Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 44. Kemarahan Eka


__ADS_3

Seorang perempuan telah berdiri di depan cermin wastafel.


"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Hardik Eka dengan suara keras, Sehingga membuat dua lelaki di belakangnya berjalan menuju kamar mandi, ingin tahu apa yang terjadi.


Wajah Adam sudah pucat pasi. Pikiran buruk mulai menghantui merasa dunianya seketika hancur.


Sedangkan di kamar mandi. Monica yang sedang merapihkan rambutnya di depan wastafel terjingkat kaget, seketika wanita itu menatap ke arah dimana suara itu berada, dia terkejut saat mendapati seorang perempuan berdiri di depan pintu, meski usianya tak lagi muda tapi kecantikan wanita itu masih terlihat jelas di matanya.


Tidak menunggu kesempatan, Eka langsung menarik tangan Monica dan membawanya ke ruang keluarga. Lalu menghempaskan tangan Monica dengan kasar.


"Duduk!" Bentak Eka pada pacar Marcell.


Yang membuat Monica, mengikuti permintaan Eka. Duduk dengan tenang di sofa.


Monica dan Adam sama-sama pucat. Merasa dunia mereka berakhir sudah.


"Jelaskan pada ku, ada apa ini? Kenapa ada wanita di kamar mu? Kamu berselingkuh? Selingkuh dari Rara?" Tanya Eka dengan suara tinggi, sambil menunjuk Adam.


Dia syock juga emosi melihat semua itu.


"Buk...." Belum sempat Adam menjawab Eka sudah kembali buka suara.


"Atau jangan-jangan ini alasan kamu tidak pernah pulang ke rumah berbulan-bulan dan tidak perduli dengan anak istri. Karena kamu menyimpan p*lacur di apartemen mu ini iya?"


"Kamu benar-benar kelewatan Dam, kelewatan. Apa kurang nya Rara sampai kamu bertindak seperti ini? Dasar laki-laki tidak tahu diri!" Maki Eka pada putranya.


"PLAK!"


Sebuah tamparan Eka layangan pada Adam sekuat tenaga sampai tangan Eka terasa panas sebagai ekspresi dia benar-benar kecewa pada Adam.


Adam hanya terdiam, mengusap pipinya yang panas. Mencoba menjelaskan juga tidak bisa. Eka tak memberi kesempatan.


Puas memakai Adam, tatapan membunuh Eka beralih pada Monica.


"Dan kamu j*Lang," tunjuk Eka pada Monik.


"Apa kamu gak punya mata, gak punya hati, gak punya perasaan dan gak punya otak? Kamu tahu kan kalau anak ku itu punya anak dan istrinya? Kenapa kamu masih mau sama dia? Kenapa kamu masih mengoda nya dan berselingkuh sama dia?


Kamu sebenarnya wanita beneran atau jadi-jadian? Kenapa sesama wanita kamu tidak punya perasaan hah?"


"Saya tidak...." Monica mencoba untuk menjelaskan hubungan nya pada Adam tapi Eka memotong ucapan itu.


"Apa? Tidak mau ngaku kalau kalian selingkuh? Dasar l*nte. Laki-laki single di luaran sana banyak kenapa milih suami orang untuk kamu jadikan pacar hah!"


"Coba kalau yang di goda itu suami kamu? Apa kamu terima? Kalau dia bapak kamu? Apa kamu diam saja? Mikir dong!" Bentak Eka sambil mendorong kening Monica ke belakang.


Syaputra yang mengerti sikap istrinya mencoba menenangkan sebelum mama Rangga melalui penganiayaan.


"Tenang mah, jangan emosi, tenang," papa dua anak itu menenangkan istrinya, memeluknya dari belakang dan untuk menuntun Eka agar duduk.

__ADS_1


Karena Eka yang kelewat emosi tidak baik untuk Jantungnya nanti. Apa lagi saat di lihatnya dada Eka sudah mulai turun naik gak karuan, saking marahnya.


"Kamu pulang saja sebelum istri ku khilafah!" Perintah Syaputra pada Monica dengan nada dingin.


Monica menatap Adam dan Adam mengedipkan matanya sebagai tanda iya.


Untuk ketenangan dan kedamaian bersama Monica pun nurut. Dia beranjak dari duduknya untuk berjalan keluar.


Namun baru dua langkah dia mendengar kan suara Eka.


"TUNGGU!" Pinta Eka yang membuat langkah Monica terhenti.


Eka berjalan menghampiri Monica lalu,


"PLAK!"


"PLAK!"


Dua buah tamparan kuat di kayangan ke kanan kiri pipi Monica hingga pipi putih itu memerah seketika, cap lima jari Eka menempel di sana.


Membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Monica sendiri.


"Itu balasan dari sakit hati mantu ku, Rara!" Tajam Eka.


Monica berjalan keluar sambil menangis akibat hadiah dari Eka yang membuat pipinya panas dan perih.


Melihat perlakuan sang mama yang kelewat batas Adam yang masih berdiri pun bersuara


Hardik suami Rara atas perlakuan Eka. Karena tidak terima dengan perlakuan sang mama.


Tatapan membunuh Eka dia layangkan kembali pada Adam yang juga menatapnya tajam.


