Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 37. Pusing


__ADS_3

Rara menangkupkan kedua tangannya dan meletakkan kepalanya di atas meja kaca ruang tamu.


Membiarkan leptop di depannya tetep menyala, buku-buku matematika juga sudah di buka dan berserah di depannya.


Dalam hati Rara sibuk mengutuk dan menyumpahi Kamal yang membuatnya harus lembur setiap malam. Begitu benci istri Adam pada lelaki beranak tiga yang bersetatus teman kerjanya itu.


Penolakan Rara pada cinta Kamal membuat lelaki itu dendam padanya, sehingga saat masuk semester dua tiba-tiba Kamal meminta Rara tukar jadwal. Dimana Rara yang semula mengajar di kelas satu kini harus mengajar di kelas tiga.


Flashback on.


Setelah jam istirahat ke dua.


Rara yang selesai makan siang memilih membaca buku perpustakaan sambil menemani penjaga perpustakaan yang duduk sendirian.


Ramlan yang tidak tahu dari mana menghampiri Rara yang tengah asik dengan bukunya.


"Bu Rara, saya mau kita tukar jadwal," ucapnya tiba-tiba.


Membuat Rara cengo seketika, "Maksud bapak tukar jadwal gimana? Kelas berapa yang mau di tukar jadwalnya. Biar bisa saya cocokan apakah tumbuhan dengan jam yang lain atau tidak," jelas Rara yang tidak tahu maksud Kamal.


Mengingat jadwal penuh sepanjang Minggu, tentu kalau mau tukar jadwal harus mengubah hampir semua jam mengajar Rara bukan.


"Semuanya," jawab Kamal tegas tanpa keraguan.


"Semuanya, maksud bapak?"


Rara yang tidak paham mencoba berpositif thinking meski perasaannya jadi tidak enak.


"Iya, kita tukar jadwal. Ibu yang ngajar kelas tiga dan saya yang ngajar kelas satu."


Rasanya kepal Rara di sambar petir seketika. Bagaimana bisa Kamal bersikap seperti itu.


"Gak bisa begitu dong pak, kan biasanya kalau tukar jadwal itu nunggu tahun ajaran baru," Rara menolak usulan gila Kamal yang sangat tidak masuk akal.


"Gak juga Bu Rara, tukar jadwal tidak harus menunggu kenaikan kelas. Saat semester juga bisa."


"Tapi perangkat pembelajaran saya sudah saya bikin selama setahun pak."


"Kalau begitu ibu bikin lagi saja yang baru untuk semester ini."


"Apa?" Rara shock seketika.


Bikin yang baru, guman hati Rara.


Sebenarnya Kamal waras gak sih, bukan kah dia tahu membuat RPP, prota, Promes, lembar penilaian, lembar observasi, dan segala macam kegiatan pembelajaran siswa itu tidak mudah.


Dan sekarang Kamal bilang dia harus membuat lagi. Hallo, ini bukan hanya untuk satu kelas saja, tapi harus delapan kelas. Apakah Kamal itu gila atau lupa ingatan, monolog Rara dalam hati.


Tidak peduli dengan kebingungan yang tampak jelas di wajah Rara, Kamal kembali berucap, "Sekalian yang ngasih pengayaan dan les tambahan pada anak kelas tiga semester ini juga Bu Rara. Jangan lupa itu Bu," ujar suami Bu Dewi sialan itu kemudian berlalu pergi.


Meninggalkan Rara dengan ke dongkolan sebesar gunung di hatinya.


Flashback off.


"Hais!"


Rara yang tadi meletakkan kepalanya di meja kini duduk tegak sambil mengacak kepala yang tidak gatal tapi pusing.


Besok pagi dia mengajar di kelas XI IPA 2, dengan materi trigonometri. Bagian pembuktian rumus-rumus.


Namun Rara tidak tahu, kenapa bisa dapat angka satu pada bagian rumus sin cos tan yang ada di buku nya.

__ADS_1


Rara memang terbiasa memahami dan mempelajari dulu materi yang besok akan di sampaikan pada siswanya, mencari contoh soal dan soal latihan yang begitu relevan untuk uji coba kemampuannya anak.


Dan dia akan mengerjakan soal-soal latihan itu sebelum di berikan pada siswanya, suapaya dia bisa memberikan jawaban yang pas serta alasannya ketika ada muridnya yang bertanggung besok.


Karena bagi Rara sendiri mengajar itu tangung jawabnya besar, yaitu dunia akhirat dan ilmu yang dia gunakan juga akan berguna untuk selamanya. Selama siswanya hidup dan menguntungkan nya.


Karena itu Rara tidak mau salah memberikan pengertian yang berujung menyesatkan sang murid.


Lebih baik dia membuang waktu dan berpusing ria Ketimbang bertingkah Sok pintar tapi menyesatkan.


Biasanya jika Rara bingung saat menghadapi materi yang sulit dan dia tidak tahu, mama Ali akan berdiskusi dengan Kamal untuk meminta pendapat atau minta di ajarin, tapi sekarang tidak bisa lagi.


Hubungan dengan Kamal tidak berjalan baik setelah kejadian penglabrakan bu Dewi pada Rara. Dan di sekolah juga sikap Kamal pada dia selalu sinis. Seolah ada dendam di hati Kamal pada istri Adam, yang membuat Kamal selalu berusaha untuk menyiksa Rara secara tidak langsung.


Saking pusing sore itu, Rara sampai tidak menyadari jika Ali sudah datang dari rumah sang kakek. Diantarkan oleh Eka dan Rangga.


"Dia kenapa boy?" Tanya Rangga pada sang ponakan.


Saat begitu masuk rumah di sambut oleh pemandangan kakak ipar yang tampak begitu stres berat.


