
Mengandung adegan 18+
Yang merasa di bawah umur jangan baca atau skip saja.
*
*
*
"Kenapa datang tiba-tiba? Gak ngasih kabar dulu? Kalau aku gak ada di apart gimana?"
Rara menoleh, menatap wajah suaminya, meski dia harus mendogak saat melakukan itu.
"Aku kan mau ngasih surprise. Kalau kasih kabar dulu nanti kamu gak terkejut dong!"
"Kalau aku gak ada paling kamu yang kecewa."
"Makanya biar aku gak kecewa saat datang ke sini, mas harus selalu kasih kabar sama aku setiap saat, setiap waktu. Mas juga harus bilang kalau mau pergi ke luar kota atau ke luar negri atau dinas luar biar aku gak datang pas mas gak ada di apart."
"Maunya!" Adam mencubit hidung sang istri, membuat Rara memanyunkan bibir sambil mengusap-usap hidungnya.
"Kenapa gak kamu aja yang kasih kabar kalau kamu mau datang kesini?"
"Gak lah, nanti aku gak bisa grebeg mas yang lagi selingkuh kalau kasih kabar dulu," jujur Rara sambil terbahak di akhir kalimatnya.
Membuat Adam akhirnya tahu niat istrinya datang tiba-tiba karena apa? Adam juga merasa kecewa saat tahu ternyata Rara masih belum percaya dengan dirinya. Meski begitu Adam juga tidak bisa merah karena nyatanya dia juga begitu. Belum bisa percaya dengan Rara seratus persen bahwa prempuan itu hanya mencintai Adam seorang tidak ada pria lain dia hatinya.
Mungkin sekarang saatnya Adam menujuk pada Rara bahwa hanya dia satu-satunya perempuan yang dia miliki sekarang, yang selalu ada di sisihnya.
Adam mendudukkan Rara di sofa ruang keluarga. Meletakan tas ransel istrinya disana.
"Mau minum apa?" Tanya Adam pada sang istri, "atau mau mas buatkan teh madu. Tadi di kantor karyawan mas ada yang jual madu. Katanya madu asli dari TN jadi mas beli satu. Mau coba?"
"Boleh, sekali bawa cemilan, biar bisa minum teh sambil ngobrol."
"Hm, tunggu sebentar. Istirahat dulu di sini! Aku buatkan tehnya."
Adam masuk kedalam, kebagian dapur untuk membuat minuman untuk sang istri sambil menggoreng kentang potato yang selalu tersedia di kulkas.
Sedangkan Rara yang merasa bosan duduk sendiri memilih menyusul Adam ke dapur, mendudukkan tubuhnya di pantry memperhatikan suaminya yang sedang sibuk merebus air dan menggoreng kentang.
Rara memperhatikan punggung bidang Adam yang bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti sang empunya tubuh. Tubuh kekar berotot yang tertutup kaos ketat berwarna putih itu membuat gejolak dalam diri Rara tiba-tiba meninggi. Hingga secara impulsif Rara bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Adam, memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Aku kangen," bisik Rara pelan namun dengar Adam.
Rara mengecup punggung Adam beberapa kali, sebelum dia membenamkan wajahnya di punggung kekar prianya, menempelkan pipinya pada punggung Adam. Adam yang tahu apa yang terjadi pada sang istri pun terseyum, mengelus lembut jemari Rara yang melingkar di perutnya.
"Mas juga kangen. Apa tamunya sudah pergi?" Tanya Adam.
Karena week end kemarin saat Adam pulang ke rumah, Rara sedang kedatangan tamu bulanan sehingga dia tidak dapat jatah.
Rara mengangguk di belakang punggung Adam, "sudah, makanya aku datang ke sini!" Jujur prempuan itu, dengan wajah merona karena malu. Lalu kembali lagi dia membenamkan wajahnya pada punggung kekar Adam.
Adam meletakkan spatula yang dia pengen ke atas kompor, kemudian memutar tubuhnya menghadap ke Rara, menunduk, menatap wajah Rara yang sedang mendogak menatap ke arahnya.
"Jadi sekarang gimana? Mau makan makan kenang goreng atau makan mas?"
__ADS_1
Adam menangkup wajah Rara dengan kedua tangannya, membuat gadis itu mendogak menatapnya, menatap mata itu penuh kelembutan.
"Makan kentangnya mas boleh?"
Rara nyengir, mengacungkan dua jari tangannya, tanda becanda.
