Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 30. Kencan


__ADS_3

"Ali tidur sama om Rangga saja ya?" Pinta Rangga pada keponakan saat mereka ada di lift. Karena sesuai permintaan Adam, Rangga menginap di hotel yang sama dengan mereka.


Ali menatap kearah Rara minta persetujuan.


"Nanti biar mama dan papa bikin adek bayi buat Ali," lanjut Rangga.


Kuping rangga langsung di jewer Adam sebagai jawaban lantaran sudah meracuni otak suci anaknya hingga adiknya mengeram sakit.


"Mulut kok asal aja kalau ngomong," marah sang kakak pada adiknya.


Rangga mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


"Ali boleh tidur dengan om Rangga ma?" Tanya Ali sambil mendongakkan menatap Rara dan Adam minta persetujuan.


Rara mengangguk, "boleh, tapi jangan nakal kalau tidur sama om ya, karena om capek, baru pulang!"


Ali mengangguk setuju.


Begitu lift terbuka mereka berempat keluar dari lemari besi itu dan menuju kamar masing-masing.


Begitu sampai kamar, Adam langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena sesorean dia memang belum mandi. Sedangkan Rara menyiapkan baju ganti suaminya, setelah itu rebahan di atas kasur sambil memainkan handphonenya, mengaplout beberapa foto yang dia suka ke akun sosmed nya.


Begitu selesai dengan rutinitas masing-masing pasangan suami istri itu melakukan sholat isya berjamaah.


*****


"Mas, jalan-jalan keluar yok? Mumpung Ali sama Rangga, jadi kita bisa kencan berdua!" Pinta Rara pada sang suami yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil bermain handphone.


"Malas ah capek, seharian sudah main sekarang mau main lagi," tolak Adam.


Penolakan Adam membuat sang istri cemberut.


Tidak tega melihat wajah jelek Rara, Adam pun memberi izin padanya.


"Kalau kamu mau keluar ya keluar saja, sana main sama teman-teman mu yang lain. Aku mau istirahat, tidak ingin pergi kencan," tutur Adam memberi tahu.


"Memang boleh aku pergi sama temen-temen aku? Gak papa?" Rara meyakinkan diri.


"Boleh, asal pulangnya jangan malam-malam."


"Hm, gak bakal pulang malam tapi pulang pagi," jawab Rara dengan cengiran yang khas.


Begitu mendapatkan izin dari sang suami Rara langsung keluar kamar, pergi menuju dimana kamar teman-teman berada.


Tapi ternyata kamar itu sudah sepi, sebagai besar pengunjung telah pergi duluan, walau ada beberapa orang yang masih dalam tapi niat mereka sama seperti Adam, lebih memilih tidur ketimbang jalan-jalan di Malioboro.


Tidak pusing dengan kesendiriannya, Rara mengunakan waktu itu untuk me time. Memanjangkan diri sendiri dengan berbagai hal yang akan dia temui nanti.


Siapa bilang gak punya temen gak bisa happy? Yang penting kan punya uang dan semu bisa terlaksana, pikir Rara menghibur diri.


Rara mengamati beberapa penjual yang berada di sepanjang jalan Malioboro, kali saja ada yang mencuri perhatiannya, karena kemarin saat dia jalan-jalan bersama Adam dan Ali, Rara belum puas melihat-lihat tapi harus buru-buru balik ke hotel karena sang anak keburu ngantuk, maka sekarang dia balas dendam guna memuaskan diri sendiri.


Senyum mengembang dari bibir istri Adam saat dari kejauhan dia melihat Rika tengah berdiri di depan toko serba rajutan.


Lekas dia menghampiri wanita muda itu untuk menyapanya, namun seketika Rara menghentikan langkah kakinya ketika melihat Rika tidak sendirian, ada Awal yang sedang berjalan keluar dari toko.


Rara terseyum.


Oh ternyata mereka sedang berkencan tho, batinnya.


