
"Dia kan?" Tanya Aisyah pada Rangga.
Rangga yang sedang minum wine yang barusan dia ambil dari pelayan yang lewat, menoleh pada gadis di sebelahnya, bertanya siapa lewat tatapan mata.
"Kakak ipar mu? Prempuan yang kamu cintai?"
Rangga menaikkan sebelah alisnya.
"Tatapan mu memuja dia, membuat aku tahu jika dia yang kamu cintai."
Mata Aisyah menatap Adam dan Rara yang berdiri di depan mereka. Tangan Adam memeluk pinggang Rara posesif. Mereka sedang ngobrol bersama teman-teman Adam.
Rangga diam tidak menjawab. Tidak menyangkal, tidak pula membenarkan membuat Aisyah berfikir jika tebakannya memang benar.
"Cantik. Pantas kamu tertarik. meskipun tidak lebih cantik dari aku."
Rangga mengernyitkan dahinya, "Memang kamu cantik?"
"Apa menurut kamu aku jelek?" Balik tanya Aisyah.
"Tidak, bukan begitu. Kamu memang cantik," sergah Rangga.
"Nah, tuh kan. Kamu juga mengakui."
Aisyah tertawa melihat kekonyolan Rangga yang menurut dia lucu saat melihat pria itu bingung.
"Lalu bagaimana?"
"Bagaimana apanya lagi?" Rangga di buat bingung dengan Aisyah.
"Hubungan kita?"
"Memang kita ada hubungan?" Rangga balik tanya, membuat Aisyah mencebikkan bibirnya kesal.
Keponakan pak Dani menegak habis jus anggur yang dia ambil dengan sekali teguk, sebelum kembali berbicara.
"Bukanya kamu bilang bertemu tanpa tanpa duga sebanyak tiga kali itu artinya kita jodoh. Jadi kenapa kita tidak langsung menikah saja jika memang kita berdua jodoh!"
Aisyah meletakkan kembali gelas yang dia pegang ke atas meja.
"Bukan jodoh tapi takdir," ralat Rangga pada ucap Aisyah.
Pria itu melakukan hal yang sama seperti Aisyah, meletakkan gelas ke atas meja.
"Jodoh atau takdir bagiku sama saja. Kan Intinya juga kesana! Jadi gimana? Kamu mau nerima tawaranku atau mau lanjut jadi pembinor tampan di rumah tangga kakak mu sendiri, hm?" Aisyah menaikan alisnya meminta jawaban Rangga.
Dulu saat mereka di Lombok. Setelah beberapa kali nongkrong dan ngobrol bersama Aisyah mengungkapkan isi hatinya jika dia tertarik dengan sosok Rangga.
Aisyah yang sudah berumur dan juga terbiasa berkumpul dengan orang-orang barat memang tidak sungkan saat mengatakan jika dia ingin menjalin hubungan serius dengan Rangga dan meminta pria itu untuk menikah dengannya.
__ADS_1
Rangga yang masih mencintai Rara menolak permintaan itu. Adik Adam bilang dihatinya masih mencintai orang lain dan belum bisa melepaskan wanita yang dia cintai. Meski Rangga sadar untuk memiliki wanita yang dia cintai juga tidak mungkin karena dia sudah menikah dengan orang lain.
Rangga yang melihat gurat kekecewaan di wajah Aisyah pun tak tega sehingga dia kembali berucap. Mungkin jika takdir mempertemukan mereka ke-tiga kalinya tanpa duga Rangga akan memikirkan tawaran Aisyah. Dan keponakan pak Dani setuju dengan usul Rangga.
Kini takdir mempertemukan mereka lagi dan Aisyah menagih janji itu.
"Kamu maksa nih ceritanya?" Rangga mengulum senyum.
"Aku tidak maksa. Semua terserah kamu. Aku hanya memberikan penawaran yang terbaik buat kamu, jadi terserah kamu mau di ACC atau di tolak."
Rangga mencondongkan wajahnya, berbisik pada Aisyah, dengan niat menggoda.
"Apa kamu yakin bisa menyingkirkan dia dari hatiku?"
Namun bukan Aisyah namanya jika dia tergoda dan terpesona oleh permainan lelaki model Rangga begini, bukanya bersemu merah gadis itu malah beralih berbisik pada Rangga.
"Butuh bukti? Cukup Ijab Qabul dulu dan aku akan buktikan padamu. Gimana?" Tanya balik Aisyah, membuat Rangga terbahak.
"Baiklah. Aku mengikuti apa mau mu. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Rangga akhirnya.
"Gampang. Karena aku di sini sampai Minggu depan. Jadi gimana kalau besok kita pergi kencan? Aku ingin kencan mainstream ala bang Rangga?" Pinta Aisyah.
"Laksanakan tuan putri! Besok aku jemput di rumah pak Dani."