"Kenapa kamu gak terima dengan perlakuan mama? Iya?" Eka berjalan mendekati putra nya lalu memukul-mukul dada bidang itu untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaan nya.


"Mama kecewa sama kamu Dam, mama kecewa, kenapa bisa kamu berselingkuh dari Rara seperti ini?" Sambil memukul-mukul dada Adam.


"Ma, aku tuh tidak selingkuh. Monica itu teman ku bukan pacar ku? Dia teman aku yang baru datang dari Jakarta."


Adam mencoba menjelaskan.


"Mama tidak percaya. Gak ada teman yang kamu simpan di kamar mu Dam, gak ada!"


Adam yang sudah habis kesabaran pun menahan kedua lengan mamanya yang mencoba memukulnya lagi.


"Hentikan ma, cukup!" Bentak Adam sambil menghempaskan kedua tangan sang mama.


Mebuat Eka kaget, tak percaya putranya bisa seksar itu.


Lekas Syaputra merengkuh tubuh istrinya, membawanya duduk di sofa.

__ADS_1


"Memang Kenapa kalau aku selingkuh? Kalaupun aku selingkuh juga itu karena papa dan mama yang bikin aku tidak bahagia dalam hidup ini. Maksa aku buat nikah sama Rara? Yang menjodohkan aku sama perempuan itu, padahal kalian berdua tahu aku sudah punya pacar dan mencintai Maelin. Tapi kenapa kalian maksa aku nikah sama Rara yang membuat aku terjebak dalam pernikahan sialan ini."


Adam mengungkapkan perasaan yang selama ini dia bendungan terhadap orang tuanya.


"Ingat Dam, kamu itu punya Ali, punya anak!"


Eka yang menangis mencoba mengingatkan anaknya.


"Ya, aku ingat," jawab Adam masih dengan emosi, "gara-gara anak sialan itu aku tidak bisa menceraikan ibunya!"


Syaputra yang mendengar perkataan putranya langsung bangun dan,


"PLAK!"


Menampar wajah anaknya hingga bibir Adam tergigit dan mengeluarkan darah.


"Sehina-hinanya orang tidak pernah mengatakan anaknya sialan. Papa kecewa sama kamu," Suara Syaputra dingin dan menusuk.


"Jika kamu tidak mencintai Rara, ceraikan dia baik-baik jangan kamu sakiti dan hina dia seperti itu. Kini aku juga menyesalkan, kenapa aku nikahkan menantu ku yang baik itu pada putra ku yang sombong dan arogan seperti kamu!" Tunjuk Syaputra pada wajah Adam.


Kemudian papa dua anak itu menghampiri istrinya yang sangat memegangi dadanya sambil meringis menahan sakit. Cepat Putra mengambil dua butir obat dari tas istrinya minum dengan sisa di atas gelas. Sisa air minum dia tadi.


Adam yang melihat mamanya kesakitan mendekat dan berjongkok di sebelah Eka, berubah untuk membantu tapi begitu tangannya menyentuh Eka, sang mama langsung menepisnya.


"Jangan sentuh mama!" marah Eka pada Adam.


Melihat istrinya tidak mau di dekati Adam, Putra membawanya pergi dari ruangan keluarga itu menunjuk ke kamar tamu. Mengistirahatkan Eka di sana.


Sedangkan di ruang tengah. Adam terduduk lemas di sofa. Sedih, frustasi dan putus asa.


Dia hanya berusaha menyuarakannya isi hatinya, tapi tidak menyangka malah menyakiti banyak orang.


Setelah merasa tenang, Adam kembali ke kamar. Mengambil baju ganti untuk mama papanya lalu meletakkan baju itu di meja tamu, dimana kamar tamu itu berada. Sedangkan dia kembali ke kamar untuk menenangkan diri.


Syaputra menenangkan Eka yang menangis hingga istrinya itu kelelahan dan tidur.


Setelah merebahkan tubuhnya istrinya yang semua dia peluk ke atas kasur dan menyelimuti dengan nyaman, Syaputra keluar kamar untuk mencari Adam. Tapi sejenak dia mengurungkan niatnya itu saat matanya melihat tumpukan baju di atas meja.


Syaputra membawanya ke kamar kemudian mandi dan membersihkan diri.


Tubuhnya yang tinggi besar sama dengan Adam membuat dia tidak kesulitan saat memakai baju putranya karena ukuran mereka memang sama. Hanya saja Syaputra lebih pendek beberapa sentimeter ketimbang Adam dan Rangga.


Setelah dirasa tubuhnya rileks dan otaknya fresh, Syaputra kembali pada niat awalnya untuk mencari Adam.


Semua lampu sudah di matikan. Tapi lampu balkon belakang masih hidup sehingga papa Adam berjalan dimana dapur berada, niat hati mau menutup pintu dapur yang terbuka, tapi nyatanya dia melihat Adam duduk melamun sendiri di balkon.


Syaputra pun berjalan mendekati dimana Adam duduk. Ayah dua anak itu tampak terkejut saat melihat sebuah rokok terselip di jari putranya. Meski begitu Syaputra tidak menegur.


Hanya bertanya dalam hati, sejak kapan Adam merokok. Karena setahu dia anak-anak tidak ada yang merokok, begitu pun dirinya.

__ADS_1


******


Jangan lupa kasih bunga buat Rara ya!


__ADS_2