
Setelah shalat subuh Rara tidur lagi. Biasanya tidak pernah seperti itu, kali ini entah kenapa dia tidak semangat buat memulai hari nya sehingga mama Ali lebih memilih kembali masuk ke dalam selimut ketimbang siap-siap untuk jalan-jalan dengan teman-teman yang lain.
Benar kata teman-temannya. Liburan bersama teman dengan membawa anak suami itu tidak enak, tidak bebas apalagi suaminya model Adam yang suka ngatur, membuat Rara berfikir tidur lagi adalah kepuasan yang baik dan bijak.
Saat Rara sedang terbuai mimpi, terdengar seseorang memanggil namanya.
"Ra, bangun Ra! Jangan tidur saja, ini sudah siang. Katanya kamu mau jalan-jalan bareng temen, kok masih molor juga?" Adam mengoyang-goyang bahu Rara membangkitkan kan dirinya.
"Rara masih pengen tidur mas, masih ngantuk," jawab Rara dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Hais, katanya mau jalan-jalan malah masih molor," omel Adam.
"Bangun woy, tuh temen kamu dah pada nungguin, mereka ada di bawah lagi pada sarapan."
"Biarin aja."
"Memang kamu gak mau jalan-jalan bareng mereka? Atau Mau pergi bareng aku dan Ali?"
Mendengar kalimat Adam barusan mata Rara terbuka sempurna, kantuknya langsung bilang.
"Memang mas gak jalan-jalan bareng aku?"
"Gak lah, aku mau pergi berdua bareng Ali. Ngapain juga ngikutin kamu dan teman-teman mu."
Senyum Rara mengembang lebar, seketika ibunda Ali langsung bangun dari tidurnya, kemungkinan mencium pipi Adam yang nganggur di depannya.
Membuat Adam kaget akan tingkah absurd istri nya yang serba tiba-tiba.
"Makasih mas," ucap Rara kemudian turun dari ranjang.
Dengan wajah bahagia Rara pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Adam, masih bengong dengan tangan meraba pipi bekas ciuman Rara.
Perempuan itu, pikir Adam. Kemudian dia tersenyum.
*****
Hari ini Rara benar-benar bebas. Dia bisa bersenang-senang dengan teman-temannya tanpa ada gangguan.
Semenjak tadi pagi, setelah mandi dan sarapan bersama sang suami yang mengijinkan dia pergi jalan-jalan dan bermain tanpa harus direpotkan dengan masalah anak atau apa pun.
Adam bilang, biar dia yang jaga dan mandikan Ali. Rara gak usah pusing mikirin anak, semua biar Adam yang tangani.
Duh, Rara langsung senyum-senyum gimana gitu mendapatkan perlakuan sepesial begini dari sang suami.
Moga sering-sering saja mas Adam mau membantu nya begini ya Allah, doa Rara dalam hati saat suaminya berbaik hati pada dia dan putranya.
Dan Rara juga memilih sarapan di restoran hotel bersama teman-teman kerjanya ketimbang sarapan di kamar bersama Adam, dan Alhamdulillah suaminya juga tidak marah dengan keputusan yang dia ambil.
"Rara gak tidur sama kita?" Tanya mom Ayu, saat mama Ali sudah bergabung di meja makan bersama mereka.
"Gak mom, Rara tidur bareng mas Adam dan Ali saja. Itu kamar nikmati buat kalian bertiga."
"Lha kenapa?" Tanya Ayu.
__ADS_1
"Karena kamar yang suami kak Rara tempati lebih bagus dan lebih luas ketimbang kamar kita mom. Makanya dia gak mau tidur bareng kita, iya kan kak?" Tanya dan jelaskan Rika.
"Kok kamu tahu kalau kamar kakak bagus dan luas? Kamu ngintip ya?" Tanya Rara seraya menodongkan garpu nya ke arah Rika. Karena kenyataannya memang gitu, kamar yang Adam sewa adat suite room, sedang kamar teman-temanmya adalah standar room dan twins room, tentu suasana dan view nya juga beda jauh dari kamar milik Rara yang harga sewanya lebih mahal.
"Kan tadi pagi aku ke kamar kakak, buat bangunin kakak biar gak keenakan tidur. Mentang-mentang di peluk sama suami terus lupa bangun pagi," goda Rika.
"Hais, kamu nih!" Kesel Rara.
"Gak, gak, aku nyariin kakak mau balik charge HP yang aku pinjem kemarin saat di bandara. Dan aku telpon kakak tadi pagi, tapi yang angkat bang Adam dan minta aku nganterin ke kamar kalian, karena kata bang Adam kakak masih tidur. Jadi aku bilang aja suruh bangunin karena temen-temen yang lain udah pada nunggu gitu," Rika menjelaskan.
"Oh..." Rara manggut-manggut ngerti.
Pantes mas Adam bilang temen-temennya sudah menunggu di bawah, ternyata ada Rika datang, batin Rara.
Selesai sarapan nasi goreng, yang menjadi menu sarapan gratis dari pihak hotel, Rara dan semua team guru juga staf SMA Nusantara pergi berkeliling Yogyakarta dengan mengunakan bus. Tujuan pertama wisata mereka adalah taman pintar.
Biasalah namanya juga ibu dan bapak guru, dimana-mana kalau pergi pasti pendidikan yang utama bagi mereka, dan berakhir di Genuk pasir.
