
Setelah makan malam bersama dan mengantar Rangga pulang yang di ikuti Ali untuk tidur di rumah Eka.
Rara kembali ke kamar dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk bersih.
Adam yang menuggu Rara di kamar sambil bermain handphone pun menghentikan kegiatannya saat melihat sang istri datang. Pria itu meletakkan HP nya ke nakas.
Adam mengeser tubuhnya yang bersandar pada kepala ranjang lebih ke samping, agar Rara bisa duduk di depannya.
"Rangga sudah pulang?" Tanya Adam pada Rara yang sedang mengelap dadanya dengan handuk hangat, karena Adam memang tidak boleh mandi dulu.
Tadi Adam memang langsung ke kamar begitu mereka makan malam.
"Sudah."
"Ali jadi ikut Rangga?"
"Jadi," jawab Rara sambil memeras handuk putih yang dia pegang setelah menyelupkan kedalam baskom.
Ali memang tadi sempat izin pada mereka berdua kalau mau tidur di rumah Eka, sang nenek dan Rara tidak mengizinkan karena di rumah ada Adam. Rara pengen mereka kumpul bertiga. Tapi anak keras kepala itu ngambek dan memaksa, membuat keduanya akhirnya mengizinkan.
Dan Rangga juga setuju kalau Ali tidur di rumah Eka, supaya dia tidak tertular penyakit sang papa, karena kasihan Rara kalau sampai Ali ikutan sakit. Karena sang mama harus menjaga anaknya sendiri sedangkan Adam mesti kembali bekerja.
"Maafkan aku Ra," lirih Adam.
Rara yang mendengar suara Adam pun menghentikan kegiatannya mengelap jemari tangan Adam, menatap wajah sang suami hingga membuat tatapan mereka saling beradu beberapa saat.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena keegoisan ku yang jarang pulang ke rumah, sehingga aku tidak bisa memenuhi hasrat mu setiap saat."
Rara terseyum, kemudian menunduk, "mas memikirkan kata-kata Rangga tadi?" Tanya Rara sambil melanjutkan aktivitasnya.
"Hem."
"Gak usah di pikirkan. Aku senang kamu pulang ke rumah meski kita tidak tidur bersama. Buat aku, kamu pulang saja sudah cukup, bisa mengobati rasa rindu ini," jujur Rara.
__ADS_1
Adam menarik nafas berat, ada rasa bersalah dalam hatinya saat dia melihat Rara begitu telaten dan sabar menghadapi segala sikap egoisnya, dan ada persamaan berdosa yang begitu besar karena ada nama wanita lain di hatinya. Perempuan yang dia cintai hingga detik ini.
Adam ingin menggantikan nama Maelin dengan Rara di hatinya, namun lagi-lagi dia tidak bisa memaksa hatinya untuk mencintai sang istri. Namun tidak bisa, hatinya terasa kosong dan hampa, hanya ada rasa kasih untuk sang istri disana, tanpa ada cinta.
Hati Adam terasa sesak ketika harus menerima segala kebaikan Rara tanpa dapat membalasnya. Adam memejamkan matanya, mencoba menepis rasa sedihnya dan rasa bersalah.
"Mas," Rara mengelus pipi Adam yang di tumbuhi rambut halus karena belum sempat di cukur dengan jemari lentiknya.
Membuat Adam membuka mata dan menatap wajah sang istri yang berada di dekat wajahnya. Mata mereka beradu, saling mengunci.
"Kenapa kamu sedih? Aku tahu kamu sibuk dan tidak bisa pulang setiap waktu. Aku maklum dan tidak masalah, asal kamu baik-baik saja disana. Tidak usah kamu pikirkan kata-kata bang Rangga tadi," Rara berkata sambil tersenyum, menunjukkan pada Adam jika dia memang baik-baik saja, Adam tidak perlu cemas.
Adam menarik jemari Rara dari wajahnya dan menggegam jemari kecil itu, lalu membawanya ke bibir untuk menciumnya, "makasih Ra, makasih atas pengertiannya dan perhatian kamu pada ku," jujur Adam,
Walau aku tak bisa membalasnya, maaf. Kata hati Adam.
"Makasih juga kamu sudah setia pada ku hingga detik ini," lanjut pria itu.
Semoga suatu saat kamu bahagia bersama pria yang kamu cintai dan mencintai mu, kata Adam yang hanya mampu terucap dalam hati dan tidak di ketahui Rara.
"Sama-sama mas, aku juga bersyukur punya suami kamu. Meski kita berpisah tapi kamu tetap setia pada ku," Rara menepukan punggung tangan Adam dengan tangannya yang satu lagi.
Adam berusaha mengungkapkan rasa sayang di hati untuk Rara, untuk orang yang berusaha dia bahagiakan meski sulit. Meski harus mengalami perang batin, antara tangung jawab dan perasaan.
Jujur saja Adam begitu sakit dan tersiksa oleh semua kejadian setiap dia bersama Rara, ingin dia melepaskan wanita itu agar bahagia dengan pria lain, namun bayang-bayang Ali selalu menghantuiku setiap dia hendak menjatuhkan kata talak untuk istrinya, terlebih sampai saat ini Maelin tidak pernah memberi kabar padanya.
