Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 66. Terungkap


__ADS_3

Monica mencari informasi seputar Rara lewat akun facebook istri Adam. Melalu kolom pencarian dia mengetik nama Rara disana dan mencocokkan foto profil pemilik nama itu dengan wajah Rara yang pernah dia lihat saat di Yogyakarta setahun yang lalu. Beberapa saat kemudian ratusan nama Rara berbaris rapi di layar leptopnya. Tidak sulit untuk mencari karena dia sudah berteman dengan Adam.


Senyum iblis langsung mengihasi bibir Monica ketik di hadapan Monica sudah muncul foto Rara dan Ali yang saling berpelukan dan tersenyum bahagia.


Hati Monica bertambah bahagia ketika dia menemukan nomor telepon Rara di akun itu, Sehingga mempermudah rencana balas dendamnya pada Adam.


"Perfeck," guman Monica sambil tersenyum.


"Rasakan pembalasan ku mas," ucap Monica Monica dengan penuh kebencian. "Kamu sudah membuat aku berpisah dengan mas Marcell bahkan sampai dia menamparku berkali-kali dan sekarang giliran mu yang berantem dengan Rara."


Monica tertawa terbahak-bahak sambil menghentakkan kakinya yang ada diatas kursi ketika membayangkan Rara marah-marah pada Adam dan rumah tangga mereka hancur berantakan. Rasanya sangat menyenangkan.


Setelah puas tertawa prempuan itu pergi dari duduknya. Berjalan menuju kasur untuk mengambil ponsel yang tergeletak disana, guna mencari bukti yang akan memperkuat acara balasnya kali ini.


****


Rara masih berdiri di depan papan tulis ketika terdengar bell dua kali yang menandakan jika waktu istirahat telah tiba, yang membuat sebagian besar murid dalam kelasnya bersorak bahagia dan ingin cepat-cepat keluar kelas menuju kantin.


Setelah memerintahkan kepada ketua kelas untuk memimpin doa tanda pelajaran telah berakhir dan mengucap salam, Rara memperbolehkan sang murid keluar kelas lebih dulu ketimbang dirinya.


Rara meminta sang ketua kelas yang masih duduk di kursi untuk mengantarkan buku tugas berisi PR yang tergeletak di depannya ke kantor.


"Taruh atas meja ibu ya!" Perintah Rara yang di jawab anggukan kecil oleh remaja itu.


Rara berjalan keluar kelas dengan membawa leptop dan beberapa buku paket yang di letakkan di atas bersama dengan sebuah kotak pensil berisi sepidol dan alat tulis yang lain.


"Pagi Bu!"


"Pagi Bu!"


Beberapa siswa yang dia temui di koridor kelas menyapa dan sedikit menunduk sebagai rasa hormat, Rara pun membalasnya dengan sebuah senyuman tulus, atau membalas sapaan mereka dengan kata 'pagi' jika dia sedang berkeinginan.


"Ibu cantik deh!"


Sapa seseorang murid laki-laki yang kalau ketemu Rara memang suka merayu. Murid itu terkenal nakal di sekolah tapi entah kenapa kalau sama Rara di selalu bersikap baik dan patuh, meski kadang suka tidak sopan karena kerap gombali sang guru, tapi bagi Rara itu suatu adalah bentuk interaksi mereka berdua supaya Rara lebih perhatian pada dia yang tidak mau di cuekin.


"Kamu juga ganteng," balas Rara dengan senyum manisnya.


"Sini Bu, saya bawakan leptop nya. Kan ibu sudah bilang saya ganteng," balas Zayn.


Rara menyerahkan leptop yang di pegang ke tangan Zayn.


"Makasih ya Zayn," ungkap Rara tulus.


"Sama-sama ibu," jawab Zayn kemudian lari lebih dulu mendahului Rara menuju kantor.