"Boleh, sekarang juga boleh!"
Adam mengecup sekilas bibir istrinya. Kemudian mengangkat kentang yang sudah matang untuk di tiriskan dan mematikan komputer.
"Ayo!" Ajak Adam
Dalam hitungan detik tubuh Rara sudah melayang dalam gendongan tangan kekar sang suami.
"Kemana?"
Rara melingkarkan lengannya pada leher Adam yang ada di depannya.
"Mencetak adek Ali."
Adam membawa Rara keluar dari dapur, tapi Rara menahan gerakan sang suami. Gadis itu mengatakan jika dia ingin memulai permainan mereka di dapur saja, bukan dia kamar seperti biasanya. Rara ingin mencoba hal baru.
"Kamu yakin?" Tanya Adam meragu.
Rara mengangguk meyakinkan, "aku ingin disini!"
Adam mengikuti permintaan istri, mendudukkan tubuh Rara di meja makan, membuka hijab istrinya.
Adam tersenyum, melepaskan hijab yang di kenakan Rara, membuka satu persatu kancing kemeja yang Rara gunakan, sementara istrinya mencoba menarik kaos yang Adam pakai. Tangan mereka masing-masing sibuk bergerilya. Rara menggoda milik sang suami dengan jemarinya, bibir mereka saling bertautan, saling membalas serangan.
Adam mulai bermain dengan squishi milik Rara yang pas di tangannya. Mereka saling berbalas memberi kenyamanan satu sama lain mendekat menuju gerbang kenikmatan.
Dengan tubuh yang terhentak-hentak seolah Rara ingin memakan habis wajah suaminya, bibir, leher, pipi, dan dagu, tidak ada bagian lain yang belum Rara jelajahi dari wajah pria itu. Bahkan cuping telinga Adam pun tak luput dari gigitan Rara.
Memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya saat hentakan Adam membawa Rara terbang menembus cakrawala, menuju puncak kenikmatan surga duniawi.
Rara mendekap kepala Adam dan menjambak rambutnya saat seluruh badannya bergetar mencapai titik kenikmatan.
Pemainan masih belum selesai. Adam membalik tubuh gadis itu memasukkan miliknya dari belakang membuat Rara kembali memekik n*kmat, menghentak dengan cepat, sampai tanpa sadar er*ngan panjang keluar dari mulutnya bersama getaran hebat yang membuat rahim Rara menjadi hangat seketika.
Lelah dan manis sekali. Mereka duduk dan berpelukan di sofa ruangan itu, tertawa saat melihat pakaian mereka berserakan entah dimana saja. Juga kegilaan yang mereka lakukan.
Merasa lucu dengan apa yang barusan mereka lakukan, pasangan suami istri itu kembali tertawa. Sesi berc*nta kali ini membawa suasana berbeda bagi keduanya. Anggap saja saat ini Rara dan Adam adalah pengantin barunya sedang memadu kasih, berbulan madu meski itu sudah terlambat. Karena saat ini hanya ada mereka berdua tanpa ada gangguan ataupun larangan.
Adam menciumi kening istrinya bertubi-tubi sedangkan Rara balas memeluk erat pinggang Adam.
"I love you!" Bisik Adam yang membuat Rara.
Rara menatap tak percaya kearah Adam.
Benarkah yang dikatakan mas Adam itu? Dia sudah mencintai ku? Rara pikiran sekarang.
"Mas bilang apa? Aku tidak dengan? Ulang Rara.
"I love you, Ra."
Rara terseyum, mengecup bibir.
__ADS_1
"I love you more."
Adam menempelkan keningnya pada kening Rara, menggesekkan hidung mereka yang bersentuhan, tersenyum, kemudian memeluk istrinya erat-erat seperti memeluk anak kecil yang kedinginan.
"Mari tinggal bersama? Kamu pindah kerja di dekat sini! Minta Rangga untuk mengurusnya!"
Lagi-lagi Rara merasa telinganya telah rusak saat mendengar kalimat manis yang keluar dari mulut Adam.
Pria itu yang dulu tidak ingin mereka tinggal bersama dengan berbagai alasan, dan sekarang? Benarkah apa yang Adam katakan itu? Nyatakan? Atau mimpi?
Adam yang melihat keraguan pada wajah istrinya menangkap wajah gadis itu, menatap lurus matanya.
"Aku serius, tidak bohong!" Ulangnya meminta Rara untuk percaya.
