Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 121 Kencan Mainstream


__ADS_3

Rangga membawa mobilnya ke rumah pak Dani untuk menjemput Aisyah. Sesuai janjinya pada gadis itu hari ini mereka akan berkencan.


"Sudah sarapan?" Rangga menoleh pada Aisyah saat gadis itu sudah sebelahnya.


"Hm, belum. Kamu?" Aisyah balik bertanya sambil memasang seatbel. Kemudian menatap Rangga yan mulai menjalankan mobil.


"Kalau belum kita bisa mampir dulu buat sarapan. Aku tahu penjual bubur ayam yang enak banget. Aku jamin kamu pasti suka," tukas adik Adam.


"Boleh," jawab Aisyah bersemangat.


****


Setelah beberapa saat saling diam, akhirnya Aisyah kembali buka suara.


"Memang kamu mau ngajak aku kencan kemana?"


"Kamu maunya kemana?" Rangga menoleh pada Aisyah, menuggu jawaban gadis itu. Beruntung mobil berhenti di lampu merah jadi Rangga tidak takut terjadi kecelakaan.


"Kemana saja asal bareng kamu aku pasti suka." Aisyah menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda ke arah Rangga, membuat pria itu mencebikkan bibir.


"Dasar genit." Rangga mencubit hidung Aisyah gemas, kemudian mengulum senyum.


"Sakit tau!" Aisyah menyentuh ujung hidungnya yang memerah akibat ulah Rangga, sedangkan pria menyebalkan disebelahnya malah tertawa melihat wajah jutek Aisyah.


****


"Kita akan kencang disini?" Aisyah menatap Rangga saat mobil yang di kendarai pria itu masuk gerbang universitas Riau.


"Tidak kita sarapan bubur ayam dulu Disini. Kan kamu belum makan."


Aisyah mengaguk setuju. Tanpa protes gadis itu langsung melepaskan seatbelnya dan turun dari mobil.


"Ayo!" Rangga mengajak Aisyah berjalan menuju stand penjualan makanan yang ada di dekat kampus.


"Bang bubur dua!" Pesan Rangga pada lelaki memakai topi koboi yang berserat penjual, saat mereka sudah sampai pada gerobak penjualan bubur ayam yang mangkal di bawah pohon beringin. "Jangan lupa semur tahu sama telur puyuhnya ya bang


Rangga menarik kursi plastik dan meminta Aisyah duduk sebelum Rangga duduk disebelah perempuan berhijab merah itu.


"Disini tempat makan favorit ku dengan Rara. Di buryam sini pertama kali aku kenalan dan ngobrol akrab dengan Rara," aku Rangga tiba-tiba. Mengenang masa-masa indah bersama sang kakak ipar.

__ADS_1


"Oh ya?!"


Aisyah terkejut, tidak percaya jika Rangga mau sedikit membuka masa lalunya dengan dirinya.


"Berarti dia, eng maksud ku kakak ipar mu itu satu kampus sama kamu."


"Adik kelas. Kita satu jurusan dan dia adik kelasku."


"Oh...."Aisyah membulatkan mulutnya tanda dia mengerti. "Pasti romantis sekali kisah cinta kalian waktu itu?" Ujar Aisyah dengan senyum mengembang.


"Kamu tahu, setiap pagi aku bertemu Rara di sini?"


"Untuk makan bubur? Tebak Aisyah.


Rangga mengeleng, "tidak, dia tidak terlalu suka bubur."


"Untuk bertemu kamu."


"Tidak."


"Lalu?" Aisyah mengernyitkan dahinya heran.


"Untuk menemani sahabatnya makan bubur. Teman dia maniak bubur, setiap hari maunya sarapan bubur ayam dan setiap hari juga Rara nongkrong disini buat menemani sahabat itu. Lucu bukan?" Rangga tertawa diakhiri kalimatnya, membuat Aisyah juga ikut tertawa namun bukan tertawa karena cerita Rangga yang lucu melainkan ekspresi Rangga yang sangat imut. Binar bahagia di wajah pria itu membuat dia terlihat seperti ABG yang sedang jatuh cinta.


Obrolan kedua terhenti saat seorang lelaki bertopik Koboy datang menghampiri meja mereka membawa sebuah nampan plastik. Menyusun menu yang dia bawa keatas meja. Dua mangkuk bubur ayam, satu piring kecil kerupuk udang, satu piring sate telur puyuh dan tahu bacem.


"Mau minum apa bang?" Tanya pria itu apa Rangga.


