
Maaf ya reader, jawabnya salah semua, karena yang menyapa Rara adalah Marcell.
*****
"Bapak! Mengagetkan saja, bagaimana jika jantung saya copot dan saya pingsan di sini?!" Omel Rara pada tersangka yang tidak lain adalah Marcell.
Pria itu tersenyum khas orang bersalah yang sok tidak punya dosa.
"Maaf deh," ujarnya penuh penyesalan.
"Jangan di ulangi lagi pak. Saya beneran bisa pingsan nanti."
"Memang kamu punya riwayat jantung Bu."
"Tidak."
"Tapi kok b..."
"Kalau bapak melakukan itu lagi kan jantung saya beneran bisa copot," potong Rara cepat pada ucapan Marcell.
"Iya, maaf, maaf ya," ujar Marcell sok manis.
Membuat Rara mengangguk setuju.
Kemudian pria itu tengak-tengok ke kiri dan ke kanan, seolah mencari seseorang di sekeliling Rara.
"Adam mana Bu? Kok gak ada?" Tanya Marcell.
"Gak ikut pak. Dia ada di hotel istirahat," Rara memberi tahu.
"Istirahat?"
Marcell mengernyitkan dahinya, heran dengan Jawaban Rara.
"Iya, dia istirahat. Katanya capek dan pengen tidur."
Sejak kapan Adam tidur sepagi ini? Biasanya dia paling kuat begadang? Atau jangan-jangan...., Marcell tidak mau melanjutkan pikirannya yang tidak benar tentang Adam.
Malah bagus bukan kalau Adam tidak ada jadi dia bisa berduaan dengan Rara, buat PDKT gitu, pikir pria yang berusaha jadi pembinor di rumah tangga sahabatanya.
"Jadi kamu sendirian Bu Rara?" Tanya Marcell dengan sopan.
Karena Rara adalah perempuan baik-baik yang lemah lembut, jadi jika dia tidak sopan di depan istri Adam tentu Rara akan merasa ilfil dengan keberadaan Marcell dan jelas itu sangat merugikan pacar Monica itu.
"Iya, tadi mau ngajak temen-temen tapi kayaknya saya ketinggalan kreta," jelas Rara.
Marcell terseyum.
"Sedangkan bapak bagaimana?" Rara balik bertanya, karena tampaknya Marcell juga tidak ada teman.
"Saya juga sendiri."
"Mbak Monica kemana? Apa tidak ikut?"
__ADS_1
"Tidak, dia sudah pulang ke rumah orang tuanya. Tadi sore saya antarkan," Marcell memberi tahu.
"Oh...." Rara membulatkan mulutnya sebagai jawaban.
Monica memang asli orang Yogyakarta, dan Rara tahu itu, karena tadi siang wanita yang usianya lebih tua dua tahu dari Rara memang bercerita jika orang tuanya ada di kota gudeg ini, sedangkan dia merantau ke Jakarta untuk bekerja.
Berhubung sekarang liburan akhir tahun, jadi Monic pulang ke Yogjakarta untuk berkunjung ke rumah orang tua sekaligus menengokin anaknya.
Monic adalah janda dengan anak satu, anaknya perempuan, dan sekarang sudah kelas dua SD.
Dan dia baru bercerai dengan suaminya dua tahun lalu, namun alasan mereka bercerai karena apa Rara tidak tahu, karena dia tidak bertanya.
Rara berfikir kurang sopan jika dia harus bertanya masalah rumah tangga orang saat mereka saja baru saling kenal. Sedangkan mengenai cerita itu tadi Monic yang bercerita sendiri tentang setatusnya, buka karena Rara yang minta.
"Karena kita sama-sama sendiri, mari saling menemani saja, anggap saja malam ini kita sedang berkencan."
Rara terkekeh mendengarnya.
"Terimakasih atas kebaikan bapak."
"Sama-sama."
"Jika begitu biar bapak saya traktir batagor. Karena sudah berbaik hati mau menemani saya."
"Boleh jika Bu Rara tidak keberatan."
Kemudian Rara bangkit dari duduknya untuk memesankan sepiring batagor dan segelas es cendol Ireng untuk Marcell.
Dari cerita Marcell itu Rara bisa tahu jika sahabat suaminya saat kuliah dulu adalah orang kaya raya. Dia adalah putra tunggal dari pemilik sebuah bank swasta yang kini sedang naik daun.
"Di daerah mu, sudah ada bank punya ku belum Bu Rara? Soalnya beneran waktu lalu pemerintah setempat meminta kami mendirikan cabang di pusat kota sana, dan kebetulan pabrik kelapa sawit di daerah sana juga kerjasama dengan kami untuk mengurangi masalah replanting dan penumbangan."
"Sepertinya belum ada sih pak, soalnya Rara belum pernah lihat."
"Kalau gitu besok biar saya buka cabang disana ya Bu. Tapi ibu harus janji bakal ajak teman-temannya buat Nabung atau minjam di tempat saya."
