
Sore hari Adam mengajak Rara jalan-jalan sekaligus makan malam di luar. Berkat bantuan Elisa, Adam jadi tahu jika istrinya suka wisata kuliner karena itu Adam membawa Rara ke suatu tempat dimana terdapat berbagai gerai makanan. Mulai dari makanan khas Indonesia, Melayu, Jepang, Cina, India dan Eropa.
Melainkan semua adalah imigran yang menetap dan bertempat tinggal disana. Ada yang dari Indonesia, Melayu, India, cina, Jepang dan Eropa.
Rara yang tidak pernah melihat begitu banyak makanan dengan berbagai Negara sangat gembira. Senyum lebar tak pernah hilang dari bibir nya membuat Adam merasa jika usahanya untuk membahagiakan sang istri tidak sia-sia.
Rara yang sangat suka kulineran mengajak Adam mencoba manisan ala India yang biasanya hanya bisa di lihat dari tontonan film Bollywood, setelah itu mencoba makanan Jepang dan Cina. Tentu saja Adam memilihkan makanan yang terbukti halal untuk di konsumsi mereka yang muslim karena penduduk negara Singapura adalah campuran maka Adam juga harus pintar memilih makanan yang halal dan haram.
"Masih mau makan lagi?" Tanya Adam yang melihat mata Rara masih tertuju pada sebuah gerai.
"Hm, aku ingin mencoba masakan Minang itu. Sepertinya enak."
Rara menunjukkan sebuah warung yang menjual berbagai aneka sate dari gambar spanduk yang di pasangnya.
"Ok. Ayo kita kesana." Adam mengandeng tangan Rara dan mereka berjalan beriringan menuju tempat makan yang sang istri inginkan.
"Selamat datang!" Sapa pelayanan saat mereka masuk, "silahkan memilih menu yang di warung kami," lanjut prempuan itu sambil menyerahkan sebuah piring kosong kepada Rara.
Dengan semangat empat lima Rara menyambut piring itu dan mulai menjelajahi berbagai makanan tusukan.
Mata Rara dan Adam langsung cling saat melihat berbagai macam sate seafood dengan berbagai sambal.
"Coba ya ini mas," pinta Rara sambil menyodorkan sebuah sate udang bumbu Padang pada Adam.
"Enak?" Tanya Rara saat Adam selesai menelan makanan di mulutnya.
"Enak sayang. Beli yang banyak," ucap Adam, sedang Rara mengangguk setuju.
__ADS_1
Selesai makan berbagai sate, Adam membawa Rara berkeliling dengan berjalan kaki untuk membakar kalori yang full di tubuh mereka.
Layaknya orang pacaran mereka berjalan sambil bergandengan tangan seperti remaja pada umumnya, bercanda satu sama lain di sepanjang perjalanan sore itu, hingga sampai mereka pada sebuah jalan yang di penuhi dengan pengamen jalanan.
Adam mengajak Rara melihat pertunjukan bakat yang di tujukan oleh para pengamen itu, mulai dari silat, kungfu sampai penyanyi grup band jalan, terakhir Adam mengajak Rara melihat seorang gadis remaja yang memainkan biolanya seorang diri.
Sangat sepi. Penampilan gadis itu tidak ada yang menonton meski permainan biola yang di mainkan cukup bagus, karena lagu yang di bawakan mampu menghipnotis Rara. Dia yang tidak tahu apa-apa tentang musik bisa tahu jika lagu itu lagu sedih karena permainan biolanya sangat mengenai di hati Rara hingga membuat dia menitikkan air mata.
"Terimakasih," ucap prempuan itu sambil membungkuk sebagai sopan santun saat Adam menyerahkan dua ratus dolar kepadanya.
Rara yang tidak fasih bahasa Inggris meminta Adam menerjemahkan beberapa kata untuk gadis itu, dan Adam mengangguk setuju akan permintaan sang istri.
"Istri ku mau bertanya kepada mu. Apakah kamu mau menjawabnya?" Tanya Adam pada gadis bersurai hitam yang sedang menggenggam biolanya.