Kembali pria itu memberi beberapa kecupan penuh cinta supaya Rara tidak meragu.
"Usahakan tahun ajaran baru kamu sudah pindah ke sini. Karena aku tidak bisa pisah lama dari kamu. Kalau memang tidak ada sekolah yang sekiranya cocok, kamu bisa keluar dan tidak usah bekerja. Aku akan mencukupi semua kebutuhan mu. Jangan kuatir. Uangku banyak. Meski aku tidak bekerja sekalipun kamu dan anak kita tidak akan kelaparan, apalagi sampai terlantar."
Rara mengekang kepala, dia tidak bermaksud meremehkan Adam, karena dia tahu jika Adam tidak akan mungkin membuat mereka terlantar. Namun permintaan Adam yang tiba-tiba membuat Rara bagaikan mimpi.
Entah apa yang Rara pikiran, namun yang dia ucapkan tidak sinkron dengan yang dia pikirkan.
"Aku tetep ingin bekerja. Tidak pengen nganggur di rumah. Jika memang tidak ada sekolah yang cocok untuk ku, bagaimana jika aku membuka bimbingan belajar saja. Aku bisa melakukan itu di rumah."
Adam mengangguk, "Lakukan, jika itu bisa membuat mu senang!"
Adam mengelus pipi Rara dengan jemarinya.
"Jika kamu ingin membuka usaha, aku akan menjual apartemen ini, dan membeli rumah baru untuk kita tinggali, supaya ada tempat untuk Ali bermain."
"Kenapa harus di jual? Kenapa tidak kita sewakan saja? Siapa tahu besok kita butuh. Mungkin saat anak kita sudah besar, mereka bisa belajar mandiri dan tinggal di sini," Rara memberi usul.
"Hem, begitu juga boleh, mana bagusnya saja."
Setelah merasa tak ada lagi yang perlu di obrolan, dan malam juga mulai larut. Adam mengajak Rara pindah ke kamar untuk tidur, supaya besok mereka tidak kesiangan, karena juga harus pulang ke rumah pagi-pagi buta supaya bisa kembali bekerja.
Dengan tubuh polos, Adam merebahkannya tubuh istrinya ke tempat tidur dengan hati-hati, menutup tubuh Rara yang sama polosnya dengan selimut, lalu Adam pun ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Rara hingga pagi.
****
Rara yang menang sudah membawa baju ganti langsung ke sekolah sepulang dari apartemen Adam. Tadi Rangga sudah telpon dan memberi kabar jika Ali sudah diantar ke sekolah. Rara mengucap trimakasih pada adik iparnya yang banyak membantu dalam mengurus Ali. Dan dia berjanji bakal mentraktir Rangga makan enak jika dia gajian mati.
Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum jam ngajar Rara dia mulai. Perempuan itu membelokkan mobilnya pada sebuah apotek yang ada di dekat sekolah.
Rara ingin membeli pil KB. Meskipun hubungan dengan Adam membaik, Adam juga sudah bilang cinta, mengajak tinggal bersama dan meminta adik untuk Ali, tapi entah kenapa Rara belum ingin hamil dalam waktu dekat ini.
Dia masih ingin melihat kesungguhan Adam dulu baru memutuskan untuk punya momongan lagi. Bagaimana pun juga dia sudah merasakan susahnya jadi ibu tunggal dan Rara tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama.
Beruntung malam saat dia tidak minum pil KB, siang harinya Rara datang bulan. Membuat mama Ali tidak was-was jika hubungannya dengan Adam kala itu menghasilkan bayi kecebong.
Dan sekarang? Setelah malam panjang yang Adam lakukan bersama dia. Rara ingin minum pil KB untuk mencegah kehamilan. Karena sadar posisi saat ini dirinya tengah masa subur dan sp*rma Adam juga tidak perlu di ragukan kualitasnya. Buktinya Ali itu, hanya dengan sekali uji langsung jadi anak.
Rara memasukkan tablet pil KB kedalam tasnya.
"Di minum di sekolah ajalah biar tidak ketahuan mas Adam, jadi dia tidak akan tahu kalau aku minum pil KB lagi, dan tidak akan di buang lagi."
Rara terkikik geli, membayangkan reaksi suaminya yang akan marah jika tahu dia menkonsumsi pencegah kehamilan.
__ADS_1
****
Yang seneng kasih Rara bunga ya!!!