
Selama liburan Elisa memperlakukan Rara dengan sangat baik. Istri Adam benar-benar di manjakan oleh istri Anders. Mereka bersenang-senang sepanjang hari.
Berbagai hal mereka lakukan bersama, mulai shopping, joging, nonton, ke salon, menyaksikan beberapa acara kebudayaan sampai ikut bermain bersama, berjemur bahkan Elisa juga mengajak Rara menyelam, menyaksikan indahnya alam bawah laut pulau Dewata.
Tentu saja Elisa yang sudah pernah ke Bali beberapa kali tahu dimana tempat yang pemandangannya bagus dan layak di kunjungi oleh Rara. Yang jelas tiada tempat yang tidak mereka singgahi.
Semua hal sudah mereka lakukan, namun kebahagiaan Rara masih ada yang kurang yaitu tidak adanya Ali bersama dirinya. Sebagai seorang ibu yang berpisah dengan anak apalagi saat dia sedang bersenang-senang tentu membuat Rara kepikiran terus, Terlebih mereka berdua tidak pernah pisah terlalu lama.
Rara yang selesai sholat ashar menatap sendu handphone miliknya yang tergeletak di atas kasur. Rasa rindu kepada putranya sudah tak terbendung lagi, namun dia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk bertanya kabar tentang Ali.
"Jika kangen telpon saja."
Suara Elisa membuat Rara terkejut, refleks prempuan itu mengelus dada sambil istighfar, "ngagetin aja sih!" Omel mama Ali pada Elisa yang bersandar di tengah pintu sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kayak jelangkung aja kamu ini kalau datang tiba-tiba, gak kasih kabar dulu," lanjut Rara.
Elisa mencebik. "Bukan aku yang datang tiba-tiba, tapi kamu yang kebanyakan bengong. Aku sudah memanggil mu sampai mulutku berbusa tapi kamu diam saja, aku juga sudah mengetuk pintu sampai jari-jari ku keriting tetep saja tidak ada jawaban. Gak tahunya kamu lagi bengong. Ngelamunin apa sih? Ajak Napa biar bisa melamun sama-sama kita?"
Elisa melangkah kan kakinya masuk ke kamar Rara, kemudian duduk di tepi ranjang.
Rara yang masih duduk di lantai lalu berdiri, mengambil sajadah yang barusan dia gunakan lalu melipatnya, berpindah duduk ke atas kasur, melepaskan mukena yang masih dikenakan kemudian melipatnya, lalu menaruh peralatan sholat itu di nakas.
"Aku kangen Ali, tapi gak tahu harus telpon siapa buat tanya kabar?" jujur Rara dengan wajah sendu.
Rara takut jika dia telpon maka semua orang akan marah padanya, menyalahkan dirinya yang pergi tanpa pamit suami dan karena dia menghilang tiba-tiba. Karena itu Rara yang di hari kedua hendak mengaktifkan handphone nya merasa ragu-ragu sehingga membiarkan alat komunikasi biru mati hampir satu Minggu.
Bagaimana pun juga Rara sadar jika dia tinggal didekat mertua dan meskipun Eka dan Syaputra sayang padanya, tapi tidak menutup fakta jika Adam adalah putra kesayangannya mereka. Tentu di bandingkan dengan Rara kedua akan lebih membela Adam. Karena darah lebih kental dari air.
Rara yang semula menghilangkan untuk memberi pelajaran pada Adam agar lebih menghargai dirinya kini berujung tidak berani pulang ke rumah. Bukan hanya tidak berani pulang bahkan Rara pun tidak berani mengaktifkan handphonenya karena takut di marah oleh semua orang.
Beruntung jika Adam mau mencari dan memaafkan dirinya, tapi bagaimana jika Adam malah marah dan mencari istri baru? Rara benar-benar bingung juga menyesal di buatnya.
"Kalau gak mau telpon sama suami kamu kan bisa telpon asisten rumah tangga kamu, tanya sama dia?" Elisa memberi usul.
Seketika mata Rara berbinar bahagia, "iya juga ya, kenapa aku gak kepikiran ya."
Kemudian Rara mengambil handphone lalu menekan tombolnya untuk mengaktifkan.
Baru juga aktif beberapa detik handphone Rara langsung berbunyi. Ada banyak pemberitahuan panggilan tak terjawab dan wa yang masuk. Entah siapa saja yang menghubunginya Rara juga tidak tahu, fokus prempuan itu adalah untuk menelpon mbok bertanya tentang kabar Ali.
Maka Rara mengabaikan pesan yang masuk dan mencari nomor mbok dari daftar kontaknya, tapi belum sempat dia menemukan nomor itu, handphone Rara sudah lebih dulu berdering, nama 'mas Adam' tertera di layar kaca menandakan jika lelaki itu sedang meneleponnya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Elisa yang melihat Rara hanya mematung sambil menatapnya seolah minta pendapat.
"Mas Adam telpon," lirih Rara.
"Ya udah diangkat."
"Tapi..."
Belum selesai Rara berbicara tangan Elisa mengambil handphone dari tangan Rara lalu menggeser bulatan hijau yang membuat panggilan langsung tersambung.