"Boleh, silahkan! Nyonya mau bertanya apa?" Ucap gadis itu dengan bahan Inggris yang fasih seraya menatap Rara. Meski Rara sendiri gak terlalu namun di lihat dari ekspresi sang gadis kira-kira begitu pertanyaan yang dilontarkan.
Sang gadis nampak terkejut dengan apa yang Rara utarakan namun sesaat kemudian dia mengangguk, "iya. Saya sedih karena ibu saya sakit dan harus di operasi, tapi saya tidak punya cukup uang untuk melakukan itu, makanya saya mengamen. Tapi ternyata ngamen pun tidak mendapatkan hasil karena kemampuan bermain biola saya kurang bagus jadi orang-orang tidak menyukainya."
Kini Rara tahu jika alasan pengamen itu sendiri karena tidak ada yang menontonnya.
"Permainan mu bukan tidak bagus, hanya kamu yang kurang percaya diri."
"Iya, mungkin karena ini pertama kali buat saya jadi saya masih grogi."
"Bagaimana jika ngamen kamu di kolaborasi dengan pengamen yang lain, mungkin akan lebih baik hasilnya," Rara pun memberikan saran pada gadis itu.
"Tapi saya tidak ada kenal dengan siapapun disini."
__ADS_1
Rara pun juga memberitahukan jika di sebelah sana ada pengamen yang juga mengamen menggunakan gitar dan Adam membenarkan perkataan istrinya.
Dan mereka berdua meminta sang gadis untuk kolaborasi bersama, Adam pun membantu sang gadis menyampaikan niatnya kepada pengamen lelaki yang menguntungkan gitar itu. Bersyukur niat baik mereka pun di setuju oleh pengamen tua itu. Entah kenapa sekarang Adam mulai memahami sedikit demi sedikit tentang sosok Rara, dan dia sangat takjub dengan jiwa sosial Rara yang begitu tinggi kepada orang lain. Adam merasa sangat bersyukur karena Rara adalah sosok wanita berhati hangat yang perduli dengan orang-orang di sekelilingnya dan berempati kepada orang lain. Membuat bunga-bunga cinta Adam semakin bermekaran di pria itu.
Sebagai ucapan terimakasih mereka berdua kepada Adam dan Rara maka keduanya menampilkan penampilan kolaborasi kedua.
Dan penampilan mereka berdua sangat bagus sehingga banyak penonton yang mengelilingi kedua.
"Terimakasih, berkata bantu kalian kita bisa memperoleh banyak hasil," ucap kedua pengen itu pada Adam dan Rara.
"Sama-sama," jawab keduanya bersamaan.
Setelah semua berlalu, mereka baru sadar jika hari sudah malam. Adam mengajak Rara untuk sholat Maghrib di masjid yang ada di dekat situ sebelum kembali untuk jalan-jalan lagi.
"Aku suka banget hari ini mas," ucap Rara dengan perasaan bahagia saat mereka berjalan menuju masjid, "kamu udah ajak aku jalan-jalan, traktir makan sampai menolong orang."
Adam tersenyum, memeluk Rara dan membelai lembut kepala Rara yang tertutup hijab warna pink.
"Mas juga suka kalau bisa bikin kamu bahagia. Maafkan mas yang terlambat nyenengin kamu ya Ra."
"Gak apa-apa, meskipun terlambat yang penting ujung-ujungnya aku senang." Rara tertawa cekikikan di akhir kalimatnya.
Kamu emang lucu deh Ra, gemesin banget kalau lagi bertingkah kayak gini, membuat aku semakin cinta sama kamu. Aku menyesal kenapa perasaan itu datang terlambat dan baru kali ini aku tahu jika kamu itu imut dan lucu begini, batin Adam.
"Mas! kita sudah sampai, lepaskan!" Pinta Rara saat mereka sudah di depan pintu masjid tapi tangan Adam masih menggegam erat tangan Rara.
"Oh iya," ucap Adam kemudian melepaskan tangannya.
__ADS_1
Mereka berdua berpisah di depan masjid, "nanti mas tunggu disini ya!" Ucap Adam sebelum Rara menghilang di tempat wudhu wanita.