Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 136. Tamu Tak Di undang 2


__ADS_3

"Suapin," pinta Ali.


Rara tersenyum, menatap putranya, "Ok. Nanti mama supain. Mama bikin bubur dulu ya!"


Ali mengnaguk.


Sepeninggalan Rara, Adam ikut berbaring di sebelah putranya dengan bibir terseyum tipis. Sepertinya malam ini nanti dia bakalan bisa tidur nyenyak. Meski mendapatkan maaf dari Rara tidak mudah tapi paling tidak istrinya sudah ketemu.


Dua puluh menit kemudian Rara sudah kembali ke kamar dengan sebuah nampan hitam berisi semangkuk bubur dan segelas air putih hangat.


"Mas sudah makan atau belum? Jika belum masih ada sisa bubur semangkuk lagi. Tadi aku bikin agak banyakan kok."


"Mas makan nanti-nanti saja Ra, yang penting Ali makan dulu. Lagian mas juga belum laper kok."


Baru saja Adam selesai ngomong perutnya langsung berbunyi minta jatah, membuat wajah pria itu memerah karena malu. Rara yang mendengar tersenyum mengejek.


"Katanya belum laper kok udah bunyi?"


"Oh... biasa, mungkin lagi karaokean cacingnya makanya bunyi."


"Oh...pantes," kilah Rara, sok tak perduli.


Ali yang melihat interaksi papa mamanya pun angkat suara, "bohong ah, bilang saja papa malu bilang ke mama kalau lapar."

__ADS_1


"Gak malu boy, papa memang belum laper."


Namun, "nah tu perut papa bunyi lagi."


Ali menunjuk perut papanya yang barusan berbunyi. Membuat mereka bertiga tertawa.


Adam memang belum makan malam. Tadi saat yang lain makan di pesawat dia tidak ikut gabung. Rara belum ditemukan tentu Adam tak selera untuk makan. Bahkan lapar pun tidak. Dan sekarang perutnya bunyi berkali-kali.


"Tunggu sebentar aku ambilkan bubur buat mas. Nanti makan sama-sama."


Rara meletakkan nampan yang dia bawa ke nakas lalu keluar lagi untuk mengambil bubur milik Adam.


Di sisih lain di rumah tamu


Elisa yang pada dasarnya Memang mudah akrab langsung mengajak mereka ngobrol-ngobrol ringan terlebih bersama dokter Nanda. Sesama dokter tentu obrolan mereka lebih nyambung satu sama lain meski beda sepesialis. Dokter Nanda sepesialis anak dan Elisa sepesialis penyakit dalam.


Meski begitu Elisa pandai membawa suasana dalam obrolan mereka sehingga tiga orang yang lain tidak merasa di cuekin namun ikut bertanya dan nimbrung bersama. Sesekali mereka melemparkan candaan konyol yang membuat semua tertawa.


****


Setelah disuapi dan minum obat Ali pun tertidur. Melihat putranya sudah nyenyak, Rara yang semula menepuk-nepuk paha putranya sambil sholawat pun beranjak dari rebahan di kasur.


Merapikan mangkuk dan gelas kotor untuk di bawa ke dapur.

__ADS_1


"Ra, mas mau ngomong."


Adam yang melihat Rara hendak pergi buka suara untuk mencegahnya.


"Memang masih ada yang perlu di omongkan diantara kita," jawab Rara dingin. Jika tadi dia bersikap hangat, tersenyum dan bercanda itu semua karena Ali, karena Rara tidak ingin putranya melihat pertengkaran mereka berdua terlebih sampai bocah itu berfikir sang mama pergi karena ribut sama papanya. Rara tidak mau Ali membenci Adam meskipun dia sendiri kesal terhadap pria itu.


"Jangan begitu Ra."


Adam yang melihat kemarahan istri mencoba bersikap lembut, sabar, bagai manapun juga menghadapi api itu dengan air bukan dengan bensin.


Tidak membalas perkataan Adam, Rara hanya berdecak kesal kemudian mama Ali membawa nampan dan mangkuk kotor ke luar, sedangkan Adam mengikuti istri dari belakang.


Rara yang sedang mencuci melirik ke belakang dimana Adam menunggunya sambil menyandarkan punggungnya di meja makan, dengan kedua tangannya dalam kantong celana dan menyingkirkan kaki panjangnya yang terbungkus celana dari bahan kain yang masih terlihat rapi, bahkan garis lipatnya masih terlihat jelas. Pria mengenakan kemeja hitam yang di gulung hingga siku itu tampak memperhatikan setiap gerakan Rara lewat mata elangnya layaknya singa menunggu mangsa.


Membuat jantung Rara berdebar-debar karena penampilan Adam yang malam itu terlihat em... tampan dengan rambutnya yang sedikit berantakan.


Sebenarnya Rara tidak ingin mengakui ketampanan suaminya karena dia masih kesal namun, itu adalah fakta, dan Rara tidak bisa menolak kenyataan itu.


Rara yang merasa terhipnotis dengan pesona Adam buru-buru mengelengkan kepalanya ke kiri ke kanan. Mengenyahkan pikiran konyol yang menganggu otaknya. Dia sedang marah pada Adam tidak boleh terpesona oleh pria itu.


Rara yang melihat Adam menunggunya mencuci piring pelan, sengaja membuat Adam bosan menunggu hingga akhirnya pria itu pergi meninggalkan dirinya.namun niat Rara tak berhasil setelah sekian lama Adam masih begitu setia menunggu membuat mama Ali mengakhiri drama mencuci piringnya, setelah mengelap tangan dengan lap kering Rara berjalan ke halaman belakangan villa.


Rara duduk di kursi ayunan kayu, Adam yang mengikuti dari belakang langsung duduk di depan Rara, menggegam kedua jemari itu. Adam bersimpuh.

__ADS_1


"Ra, maafin aku!" Ucap Adam.


__ADS_2