satunya lagi sambil mengeser tubuh Rara Agar menyingkirkan.


Elisa yang melihat perbuatan Niken cs pun tidak terima, langsung membentang cewek bergaun merah itu.


"Sabar dong! Kalau gak mau ngantri pilih kasih yang lain sana. Belanja kamu juga gak banyak sombong banget jadi orang. Biar kasir melayani kami dulu, baru kamu," bentak Elisa sambil melotot tajam.


"Mbak gabung saja belanja teman saya bareng sama saya biar saya yang bayar." Elisa mengeluarkan kartu sakti berwarna hitam dari dompetnya dan menyerahkan pada kasir.


"El..." Panggil Rara gak enak hati.


"Gak apa-apa Ra, apa gunanya punya sahabat istri sultan kalau gak bisa traktir temen."


"Tapi...."


Ucapan Rara terpotong lagi oleh Elisa, "kalau kamu mau bayar dalam bentuk lain saja, jangan bentuk uang. Mungkin nomor cowok ganteng yang bisa aku ajakin selingkuh gitu." Elisa mengedipkan matanya pada Rara.


"Bukan kamu tadi bilang punya nomor Abang Tony. Jadi gimana kalau kamu kasih nomor dia sama aku sebagai ucapan terimakasih," lanjut istri Anders.


"Boleh. Kebetulan kemarin bang Tony wa aku ngajakin makan malam di luar. Kali aja kamu mau ikut nanti aku kenalin. Siapa tahu kalian berdua cocok."


Niken yang mendengar nama suaminya disebut bahkan sengaja akan digoda pun tidak terima.


"Ya, sialan. Cewek ganjen, pelakor!" Marah Niken hendak meraih bahu Rara namun sigap Rara bergeser menjauh sehingga tangan Niken hanya menggapai udara kosong.


"Siapa dia Eli? Kamu kenal ya?" Tanya Rara pada Elisa dengan tatapan menghina kearah Niken.


"Gak kenal tuh," balas Elisa dengan acuh.


"Sialan loh, ya!"


Niken yang marah, bergerak buru-buru kearah Rara hendak meraih hijab mama Ali hingga tidak mempengaruhi langkahnya, sehingga dengan sengaja Elisa menjulurkan kakinya dan membuat Niken tersandung hingga jatuh terjerembab. Hingga menubruk estalase baju-baju yang ada di dekat kasir.


"Ups, sorry gak sengaja. Gak lihat kalau ada yang mau lewat."


Elisa menutup mulutnya yang terbuka dengan empat jari. Tanda dia kaget yang tampak sekali di buat-buat.


Niken yang jatuh langsung di bantu bangun oleh kedua sahabatnya, sedangkan para pelayan mall langsung merapikan kembali dagangan yang rusak.


Wajah Niken memerah, Karena malu.


"Awas Lo ya!" Ancamannya sebelum pergi meninggalkan kasih di bantu kedua temannya. Dia pergi dengan tertatih-tatih karena lututnya lecet.


Rara dan Elisa yang melihat kejadian itu ingin tertawa, tapi takut dosa sehingga dia memilih tersenyum saja.


Sedangkan Niken yang sangat kesal dengan perlakuan Rara ingin melaporkan semua perbuatannya pada Adam, tapi saya nomor Adam yang dia miliki sudah tidak aktif sehingga Niken menghubungi Adam lewat histogram.


*****

__ADS_1


Jika Adam mau buka Ig mungkin dia gak harus bingung cari Rara. Tapi apalah daya Adam kan gak pernah buka Ig.


__ADS_2