"Insyaallah pak. Semoga saja saya bisa bantu."
"Amiin, semoga saja."
"Nanti kalau ibu bisa ngajak teman bilang sama saya Bu, biar ibu bisa saya kasih bonus," lanjut Marcell.
"Terimakasih sebelumnya pak. Kalau kira-kira bonusnya besar nanti biar saya usahakan," lanjut Rara bercanda.
Keduanya pun tertawa.
Setelah bercerita tentang pekerjaan mereka pun lanjut bercerita tentang keluarga. Marcell yang bertanya duluan Rara memiliki berapa saudara.
"Saya anak ke tiga dari tiga bersaudara pak. Yang pertama perempuan, laki-laki terus saya perempuan lagi. Kalau bapak?"
"Wah saya kebalikan dari Bu Rara, saya laki-laki satu-satunya dan kedua adik saya semua perempuan."
Rara mengaguk mengerti, "jadi menjadi tanggung jawab saya melindungi adik-adik saya itu."
__ADS_1
Rara mengaguk setuju, "karena bapak putra mahkota. Tapi kalau semua sudah menikah kan bisa lebih ringan tangung jawabnya."
"Iya, tapi yang menikah baru satu, yang satu masih kuliah."
Rara manggut-manggut lagi.
Begitu selesai makan batagor, mereka berdua berkeliling alun-alun mencari makanan yang enak juga unik untuk memanjakan lidah mereka.
"Kamu sudah pernah mencoba sate klatak belum Bu?" Tanya Marcell saat mereka melewati penjualan sate kambing.
"Alhamdulillah belum pernah. Apa bapak mau ganti traktir saya?" Tanya Rara.
"Boleh. Kebetulan tadi saya belum makan malam, dan makan batagor rasanya cuma mengisi sebagai perut saya saja."
Rara tertawa, "Baiklah jika begitu biar saya temani bapak makan malam."
Kemudian keduanya masuk dalam warung sate kambing yang di bakar mengunakan klatak.
Marcell memesan seporsi sate dengan nasi dan es jeruk. Sedangkan Rara memesan satu porsi sate tanpa nasi dan es jeruk.
Puas makan sate, mereka lanjut melihat-lihat lagi stands makanan yang ada.
"Suka kulineran ya?" Tanya Marcell.
Rara mengaguk meng iyakan, "kenapa?" Tanya perempuan itu.
"Tidak ada, biasanya perempuan kan paling males kalau di suruh makan malam-malam gini, alasannya takut gemuk. Tapi kamu kayaknya tidak seperti itu."
Rara tertawa renyah.
"Jujur saya suka perempuan yang suka makan Ketimbang yang pilih-pilih makanan dengan alasan diet. Karena kalau punya teman seperti itu saya suka pusing sendiri lantaran jadi bingung mau makan apa. Ujung-ujungnya saya makan sendirian," curhat Marcell.
"Tapi sepertinya kamu bukan perempuan seperti itu."
"Setiap perempuan sama saja pak. Saya juga seperti itu biasanya. Tapi sekarang sedang luar biasa. Mumpung saya di Yogyakarta makanya saya puasa-puasa kan buat kulineran, nanti kalau sudah sampai rumah gampang bisa puasa atau fitness biar berat badan turun lagi," Rara menjelaskan.
"Meski begitu saya senang lihat kamu. Yang tidak pilih-pilih makanan begitu. Kamu benar-benar terbanding terbalik dengan suami mu. Jika Adam mana mau dia makan di pinggir jalan begini, apa lagi kalau sampai tempat cuci piringnya terlihat dari tempat dia makan, sudah lah dia tidak bakal menghabisi itu makanan. Alasan gak tertelan begitu."
Rara setuju dengan apa yang di ucapkan Marcell. Suaminya itu memang rada aneh orangnya.
Adam itu orangnya memang super bersih. Dia tidak suka lihat rumah berdebu apalagi berantakan.
Pernah suatu ketika saat mbok sedang libur dan tiba-tiba Adam pulang ke rumah tanpa memberi kabar terlebih dahulu, sialnya Adam lebih dahulu sampai ke rumah ketimbang Rara yang pulang kerja.
Rara yang pagi tadi kesiangan pergi kerja tanpa membersihkan rumah terlebih dahulu. Dan disana lah Adam marah habis-habisan pada Rara saat melihat rumah mereka seperti kapal pecah.
Adam mencaci maki Rara sambil menyapu dan mengepel membersihkan seluruh rumah. Membuat Rara tertunda malu, merasa menjadi istri yang buruk di hadapan suami.
Dan semenjak saat itu Rara selalu bangun pagi dan membersihkan rumah sebelum pergi kerja, meskipun Adam tidak ada di rumah, karena dia takut suaminya akan pulang tiba-tiba dan rumah mereka masih dalam keadaan kotor.
Adam memang berbeda dengan Rangga meskipun keduanya kakak beradik, tapi Adam mencintai kesempurnaan dan segala sesuatu harus sempurna di mata dia.
*****
__ADS_1