Apalagi saat melihat Rika yang langsung bergelayut manja di lengan Awal begitu sang pria menghampiri dirinya sambil menyerahkan sebuah paper bag penuh isi.


"Kita kemana lagi sayang?" Tanya Awal sambil tangannya merangkul bahu Rika mesra.

__ADS_1


"Hmm, lihat-lihat sebelah sana yuk?" Ajak Rika sambil menunjuk toko di sebrang jalan.


"Ayok!" Jawab Awal.


Kedua pemuda-pemudi itu pergi menyebrangi jalan sambil bergandengan tangan.


Rara yang mendengar percakapan mesra dua orang itu ingin ketawa, tapi dia tahan karena takut ketahuan.


Rara merasa lucu dengan keduanya. Mereka yang kalau bertemu seolah tidak perduli dan tidak ada hubungan apa-apa, bahkan seolah tak saling kenal, kini memanggil sayang dengan begitu mesra di depannya.


Membuat Rara tidak tahan menunggu hari esok, untuk cepat-cepat mengoda sahabatanya itu.


Masih dengan senyuman di bibir Rara melanjutkan jalan-jalannya.


******


Sedangkan di tempat lain, Rangga juga melakukan hal yang sama dengan yang Rara lakukan.


Pria yang ingin menjadi papa sambung Ali itu mengajak anak Rara jalan-jalan keliling Malioboro dengan becak guna memanjakan sang ponakan.


Malam ini Rangga ingin memuaskan Ali dengan kuliner khas Yogyakarta yang tidak pernah mereka temui di kota tempat tinggalnya sana.


Pertama-tama, Rangga mengajak Ali ke toko khusus bakpia batok, membeli beberapa bakpia kesuksesan Ali dan juga makanan-makanan ringan lainnya yang ada di sana.


Lanjut kedua pria beda usia itu pergi ke kedai khusus penjualan es krim yang masih ada di dekat situ juga.


Rangga yang pernah beberapa tahun tinggal di Yogyakarta saat kuliah S2 tentu tahu banyak seluk-beluk kota gudeg ini, terutama tempat makan yang enak dan murah, dan di sanalah Rangga berkeliling mengajak ponakan semata wayangnya memanjakan lidah mereka dengan berbagai menu yang menggiurkan.


Bukan makanan berat yang mengenyangkan, tapi hanya makan-makan ringan sebagai cemilan saja.


Rangga memang selalu menikmati momen-momen berdua dengan Ali seperti ini, rasanya sangat menyenangkan jika melihat binar bahagia pada bocah yang wajahnya begitu mirip dengan Adam.


"Sekarang kita kemana lagi boy?"


"Kesitu om!" Ali menunjuk sebuah gerobak penjual nasi di pinggir jalan.


Ali mengangguk.


Lalu keduanya, berjalan menghampiri grobak penjualan nasi kucing yang berada di pinggir jalan.


Ali yang merasa heran dengan bungkusan kecil-kecil di depannya, mengangkat satu persatu kertas berlabel itu.


Ay-aya-m ayam go-go-re-ng goreng, ayam goreng, ke-ker-rang kerang, sam-sam-bel sambel te-ter-ri teri, sambel teri.


Anak Rara yang mulai membaca pun mengeja satu persatu nama menu nasi yang dia pasarkan. Membuat Rangga terseyum tipis akan aksi sang ponakan.


"Om, ini apa? Kenapa bungkus nya kecil-kecil gini?" Tanya bocah itu kepo, seraya mengaku bungkus nasi di depannya dan menunjukkan pada Rangga.


"Itu nasi boy."


"Nasi, nasi bungkus?" Tanya anak itu kaget.


"Kok kecil-kecil om."


"Nasi kucing?"


"Nasi kucing?" Ali membeo.


Bocah umur lima itu bertanya prihal nasi kucing lagi pada Rangga, guna menuntaskan hasrat pengen tahunya yang sedang tumbuh.


"Memang ini di jual untuk makan kucing om? Kok bapak itu tadi ambil nasi ini terus dimakan? Kalau dia kena rabies gimana om? Kalau nanti dia sakit?"