Namun untuk membuka hatinya pada Rara juga begitu sulit, bayangkan sang mantan begitu sangat nyata. Maelin yang menangis histeris saat mendengar Adam di jodohkan membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa, sampai akhir Adam mengucap janji akan menikah Maelin begit bercerai dengan Rara untuk menenangkan perempuan yang begitu dia cintai.
Adam meminta Maelin menunggu selama tiga bulan untuk dia menceraikan Rara, tapi nyatanya tidak berhasil. Satu bulan setelah malam pertama mereka Rara hamil, membuat Adam terbelenggu dan tidak bisa berpisah.
Kekecewaan yang Adam berikan membuat Maelin pergi meninggalkan dia begitu saja tanpa kata. Rasa bersalah terhadap pacarnya itulah yang membuat papa Ali setia menunggu sang pacar datang kembali dan tak berhenti mencarinya.
Seolah hanyut dalam sentuhan Adam, Rara pun menyusupkan kedua tangannya di bawah lengan Adam, memeluk tubuh maskulin yang selalu dia rindukan, mempererat pelukan mereka berdua, menautkan kedua tangannya di belakang punggung Adam, lelaki yang telah mengambil hatinya dan cintanya selama ini. Rara memejamkan mata, menikmati pelukan dari sang suami dalam diam. Hingga nafas mereka teratur karena larut dalam dekapan satu sama lain yang membuat keduanya tertidur dengan posisi bersandar.
****
__ADS_1
Setelah dua hari demam, menjelang hari ketiga Adam sudah membaik. Dan sekarang dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Seperti halnya mandi, karena
dua hari Rara tidak mengizinkan dirinya menyentuh air. Untuk membersihkan badan, Rara hanya mengelap tubuh Adam dengan handuk hangat saja.
Sekarang setelah mandi dan dan keramas rasanya lebih fresh dan ringan.
Dengan tubuh bagian bawah yang masih terbungkus handuk putih, Adam mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Sisa-sisa air juga sinar matahari sore yang masuk menerobos jendela kamarnya menerpa wajah putih Adam, membuat wajah itu terlihat tampak bersinar sehingga ketampanan menjadi maksimal.
Rara yang duduk bersandar di atas ranjang menghentikan aktivitasnya membaca buku, beralih menatap wajah tampan sang suami.
Dada Rara berdegup kencang, terhipnotis oleh Adam, Perempuan itu menghela nafas berat untuk menetralkan detak jantung agar tidak sesak nafas.
Aksi Rara tak luput dari pandangan Adam, hingga mata mereka saring berada beberapa menit. Netra mereka saling terkunci.
Ada getaran aneh dalam tubuh Rara, yang membuat ibu satu anak itu meletakkan bukunya ke atas kasur begitu saja, lalu melangkah kakinya mendekati Adam yang berdiri mematung, mengawasi gerakan sang istri dengan manik hitamnya.
Jemari lentik Rara menarik handuk putih yang kini sudah terkalung dileher Adam, membuat pria berusia tiga puluh tiga tahun itu menunduk tubuhnya hingga wajah mereka berdekatan
Rara menangkupkan pipi Adam dengan kedua tangannya, lalu mengecup bibir itu dengan bibirnya, membuat aliran listrik menyengat tubuh Adam yang berubah menjadi kaku akibat ulah sang istri.
Sadar dengan tingkahnya yang tidak tahu malu, Rara melepaskan ciumannya itu menarik diri dari hadapan Adam, namun terlambat, Adam menarik pinggang Rara, hingga tubuhnya semakin merapat pada tubuh Adam yang setengah telanjang.
Adam menekan bibirnya pada bibir Rara, membuat kecupan itu menjadi ciuman ringan, sebelum akhirnya Adam menghentikan kegiatannya itu.
Adam menarik wajahnya menjauh dari wajah Rara, menatap wajah putih yang bersemu merah karena malu. Menelisik manik mata hitam bak bintang kejora yang berkedip indah dengan bulu mata yang tebal dan lentik.
Rara yang tidak kuasa menatap mata Adam, memilih menuduh, menyembunyikan wajah merahnya juga detak jantung yang tak beraturan. Membuat Adam terseyum.
Kemudian, jemari lentik pria itu mengangkat dagu Rara mengangkat wajah itu, hingga mata mereka kembali bertemu dan saling mengunci. Adam mengalihkan pandangannya pada bibir pink Rara, bibir penuh dengan aroma strawberry yang selalu menggodanya lalu menjatuhkan bibirnya disana, mengulum, menggigit dan menyesap, mencium Rara untuk kedua kalinya, dan kali ini lebih dalam dan lebih lama dari yang pertama. Begitu pun Rara, dia mengalungkan tangannya pada leher Adam, dan membalas ciuman itu dengan sangat mesra dan penuh cinta.
Ciuman mereka terhenti saat terdengar handphone Adam berbunyi. Kedua memalingkan wajah menatap benda hitam diatas nakas, yang menyala menampilkan sebuah nomor.
__ADS_1
****
****Hayo siapa lagi itu yang telpon****? Ganggu saja.