Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 111. Kecewa


__ADS_3

Sedangkan di meja, di mana Aisyah dan Rangga berada.


"Kamu tidak ingin mengajak ku berdansa? Seperti mereka?" Tunjuk Aisyah pada beberapa orang di dance floor.


"tidak," tolak Rangga tegas.


"Kenapa?"


Rangga menoleh, menatap Aisyah.


"Aku bingung jika berdansa dengan mu, bagian mana yang harus aku pegang.


Ku pegang pundak mu? kamu akan menuduh ku merendahkan mu. Ku pegang lengan mu? Kamu akan menuduhku melakukan penganiayaan terhadap mu. Ku pegang punggungnya mu? Kamu akan menuduh meraba tubuh mu. Ku pegang pinggang mu? Kamu akan menuduh ku mencari kesempatan. Kupegan b*kong mu? Kamu akan menuduh melakukan pel*cehan s*ksual. Bukan kah lebih baik kita duduk saja?"


Aisyah yang mendengar jawaban Rangga seketika tertawa mendengar penolakan itu.


"Aku tak bisa berkata-kata lagi," aku gadis berjilbab itu.


Rangga tersenyum mendengarnya, "aku harap itu pujian untuk ku!"


Aisyah mengangguk setuju.


"Jika tidak mau berdansa kenapa terus memperhatikan mereka?"


Aisyah menunjukkan Adam dan Rara dengan dagunya.


"Hemm.... Aku hanya bahagia melihat dia bahagia."


"Seberapa besarkah cinta mu padanya?"


"Aku tidak tahu, yang jelas tidak seluas dunia dan sedalam samudera."


Kembali lagi Aisyah tertawa mendengar Jawaban Rangga.


"Mungkin kalian memang tidak berjodoh. Bagus kamu cari yang lain saja daripada menunggu yang tidak pasti."


"Mungkin menerima tawaran mu salah satu jalan keluar yang terbaik."


"Mungkin saja. Jadi gimana? Mau pergi kencan dengan ku?" Tanya ulang Aisyah.


"Bukan kah aku sudah berjanji bakal menjemput mu besok?!"


"Ok. Aku menunggu mu!"


Rangga senang dengan sosok Aisyah yang berfikir terbuka. Tidak gampang sakit hati atau pun cemburu buta.


Gadis itu mampu mengungkapkan perasaannya, namun dapat menekan rasa itu hingga tidak mempengaruhi logikanya.


Mungkin memang Aisyah yang telah Tuhan siapkan untuknya, supaya dia tidak menganggu hubungan Adam lagi. Tidak selalu mengharap Rara juga mengalihkan perhatiannya dari Rara dan Ali, pikir Rangga.


Rangga menghela nafas. Mengosongkan paru-paru bersama dengan beban yang menghimpit dadanya hingga sesak.


Kemudian adik Adam menoleh pada Aisyah yang setia menemaninya.


"Mau makan?" Tanya pria tampan itu.


"Boleh."


Rangga mengulurkan tangannya pada Aisyah, membuat cewek itu memberikan jemarinya.


Rangga mengenyam jemari lentik Aisyah, mengajaknya pergi dari kursi itu.


*


Saat tengah asik-asiknya berdansa tiba-tiba perut Rara berbunyi.

__ADS_1


"Laper?" Tanya Adam.


"Rara mengeleng. Sebenarnya gak, cuma gak tahu kenapa bunyi," jawabnya sambil nyengir.


"Mungkin emang cacingnya ngasih kode kalau makanannya tinggal dikit."


Rara kembali memamerkan gigi putihnya.


Sadar, mereka makan tadi sore dan sekarang jam makan malam sudah tiba. Wajar jika perut Rara memberi kode, meski posisi dia belum lapar.


Adam mengandeng tangan Rara menuju meja-meja yang berisi berbagai jenis makanan dan minuman yang di jaga oleh seorang chef.


"Mau coba minum wine?" Tanya Adam saat mereka tiba di sebuah meja penuh gelas kaca berisikan anggur merah.


Rara mengeleng, menolak tawaran sang suami, "aku gak mau mabuk. Lagi pula bukan kah minuman itu haram ya? Karena dia mengandung alkohol? Tapi kenapa di sediakan di sini?" Adam mengangguk.