Tanya Ali lagi, yang ke crewetannya membuat lelaki penjualan nasi kucing tersenyum.

__ADS_1


"Ini buka nasi untuk kucing boy. Ini di bilang nasi kucing karena porsinya kecil, se-ukuran makanan kucing. Jadi di bilang nasi kucing, tapi yang makan manusia," Rangga menjelaskan.


"Kamu mau?" Tanya pria itu lagi.


Ali mengangguk, "Heem, mau!" Ujar anak Rara.


"Ambil lauk yang kamu suka, ayo kita makan dulu," ucap Rangga sambil mengambil beberapa bungkus nasi dan lauk menggunakan piring.


Kemudian adiknya Adam itu memesan dua gelas es teh, sambil mengajak Ali duduk lesehan pada tikar yang telah di gelar oleh penjual di trotoar.


Puas dengan nasi kucing, Ali mengajak Rangga menghampiri seorang ibu-ibu tua dengan mengelar dagangannya mengunakan tampah, tidak jauh dari penjualan nasi kucing.


*****


Di sisih yang lain.


Tak beda jauh dengan Ali dan Rangga, Rara pun melakukan hal yang sama, berburu kuliner.


Ibu satu anak itu berjalan menuju alun-alun kota dimana terdapat banyak penjualan kaki-kaki lima memaparkan dagangannya.


Tidak ikutnya Adam bersama dia merupakan bonus tersendiri bagi Rara, karena tidak harus mendengarkan ke crewetannya sang suami saat dia makan ini dan itu yang Rara mau.


Rara menelusuri dari stand satu ke stand lain mencoba mencari makanan apa yang belum terlihat unik dan belum pernah dia makan.


Rara mencoba memesan sepiring batagor dan es dawet hitam dari salah satu penjual.


Sambil menunggu pesanan nya datang, Rara mencoba menghubungi Rangga bertanya dimana dia berada? Apakah Ali baik-baik saja atau menangis.


Jika sekiranya mereka belum tidur, Rara ingin adik iparnya itu mengajak Ali menyusulnya dirinya untuk kulineran bersama, karena Rara tahu putranya paling senang kalau di suruh incip-incip makanan sama halnya dengan Rara.


Tapi setelah bunyi Tut beberapa kali, Rangga tak juga mengangkat telponnya, sampai terdengar seorang perempuan mengomel di sebrang sana yang memberi tanda jika panggilan nya tak dianggap.


Setelah mencoba beberapa kali, tapi tetep nihil, maka Rara menghentikan aksinya itu, apalagi pesanan dia juga sudah datang.


Sambil duduk lesehan di atas tikar yang sudah di siapkan di oleh penjual di alun-alun itu, Rara mencoba menghubungi teman-teman dan bertanya ada dimana mereka sekarang. Siapa tahu ada di tempat yang sama kan lumayan.


Namun hasilnya mengecewakan karena handphone Rara baterai lowbat yang berujung mati total.


"Hais, kenapa tadi gak aku cas dulu coba," rutuk ibu satu anak itu sambil meletakkan handphonenya kedalam Sling bag kembali.


"Udah deh, makan aja sendiri, gak usah mikirin orang lain," hibur lara pada diri sendiri.


Baru juga hendak mulai makan, seseorang menghampiri nya.


"Woy!"


Sapa orang itu dari belakang punggung Rara guna mengagetkan ibunda Ali, hingga membuat Rara terjingkat kaget dan refleks memegang dadanya agar tidak copot dari tempatnya.


Rara menoleh pada orang yang telah membuat jantungan untuk memakainya.


Namun sekarang istri Adam mengurungkan niatnya itu dan memilih memaafkan saja.


*****


Hayo siapa kira-kira itu.


Coba tebak.


a. Adam


b. Rangga


c. Marcell

__ADS_1


d. Teman-teman Rara


Ayo siapa pilihan kalian?


__ADS_2