Aisyah mengangguk, "awas kalau bohong aku kejar kamu sampai ke neraka!" Ancam Aisyah.
Rangga tertawa mendengar penuturan gadis berjilbab merah yang duduk di sebelahnya.
"Assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam!" Jawab Aisyah, "Hei kapan datang?"
Aisyah yang semula duduk langsung berdiri saat melihat siapa yang menyapanya. Dia memeluk serta cipika-cipiki.
"Baru saja. Langsung kesini. Kamu datang juga?" Tanya balik prempuan itu.
"Iya. Kebetulan aku ada jam terbang ke sini. Jadi mampir sekalian."
Prempuan itu mengangguk tanda paham, kemudian duduk di sebelah Aisyah. Begitu juga dengan lelaki berjas ungu yang datang bersama tadi.
"Kamu apa kabar?" Tanya si gadis berjilbab ungu itu.
"Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?" Balik tanya Aisyah.
"Alhamdulillah baik juga."
"Siapa Ais?" Tanya gadis itu sambil melirik Rangga.
"Calon suami," jujur Aisyah sambil tersenyum manis, namun matanya melirik ke arah Rangga yang menatap tajam kearah Aisyah.
__ADS_1
Ingin rasanya Aisyah terbahak melihat ekspresi kesal Rangga saat itu.
"Mas kenali ini Niken. Anak paman Dani. Mantan pacar mas Adam, dan ini bang Tomy suaminya," Aisyah mengenalkan Niken dan Tomy pada Rangga.
Niken yang mendengar penuturan Aisyah membulatkan matanya.
"Jadi kamu pacaran sama adiknya mas Adam, Ais? Astaga ternyata dunia ini sempit sekali ya?"
"Kita memang di takdirkan jadi keluarga. Aku gagal menikah sama mas Adam, tapi malah kamu yang menikah dengan adiknya."
Niken menutup mulutnya anggun saat dia tertawa. Menertawakan takdir lucu yang menghampiri keluarga mereka.
Niken adalah anak perempuan satu-satunya pak Dani, dia berprofesi sebagai dokter kandungan. Pak Dani berharap Niken menikah dengan Adam agar ada yang meneruskan perusahaan kelak saat dirinya pansiun nanti, karena itu pak Dani tidak merestui hubungan Niken dengan pacarnya yang berprofesi sebagai dokter.
Niken yang terpesona oleh sosok Adam saat pertama bertemu menyetujui permintaan sang papi untuk PDKT dengan Adam. Selain karena tampan Adam juga lebih di atas segala-galanya ketimbang pacar Niken kala itu.
Hubungan mereka semakin akrab setelah keduanya beberapa kali makan malam bersama. Sampai akhirnya Adam tidak bisa menolak permintaan sang papa yang memaksanya menikah dengan Rara anak sahabat Syaputra sendiri.
Satu Minggu setelah lamarannya pada Rara, pak Dani mengutarakan maksudnya jika dia ingin Adam melamar putrinya, namun lamaran itu langsung Adam tolak dan mengatakan jika dia sudah punya Rara sebagai calon istri. Hasil perjodohan orang tuanya beberapa waktu lalu.
Niken yang kecewa juga sakit hati pada Adam memilih melanjutkan kuliahnya di Singapura dari pada menghadiri undangan pernikahan Adam dan Rara.
Dua tahun kemudian Niken kembali lagi ke Indonesia dengan membawa calon suami yang berprofesi sebagai dokter lagi.
Sadar jika jodoh putrinya adalah seorang dokter maka pak Dani merestui pernikahan mereka. Setelah menikah Niken tinggal dan bekerja di Singapura bersama keluarga suaminya, dan hanya sesekali pulang ke Indonesia.
"Udah ketemu sama paman?" Tanya Aisyah lagi.
"Udah tadi di depan, lagi ngobrol sama temen-temennya. Malah Mami yang bilang kalau kamu ada disini, makanya aku langsung nyari kamu."
"Oh...."
Obrolan terus berlanjut pada mereka berempat dengan saling tukar informasi.
*
Selesai mengenalkan Rara pada semua orang, Adam membawa istrinya kembali ke meja dimana dia dan Rara duduk tadi.
Antesi Adam tertuju pada perempuan bergaun ungu yang duduk di depan Rangga. Tampak berbicara akrab dengan Aisyah.
Melihat Adam di dekatnya prempuan itu langsung melebarkan senyumnya, membuat kedua lesung pipinya muncul.
Tatapan matanya mengunci langkah Adam yang berjalan sambil memeluk pinggang ramping Rara.
"Hai bang! Apa kabar!"
Niken berdiri dari duduknya, menjabat tangan Adam, kemudian cipika-cipiki dengan begitu mesra, layaknya teman perempuan yang lama tidak jumpa, tak perduli posisi Rara yang menempel bak prangko pada Adam.
*****
__ADS_1
Wah Adam ketemu sama mantan nih!