Rara mencoba merebut handphone itu dari tangan Elisa, namun seketika gerakan Rara berhenti di udara saat mendengar suara yang keluar dari benda hitam itu.
"Mama!" Suara Ali memanggilnya.
"Ali!" Balas Rara.
Seketika air mata jatuh ke pipi. Rasa rindu kepada Ali mendadak membubung tinggi di udara, namun ada juga rasa lega. Rara merasakan perasaan asam dan manis yang bersamaan, membuat dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa selain hanya bisa menangis.
Elisa memberikan handphone itu pada Rara. Membiarkan ibu dan anak itu melepas rindu.
"Ali!" Panggil lirih Rara, dengan suara serak.
Seketika Elisa mengeleng, menghapus air mata Rara dengan jemarinya, memberi tahu, "Rara jangan menangis, nanti Ali ikut sedikit."
Ali yang terlanjur merindukan Rara langsung memberondong pertanyaan kenapa sang mama pergi dan tidak pulang.
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Suara batuk Ali yang menjeda Kalimatnya membuat wajah Rara seketika memucat, dia panik juga sedih.
"Ali sakit?"
"Hm."
"Iya sayang, kamu sakit?"
"Iya, makanya mama cepet pulang." Ali menangis.
Rara tidak dapat membendung air matanya, diapun ikut menangis. Hatinya serasa di remas-remas saat mengetahui putranya sakit. Perasaan marah, sedih, benci menjadi satu. Namun tidak tahu pihak mana yang pantas menjadi pelampiasannya. Adam kah? atau dirinya sendiri?
__ADS_1
Membuat Elisa mengambil alih pembicaraan, menenangkan Ali yang sedang menangis, mengatakan jika Rara akan segera pulang begitu urusannya selesai.
"Mama janji kan?" Tanya Ali
Belum sempat Elisa menjawab panggilannya itu sudah berakhir duluan, Ali yang mengakhiri.
Elisa menatap handphone itu sejenak, kemudian kembali di non-aktifkan dan meletakkan di kasur. Kini istri Anders beralih menenangkan Rara yang masih sesegukan.
"Ali sakit El, aku harus gimana sekarang? Anak ku sakit?" Tangis Rara di bahu Elisa.
Elisa memeluk Rara, mengelus punggungnya, menenangkan sang sahabat.
"Aku gak tahu gimana cara mas Adam merawatnya, kenapa anak ku bisa sampai sakit El? Kenapa mas Adam menyakiti anak ku? Aku gak bisa seperti ini El, aku harus menjemput Ali."
"Cup, cup, cup. Tenangkan diri mu jangan menangis. Kita berkemas, kita pulang besok pagi dan kita jemput Ali."
"Hem," Rara mengangguk.
"Berkemas lah. Aku akan keluar untuk berkemas sekaligus pesan tiket pesawat," ucap Elisa sambil beranjak dari duduk dan berjalan keluar kamar Rara.
Rencana mereka untuk nonton sore ini akhirnya gagal. Diganti dengan berkemas-kemas untuk pulang ke Pekanbaru esok pagi.
*
Elisa yang sudah selesai berkemas hendak ke belakang menemui Mbak Ida, pembantu yang menjaga villa miliknya guna memberitahu jika dia dan Rara akan pulang ke Pekanbaru baru besok pagi, tapi baru di ujung tangga lantai dua mengernyitkan dahi heran saat melihat mang Dadang, suami mbak Ida dari pintu depan masuk sambil ngomel-ngomel tidak jelas.
"Ada apa mang?" Tanya Elisa, karena tidak biasanya mang Dadang bersikap ramah dan sopan.
"Itu nya, ada petugas PLN yang datang kemari. Katanya ada yang laporan jika listrik di villa kita ini sedang bermasalah dan dia minta datang kesini untuk memperbaiki."
"Tapi listrik kita baik-baik saja kan mang gak ada masalah? Jadi siapa yang lapor?"
"Itulah nya, saya juga tidak tahu. Tadi saya sudah bilang kalau listrik kita tidak ada masalah tapi mereka tidak percaya. Saya suruh cek penelponnya mungkin salah villa, bukan disini tapi di tempat lain tapi mereka tidak percaya, kekeh maksa dan mengatakan jika alamatnya memang villa kemuning ini, tapi giliran saya sudah bukain gerbang, saya suruh masuk dan cek di dalam, baru sampai halaman depan bilang kalau salah alamat. Saya kan jadi kesal," curhat mang Dadang.
Elisa mengulum senyum, "ya sudah mang gak apa-apa, biarkan saja mereka pergi. Gak usah di bawa emosi nanti cepet tua. Asal lain kali mang Dadang hati-hati saat menerima tamu. Takut yang datang sekawanan perampok atau mata-mata Terios."
"Iya nya, saya paham. Tuan juga sering mengingatkan begitu. Kalau gitu saya permisi dulu ya nya, mau kerja lagi."
Elisa mengangguk, sambil melambaikan tangan mempersilahkan mang Dadang pergi.
Sedangkan Elisa lanjut pada tujuan awal, mencari mbak Ida.
__ADS_1
****