
Adam menatap layar ponselnya, sekali lagi membaca pesan yang berisi alamat yang di kirimkan Alex beberapa waktu lalu, mastikan jika dia matanya tidak salah.
Sebuah villa yang ada di Bali. Adam tidak menyangka jika selama ini Rara bersembunyi dengan begitu jauh, hingga ke pulau Dewata. Sekarang mau tidak mau jika ingin bertemu sang istri maka dia harus kesana.
"Tunggu aku Ra, aku pasti akan datang menjemput dan membawa mu pulang ke rumah," Guman Adam. Kemudian suami Rara bangkit dari duduknya, berjalan menuju ruang keluarga.
Adam menemui keluarganya disana dan menyampaikan apa yang informasi yang dia dapat pada papa dan mama.
"Jadi kamu mau ke Bali menjemput Rara?" Tanya Syaputra.
"Iya pa. Mungkin dengan aku jemput Rara mau pulang ke rumah."
"Iyalah jemput sana, ajak dia pulang, jangan lupa minta maaf. Ingat semua ini terjadi karena kesalahan mu."
Eka yang duduk di sebelah suaminya ikut memberikan masukan pada putranya.
Adam mengangguk setuju, "iya ma."
"Bujuk dia baik-baik supaya dia mau pulang. Jangan pakai kekerasan, karena pada dasarnya perempuan itu pasti luluh kalau di perlukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kamu jaga harus gitu, harus bisa mengambil hati istri mu. Iya kan ma?" Tatapan Syaputra dari Adam beralih pada Eka.
"Itu karena papa memang tukang gombal. Tebar pesona, beda dengan Adam," Balas Eka acuh.
"Tapi mama juga suka kan kalau papa gombalin," Syaputra mengerikan sebelah matanya genit, kemudian mencondongkan wajahnya pada wajah sang istri hendak mencium pipi wanita itu.
Eka mendorong tubuh Syaputra yang sudah mendekat, "apaan dih papa malu di lihat anak-anak." Omel Eka, dengan wajah memerah malu.
Syaputra terkekeh melihat tingkah istrinya yang mirip ABG itu.
"Kalau mau ke Bali, Ali di tinggal saja. Biar dia di rumah sama kami. Supaya tidak menganggu urusan mu dengan Rara." Usul sang papa yang dia angguki oleh Eka.
"Siapa yang mau ke Bali?" Rangga yang baru keluar kamar langsung bertanya begitu mendengar kata Bali.
"Adam, dia mau jemput Rara di Bali." Eka memberitahu putra keduanya.
"Rara ada di Bali?" Tanya Rangga kemudian menatap Adam.
"Ya, barusan Alex memberitahu jika Rara ada di Bedugul."
"Jadi mas Adam mau ke Bedugul."
"Iya."
"Kapan?"
"Rencana mau pergi sore ini juga. Aku sudah menelpon Rain memintanya memesan tiket pesawat ke Bali."
"Aku ikut. Biar aku bantu menyelesaikan masalah mu dengan Rara."
"Tidak," Adam mengeleng, "ini masalah keluarga ku, tolong kamu jangan ikut campur. Biar aku menyelesaikan masalah ku sendiri."
"Rara marah gara-gara kamu. Aku takut dia tidak mau pulang jika kamu yang jemput."
"Rara istriku, apapun yang terjadi aku yang berhak atas dia. Mau atau tidak dia pulang bersama ku itu bukan urusan mu." Tegas Adam yang mulai tidak suka jika Rangga terlalu jauh ikut campur dalam masalah rumah tangganya, "ingat Rara itu kakak ipar mu jadi kamu harus tahu batasan mu."
__ADS_1
Syaputra yang melihat putranya mulai bertekak, menyentuh pundak Rangga, meminta anaknya duduk.
"Apa yang mas mu bilang itu benar. Jangan terlalu ikut campur masalah rumah tangga orang lain, meski itu kakak kamu sekalipun."
Rangga menoleh pada Syaputra yang duduk di sebelahnya, "tapi pa?"
"Biar kakak mu menyelesaikan masalahnya sendiri ga!" Eka menambahkan.
"Terserah, kalian memang tidak ada yang mendukung ku."
Kesal Rangga, bangkit dari duduknya, pergi menuju pintu kamarnya.