Ali yang mengandeng tangan Rangga mengangkat bahunya.


"Gak tahu, emang gitu biasanya kalau sore. Suka aneh. Entar kalau aku deket-deket mama langsun teriak. Katanya 'mama lagi kerja Ali jangan di ganggu dulu' gitu," adu bocah itu pada sang Oom.


Rangga mengelus kepala ponakannya lembut, "kasihan, ponakan Oom di marah mama."


"Ya begitulah lah om, nasib anak guru."


Ali mendramatisir keadaan, membuat seolah-olah memang dia beneran teraniaya, membuat Rangga tertawa melihat aksi sang ponakan tercinta.


Rara masih tidak bereaksi dengan adanya dua lelaki beda usia yang terang-terangan membicarakan dirinya di depan mata.


Membuat Rangga yang tidak tega melihat wajah kusut Rara akhirnya turun tangan juga.


"Pusing bang," jawab Rara, sambil matanya menatap leptop di depannya.


"Pusing kenapa?"


Rara mendogak, menatap Rangga yang duduk di sofa depan dirinya.l


"Bikin bahan ajar buat besok. Tapi aku gak tahu kenapa di contoh ada angka dua. Dan angka dua itu dari mana, karena menurut perhitungan dan perkiraan ku harusnya angka satu, buka dua," Rara mengungkapkan apa yang mengganjal dihatinya.


Rangga yang semula duduk, bangkit, berjalan menghampiri Rara, di ikuti Ali yang juga kepo dengan pekerjaan sang mama.


"Mana?"


Tanya pria itu sambil duduk di sebelah Rara dan menarik buku yang tadi Rara tunjukkan menghadap ke arah dirinya.


"Ini!" Rara menunjukkan contoh soal pada materi trigonometri tentang pembuktian rumus.


"Ini emang beneran dua, atau harusnya satu?" Tanya mama Ali.


"Itu beneran dua."


"Dapat dua dari mana?"


Rangga mengambil sebuah pensil dari kotak pensil milik Rara yang ada di atas meja lalu mulai mencoret-coret kertas HVS yang ada di depannya.


Menjelaskan pada sang kakak ipar tuntutan cara pada soal tersebut sampai bisa mendapat angka dua yang Rara tanyakan.


Sedangkan Rara, mengamati dengan seksama setiap gerakan jemari lentik Rangga dalam mengungkapkan isinya dengan cara yang ringkas dan jelas sehingga mudah di pahami oleh otak Rara yang cetek.

__ADS_1


"Paham?" Tanya Rangga di akhir kalimat nya.


Rara mengangguk.


"Kalau begitu coba kamu kerjakan dua soal ini!"


Perintah Rangga sambil menuliskan dua buah soal pada kertas kemudian menyerahkan pada Rara.


Dengan khusyuk Rara mengerjapkan soal-soal itu, sampai beberapa saat dan menyerahkan pada Rangga.


"Beginikan? Betul apa salah?" Tanya istri Adam sambil menoleh pada Rangga.


"Hem, ya bener," jawab sang adik ipar.


Rara terseyum puas.


"Kalau begitu, biar Rara kerjakan soal yang ini dan ini ya, nanti Abang koreksi lagi?" Pinta perempuan berhijab merah itu.


Rangga mengangguk setuju.


Beberapa saat kemudian Rara menyerahkan jawabnya pada Rangga untuk di periksa dan semuanya benar.


Namun cara yang Rara gunakan kepanjangan, sehingga Rangga memberi tahu dan menjelaskan ke Rara dengan cara yang lebih pendek dan simpel. Agar lebih mudah di pahami oleh siswa juga.


"Huh, coba aja Abang kerjanya di dekat sini, pasti Rara Seneng banget," ucap Rara.


"Emang kenapa Ra?"


"Kan Rara Bisa minta ajarin tiap ada materi yang aku gak bisa. Sayang Abang kerjanya jauh sih," kata istri Adam sedih.


"Ya gak apa-apa. Kalau ada materi atau soal yang kamu belum bisa atau bingung, kamu tinggal telpon Abang saja. Nanti Abang bantu buat selesaikan masalah kamu."


"Tapikan tetep saja, kalau sudah balik ke dinas Abang sibuk banget."


Karena Rara tahu, Rangga manusia super sibuk. Begitu banyak laporan tentang pendidikan yang harus dia kerjakan. Bahakan sampai ke kamar mandi Saja kadang adik ipar Rara itu bawa leptop.


"Ya, nanti kamu Abang luangkan waktu sore atau habis isya buat kamu belajar sama Abang. Lagian tumben kamu sampai pusing gini. Biasanya juga slow aja kalau bikin bahan ajar sama power poin."


"Hem, itukah biasanya. Sekarang kan luar biasa."


Rangga mengernyitkan dahinya, kepo setengah mati.


"Biasanya aku belajar sama pak Kamal kalau di sekolah, tentang materi yang aku belum tahu atau kurang paham."


"Nah terus."


Rara pun akhirnya bercerita kepada Rangga tentang apa yang terjadi antara dia dan wakil kepsek itu, hingga membuat dia harus kerja rodi setiap hari begini.


Rangga mengangguk paham dengan apa yang di rasakan sang kakak ipar.


"Sekarang gak usah kuatir. Abang akan selalu bantu kamu."


Rangga menepuk bahu Rara untuk memberi semangat dan membesarkan hati.


"Makasih," jawab Rara tulus.


****


Maaf Rara kemarin tidak update, selain karena gak kebagian HP, kemarin seharian juga sibuk.


Sekarang jangan lupa beri Rara dan Rangga hadiah ya!

__ADS_1


Boleh bunga, boleh juga kopi.


__ADS_2