Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 79. Berkunjung


__ADS_3

Menyematkan tas Spiderman Ali di bahunya, Rara menuntun jemari itu keluar kantor. Mereka berdua berjalan menuju dimana motornya parkir.


Rara sudah izin pada kepala sekolah dan kurikulum, jika dirinya akan pulang begitu selesai kelas, karena dia sudah janji pada Adam untuk berkunjung ke rumah sang ibu.


Sebenarnya Rara enggan pergi kesana kali ini, karena kalau di rumah orangtuanya mau tidak mau Rara harus menjadi kacung Adam lagi, jika tidak tentu ibunya akan marah lantaran merasa Rara tidak berbakti pada suami.


Meski seminggu ini hubungan dia dan Adam semakin membaik ketimbang dulu tapi hati Rara masih bimbang. Katakanlah Rara plin-plan, kadang baik, kadang tidak, kadang hangat, kadang dingin, kadang perhatian, kadang cuek.


Mau bagaimana lagi. Kalau dia harus bersikap cuek dan dingin terus pada Adam juga kadang hatinya tidak tega melihat kesungguhan pria itu untuk memulai hubungan mereka dari awal lagi, memperbaiki semua kesalahan dia. Namun jika dia baik pada Adam kadang dia jengkel dan kesal sendiri saat mengingat apa yang sudah Adam lakukan padanya selama ini. Lantaran itu semua Rara memilih menjauh dari Adam demi menjaga hati dan perasaannya juga aktivitas yang membuat dia harus menempel pada pria itu.


Meski begitu, berapa kali Rara menolak permintaan Adam, sebanyak itu juga suaminya membujuk Rara suapaya mau pergi mengunjungi orang tuanya. Akhirnya Rara pasrah mengikuti permintaan Adam. Toh sudah lama juga dia tidak main ke rumah sang ibu.


Adam tidak bisa menjemput ke rumah. Karena jarak dari rumah ke tempat sang ibu itu tiga jam perjalanan menggunakan mobil, jika Adam menjemput Rara dan Ali dulu tentu suaminya akan kelelahan, karena itu Rara mengusulkan jika dia dan Ali pergi naik travel saja dan mereka bertemu di gang menuju desa tempat orang tua Rara.


"Gak usah bawa baju sayang. Nanti biar aku yang belikan baju ganti buat kamu dan Ali.


Kamu gak usah bawa apa-apa, nanti oleh-oleh buat ibu sama mbak Lani juga biar aku yang belikan. Kamu pergi bawa badan saja," pesan Adam saat tadi pagi menelpon Rara untuk kesekian kalinya guna memastikan jika sang istri jadi pergi mengunjungi Ratna.


"Ya, makasih," jawab Rara sebelum obrolan mereka berakhir.


Beruntung jika hari Jum'at jadwal Rara mengajar berakhir jam sebelas, sehingga dia bisa langsung pulang untuk siap-siap juga makan siang dulu, sebelum travel yang dia pesan datang menjemput jam satu siang nanti.


Saat Rara sedang menunggu travel yang dia pesan datang, tiba-tiba terdengar notifikasi di HP nya, menandakan jika ada pesan masuk.


Rara membuka aplikasi WA dan membaca pesan yang di kirim kan Adam padanya.


Bibirnya tersenyum. Geli rasanya membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan sekarang.


Sehingga Rara memilih membalas pesan itu,. ketimbang membuat Adam disana bingung dan malu-maluin.


****


Selesai shalat Jum'at Adam langsung pergi ke mall untuk mencari baju ganti untuk Rara dan Ali nanti.


Adam masuk ke dalam butik khusus pakaian muslim buat Rara.


Dia memilah milih baju yang cocok untuk sang istri. Hingga pilihannya jatuh pada dua buah gamis sederhana dan tiga kaos lengan panjang yang tampak casual.


Meskipun Rara berhijab tapi penampilannya selalu modis sehingga tidak menyulut ada saat memakai baju untuk sang istri. Tak lupa Adam juga membeli lima hijab instan untuk Rara agar memudahkan ketika wanita itu menggunakannya nanti.


Selesai dengan pakai Rara, Adam kembali masuk ke pakaian anak-anak. Untuk mencarikan baju ganti Ali. Berbeda dengan Rara, Adam membeli baju ganti Ali lumayan banyak.


Selain karena dia jarang membelikan baju untuk putranya, model baju yang lucu dengan karakter kartun kesukaan anak lelakinya itu membuat Adam khilafah. Sehingga papa Ali membeli baju untuk anak lebih dari satu lusin dengan berbagai model tentu saja.


"Apa lagi yang kurang ya?" Guman Adam saat dirinya keluar dari toko baju anak-anak.


