
Rara baru pulang dari kolam renang bersama Ali saat melihat Kamal duduk di teras rumah.
Dia menetap aneh lelaki itu dengan heran, karena kedatangannya tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu tidak seperti biasanya yang selalu chat dulu setiap mau main.
Yang lebih aneh lagi juga kenapa mbok membiarkan pintu depan tertutup saat ada tamu yang datang, apakah Art Rara tidak tahu jika ada pak Kamal datang ke rumahnya, melihat tidak ada mobil lelaki itu di halaman.
Melihat Rara datang, Kamal yang semula duduk di kursi plastik langsung berdiri, menyongsong menghampiri dirinya.
"Ada apa pak?" Tanya Rara saat melihat ke kwatiran tercetak jelas di wajah Kamal.
"Ra, a....,"
Ucapan Kamal terhenti dengan teriakan marah seorang prempuan dari belakang punggung Rara, membuat mama Ali menoleh guna melihat siapa gerangan orang yang menyapanya dengan nada tidak sopan begitu.
Tatapan Rara tertuju pada wanita bertubuh subur mengenakan daster rumahan yang tengah berjalan cepat ke arah mereka berdua.
"Oh....begini ya kelakuan kamu di belakang ku!" Ujar perempuan itu dengan nada tinggi, "anak di rumah sedang sakit bukan di jagain tapi malah kamu ada di sini berdua-duan dengan p*lacur murahan ini," Perempuan bertubuh subur itu melotot kearah Kamal dan juga Rara.
Rara yang tidak tahu apa-apa menatap bingung sepasang suami istri di depannya.
"Ibu ada apa sebenarnya, kenapa marah-marah di rumah saya?" Tanya Rara sabar.
Tatapan Dewi yang semula tertuju pada Kamal kini beralih menghujam ke arahnya.
"Tidak usah pura-pura bodoh kamu j*lang. Jangan sok tidak bersalah atas semua dosa yang sudah kamu lakukan pada rumah tangga ku. Dasar wanita kotor, p*lakor, wanita sialan," maki istri Kamal mengeluarkan semua unek-uneknya.
Rara yang tidak terima dengan semua tuduhan itu juga naik darah. Meski begitu dia mencoba menahan amarahnya karena dia teringat ada Ali dan Rara tidak ingin putranya melihat perbuatan dirinya yang memalukan, sehingga dia meminta Ali untuk masuk ke dalam rumah lebih dahulu, tapi sayangnya pintu depan terkunci karena mbok tidak tahu jika ada tamu diluar.
Yang membuat dia akhirnya bicara dengan bijak guna meredam emosi istri Kamal yang dalam level high.
"Bu jika ada masalah tolong di selesaikan baik-baik di rumah kalian, jangan bertengkar disini. Tidak baik di lihat tetangga," Rara mengingatkan.
"Diam kamu sialan! Siapa yang menyuruhmu bicara, hah!" Hardik Bu Dewi.
"Ini rumah saya dah saya berhak atas ibu di sini!" Tajam Rara.
"Oh begitu!" Bu Dewi melotot, " jadi kamu mau mengusirku dari sini supaya kamu bisa mesra-mesran sama suami ku begitu? Apa kamu tahu j*lang, gara-gara perbuatan murahan kamu kami bertengkar setiap hari dan dia berencana menceraikan ku.
Kamu tahu kan kalau Kamal itu punya istri, bisa-biasa nya kamu ganggu suami orang. Kalau kamu kegatelan gara-gara tidak k*win sama suami mu ya kosod sana ke tembok, jangan keganjenan godain suami orang. Katanya guru tapi kok kelakuane koyo l*nte
Murahan," Maki prempuan itu kencang kepada Rara.
__ADS_1
"Astagfirullah halazim Bu, itu fitnah namanya Bu. Bisa-bisanya ibu memfitnah saya sampai begitu.
"Fitnah, cih! Bukti nyatanya sudah ada dan sekarang kamu bilang fitnah," marah istri Kamal.
"Pak, jika kalian ke rumah saya cuma untuk bertengkar dan membuat saya malu, Mending bapak ajak pulang dia karena saya tidak izinkan istri bapak ada disini!" Tegas Rara pada Kamal.
Namun kata-kata Rara membuat prempuan itu menjadi lebih geram kepadanya.
