Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 33. Menghindari Masalah


__ADS_3

Adam berjalan cepat menuju dimana istrinya berada. Monica bilang tadi mereka berdua sedang makan di alun-alun kota dan sekarang Adam pergi ke sana untuk menjemput Rara dengan perasaan marah.


Kenapa Rara bisa begitu? Bersikap layaknya wanita murahan. Apakah dia tidak sadar jika setatusnya sudah bersuami? Bisa-bisa dia pergi dengan lelaki yang berstatus pacar orang.


Apa dia tidak puas sudah di caci maki hingga di gamparin istri Kamal karena di tuduh sebagai pelakor dan sekarang dia mau ngulangin kejadian yang sama dengan bermain api pada Marcell dan membuat Monica cemburu.


Apa memang seperti itu kelakuan istrinya selama ini? Pura-pura baik dan polos jika di depan dia tapi nyatanya jika di belakang Adam bersikap sangat norak dan murahan.


Emosi Adam makin menggebu ketika dia teringat kemarahan mama Eka padanya tatkala Rara tersandung kasus dengan Kamal. Eka berkata semua itu salah Adam yang selalu tak perduli dengan Rara hingga membuat istrinya lepas kontrol dan mencari perhatian dari laki lain, meski Adam menolak jika kejadian yang menimpa Rara itu murni salah Rara sendiri, toh nyatanya biarpun mereka jauh Adam juga tidak selingkuh dari Rara dan tidak pernah di tuduh sebagai pembinor dalam rumah tangga orang.


Tapi mama tetap saja keras kepala dan mengatakan jika itu semua salah dia. Bahkan cinta pertama Adam itu ikutan mengancam jika dia tidak mau pulang ke rumah juga maka putuslah hubungan antara mereka berdua. Dan Eka tidak mengizinkan Adam untuk menyentuh jenazahnya saat sang mama meninggal dunia nanti.


Tentu saja Adam yang begitu mencintai sang ibu tidak bisa mengacuhkan ancaman Eka yang sangat mengeringkan baginya.


Adam mencari Rara di seluruh wilayah alun-alun kota Malioboro, namun sudah hampir tiga puluh menit dia berkeliling belum juga menemukan sosok istrinya berada.


Hingga saat dia melewati penjualan bakwan malang barulah Adam mendengar tawa seorang perempuan yang suaranya begitu mirip dengan Rara.


Adam menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke kiri dimana sumber suara itu berada dan benar saja, terlihat istrinya sedang tertawa, saat Marcell menyipratkan Rara dengan es teh dari sedotannya hingga istrinya itu menutup wajahnya dengan hijab agar tidak terkena air minum dingin yang ada di depan mereka.


"Rara!" Hardik Adam dengan suara keras sehingga membuat aksi keduanya terhenti.


Bersama-sama kedua sejoli yang sedang kasmaran itu menoleh ke arah Adam.


"Mas Adam!" Ujar Rara kaget saat mendapati sang suami sudah berdiri di dekatnya.


"Mas nyusulin Rara ke sini?" Tanya Rara pada sang suami seraya tersenyum manis, setelah dia sadar dari rasa terkejutnya.


Merasa tidak bersalah karena sudah ketahuan pergi dengan istri orang, pria yang berstatus pacar Monica itu malah menyapa Adam dengan ramah.


"Hai Dam! Mau makan bakwan malang gak? Aku yang traktir nih," ujar pria berusia satu tahu lebih dia dari Adam itu.


Membuat dia bingung, nih orang, terciduk sedang bermesraan bukanya takut malah tersenyum lebar gitu, apa urat malu mereka sudah putus, pikir Adam.


Tidak menjawab pertanyaan keduanya Adam langsung menarik tangan Rara dan membawa istrinya pergi.


Di ikuti tatapan kepo semua orang yang ada di sekitar mereka di lanjut kasak kusuk bisik-bisik oleh semua orang disekitarnya hingga membuat Marcell tidak nyaman dan memiliki pergi.


***


"Bisa gak sih kamu jadi perempuan itu gak keganjenan?" Tanya Adam saat mereka sudah pergi dari wilayah alun-alun.


"Bisa-bisanya ya kamu pergi keluar dengan pacar orang hingga tengah malam begini. Becanda sampai kelewat batas begitu, mirip perempuan murahan."


Rara, "...." Diam tak menjawab.