Adam mikir apalagi kebutuhan anak dan istrinya yang belum dia beli, hingga tatapan Adam jatuh pada sebuah toko underwear.


Seulas senyum tercetak di bibirnya ketika memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk Rara.


Dengan menekan rasa gengsinya, Adam memberanikan diri masuk ke toko khusus pakaian dalam untuk mencari kebutuhan sang istri.

__ADS_1


"Mau mencari apa pak?" Tanya seorang wanita muda menghampiri Adam.


"Hem...." Adam ragu untuk menyebutkan apa yang dia butuhkan.


"Saya mau membeli itu dan itu untuk istri saya," akhirnya dia mengucapkan kata ambigu itu dengan wajah merona.


Perempuan berusia di awal dua puluhan yang berdiri di depan Adam pun mengulum senyum.


"Maksud bapak Itu dan itu, itu Bra dan panties?" Tanya sang SPG menebak pikiran Adam.


"Nah, iya itu."


Ada kelegaan di hati Adam saat SPG itu tahu maksud hatinya.


"Ukurannya berapa pak?"


"Ukuran?" Adam membeo.


"Iya, ukuran underwear istri bapak?"


Layaknya orang bodoh saat SPG itu bertanya padanya, karena Adam sama sekali tidak tahu betapa ukuran sang istri.


"Saya tanya istri saya dulu ya kak."


Adam sempat berfikir. Rara pasti terharu jika dia memberikan underwear kepada sang istri. Tapi niatnya niatnya untuk memberi surprise pada Rara gagal total karena ukuran.


Me:


Ra berapa ukuran Bra dan Panties kamu berapa? Mas mau beli tapi gak tahu ukurannya?


Tak seberapa lama pesan terbalas.


My Wife:


Ukuran XL untuk Panties dan nomor 38a untuk ukuran Bra. Tapi kalau gak biar aku bawa dari rumah saja.


Me:


Gak usah, biar mas belikan saja buat kamu. Kalau ukuran Ali Berapa?


My Wife:


Bilang saja untuk anak usia enam tahun. Nanti yang jual juga tahu.


Me:


Ok.


Me:


Thank you ❤️

__ADS_1


Adam mengantongi kembali handphonenya sebelum menghampiri SPG yang masih setia menunggunya untuk menanyakan ukuran.


Selesai dari berbelanja baju, Adam pergi ke sebuah toko oleh-oleh yang menjadi langganan dia selama ini.


Adam membelikan bikang Ambon untuk ibu mertua dan Lani kakak ipar Rara yang tinggal di sebelah ruang sang ibu, juga beberapa makanan lain untuk keponakannya nanti.


****


Pukul lima sore Rara dan Ali tiba di lokasi yang telah Adam janjikan dan saat Rara sampai Adam sudah menunggunya.


"Sudah lama mas?" Tanya Rara saat sudah mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang sebelah Adam.


"Belum. Paling baru tiga puluh menit yang lalu," jawab Adam.


"Kita langsung ke rumah ibu kan?" Tanya pria itu lagi.


Rara mengangguk, "iya. Aku sudah kangen sekali sama ibu."


"Aku juga sudah kangen sama mbah Uti. Kangen pengen minta gendong."


Ali yang duduk di kursi belakang pun ikut angkat bicara.


"Mbah Uti sudah sepoh, jangan minta gendong lagi. Kan kamu sudah besar."


Rara menoleh kebelakang, guna mengingatkan sang anak.


"Tapi Mbah Uti masih kuat kok gendong aku ma," protes Ali tidak terima.


Karena jika dia main ke rumah Ratna. Setiap pagi ibunda Rara selalu mengendong Ali untuk di ajak jalan-jalan ke sawah.


"Itu kan dulu saat kamu masih kecil. Sekarang Ali sudah besar jadi jangan minta gendong sama Mbah lagi. Kan malu, sudah besar kok masih di gendong juga."


"Tapi kalau aku main di sawah nyari keong masih boleh kan ma?"


Rara meng iya kan permintaan sang putra.


Asal gak kamu acak-acakan saja tanaman padi orang gara-gara kamu nyari keong di sawah-sawah, pikir Rara.


Sepanjang perjalanan ke rumah orang tuanya mereka bertiga asik bercerita di dalam mobil.


****


"Mas Alan!" Teriak Rara saat melihat lelaki yang dia rindukan.


Rara langsung lari dan menghampiri pria berkaos merah yang berdiri di teras rumah sang ibu.


"Aku kangen sama mas," jujur Rara manja.


****


Hayoo...siapa itu Alan???

__ADS_1


Yang belum kasih vote masih di tunggu ya.


Jangan lupa kasih bunga yang banyak buat Rara.


__ADS_2