
Helikopter Adam mendarat di landasan pacu, sebelah jet pribadi warna hitam yang Adam sewa. Begitu pintu heli terbuka Adam langsung menggendong Ali membawa putranya pindah ke dalam pesawat. Dua orang pramugari yang berdiri di sisi kiri-kanan pintu langsung menyingkir, memberi jalan saat Adam dan rombongan memasuki kabin pesawat yang tampilan interiornya setara dengan hotel bintang lima.
Tidak tahu seberapa banyak uang yang Adam keluarkan untuk menyewa jet itu, yang jelas semua penumpang di buat kagum oleh perjalanan mereka kali ini. Terutama perempuan yang menjadi perawat dokter Nanda, gadis berusia dua puluhan itu tak henti-hentinya mengambil Selfi dengan berbagai pose guna mengabadikan perjalanan paling wow dalam hidupnya, bahkan saat di kabin pun gadis itu tetap eksis meski dokter Nanda sudah berkali-kali mengingatkan.
Adam mendudukkan Ali di sebelahnya, memasangkan sabuk pengaman pada bocah itu.
"Tidurlah, nanti jika sudah sampai papa bangunkan," ucap Adam seraya mengusap pipi putranya.
Ali mendongak, menatap Adam, "Papa kepalaku pusing?" Adu bocha itu ketika suara mesin yang halus mulai terdengar. Suara pilot yang bergema melalui alat komunikasi terdengar jelas di telinga para penumpang.
Adam mengelus kepala putranya, "tenanglah, setelah pesawat mengudara tidak akan terasa lagi goncangannya ..."
"Tapi aku..." Wajah Ali memucat, "Uhuk, Uhuk...aku..." Ali tidak dapat melanjutkan kata-katanya Karena terus batuk, kepala dan perutnya terasa di remas-remas membuat bocah itu memejamkan matanya seraya mencengkeram lengan Adam kuat.
Adam baru tahu jika ternyata Ali mengalami panik attack saat pesawat lepas landas. Dia tidak tahu karena saat mereka liburan di Yogyakarta dulu Ali tidak seperti ini. Mungkin karena sekarang kondisi tubuh Ali yang kurang fit. Bodohnya Adam tidak memikirkan hal ini sehingga dia tidak memiliki persiapan.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Adam mengelus punggung putranya pelan.
"Papa, ak- aku mau muntah!"
__ADS_1
Dengan cepat Adam bangun dari duduknya, melepas sabuk pengaman Ali, kemudian mengangkat tubuh putranya dan berlari membawa ke toilet. Ali menumpahkan seluruh isi perut di dalam sana, sedang Adam memijat tengkuk dan mengusap punggung putranya pelan.
Begitu selesai dari toilet Adam mengangkat tubuh Ali, memindahkan putranya ke sofa warna maroon yang ada di dalam pesawat.
"Ali mau makan apa?" Adam menunduk, menatap Ali yang bersandar di bahunya.
Bocah itu mengeleng.
"Mau coklat atua susu?" Tawar Adam lagi.
Ali kembali menggeleng, "Ali mau bobok pa, Ali capek."
Adam mengangguk setuju. Tubuh putranya memang kembali menghangat ketimbang saat mereka masih di rumah tadi. Mungkin efek angin malam atua perjalanan mereka. Suhu tubuh Ali yang semula sudah 37,6 kini kembali naik menjadi 39,4 lagi.
Sedangkan dokter Nanda yang ikut di belakang Adam, dibantu oleh suster Nadine memasang infus pada tangan mungil Ali sebagai asupan nutrisi dan juga memasukkan obat, karena Ali sedari tadi sore tidak mau makan.
"Ali kangen sama mama pa?" Ungkapan bocah itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu mama. Ali bobok saja dulu, nanti kalau sudah ketemu mama, Ali papa bangunkan."
__ADS_1
Ali mengangguk setuju, Adam mengelus kepala putranya, kemudian mencium kening anaknya yang mulai memejamkan mata, efek obat tidur yang dokter Nanda suntikan kedalam infus.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam mereka sampai bandar Ngurah Rai Bali. Begitu keluar dari pesawat helikopter warna maroon sudah menunggu Adam dan rombongannya untuk mengantarkan mereka ke villa dimana Rara berada.
Ali masih dalam posisi tidur saat Adam memindahkan tubuh putranya dari pesawat ke helikopter.
Anak buah Alex menyuapi semua keperluan Adam dengan sempurna, bahkan mereka memberitahu jika heli bisa mendarat langsung di halaman depan villa dimana Rara tinggal selama ini.
*****
Deru helikopter di halaman depan villa membuat Lisa dan Rara yang sedang bercengkrama di ruang tengah sambil menonton TV menghentikan ke giatannya. Dua perempuan cantik itu lekas mengenakan hijab masing-masing yang tersampir di punggung sofa.
Lisa yang merasa jika suaminya datang mengenakan hijab sarung miliknya sambil jalan. Prempuan yang menjadi sahabat Rara sedari TK itu buru-buru membuka pintu depan guna menyambut Anderson yang tadi siang memberi kabar akan segera sampai.
Rara mengikuti sahabatnya dari belakang, meskipun dia bahagia Anderson pulang namun dirinya tidak seantusias Lisa yang bersetatus sang istri.
Namun langkah Rara terhenti saat melihat sosoknya yang berdiri di depan pintu. Rara terkejut ketika ternyata yang datang bukan suami Lisa melainkan orang yang sangat Rara kenal.
"Mas Adam!"
__ADS_1
****
Jreng jreng jreng