Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 125. Akhirnya


__ADS_3

"Setelah hari ini, apa kabar dengan hubungan kita? Apakah kita akan lanjut pacaran atau berakhir sampai disini saja?"


Aisyah menatap Rangga yang duduk di sebelah. Keduanya sedang berada di atas sampan menikmati indahnya sunset dari tengah danau. Air danau yang semula berwarna biru berubah jadi kuning keemasan efek sinar matahari sore, dengan guratan Aurora awan sebagai payung kebersamaan anak manusia menghabiskan waktu senja bersama.


Rangga menatap Aisyah yang juga menatapnya, membuat tatapan merek bertemu, kedua saling mengunci tatapan satu sama lain. Dari sekian banyak waktu bersama Aisyah saat ini lah waktu yang paling Rangga hindari. Saat gadis itu bertanya tentang hubungan mereka kedepannya.


Rangga menghela nafas, memutus kontak mata dengan Aisyah, membuang pandangannya kembali kedepan, menatap matahari yang berbentuk bulat orange.


"Rangga?" Kejar Aisyah, merasa tidak puas karena Rangga tidak kunjung memberinya jawaban. Aisyah tidak ingin di gantung, dia mau kejelasan, "tolong beri aku jawaban? Aku tidak ingin berandai-andai ataupun berjalan dalam ketidak pastian," ucap Aisyah saat Rangga kembali menatap wajahnya.


Kembali Rangga menghela nafas, "aku tahu mungkin ini terkesan tidak adil bagi mu, tapi aku harus tetep mengatakannya," Rangga menjeda, menatap Aisyah dengan seksama, mencoba untuk melihat reaksi gadis itu sebelum melanjutkan ucapannya.


"Lanjutkan, aku siap mendengarkan apapun keputusan kamu meski itu sangat menyakitikan untuk ku?"


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku belum bisa melupakan Rara. Mungkin kamu pikir aku pria paling bodoh sedunia yang masih terpenjara oleh mantan yang jelas-jelas gak bakal bisa ku miliki Tapi aku mikir mungkin itu memang yang terbaik buat aku juga kamu. Daripada aku harus menjadi pria brengsek dengan menerima mu menjadi istri ku dan berpura-pura mencintai mu padahal hati ku masih di penuhi oleh sosok Rara. Aku tidak mau menjadi pria seperti itu. Karen itu tolong lupakan saja aku."


Aisyah mengeleng, "aku gak apa-apa jika kamu belum bisa mencintai ku. Aku bisa menuggu dan membuat mu mencintai ku bersamaan berjalannya waktu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membuka hati mu untuk ku saja, dan biarkan aku masuk dalam kehidupan juga hati mu."


"Tapi aku gak bisa Ais. Aku gak tahu kapan aku akan berhenti mencintai Rara. Aku gak tahu kapan hati ku bisa berpaling dari dia. Karena itu kau tidak mau menjalin hubungan dengan mu karena aku tidak mau menyakitimu."


Mungkin terkesan bodoh saat Rangga lebih memilih Rara yang jelas-jelas istri orang ketimbang Aisyah. Mungkin memang dia pria tolol karena sudah menyia-nyiakan prempuan sebaik Aisyah dan membiarkan gadis itu pergi. Tapi mau bagaimana lagi, Rangga tidak bisa mengabaikan sosok Rara begitu saja, terlebih lagi ketika dia kalau Rara sering menangis karena Adam.


Mungkin jika Rara bahagia dalam pernikahannya Rangga tidak harus menderita begini, ataupun mungkin jika Rara jadi istri orang lain Rangga juga tidak akan secemas sekarang. Tapi nyatanya semua itu hanya khayalan dia belakang, sosok Rara dan penderitaan terpampang di depan mata membuat Rangga terpenjara oleh cinta pada Rara. Walaupun sosok Rara sendiri tidak pernah bercerita tentang kesedihannya pada Rangga, tapi dia selalu tentang kesedihan itu.


"Tapi aku gak apa-apa."


"Aku yang apa-apa."


"Rangga!"