"Ceklek"
Rangga membuka pintu kamar yang bersamaan dengan pintu kamar Adam yang ada di sebelah kamarnya juga terbuka.
Muncul sosok Ali dari dalam kamar.
"Papa mana om?" Tanya bocah itu, dengan mata berkaca-kaca hampir menangis.
Entah kenapa Rangga rasa sakit kali ini Ali makin cengeng dsn dekat dengan Adam. Berbeda dari biasanya. Biasanya bocah itu nempel bagai prangko pada Rangga tapi seminggu ini Ali sama sekali tidak mau dengan Rangga, setiap bangun tidur yang di carinya selalu Adam, bukan Rangga ataupun Eka Septia biasanya.
"Tuh!" Rangga menunjuk pria yang berdiri membelakangi mereka berdua dengan matanya.
Mendengar jika Adam akan ke Bali menjemput Rara membuat Ali ingin ikut.
Eka dan Syaputra membujuk cucunya agar tinggal di rumah saja karena posisi Ali sedang sakit. Namun anak Adam yang sifat keras kepala mirip sang papa tidak bisa di omong. Terpaksa membuat Adam membawa anaknya untuk perjalanan kali ini.
Setelah memberi perintah pada Rain, Adam kembali menelpon Alex meminta menyiapkan segala keperluan yang akan dia gunakan ke Bali dengan membawa Ali. Tak lupa suami Rara mengabarkan tentang kondisi kesehatan putranya juga.
Setelah semuanya deal, baru Adam menyiapkan beberapa baju ganti untuk dia dan Ali dalam koper kecil, di bantu oleh Eka.
Setelah magrib, Alex kembali menelpon Adam, mengabarkan jika lelaki hitam manis itu akan menjemput Adam dengan helikopter, dan dia meminta suami Rara menunggu di rumah pak Syarif.
*****
Deru helikopter mendarat di lapangan badminton dekat rumah pak Syarif. Membuat penduduk sekitar rumah pak RT keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bergerombol dan saling bertanya satu sama lain ada apa sebenarnya?
Begitu pun anak-anak yang baru pulang mengaji. Mereka bersorak kegirangan saat melihat sebuah helikopter secara langsung.
Ada yang berteriak-teriak minta uang, ada juga yang hendak lari mendekati transportasi udara itu jika tidak di cegah oleh orang tua mereka.
Adam yang sudah teras rumah pak Syarif langsung berdiri saat menerima telpon dari Alex mengabarkan jika pria itu telah sampai.
Adam mengambil Ali dari pangkuan Eka untuk di gendongnya. Setelah pamit pada papa dan mama juga pak Syarif dan istrinya Adam pergi menuju lapangan, diikuti dokter Nanda dan seorang perawat yang membawa koper milik Adam.
Karena kondisi Ali yang kurang sehat, maka Adam membawa dokter Nanda untuk merawat Ali selama dalam perjalanan kali ini. Dan dokter Nanda membawa seorang perawat untuk membatu pekerjaannya.
Dengan langkah lebar dua pria tampan itu menghampiri Alex yang sudah berdiri di depan pintu helikopter. Dengan sigap pria hitam manis yang berprofesi sebagai dektetif swasta sekaligus orang kepercayaan Adam itu mengambil alih Ali dari gendongan Adam, saat suami Rara naik ke dalam heli.
Begitu Adam mengambil alih Ali dari Alex dan mendudukkan bocah kecil itu di sebelahnya. Sedangkan Alex, baru naik setelah semua penumpang duduk di tempatnya masing-masing.
Adam memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Ali.
__ADS_1
"Pakai ini ya?"
Tanya Adam sambil menunjukkan earphone pada sang putra. Kemudian papa Ali memasangkan alat penutup telinga bocah kecil itu setelah anak Rara mengangguk setuju.
Selama perjalanan menuju bandara Ali menyandarkan tubuhnya pada dada Adam, karena kepalanya mendadak pusing. Sedangkan sang papa memeluk anaknya dengan erat.
Mungkin inilah yang di bilang darah lebih kental dari air. Dengan tidak adanya Rara hubungan Ali dan Adam menjadi lebih dekat. Jika dulu Ali lebih memilih Rangga dan Eka daripada Adam, namun kini anak Rara lebih memilih bersama Adam sepanjang waktu dibandingkan dengan Eka dan Rangga.
