Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 39. Ketua Baru


__ADS_3

Rangga menyerah surat pengunduran dirinya pada sang atasan. Dia ingin berhenti dari pekerjaannya yang tidak pernah ada habisnya ini, bahkan beberapa bulan terakhir dia juga tidak bisa pulang ke rumah saking banyaknya pekerjaan untuk nya.


Sekarang Eka sering sakit, maka Rangga ingin kerja yang dekat rumah saja biar bisa senantiasa menemani sang mama.


"Maaf Rangga saya tidak menerima surat pengunduran dirimu. Jika kamu minta izin untuk liburan maka saya berikan tapi jika kamu ingin mengundurkan diri saya tolak," ucap lelaki berusia lima puluh yang menjabat sebagai ketua pendidikan pusat.


"Pak saya ingin bekerja di dekat rumah saja. Karena ibu saya sering sakit-sakitan sekarang," Rangga beralasan.


"Saya tahu. Tapi saya tetep menoleh surat pengunduran dirimu. Mending kamu istirahat saja seminggu setelah itu nanti pergi ke Lombok. Pantau pendidikan anak-anak di pedalaman NTT sana bagaimana. Sekalian kamu adakan seminar pada guru-guru di sana tentang metode pembelajaran yang sudah di dapatkan di Singapura kemarin."


"Pak saya mau berhenti bukan bekerja."


"Ya, kamu berhenti selama seminggu habis itu bekerja lagi. Tiket pesawat sudah di pesan, ok!" Kata pak Rahman sambil mengambil amplop putih yang berisi surat pengunduran diri Rangga dan menaruhnya di laci meja.


Melihat wajah Rangga yang tampak begitu kesal pak Rahman kembali berkata, "setelah tugas di Lombok selesai nanti saya bantu kamu pindah kerja di dekat rumah kamu. Jangan ngambek, kayak suami gak dapat jatah dari istri saja."


Rangga tidak menanggapi guyonan itu, lekas dia keluar dari kantor sang ketua.


Meski dalam hati dia dongkol setengah mati.


Sudah terbayang oleh otak nya untuk tidak pulang ke rumah dalam beberapa bulan ke depan karena dia harus pergi ke Lombok.


****


Liburan satu Minggu tidak di sia-sia Rangga, adik ipar Rara benar-benar memanjakan Ali. Bahkan hampir setiap hari Rangga datang ke rumah untuk main bersama sang ponakan.


"Emang Abang gak kerja, kok ada disini lagi?" Tanya Rara Ketika pulang kerja sudah ada Rangga di rumah nya.


Sedang bermain di rumah tengah bersama Ali.


"Di kasih liburan sama atasan."


"Libur terus perasaan."


"Itukan perasaan mu saja. Perasaan Abang mah gak pernah liburan."


"Siapa bilang, kemarin juga baru pulang ke rumah. Sekarang udah libur lagi."


"Kalau kerjanya gak sibuk ya bisa pulang ke rumah pas week end Ra. Tapi besok Minggu depan gak bisa pulang karena Abang harus pergi lagi."


"Pergi kemana lagi? Perasaan Abang pergi melulu deh."


"Makanya yuk kamu jadu sekretaris Abang saja, biar bisa pergi-pergi terus kita. Sekalian liburan gratis."


"Terus Ali. Gimana nanti dia? Siapa yang jagain kalau aku jadi sekretaris abang?"


"Kan ada mbok sama mama."


"Itu mah melemparkan tangung jawab bang."


"Ya udah kalau gitu Rara ikut perginya jarang-jarang saja. Yang penting daftar dulu jadi sekretaris abang. Mau yang di mana? Di dinas pendidikan pusat atau dinas pendidikan provinsi?" Tanya Rangga memberi peluang.


"Emang ada lowongan nya?"


"Lowongan mah bisa di cari penting kamu mau saja."

__ADS_1


Gak beres nih orang, pikir Rara.


"Makasih deh bang. Rara kerja di sini saja. Yang dekat sama rumah, anak sama keluarga. Kalau ikut Abang nanti jarang pulang. Ujung-ujungnya jadi Bu Toyib lagi," goda Rara.


Kedua orang dewasa itu pun tertawa bersama.


"Memang Abang mau pergi kemana?" Tanya Rara.


"Lombok. Melakukan pengamatan dan penyuluhan terhadap anak-anak disana," Rangga memberi tahu.


"Oh...berapa lama?"


"Nah itu belum tahu. Bisa jadi sebulan atau dua bulan. Tergantung banyaknya kabupaten dan sekolah di sana. Kenapa kamu takut kangen ya Sama aku?" Goda Rangga.


"Gak dong. PeDe bener jadi orang."


"Jujur lebih baik Ra. Kangen juga gak apa-apa. Karena aku pantas buat di kangenin."


Rangga menaik-naikan aliasnya mengoda.


"Ya, ya, ya...Abang Rangga yang paling ganteng dan paling menggoda," jawab Rara mengalah dan menerima permintaan Rangga.


Setelah pulang dari rumah Rara, Rangga menyiapkan perlengkapan nya ke dalam koper karena besok siang dia sudah harus terbang ke Lombok.


****


Rara baru saja kembali ke kantor ketika pak Burhan sang kepsek memanggil.


"Bu Rara, bapak minta tolong laporan bulan di meja bapak nanti kasih sama Awal ya! Sudah bapak tanda tangani semua," ujar pria berusia lima puluh tahunan itu.