Begitu sampai kantor, Rara mendudukkan tubuhnya pada kursi kerja di belakang sebuah meja yang penuh dengan buku bertuliskan kata MATEMATIKA. Rara mengambil handphone dari laci mejanya, menekan tombol aktif hingga layar benda kesayangan itu menyala.


Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan chat masuk di sana. Namun yang paling menarik minta Rara adalah panggilan dari nomor baru yang belakangannya 244. Tanpa bertanyapun Rara sudah tahu jika itu nomor Monica karena nomor itu selalu menelpon suaminya akhir-akhir ini.


Ada apa Monica menelponya hingga sebagai ini? Dari mana wanita itu dapat nomornya? Tanya Rara dalam hati.


Belum sempat Rara membuka layar kunci, handphonenya sudah begetar lebih dulu, menandakan jika ada panggilan masuk. Monica telah menelponnya.


"Hallo, assalamu'alaikum!" Sapa Rara setelah mengeser tombol hijau pada layar handphonenya dan menempelkan.


"Walaikumsalam salam," jawab Monica, "Rara ini aku Monica. Kamu masih ingat aku kan? Kita pernah bertemu di Yogyakarta, setahun yang Lalu." Monica memberi tahukan siapa dirinya pada Rara. Monica memang lebih tua dua tahun dari Rara jadi dia tidak harus sopan dengan memanggilnya dengan sebutan mbak segala.

__ADS_1


"Ya, ada apa mbak Monic?" Tanya Rara sopan. Meski dalam hati sudah menebak apa yang hendak prempuan itu katakan. Pasti berhubung dengan Adam, tapi mendengar nada bicara Monica yang sangat tidak bersahabat membuat Rara pun bersikap seolah tak tahu dan tidak perduli meski hatinya was-was dan cemas setengah mati. Takut jika apa yang di pikirkan semalam ini adalah kenyataan.


"Ada yang mau aku omongkan sama kamu ini sangat penting!" Perintah Monica dengan nada arogan dan juga sombong. Sangat berbeda jauh dari ketika mereka bertemu di Yogyakarta setahun yang lalu.


Rara pun mengikuti permintaan Monica dia mencari tempat yang sepi untuk ngobrol dengan prempuan yang kelihatan sudah jadi duri dalam rumah tangganya kini.


"Sebentar biar aku cari tempat yang tenang dulu," pinta Rara, yang sudah melangkah kakinya keluar dari dalam kantor.


Sekarang istirahat tentu sulit mencari tempat tenang dan sepi karena semua siswa keluar kelas untuk bermain. Rara sedikit bingung juga harus ke mana agar dia bisa berbicara tanpa gangguan orang lain.


Tatapan Rara tertuju pada sebuah ruangan yang ke seharian nya selalu tertutup karena banyak di hindari para siswa, tapi tidak untuk para guru, yang selalu menjadi ruang itu untuk tempat istirahat karena selalu tenang dan nyaman.


Rara membuka pintu ruang BK yang hari ini sepi karena tidak ada fans yang berkunjung. Di dalam cuma ada Bu Nurmala yang sedang duduk manis memainkan ponselnya.


"Numpang nelpon Bu!" Ucap Rara sambil mengeser kursi plastik yang ada di depan meja Bu Nurma untuk di bawa ke pojokan. Guru berjilbab merah itu mempersilahkan dengan sebuah senyuman sebagai jawaban iya.


"Duduk sini saja Bu Rara, saya mau ke kantor guru kok," ujar Bu Nurma kemudian beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Rara duduk di kursi konseling itu.


Rara mengaguk setuju dengan pernyataan Bu Nurma.


"Nanti kalau mau pergi tutup dan kunci pintu nya ya bu!" perintah Bu Nurma sebelum melangkah pergi meninggalkan Rara seorang diri.


"Ya Bu," jawab Rara pendek.


"Hallo Monica!" Panggil Rara pada sang penelpon saat di lihat panggil itu masih tersambung tapi suara Monica tidak terdengar.