Rara hanya mengikuti langkah suaminya yang berjalan sambil menggandeng tangganya.


"Gak puas kamu sudah pernah di labrak Bu Dewi, karena ganggu suaminya, sekarang kamu mau di labrak Monic juga gara-gara kencan sama pacarnya. Malu aku sama kelakuan kamu yang kayak gitu Ra. Kayak aku gak pernah didik kamu saja."


Rara yang kesal dengan tuduhan sang suami menghentikan langkahnya hingga membuat Adam menoleh seketika.


"Kenapa gak mau jalan? Ngambek? Marah? Atau mau di seret?"


"Ish, mas itu kelewatan banget sih jadi orang," gerutu Rara pelan.


Seketika Rara berjalan menghampiri Adam dan mencubit pinggang suaminya kencang karena kesal hingga membuat lelaki itu meringis dan menunduk.


"Kalau mau marah-marah nanti saja di kamar, jangan di jalan, Malu di lihatin orang," bisik Rara kemudian mengelus lembut pipi Adam.


Membuat suami yang sudah mode singa menghentikan aksi ngomelnya lantaran melihat sekeliling yang penuh orang tengah memperlihatkan keduanya.

__ADS_1


Rara berganti menarik tangan Adam yang masih memegangi perut untuk kembali melangkah pergi.


Beberapa saat setelah berjalan terdengar seseorang menyapanya


"Mama, papa!" Panggil anak kecil yang membuat dua orang dewasa itu seketika menghentikan langkahnya dan menoleh mencari dimana sumber suara itu berada.


"Astaga Ali!"


Keduanya terkejut saat mendapati anaknya masih duduk di pinggir jalan dengan Rangga.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Rara.


Ibu Ali langsung menghampiri putranya yang memegang sate usus di tangannya.


"Jalan-jalan sama om Rangga, sambil makan-makan," jawab bocah polos itu.


"Tapi sekarang sudah malam sayang sudah waktunya kamu istirahat. Kan kamu tadi siang juga gak bobok siang," omel sang ibu yang selalu kwatir dengan putranya.


"Sekali-kali gak apa-apa lah Ra, toh anaknya seneng kok. Dia juga belum ngantuk."


Rangga menjawab pertanyaan dan rasa cemas Rara yang berlebihan.


"Ck, kamu ini ya, emang kebiasaannya gitu," Adam membantu mengomeli Rangga.


"Lagipula kenapa Anak ku kamu beri makan makanan kayak gini? Kamu tahu kan ini tid..."


Ucapan Adam terhenti akibat ulah Rangga.


Sang adik yang tahu kebiasaan buruk kakaknya suka mengatakan makanan pinggir jalan itu tidak sehat bergerak cepat menyumpal mulut Adam tangan tahu semur yang dia pegang.


"Udah diem, nikmati saja apa yang ada. Kalau anak mu sakit besok biar aku yang bayar pengobatannya," potong Rangga pada ucapan Adam yang terhenti.


Adam hanya dapat geleng-geleng kepala melihat kelakuan keluarganya yang suka makan sembarangan itu. Meski begitu dia tetap memakan tahu bacem itu.


Membuat sang papa tak kuasa menolak pemberian anaknya hingga dia mengambil sate bacem itu lalu memakannya.


"Enak kan?" Tanya Rara, saat melihat suaminya makan.


Adam mengangguk pelan.


"Mau lagi?" Tawar Rara.


"Aku ambil sendiri nanti," jawab Adam sambil sibuk mengunyah sate dari anaknya.


"Boleh di habiskan kok gak apa-apa," ucap Rangga, "tapi aku gak tanggung jawab kalau habis ini kamu mati, karena makan makanan pinggir jalan," lanjut adik gak ada akhlak itu.


Membuat Adam tersendak seketika hingga terbatuk-batuk, Rara mengeser es teh di depan Ali dan memberikan pada Adam sambil mepuk-nepuk punggung sang suami agar batuknya reda.


"Jangan ngomong begitu bang, dia suami ku, masak di sumpahin," Hardik Rara tak suka.


Membuat Adam tersenyum tipis, merasa senang karena Rangga kena omel.


"Meskipun dia menyebalkan dan membosankan aku tetep pengen dia panjang umur," lanjut Rara.


Apa-apaan nih perempuan, kenapa habis menjujung langsung menjatuhkan begini, batin Adam.