"Apa kamu bilang? Tidak mengizinkan aku ada disini. Memang kenapa aku harus permisi dulu buat datang ke rumah l*nte kayak kamu. Perempuan sundel!" Ujarnya sambil menempeleng Rara, "Apa kamu juga permisi pada ku pas goda suami ku? Kamu pikir aku tidak tahu perbuatan mu yang jalan kesana sini berduaan dengan suami ku. Kamu pikir aku terima begitu saja kamu selingkuh, iya?" Prempuan itu yang merupakan istrinya Kamal menjambak hijab dan rambut rambut Rara hingga membuat dia meringis kesakitan.
Ali yang melihat ibunya dianiaya menangis histeris.
Hingga Kamal berteriak marah
"Lepaskan dia, bu!"
Tangis Ali dan suara Kamal membuat mbok membuka pintu depan. Seketika wanita berusia lima puluh tahun itu kaget melihat pertengkaran di teras rumah majikannya.
Lekas wanita separuh abad itu menghampiri Ali dan mengendongnya, menjauhkan anak majikannya dari prempuan yang kesetanan, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Dewi yang tidak terima akan aksi Kamal membela Rara membuat wanita itu semakin murka hingga dia semakin menarik kencang rambut Nayla.
"Diam kamu br*ngsek!" Bentak nya pada Kamal ganti, "jangan membela wanita murahan ini di depan ku," tunjuk nya.
"Ibu tolong lepaskan Rara Bu, kasih dia!" Pinta Kamal lagi karena tidak tega melihat Rara yang teraniaya.
Dewi melepaskan jambakannya dari kepala Rara di Sertai dengan dorongan kencang. Hingga,
"Dug"
Kening Rara sukses membentur dinding sampai memar.
Seketika Rara terhuyung akibat pusing, namun saat Kamal hendak menolong nya, Dewi langsung menarik lengan suaminya hingga lelaki itu berjalan mundur.
"Itu belum seberapa di banding dari rasa sakit yang aku rasakan selama ini di hati ku j*lang."
"Bu hentikan Bu, ibu bisa masuk penjara jika gini!" Kamal menarik istri nya.
"Lepas, lepaskan aku. Aku masuk penjara gak apa-apa yang penting aku puas!" Teriak istri Kamal sambil meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Tubuh Dewi yang besar membuat lelaki itu kualahan menahannya sehingga sang istri terlepas dari dekapan Kamal.
__ADS_1
"Hentikan Bu, saya bukan selingkuhan suami ibu. Jadi jangan panggil saya seperti itu!" Marah Rara, sedih juga tidak terima atas semua perlakuan Dewi kepadanya, "saya punya suami dan saya tidak ada hubungannya dengan suami orang!"
"Diam kamu p*lacur. Siapa yang nyuruh kamu ngomong."
"Plak!!"
Dewi menampar pipi Rara kencang hingga pipi putih mulus itu langsung memerah seketika.
Rara yang seumur hidup tidak pernah di tampar langsung memegang pipinya yang terasa perih dan panas, dia menangis.
"Apa yang ibu lakukan?" Kaget Kamal melihat kelakuan bar-bar istrinya.
"Memberi hadiah untuk pelakor."
"Hentikan Bu, bapak mohon hentikan ini. Rara tidak salah Bu, bukan dia yang suka sama bapak tapi aku yang cinta sama dia," aku Kamal jujur.
"Pak!" Bentak Rara yang tidak tahu dengan arah pikir Kamal, jelas istrinya marah karena cemburu malah dia menyiram bensin pada api yang berkobar.
"Oh gitu. Jadi bapak yang tergoda sama l*nte ini gitu?" Tajam Dewi.
"Heh p*lakor dengan pelet apa kamu menggoda suamiku, jawab?" Tanya Dewi seraya mendorong tubuh Rara merapat ke dinding.
"Dengan wajah mu yang sok cantik ini?" Tanyanya lagi.
"Gak usah mewek, kamu pikir kalau kamu nangis aku prihatin gitu. Gak Sudi! Aku gak akan tertipu dengan air mata buaya l*nte seperti kamu tahu!"
Dewi kembali melakukan penganiayaan dengan membentur kepala Rara ke tembok.
"Dengan wajah ini kan kamu menggoda suami ku, maka biar aku hancurkan wajah mu itu agar tidak ada lelaki lain yang tergoda dengan sikap busuk mu itu!" Umpat Nya seraya mengangkat tangan guna menampar Nayla lagi.
"HENTIKAN!"
Teriak suara seorang pria dari arah belakang yang membuat tangan Dewi menggantung di udara.
-
-
Kosod adalah menggesekkan badan atau anggota tubuh yang gatal ke suatu benda. seperti dinding, tembok, kayu atau batu untuk mengurangi rasa gatal itu sendiri.
-
__ADS_1
-
Like dan komen ya