Setelah menaruh buku-buku ke atas meja, ibunda Ali pergi ke ruang kepala sekolah, mengambil berkas laporan bulanan yang ada di atas meja lalu membawa nya ke ruang TU dimana Awal berada.


"Nih Wal, laporan bulanannya sudah di tanda tangani bapak semua," ujar Rara sambil menyerahkan semua kertas HVS yang dia pegang di depan Awal.


"Bantuin masukin amplop kak. Nanti pas istirahat biar aku minta tolong sama anak-anak untuk nganterkan."


Rara mengangguk setuju, dia pun melipat beberapa kertas laporan bulanan dan memasukkan ke dalam amplop yang sudah memiliki alamat penerima masing-masing instansi yang bersangkutan dengan sekolah mereka.


"Wak, kalau ngaterin laporan bulanan ke UPTD jangan nyuruh anak-anak. Kemarin sekolah sebelah kenapa marah karena yang nganterin laporan bulanan ke sana nyuruh anak-anak.


Kata ketua UPTD kita yang baru kalau jam sekolah jangan nyuruh siswa keluar dari wilayah sekolah, apalagi sampai berkendaraan jalan raya begitu. Bisa bahaya. Toh mengantarkan berkas begini kan bukan tugas siswa, buka tangung jawab para murid, gitu."


Bu Ririn yang bertugas sebagai TU di sekolah Rara selain Awal memberi tahu rekan kerjanya.


"Kalau gak nyuruh anak-anak, mau siapa yang ngaterin Bu. Masak aku sendiri. Laporan nya juga banyak," protes Awal, karena Bu Ririn memang tidak bisa naik motor sehingga ga bisa kalau harus kerjanya bagian antar mengantarkan.


"Ya udah si Wal, gak usah emosi gitu. Nanti biar kakak yang ngaterin tuh laporan ke UPTD. Sekalian biar kakak bisa kenalan sama ketua UPTD kita yang baru. Yang katanya nyinyir, ribet dan banyak banget aturannya."


"Nanti kalau orang nya ngeselin langsun santet online aja ya kak," Awal menambahkan.


"Betul banget," Rara mengacungkan jempolnya sebagai jawaban setuju.


"Kalau orang nya ganteng gimana kak?" Tanya Lely yang ikutan gabung ngobrol di ruang TU.


"Mau gimana lagi, langsung pelet online aja," jawab Rara diplomatis.

__ADS_1


Membuat semua orang tertawa bahagia sambil mengucap kata mantap bersama-sama.


Karena dari gosip yang beredar dari mulut ke mulut, ketua UPTD mereka yang baru menjabat tiga bulan lalu itu orangnya masih muda dan cakep.


Tapi ya gitu, tak ada gading yang tidak retak, karena selain cakep dia juga workholik dan mencintai kesempurnaan. Jadi semua-semua harus perfeck.


Memang sih itu bagus, tapi bagi sekolah-sekolah yang selama ini sistem kerjanya selalu santai dan tiba-tiba harus di tuntut menjadi sempurna pasti banyak yang protes. Nah seperti itu lah sekarang yang terjadi di kecamatan Rara sekarang.


Meski begitu, ketua UPTD yang sekarang adalah seseorang yang langsung di tunjuk oleh ketua dianas pendidikan provinsi. Sehingga mereka para pegawai-pegawai rendah hanya berani ngomel di belakang, tidak ada yang langsung protes di depannya.


Setelah selesai dengan semua kegiatan memasukkan laporan bulanan ke dalam amplop masing-masing instansi.


Rara di temani Lely pergi ke kantor UPTD setempat, yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah Rara.


Naik motor hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.


"Assalamu'alaikum!"


Keduanya mengucap salam saat sudah berada di sebuah kantor berwarna cream.


"Walaikumsalam," jawab seorang perempuan yang bertugas sebagai resepsionis kantor UPTD.


"Oh Bu Rara," sapa perempuan itu yang ternyata tetangga rumah Rara. Meski rumahnya tidak terlalu dekat, tapi masih satu RT.


"Iya Bu Anis. Ini mau nganterin laporan bulan dari sekolah."


"Oh, ya udah Bu Rara, langsung aja kasih sama bapak. Orangnya ada di dalam kok," ujar Bu Anis sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di sebelahnya, yang bertuliskan R Ketua.


Rara mengetuk pintu berwarna coklat di depannya.


"Masuk!" Perintah suara dari dalam yang terdengar begitu familiar di telinganya.


Meski begitu dia tidak berani menyimpulkan, takut salah taksir.


Rara membuka pintu itu pelan, dan masuk secara berlahan.


Tampak di depannya punggung seorang pria yang sedang sibuk dengan print yang menyala.


"Pak mau ngantarkan laporan bulanan SMA Nusantara," ujar Rara tanpa ragu.


Seketika pria itu memutar kursi kerjanya menghadap ke arah dimana Rara berada.


"Bang Rangga!"


Rara kaget saat melihat pria itu adalah adik iparnya.


"Ngapain Abang di sini?"


Pertanyaan bodoh itu lolos begitu saja dari mulutnya yang membuat Rara seketika menutup mulutnya karena malu.


Rangga menaikkan sebelah aslinya, "menurut kamu ngapain?"


Rara hanya dapat tersenyum bodoh.


Sial, ternyata ketua baru yang dia gosip kan adalah adik ipar sendiri.

__ADS_1


*****


__ADS_2