Rangga mengegam jemari Aisyah, "carilah pria lain. Kamu gadis baik dan juga cantik. Aku yakin selain aku pasti ada pria yang mencintai kamu sepenuh hati."


"Tapi aku...."


"Sheet..." Rangga meletakkan telunjuknya pada bibir Aisyah meminta prempuan itu diam, "jangan menunggu ku. Namun jika dalam setahun ini aku masih sendiri dan tidak bisa bersama dengan Rara maka aku sendiri yang akan mencari mu dan mencintai mu. Aku yang akan datang untuk melamar mu untuk jadi istri ku. Meski begitu jangan menunggu ku datang. Jika dalam setahun ini kamu bertemu dengan pria yang lebih baik dari aku maka menikahlah, jangan pikirkan aku ok!"


Kata-kata Rangga membuat Aisyah terdiam seribu bahasa. Tidak tahu harus ngomong apa? tidak tahu harus berbuat apa? Tidak tahu harus tertawa atau menangis.


Rangga mengegam jemari Aisyah erat. Menyalurkan kekuatannya untuk gadis itu agar kuat menerima keputusannya.

__ADS_1


"Tapi aku mikir mungkin itu memang yang terbaik buat aku juga kamu. Daripada aku harus menjadi pria brengsek dengan menerima mu menjadi istri ku dan berpura-pura mencintai mu padahal hati ku masih di penuhi oleh sosok Rara. Aku tidak mau menjadi pria seperti itu. Karen itu tolong lupakan saja aku."


Aisyah mengeleng, "aku gak apa-apa jika kamu belum bisa mencintai ku. Aku bisa menuggu dan membuat mu mencintai ku bersamaan berjalannya waktu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membuka hati mu untuk ku saja, dan biarkan aku masuk dalam kehidupan juga hati mu."


"Tapi aku gak bisa Ais. Aku gak tahu kapan aku akan berhenti mencintai Rara. Aku gak tahu kapan hati ku bisa berpaling dari dia. Karena itu kau tidak mau menjalin hubungan dengan mu karena aku tidak mau menyakitimu."


Mungkin terkesan bodoh saat Rangga lebih memilih Rara yang jelas-jelas istri orang ketimbang Aisyah. Mungkin memang dia pria tolol karena sudah menyia-nyiakan prempuan sebaik Aisyah dan membiarkan gadis itu pergi. Tapi mau bagaimana lagi, Rangga tidak bisa mengabaikan sosok Rara begitu saja, terlebih lagi ketika dia kalau Rara sering menangis karena Adam.


Mungkin jika Rara bahagia dalam pernikahannya Rangga tidak harus menderita begini, ataupun mungkin jika Rara jadi istri orang lain Rangga juga tidak akan secemas sekarang. Tapi nyatanya semua itu hanya khayalan dia belakang, sosok Rara dan penderitaan terpampang di depan mata membuat Rangga terpenjara oleh cinta pada Rara. Walaupun sosok Rara sendiri tidak pernah bercerita tentang kesedihannya pada Rangga, tapi dia selalu tentang kesedihan itu.


"Tapi aku gak apa-apa."


"Aku yang apa-apa."


"Rangga!"


Rangga mengegam jemari Aisyah, "carilah pria lain. Kamu gadis baik dan juga cantik. Aku yakin selain aku pasti ada pria yang mencintai kamu sepenuh hati."


"Tapi aku...."


"Sheet..." Rangga meletakkan telunjuknya pada bibir Aisyah meminta prempuan itu diam, "jangan menunggu ku. Namun jika dalam setahun ini aku masih sendiri dan tidak bisa bersama dengan Rara maka aku sendiri yang akan mencari mu dan mencintai mu. Aku yang akan datang untuk melamar mu untuk jadi istri ku. Meski begitu jangan menunggu ku datang. Jika dalam setahun ini kamu bertemu dengan pria yang lebih baik dari aku maka menikahlah, jangan pikirkan aku ok!"


Kata-kata Rangga membuat Aisyah terdiam seribu bahasa. Tidak tahu harus ngomong apa? tidak tahu harus berbuat apa? Tidak tahu harus tertawa atau menangis.