Rara tengah bersandar pada kursi tinggi Bu Nurma dengan sebelah jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi untuk mengurangi rasa cemas.


"Apa yang mau kamu bicarakan kata mu penting," lanjut Rara lagi sambil memegang dan menempelkan handphone pada telinga kanannya.


Terdengar suara Monic menarik nafas sebelum mulai berbicara.


"Apa?" Rara membekap mulut dengan sebelah tangan, tidak percaya. Dengan hati seketika perih.


"Bagaimana mungkin?" Rara tidak percaya. Air matanya mengalir.


"Aku dan mas Adam sudah pacaran. Kami menjalin hubungan selama ini."


"Kamu bohong kan?" Rara mengelengkan kepala. Berfikir mungkin dia cuma kena prank.


"Bener. Kami saling mencintai dan kita sudah bersama selama setahun," Suara Monica begitu sangat meyakinkan, meski aslinya di terseyum sinis.


"Aku gak percaya, aku gak percaya jika suami ku selingkuh. Jika mas Adam berhiyanat di belakang ku." Rara mencoba menyangkal semua itu, tidak percaya dengan apa yang Monica ucapkan. Adam memang bukan suami yang romantis tapi dia baik dan sejauh ini hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja.


Berkali-kali dia menyeka air matanya yang turun, supaya berhenti meski itu tidak berhasil. Hatinya terlalu sakit. Sesekali tangannya mengambil tisu yang ada di atas meja untuk menyeka ingusnya.


"Jangan bodoh Rara. Tidakkah kamu curiga dengan mas Adam selama ini. Bagaimana bisa suamimu yang notabenenya lelaki normal bisa tahan tinggal di apartemen sendiri sampai tiga bulan tanpa seorang istri. Jika bukan karena ada wanita lain yang menghangatkan ranjangnya."


"Dan wanita itu adalah kamu?" tanya dan tuduh Rara.


"Tentu saja. Memang siapa lagi."


"Kami benar-benar menjijikan Monica. Bagaimana bisa kamu bangga dengan seratus mu sebagai pelakor gitu. Dan kamu tidak malu mengakui nya."


"Kenapa tidak? Aku mencintai mas Adam dan mas Adam juga mencintai ku. Jadi kenapa kita harus malu saat kita berdua saling mencintai."


"Tapi dia suamiku, ayah dari anak ku."

__ADS_1


Monica tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Rara yang begitu polos sekali.


"Rupanya bukan wajah mu saja yang polos tapi otak mu juga tolol."


"Tutup mulut mu!" Rara meremas tangannya hingga kukunya memutih.


"Aku beritahu ya mbak Rara yang terhormat. Jika selam pernikahan mu dengan mas Adam itu. Suami mu tercinta itu tidak percaya mencintai mu. Dia masih mencintai Maelin manatan pacaranya yang masih ada di Inggris sana. Dan harusnya kamu berterima kasih pada ku karena aku memberitahu mu sekarang. Supaya kamu tidak terjebak dalam sikap baik Adam yang semu.


Oh ya, mas Adam juga berencana menceraikan kamu setelah bertemu Maelin. Tapi sayangnya perceraian kalian harus di percepatan karena aku sekarang hamil anak mas Adam. Dan aku ingin dia jadi satu-satunya istri dia. Tidak berbagai dengan yang lain."


"Kamu benar-benar kejam Monic. Kamu prempuan tapi kenapa tega menyakiti hati seorang perempuan? Lelaki single di luaran sana banyak kenapa kamu milih menjalin hubungan dengan suamiku. Lelaki yang sudah punya anak dan istri?" Tanya Rara pelan dan sedih.


"Karena suami mu begitu sangat menarik dan sayang untuk di lewatkan. Dan juga dia membutuhkan aku di kehidupannya jadi kenapa aku harus menolak pria setampan dan sekaya dia. Bukan kah itu bodoh namanya."


"Tapi dia milikku?" Lirih Rara diantara Isak tangisnya.