"Benar. Namun untuk acara jamuan seperti ini wine, selalu disediakan. Meski tidak semua orang menyediakan, tapi ada beberapa pengusaha yang menyediakan."


"Kenapa?"


"Ada kalanya sebagai formalitas saja. Namun ada kalanya juga memang untuk tamu. Karena tamu yang datang bukan hanya mereka yang beragam Islam dan juga bukan hanya warga kita sendiri. Kadang ada juga mereka yang dari barat, Australia, Jepang dan timur tengah. Tentu itu bisa dikatakan untuk menghargai para tamu."


Rara mengangguk.


"Jadi mau minum apa? Soda atau jus?"


"Yang merah itu apa? Selain wine?"


"Jus anggur. Mau?"


Rara meng-iya-kan ucapan Adam.


Adam mengambil segelas jus anggur untuk Rara.


"Gimana? Enak?" Tanya Adam saat Rara menyesap jus anggur yang dia pegang.


Rara mengangguk, kemudian mama Ali berkomentar jika jusnya akan terasa lebih enak lagi jika di tambahin es batu.


"Ada es batunya juga tidak mas?"


Adam pun meminta Rara bertanya pada chef yang berdiri tak jauh dari meja, apakah menyediakan es batu atau tidak.


Beruntung apa yang Rara mau tersedia disana.


Adam meminta Rara memegang gelas miliknya, sedangkan dia sendiri mengambil piring yang ada di dekatnya, lalu mengisinya dengan beberapa menu.


"Coba deh Ra, ini rasanya enak banget, kamu pasti suka?"


Adam meminta Rara yang berdiri di sebelahnya membuka mulut, lalu pria itu menyuapi sepotong udah Krispy yang di celupkan ke mangkuk kecil berisi kecap Inggris.


Rara yang kedua tangannya memegang gelas hanya mengikuti sang suami dengan membuka mulutnya.


"Gimana?" Tanya Adam minta pendapat.


"Enak banget mas, udangnya terasa lembut banget. Aku mau lagi, mas!" Bisik Rara malu-malu.


Adam yang tahu Rara doyan makan menuruti permintaan sang istri untuk menyiapkan sepotong udang Krispy lagi.


Dari udang, Adam ganti menyuapkan bola daging saus pasta pada sang istri dan lagi-lagi Rara bilang itu mantap.


Lalu Adam menyuapi Rara sepotong kimbab berisi tuna dan Rara mengacungkan dua jempol tangannya.


Adam yang sudah berpuluh-puluh kali pergi ke acara pesta tentu sudah hapal dengan berbagai menu yang tersaji di setiap acara-acara jamuan para orang kaya. Dan papa Ali menyuapi istrinya dengan beberapa makanan yang menurut dia sangat enak, meminta sang istri mencoba dan Rara pun sesekali berbisik pada Adam untuk meminta suaminya mengambil lebih makanan yang dia suka.


Hingga tak terasa jika Piring yang dibawa Adam sudah penuh dengan berbagai macam makanan berbeda, membuat keduanya terkikik geli.

__ADS_1


Mau di kembalikan malu, mau dimakan takut tidak habis, akhirnya keduanya hanya dapat saling menyalahkan satu sama lain sambil sesekali menertawakan kehilangannya masing-masing.


Beruntung saat mereka hendak pergi Adam melihat Rain mendekati meja menu, membuat Adam memanggil sang sekretaris untuk mendekatkan.


"Kesini sama siap?" Tanya Adam berbosa-basi sebentar.


"Sama pacar pak."


"Mana pacar kamu, sini aku mau lihat! Bener gak laki-laki yang kamu pacarin kali ini?" Tanya Adam.


Rain menujuk seorang pria tampan dengan setelan jas hitam yang berdiri di dekat meja minum.


"Astaga Rain! Kenapa kamu masih saja terpesona pada ketampanan seorang pria," sesal Adam saat melihat pacar Rain yang sekarang tidak beda jauh dengan pacar gadis itu beberapa bulan lalu.


Rain hanya diam mendengarkan Adam yang mengomentari lelaki pilihannya. Entah kenapa menurut Adam pria pilihan Rain tidak pernah sesuai dengan kriteria Adam dan selalu salah menurut gadis itu.