Rangga mengegam jemari Aisyah erat. Menyalurkan kekuatannya untuk gadis itu agar kuat menerima keputusannya.


Aisyah menatap bahu jalan dengan perasaan hampa, pikirannya kembali melayang pada kejadian enam tahun yang lalu. Terpuruk tatkala kepergian Satria yang tiba-tiba. Kekasih yang begitu dia cintai.


Aisyah pikir tidak ada lagi lelaki seperti Satria di dunia ini dan dia pikir dirinya tidak akan pernah jatuh cinta pada pria maupun juga setelah kepergian kekasih hatinya itu.


Namun siapa sangka pertemuan tak terduga dengan Rangga menghidupkan kembali getaran di hatinya yang sudah lama mati. Perasaan cinta dan rindu yang di kubur dalam-dalam kini menguar bersama hadirnya sosok Rangga dalam hidup Aisyah.


Gadis yang sempat terpuruk akibat kepergian sang kekasih hatinya kini mulai semangat menjalani hari-harinya kembali semenjak bertemuannya dengan Rangga beberapa kali yang merupakan takdir baik bagi Aisyah.


Terlebih sosok Rangga dengan segala pemikirannya yang begitu mirip dengan Satria membuat Aisyah yakin jika Satria hidup dan datang kembali untuk menemuinya. Percaya jika nyatanya mereka di takdirkan bersama-sama.


Namun nyatanya semua itu hanyalah Aisyah belaka. Baik itu Satria ataupun bukan mereka memegang tidak ditakdirkan bersama, karena Rangga lebih memilih Rara ketimbang dirinya.


Jika Satria, meninggalkan Aisyah karena kecelakaan maut yang merenggut kekasihnya seminggu sebelum mereka menikah, kini Rangga harus melepaskan Aisyah demi memilih Rara yang belum tentu akan dimiliki oleh pria itu.

__ADS_1


Meski kecewa, tapi Aisyah tidak bisa marah pada Rangga, karena dia tahu Rangga berhak atas hidup pria itu sendiri. Mencintai dan di cintai, Asiyah tidak bisa memaksakan hal itu.


Rangga meraih jemari Aisyah yang ada dipangkuan gadis itu, mengenyam erat dengan satu tangannya yang terbebas, sedangkan pria itu menyetir dengan satu tangan.


"Maafkan aku," ucap pria itu tulus.


Aisyah menoleh menatap Rangga, mencoba tersenyum meski itu gagal, "aku maafkan. Karena aku juga sadar tidak bisa memaksa cinta dan perasaan."


"Apa kamu sedih?"


"Bohong jik aku bilang aku baik-baik saja saat cinta ku di tolak oleh seseorang. Meski begitu aku tidak harus menangis meraung-raung di jalan bukan?"


Kata-kata Aisyah membuat Rangga tertawa, "aku berharap kamu seperti itu, karena aku yakin pasti bakal lucu sekali kalau kamu sampai menangis dan teriak-teriak di jalanan."


"Sial."


Aisyah menarik tangannya lalu memukul lengan Rangga, membuat pria itu makin tergeletak, hingga Aisyah pun tersenyum.


****


"Jangan lupa hubungi aku saat nanti kamu sudah balik ke Yogyakarta ya?" Pinta Rangga saat Aisyah sudah turun dari mobil. Kini mereka berdua sudah berada dia depan rumah pak Dani.


"Tenang saja. Aku pasti akan selalu menghubungi mu. Jika perlu aku akan selalu meneror mu setiap saat supaya kamu tidak lupa pada ku."


Rangga mengusap kepala Aisyah, "kalau begitu siap-siap saja nomor mu aku blokir."


"Dasar pria jahat."


"Hahaha...." Rangga tertawa, "sampai jumpa lain waktu."


"Moga kita berjodoh."


"Amin."


Rangga langsung pergi dari rumah pak Dani begitu Aisyah sudah masuk ke dalam rumah, pria itu langsung memutar balik mobilnya untuk pulang ke rumah tidak mampir dulu ke apartemen Adam.


Nah seneng kan Aisyah dan Rangga tidak bersama.


Terimakasih buat penduduk setia Rara yang masih menunggu update setiap hari 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2