"Kan biar bisa ganti yang baru Ra, yang lebih baik dari dia," lanjut Rangga.


"Menikah tuh hanya untuk sekali, tidak untuk ke dua kali," jawab Rara lagi.


"Tuh dengerin," balas Adam pada sang adik.

__ADS_1


"Alah gak usah PD dulu, kalau kamu nyebelin juga lama-lama bakal di eliminasi," Rangga gak mau kalah.


"Udah gak usah ribet, makan aja yang bener. Entah aku habisin semua kapok."


Rara menengahi perdebatan adik dan kakak itu.


"Habiskan saja Ra, mas Adam yang traktir kok," jawab Rangga.


Untuk kedua kalinya Adam tersendak gara-gara ulah Rangga.


"Makannya pelan-pelan saja sih mas, gak usah buru-buru, masih banyak. kok kalau mas mau nanti biasa kita borong semua," ucap Rara seraya menenangkan sang suami.


Adam membulatkan matanya, menajamkan atensinya menatap sang adik.


"Aku gak mau, aku tadi buru-buru, jadi gak bawa dompet," tolak Adam.


Rangga mengamati penampilan Adam yang seperti gembel, keluar hanya dengan mengunakan piyama dan sandal hotel, memang bukan sosok Adam banget, yang biasanya selalu menomor satukan penampilan, menandakan jika dia memang buru-buru.


"Emang kalian dari mana?"


"Dari jalan-jalan di alun-alun sana," jawab Rara.


"Jemput dia, istri Sholehah yang jalan-jalan sampai lupa waktu. Udah tengah malam belum juga pulang. Mana di telpon gak bisa lagi, ternyata asik berduaan sama pacar orang," curhat Adam.


"Handphone aku mati, habis batrai jadi gak bisa di telpon. Aku juga gak tahu kalau udah tengah malam, karena jam aku juga gak pakai jam tangan," Rara membela diri.


"Lagi pula itu kan salah mas Adam sendirian, kenapa menolak pas aku ajak kencan. Sekarang aku pergi sama orang lain cemburu. Dasar suami gak jelas."


"Dihh malah nyalahin orang," Adam gak terima.


"Habis mas gitu."


"Udah ganti aja suaminya dengan yang baru Ra, buat apa coba mertahankan suami yang gak asik gitu. Diajak kemana-mana gak mau, diajak makan ini gak mau, diajak makan itu gak mau, dia ajak kesana juga gak mau, ngebosenin, ribet, banyak aturan," usul Rangga


"Setuju bang, Rara juga maunya gitu ganti mas Adam dengan yang lain. Besok lah aku buka pendaftaran calon suami baru," tutur Rara sambil melirik wajah Adam yang duduk di sebelahnya.


"Kayak laku aja kamu, mau gantiin aku sama yang lain," cemooh Adam meremehkan.


"Coba aja Ra, biar dia tahu rasa," dukung Rangga.


"Sip bang. TOS dulu kita."


Kedua saudara ipar itu saling menyatukan tangan sebagai tanda kompak.


Adam mencebik kesal.


Obrolan mereka terhenti saat Ali berkata jika dia sudah ngantuk. Membuat ketiga orang dewasa itu beranjak dari duduk lesehan di trotoar.


Dengan percaya diri Adam langsung merangkul bahu sang istri dan mengajaknya pergi, membiarkan Ali berada dalam gendongan Rangga, membuat sang adik cemburu melihat kemesraan kakaknya. Hingga,


"Woy, ini sekalian anaknya di bawa," protes Rangga dengan nada jengkel.


Adam dan Rara sama-sama mengentikan langkahnya. memutar tubuh menghadap Rangga yang jalan di belakang mereka.


Rara mendekati adik ipar untuk mengambil Ali dari gendongan Rangga, tapi tangannya di tepis oleh pria itu.


"Biar Adam yang gendong Ra, dia bapaknya."


Kemudian Rangga menyerah tubuh Ali pada Adam.


"Nih gendong anak mu, jangan cuma bisa bikin tapi gak mau ngurusin," omel sang adik.

__ADS_1


Adam menerima anaknya, lalu mengendong tubuh Ali di dadanya, membiarkan bocah Lima tahun itu berdasarkan di dada bidang sang papa hingga terlelap tidur.


__ADS_2