
Pinta ruang kerja Adam di ketuk dari luar. Rain menyampaikan jika ada seseorang yang mencari Adam di luar.
"Suruh masuk!" Perintah suami Rara.
Rain mengangguk, menunduk lalu undur diri, keluar dari ruangan atasnya.
Beberapa menit setelah Rain kuluar, muncul seorang pria tinggi berkulit sawo matang yang mengenakan jaket Armi di tubuhnya. Melihat siapa yang datang, Adam menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju sofa, meminta sang tamu duduk disana.
"Bagaimana hasilnya? Apa yang kamu temukan?" Tanya Adam pada pria yang duduk di depannya.
"Maaf pak. Untuk masalah istri bapak saya tidak menemukan siapa manatan pacar istri bapak, karena sepengatahuan teman-temannya bu Rara tidak pernah pacaran selama kuliah."
Rupanya lelaki itu adalah dektetif swasta yang Adam tugaskan untuk mencari tahu siapa pria masa lalu Rara yang selama ini masih menunggu istrinya dan membuat hidupnya tidak tenang.
"Tidak mungkin!" Tolak Adam dengan tegas. Karena dia tahu pasti istrinya tidak berbohong.
"Jadi apa yang kamu dapatkan tentang istri saya?"
Pria itu pun bercerita jika saat kuliah dulu Rara memang pernah dekat dengan beberapa orang pria. Dan ada juga yang beberapa kali datang berkunjung ke kost ataupun rumah Rara tapi nama pria itu buka R melainkan Aldo. Yang ternyata pacar dari Yeni sahabat dekat Rara saat kuliah.
Aldo memang punya sahabat namanya Aldi tapi Aldi tidak punya hubungan apa-apa dengan Rara karena mereka tidak pernah pergi berdua.
Jika Aldi datang ke kost Rara semata-mata itu karena menemani Aldo mengunjungi sang pacar yang juga tinggal satu kost dengan Rara.
"Bisa jadikan Aldo dengan Yeni dan Rara pacaran dengan Aldi?"
"Saya pikir juga seperti itu pak. Tapi semua teman-teman mereka tidak ada yang mengatakan jika mereka pacaran dan bukti nyata yang menunjukkan jika mereka menjalan kasih juga tidak ada."
Adam mengumpat kesela. Dia sangat tidak puas dengan hasil orang suruhannya.
Merasa gagal memperoleh informasi yang di perintahkan sang bos, pria itu pun menyampaikan informasi tambahan yang dia yakini bisa membuat mood Adam menjadi baik lagi.
"Dan saya juga punya informasi terbaru tentang ibu Maelin pak," ucapnya.
__ADS_1
Benar saja, Adam yang semula sudah tak acuh kini kembali memfokuskan matanya pada pria berusia empat puluh tahun di depannya.
"Ternyata Bu Maelin tinggal di Belanda sekarang. Dia pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda."
"Sejak kapan?"
Adam benar-benar kaget mengetahui hal itu, bagaimana bisa Maelin menjadi warga negara Belanda?
"Sejak lima tahun silam. Dia ikut ibunya. Karena ibunya menikah lagi dengan pria asal Belanda dan sekarang mereka tinggal disana."
Kini Adam paham kenapa dia tidak menemukan Maelin di Inggris ataupun Perancis karena ternyata gadis itu sudah pindah.
Maelin adalah seorang gadis blasteran, ayahnya berasal dari Inggris dan ibunya asal Perancis. Awal masuk kuliah dulu ayah Maelin meninggal karena kecelakaan tunggal yang menyebabkan dia mati di tempat. Kemudian ibu dan adiknya pindah ke Perancis lagi, tapi Maelin tetap melanjutkan pendidikannya di Inggris bersama Adam dan Marcell. Dia tinggal bersama paman dari sang ayah dan Adam juga kenal dengan lelaki itu.
Informasi terakhir yang Adam dapatkan dari uncle Harry saat dia datang ke Inggris beberapa tahun lalu, lelaki itu bilang Maelin menyusul ibunya ke Perancis. Tapi ketika Adam meninta seseorang mencarinya di Perancis Maelin dan keluarganya tidak ada disana. Bahkan saudara mereka juga tidak tahu dimana gadis itu berada. Keberadaan Maelin hilang bagaikan di telan bumi dan ternyata selama ini gadis itu pindah ke Belanda. Menjadi warga negara Belanda.
"Bagaimana pak? Apakah saya harus mencarinya ke Belanda juga? Untuk memastikan apakah ibu Maelin benar-benar ada di sana atau tidak?" Tanya pria itu pada Adam.
Adam terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia meragu. Hatinya diselimuti keraguan antar melanjutkan mencari Maelin atau membiarkan gadis itu begitu saja.
"Kurang tahu. Berdasarkan informasi yang saya dapat status Bu Maelin masih single. Dan selama ini sepertinya Bu Maelin juga tidak dekat dengan seorang pria."
Deg, seketika jantung Adam berhenti berdetak.
Apakah dia masih menunggu ku? Masih setia menanti ku kembali padanya? Tanya Adam dalam hati.
Seketika rasa bersalah yang begitu besar menusuk hatinya, merasa sudah menghianati orang yang begitu dia sayang.
*
Adam menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, memijat pangkalan hidungnya. Pusing, itu yang dia rasakan.
Kenapa saat dirinya sudah mencintai Rara baru mendapatkan informasi tentang Maelin. Adam bingung bagaimana bersikap. Haruskah dia mengejar Maelin dan meninggalkan Rara atau membiarkannya Maelin dan bertahan dengan Rara? Jujur ada tidak bisa milih salah satu diantara dua wanita itu.
__ADS_1
Dia mencintai Rara istrinya dan tidak ingin kehilangan prempuan itu, tapi Adam juga mencintai Maelin dan mencintai gadis itu. Jika boleh egois Adam ingin memiliki keduanya. Bersanding dengan keduanya.
Namun dia sadar itu juga tidak mungkin. Baik Rara maupun Maelin tentu tidak sudi jika dimadu maupun di gilir cinta.
"Aaahhggg...!"
Adam mengacak-acak rambutnya, membiarkan berantakan. Berujung menjatuhkan kepalanya diatas meja kerja.
"Brengsek!"
Adam memukul-mukul meja kerjanya untuk mengungkapkan betapa kecewanya pada diri sendiri.
Jika dia belum bisa mencintai Rara dan mengungkapkan cintanya pada sang istri mungkin dia tiadak akan sepusing ini? Mungkin dia bisa langsung berlari di hadapan Maelin. Tapi semua terlambat, dia sudah meminta kesempatan kedua pada Rara dan berjanji tidak akan menyakiti prempuan itu.
Kenapa Maelin datang disaat keadaan yang tidak tepat. Kenapa tidak beberapa bulan lalu? Bukan bukan kenapa tak kemarin? Seminggu yang lalu atau paling tidak kemarin, sehari yang lalu saat dia belum mengungkapkan cintanya pada Rara. Sekarang? Adam hanya dapat membuat nafas tanpa tahu harus berbuat apa.
Kegalauan Adam terhenti beberapa detik saat handphone di atas mejanya bergetar.
Adam meraih benda kesayangan sejuta umat itu saat mendengar sebuah notifikasi masuk untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Mata Adam melebar saat mendapat sebuah nama yang tertera di akun WhatsAppnya.
Sebuah nama yang selalu dia rindukan selama ini.
Maelin:
Hai, Adam!
Maelin:
How are you?
Dua pesan itu mampu menjungkir balikkan dunia Adam saat ini juga.
__ADS_1
****
Wahahaha....Adam galau berat!!!