Menjelang magrib barulah Rara dan rombongan kembali ke hotel.
"Mama!" Sambut Ali saat melihat sang ibu datang.
Rara langsung memeluk putranya lalu mencium pipi kiri kanan, kening, hidung dan mata hingga membuat bocah itu kegelian akan aksi sang mama.
Melepaskan rasa kangen juga rasa sayang karena seharian tidak berjumpa. Rara hanya sempat video call tadi saat istirahat makan siang dan kala itu Ali masih ada di water Park. Tampak anaknya begitu bahagia bermain bersama sang papa, yang membuat Rara bersyukur juga tenang ternyata Adam merawatnya dengan baik.
"Ali udah mandi belum?" Tanya Rara saat mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Sudah dong ma, kan anak mama sudah ganteng, udah wangi gini," ujar Ali seraya menyenggol sedikit ujung hidungnya sebagai tanda jumawa, membuat Rara gemes pada bocah itu, hingga mencubit hidung mancung putranya, yang gaya songongnya mirip banget sama Adam.
"Papa yang mandiin?" Tanya Rara penasaran dengan apa yang dilakukan sang suami pada anaknya.
Rara kembali memeluk putranya gemes, "iya anak mama udah besar sekarang, udah mandiri, ya kan?"
"Eh tadi gosok gigi dan pakai shampo gak mandinya?"
Ali mengangguk, "pakai ma."
"Terus Ali udah maem?"
"Belum lah. Kan kata papa maem nya nungguin mama pulang dulu."
"Oh ya udah, kalau gitu mama mandi dulu ya baru nanti kita makan malam."
"Ali mengangguk."
"Ma, pinjam HP!" Pinta anak Rara yang seharian tidak main HP.
Rara mengeluarkannya HP dari tasnya dan menyerahkan pada Ali, "Bentar saja ya!"
Ali mengaguk.
"Oh ya Ali, papa kemana?" Tanya Rara karena sedari tadi tidak melihat sosok suaminya di kamar.
"Ada, lagi telponan di teras."
__ADS_1
Rara pun berjalan menuju balkon kamar, dimana Adam berada.
"Mas!" Panggil Rara begitu melihat tubuh suaminya.
Merasa ada yang memanggil Adam yang semula menatap pemandangan kota menoleh kearah Rara.
"Sudah pulang?" Tanya pria itu.
"Iya."
Kemudian Adam mengakhiri telponnya dan berjalan kearah Rara.
Seperti biasa, Rara mencium punggung tangan sang suami saat mereka bertemu.
"Siapa yang telpon?" Tanya Rara kepo.
"Temen. Kamu buruan mandi nanti kita makan malam dia luar, aku sudah lapar," ujar Adam sambil masuk ke kamar dan menyimpan HP ke dalam saku.
"Temen spesial?" Selidik Rara lagi.
Adam menghentikan langkahnya dan menoleh pada sang istri, "temen biasa. Kepo amat jadi orang."
"Aku pikir selingkuhan, habis begitu lihat aku langsung di matiin, kayak takut ketahuan!" Ujar Rara.
Membuat Adam kaget akan tuduhan sang istri.
"Kamu pikir aku pria gampang yang suka selingkuh gitu?"
Tidak menjawab pertanyaan suaminya, Rara langsung masuk ke kamar mandi. Membuat Adam merasa kesal karena diacuhkan.
*****
Setelah Rara mandi dan mereka sholat magrib berjamaah, Adam membawa anak dan istrinya turun ke bawah untuk makan malam.
Rara dan Ali sudah belok ke arah cafe dan restoran yang ada di hotel, tapi seketika mereka berdua menghentikan langkahnya saat melihat Adam tetap berjalan lurus menuju pintu keluar, membuat ibu dan anak berbalik arah mengikuti sang suami.
"Memang kita mau makan dimana mas?" Tanya Rara saat mereka sudah berada di parkiran hotel.
"Di tempat yang sudah aku pesan."
Langkah Adam terhenti pada sebuah Lamborghini warna hitam yang terparkir.
Membuat Rara hendak bertanya mobil siapa itu, tapi niatnya di urungkan takut Adam mengatakan dia cerewet dan banyak tanya.
"Masuk!" Perintah Adam sambil membuka pintu mobil, untuk anak dan istrinya.
Kemudian Adam memakaikan seatbelt pada tubuh Ali yang duduk di kursi belakang.
Sejenak Rara tertegun dengan aksi suaminya. Namun kemudian dia mengelengkan kepalanya mencoba menganggap hal itu biasa.
Seperti halnya pada Ali, Adam juga melakukan hal yang sama pada Rara, memasangkan seatbelt pada tubuhnya sebelum akhirnya mereka pergi ketempat tujuan. Membuat ibu anak satu itu halu seketia akan sikap manis sang suami.
Semoga hal seperti ini tidak cepat berlalu, doa Rara dalam hati.
Adam membawa mereka pada sebuah rumah makan keluarga yang di lengkapi dengan taman bermain anak yang didesain sedemikian rupa. Taman itu di lengkapi berbagai lampu warna-warni.
__ADS_1
Adam sudah memesan tempat yang dekat dengan taman bermain untuk keluar kecil mereka, sehingga Rara bisa makan sambil mengawasi Ali yang sedang main bersama anak-anak pengunjung lain.
*****