Dan kenyataannya semua yang dikatakan oleh Adam juga selalu benar. Jika pacaranya tidak benar-benar cinta padanya, bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan Rian untuk memperoleh informasi lowongan pekerjaan di kan Petra atau mereka yang ingin di terima di perusahaan tempat Rain kerja.


Mereka mendekati Rain agar gadis itu mau membantunya bicara pada sang bos agar dirinya bisa bekerja di perusahaan Rain.


Tapi sayang semua itu selalu gagal karena Adam lebih dulu akal bulus para buaya darat itu, dan meminta Rain untuk memutuskan mereka sebelum mereka memanfaatkan Rain dan membuat dia sakit hati.


Meski saat putus tetep saja Rain menangis dan sakit hati, tapi paling tidak jika belum terlalu lama luka yang di derita Rain juga tidak akan terlalu dalam dibandingkan saat dia sudah dimanfaatkan dan mengalami banyak kerugian.


"Kamu tahu Rain, lelaki itu tidak mencintai mu," Adam memberitahu, "Lihatlah, dia bahkan lebih suka mendekati prempuan yang lebih cantik dari mu dan mengajaknya berkenalan ketimbang menyusulmu kesini untuk menjaga mu."


Rain memutar tubuhnya untuk melihat apa yang pacaran lakukan, dan benar apa yang dikatakan oleh Adam, jika kekasihnya sedang berbincang-bincang akrab dengan Monica, bahkan tampak lelaki itu mengeluarkan handphone untuk menyimpan nomor Monica.


Rain yang melihat kekasih serta musuh bebuyutannya itu tertawa dan berbisa basi busuk pun meradang.


Dengan dada penuh amarah Rain menghapiri pacaranya, meski dalam hati dia ingin mencakar pria itu namun wajah Rain tetap menampilkan senyum rupawan.


"Sayang!" Panggil Rain mesra.


Gery pacar Rain menoleh, menatap gadis cantik bergaun pink yang menghampiri dirinya.


"Kalian saling kenal?" Tanya Monica.


"Iya, dia pacar ku, kenapa?" Jawab jujur Rain, sambil mengapit lengannya pria itu, membuat sang pria salah tingkah.


"Benarkah?" Monica tidak percaya, "waow sekali. Ternyata pacar mu dia?" Monica menunjukkan Gery dengan tak percaya, karena tadi Gery bilang dia datang bersama dengan temannya bukan dengan pacar.


Sedangkan Gery yang tidak tahu jika Rain akan jujur mendadak gelisah, dia salah tingkah.


"Kenapa? Kamu merasa jika pacar ku tampan dan mau kamu rebut juga?" Tanya Rain.


"Apa?" Monica terpekik sok kaget.


"Ambil aja, noh bekas ku! Aku udah gak butuh laki-laki seperti dia!" ucap Rain sambil mendorong tubuh Gery hingga bergeser mendekati Monica.


"Selamat tinggal mantan pacar!" Ucap Rian sambil berlalu, meninggalkan Gery yang bengong tidak percaya jika dirinya baru saja di campak oleh gadis yang dia pacari seminggu ini.


"Siapa juga yang mau sama dia," guman Monica sambil bergidik dan pergi meninggalkan pria itu.


Tersadar tidak di terima kiri kanan Gery berlari, mencoba menyusul Rain yang berjalan menuju pintu ruangan.


"Rain, tunggu!" Panggil pria itu saat melihat sang pacar hendak membuka pintu mobilnya.


*****


Menurut kalian mau gak Rain balikan ya?


Kalau ada yang tanya kenapa Aisyah kok tidak tahu malu begitu, Jawabnya bukan tidak tahu malu ya?


Aisyah adalah seorang pilot, dia sudah berteman dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia dengan beberapa karakter dan itu membuat dia jadi berpikir secara terbuka. Menyampaikan apa yang dia rasakan dan mengungkapkan pendapat.

__ADS_1


Salah satunya adalah mengungkapkan jika dirinya memang tertarik pada sosok Rangga.


Selain tuntutan profesi, sifat dan Karakter Aisyah juga di dukung oleh keluarga besarnya yang membiasakan prempuan untuk bisa mengungkapkan pendapatnya setiap keluarganya menghadapi masalah.


__ADS_2