"Dia tidak pernah menjadi milik mu selama ini. Karena selama kalian menikah hingga detik ini mas Adam tidak pernah mencintai mu. Jadi jangan coba-coba mengkalim dia sebagai milik mu. Tahu!"


Rara hanya diam.


"Aku tutup telponnya. Jika masih tidak percaya kalau aku dan mas Adam pacaran. Nanti aku kirim buktinya. Assalamu'alaikum!" Ucap Monica yang langsung mematikan telponnya begitu saja.


Begitu sambung terputus Monica tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Rara menangis sesenggukan begitu.


"Bagus Monic, kamu memang hebat."


Monica memuji diri sendiri. Saking senangnya sampai dia bertepuk tangan sambil berputar-putar di dalam kamar hotel yang dia sewa.


"Sebentar lagi pasti mereka pasti akan ribut. Karena kebusukan Adam akan terbongkar. Hahaha....." Monica tertawa di akhir kalimatnya. Dia benar-benar senang dengan pencapaian hari ini yang membuatnya begitu sangat puas.


"Salah sendiri sok jual mahal. Sekarang rasakan pembalasan ku Adam.


Sedangkan di tempat Rara, wanita itu menumpuk kedua lengannya di atas meja dan membenamkan wajahnya disana.


Rara memangsa sedih di ruangan berukuran 3x3 yang berwarna putih dan gray. Hatinya sakit mengetahui kenyataan jika Adam selingkuhan di belakangnya. Dan hatinya semakin hancur saat melihat beberapa foto dan juga video percintaan mereka berdua. Membuat Rara tidak habis pikir dengan Adam. Bagaimana bisa suaminya sangat tidak tahu malu sampai mereka percintaan mereka hingga sedemikian rupa. Membuat Rara begitu jijik pada Adam.


Setelah puas menangis Rara membenarkan penampilan yang semula berantakan agar rapi kembali. Tapi tetap saja. Matanya yang merah sehabis nangis tidak bisa di sembunyikan begitu saja. Apalagi suasana hatinya sedang kacau membuat dia tidak bisa mengajar lagi.


Akhirnya Rara menelpon Rika, meminta cewek itu untuk mengatakan tas dan kunci motornya ke ruang BK. Sekaligus meminta izin kepada kepala sekolah jika Rara izin pulang cepat karena tidak enak badan.


Begitu Rika datang dengan barang yang dia minta. Rara langsung pergi menuju tempat parkir dimana motornya berada tanpa memperdulikan Rika yang bertanya kenapa dia menangis.


Rara hanya ingin menyendiri sekarang tidak ingin menjelaskan apa.


Selama dalam perjalanan dari sekolah air matanya kembali turun secara tiba-tiba. Dia mencoba menahan namun tetap saja tidak bisa. Hatinya terlampau sakit sehingga hanya terkena angin saja dia sudah mengais lagi.


"Ya Allah, air mata. Kenapa kamu gak habis-habisan sih. Kenapa kamu keluar terus." Kesel Rara dengan menghapus air mata dan ingusnya dengan tisu di tangan.


Tak seberapa lama setelah menempuh perjalanan sambil terisak sepanjang jalan yang membuat orang-orang yang dia temui menatap heran. Akhirnya Rara sampai di rumah juga.


Mengacuhkan mbok yang menyapa dan menatapnya heran. Mama Ali melewati pembantu nya begitu saja dan berlari menuju dimana kamarnya berada.


Saat baru saja menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal. Terdengar bunyi ringtone khusus dari ponselnya yang menandakan jika Adam telpon.


Cepat Rara mencari benda pipih itu dari ranselnya lalu menerima panggilan itu.


"Mas pulang ke rumah sekarang ada yang mau aku omongkan sama kamu. Penting!" Ucap Rara lebih dulu sebelum Adam berbicara. Kemudian dia memutus panggil itu begitu saja tanpa bertanya kenapa Adam menelpon.

__ADS_1


*****


__ADS_2