Seolah anak kecil itu takut jika Adam pergi meninggalkan dirinya, bahkan saat tidur pun Ali ingin di peluk Adam, suatu hal yang selama ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sehingga mau tidak mau saat Ali sakit Adam harus merawat Ali sendiri saat malam, karena putranya tidak mau dengan orang lain selain dirinya.
****
Sepeninggalan Adam, para ibu-ibu teman wirid yasin dan arisan Eka menghampiri dirinya di rumah pak Syarif. Para tetangga julid itu kepo dengan kepergian Adam.
"Mas Adam mau kemana Bu, kok pakai helikopter segala? Tanya Bu Sri, tetangga depan rumah pak Syarif.
"Mau ke bandara Bu, dia harus ke Bali, ada kerjaan disana," jawab Eka sambil menoleh pada ketua PKK di desanya yang sudah berdiri disebelah Kakan Eka. Mereka sama-sama memperhatikan helikopter yang kembali mengudara.
"Lha kok bawa Ali sama dokter Nanda segala? Memang siapa yang sakit?"
"Ali, posisi anaknya sedang demam. Makanya Adam mengajak dokter Nanda, biar ada tidak terjadi apa-apa pada Ali selama di perjalanan." Eka menjelaskan
"Kalau sakit kenapa gak di tinggal saja sih Bu, kan ada Rara di rumah? Kenapa mesti dibawa, kan malah bikin repot saja nanti?" Komentar Bu Wahyu tetangga sebelah rumah pak Syarif yang ikutan kepo.
"Ali gak mau di tinggal Bu. Dia pengen ikut papanya." Jelas Eka sambil tersenyum.
"Lha mbak Rara mana kok gak ikut ngantarkan anak suaminya pergi?" Sambung Bu Sri lagi.
"Rara lagi di Bali. Dia ada seminar disana. Sudah pergi beberapa hari yang lalu. Makanya Adam ngajak Ali biar mereka bisa sekaligus liburan disana."
Eka menarik ujung bibirnya menjadi sebuah senyuman saat melihat wajah Bu Sri dan Bu Wahyu melengos ketika mertua Rara mengatakan liburan bersama.
Eka terpaksa bohong pada dua ibu-ibu bermulut julid yang pengen tahu urusan orang lain untuk di gosipkan.
"Enak ya jadi mas Adam. Udah ganteng, banyak duitnya lagi. Mau ke bandara saja pakai helikopter, coba kalau kita. Boro-boro nyewa helikopter, bisa makan tiap hari saja sudah syukur."
Bu Syofiah istri pak Syarif ikut berkomentar, bergabung dengan rombongan Eka.
"Bisa lah Bu, kalau kerja di kantor kan pasti gajinya gede, jadi banyak uang, bisa ini dan itu buat di pamerkan sama tetangga. Mas Mahmud juga kalau mau korupsi uang desa pasti bisa dapat banyak uang juga, bisa seperti mas Adam juga. Iya kan Bu?" Bu Wahyu menatap Bu Sri minta dukungan.
"Astaghfirullah Bu, dijaga ya kalau punya mulut, kalau gak tahu buktinya jangan asal ngomong. Bisa timbul fitnah jadinya." Bu Syofiah mengelus dada mendengar ucapan tetangganya yang terus terang.
Memang di desa beredar kabar jika Mahmud korupsi uang bantuan untuk pembangunan desa mereka. Karena uang yang ada dan proposal yang diajukan beda selisihnya sampai lima puluh juta.
Dan berdasarkan keterangan Mahmud dana yang turun ketukar dengan desa sebelah mengingat proposal mereka tahun lalu juga begitu. Sekarang mereka baru mengajukan retur pada pemerintah untuk pertukaran dana.
Namun masyarakat tidak percaya begitu saja apa yang disampaikan oleh Mahmud, mereka tetap menuduh jika dana yang kurang itu karena masuk kantor Mahmud dan di bagi-bagi kepada tim sukses pencalonan mereka saat menjadi kades beberapa waktu lalu.
Semua berita bohong itu berhembus di desa mereka, yang menurut Rangga semua akal-akalan pesaing Mahmud dalam pemulihan kemarin. Karena kenyataannya Mahmud memang tidak korupsi.
Tidak mau menimbulkan kerusuhan sesama teman, Eka pamit pulang pada ibu-ibu yang membuat suasana memanas.
****
__ADS_1