Rangga yang sedang mengeser mangkuk bubur milik Aisyah kembali bertanya pada gadis itu, "Ais mau minum apa?"


"Teh hangat," jawab Aisyah seraya menerapkan mangkuk dari tangan Rangga.


"Teh hangat dua bang."


****


Selesai sarapan buryam penuh kenangan Rangga mengajak Aisyah pergi ke sebuah mall terbesar di kota itu.


Matahari yang beranjak naik membuat Rangga yakin jika Mall sudah di buka saat pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


"Untuk penyamaran kencan mainstream kita."


Rangga memberikan masker dan kacamata hitam pada Aisyah begitu dia sudah memarkirkan mobilnya pada salah satu mall terbesar di kota itu.


"Malu sama umur kalau sudah setua ini masih main game di pusat perbelanjaan layaknya remaja." Lanjut Rangga seolah tahu apa yang ada di benak Aisyah.


"Kamu mau mengajakku kencan disini?" Tanya Aisyah sambil memasang atribut yang Rangga berikan.


"Kenapa? Tidak suka?" Rangga menatap Aisyah mencoba mencari jawaban dari wajah gadis itu.


Aisyah menggedikkan bahunya, "memang boleh protes?"


"Sayangnya aku tidak menerima penolakan."


Aisyah tertawa saat mendengar jawaban dari Rangga, kemudian gadis itu mengelengkan kepalanya merasa lucu.


"Ayo!" Ajak Aisyah sambil membuka pintu kemudian melangkah turun dari mobil.


"Semoga ini menjadi kencan yang menyenangkan." Rangga meraih tangan Aisyah mengegam jemarinya erat, sambil mengayun-ayunkan. Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk mall, "bukankah ini yang dilakukan oleh remaja saat berkencan," ujar Rangga saat melihat Aisyah menatap intens pada tangan mereka berdua. Menunjuk dengan dagunya pada muda mudi yang ada di sekitar mereka.


"Tapi caramu berlebihan, tidak ingat umur," bisik Aisyah di dekat telinga Rangga.


"Aku tidak pernah berkencan seperti ini." Rangga balas berbisik, membuat Aisyah menghentikan kakinya, mengernyitkan dahinya, menatap Rangga heran.


Bagaimana dengan Rara? Apakah dia tidak pernah berkencan dengan prempuan itu? Mengingat Rangga begitu memujanya mustahil jika pria di sebelahnya tidak bersama wanita itu dalam waktu yang lama.


"Aku dan Rara tidak pernah berkencan seperti ini. Karena Rara tidak di izinkan pergi keluar hanya berdua bersama ku." Rangga menjawab rasa penasaran yang hingga di hati Aisyah.


Ya, kenyataan memang seperti itu. Empat tahun mereka dekat hingga pacaran tak pernah sekalipun Rangga pergi berdua hanya dengan Rara saja. Selain karena om Heru tidak mengizinkan Rangga membawa Rara keluar rumah berdua, Rara juga tidak mau.


Hampir di setiap kencan mereka Rara selalu ditemani oleh Alan saat menemui Rangga jika di rumah. Sedangkan jika di kampus atau kost Rara selalu mengajak temannya untuk menemani dia menumui Rangga. Sebenarnya Rangga kurang setuju dengan permintaan Rara yang menurutnya terlalu kolot itu, namun rasa cinta pada gadis itu mengajarkan segala yang berujung membuat Rangga mau menerima segala batasan yang gadis itu berikan untuk mereka berdua.


Malam membuat Rangga mulai mengagumi gadis itu, karena berhasil menjaga diri dan tubuhnya dari jamaah laki-laki meski lelaki itu sangat dia cintai yang membuat Rangga akhirnya menghargai Rara sebagai sosok perempuan dengan sepenuh hati.


Rara memang beda, dan benar-benar beda dari kebanyakan prempuan yang ada. Dia cerewet dan terbuka dalam berfikir tapi begitu sulit disentuh. Layaknya mawar dia itu bunga yang ada di tepi jurang, bisa di lihat tidak bisa di ambil.


"Hai!" Sentakan dari tangan Aisyah membuat Rangga tersadar dari lamunannya. "Sudah sampai. Kamu mau mengajak ku nonton?" Aisyah menoleh pada Rangga, kemudian mengalihkan tatapannya pada gedung bioskop didepan mereka.


*****

__ADS_1


Yuhu babang Rangga muncul lagi.


Apapun yang terjadi antara Rangga dan Aisyah itu sepenuhnya karena keinginan mereka berdua ya, yang pengen muncul biar reader gak muak sama Adam hahaha 😀😀


__ADS_2