
Ratna yang sedang ngobrol di pinggir jalan bareng ibu-ibu yang berbelanja sayur pada pedagang keliling bergegas pulang saat melihat Adam pergi dengan mengendarai motor secara kencang.
Raut wajah Adam yang merah padam menandakan jika dia sedang marah, membuat ibu tiga anak itu was-was memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Kenapa? Kenapa menantunya bisa semarah itu? Apakah putrinya bikin salah lagi? Apa yang sebenarnya terjadi?
Karena Ratna tidak pernah melihat Adam marah selama ini. Meskipun saat berkunjung ke rumahnya kerap kali lelaki itu merasa tidak nyaman, tapi dia tidak pernah marah ataupun menunjukkan wajah kesalnya pada orang lain.
Ratna kembali ke rumah, tapi rumah dalam keadaan sepi tidak ada seorang pun di luar sana.
"Ali, Rara!"
Panggil prempuan berhijab biru itu saat kakinya melewati pintu depan yang terbuka lebar.
Namun tak ada jawaban dari keduanya.
Rupanya tak seberapa lama setelah Ali datang, ketiga anak kecil itu pergi ke rumah Jamil, tetangga yang berada tepat di depan rumah Ratna.
Ketika anak lelaki itu main disana bersama dengan Pinkan Jamil sehingga Ali pun tidak mendengar pertengkaran yang terjadi antara papa dan mamanya di kamar.
"Ra!"
panggil Ratna saat di lihat suasana rumah tampak sepi seperti tidak ada orang.
"Rara!"
Panggil sang ibu lagi sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bu!"
"Buka pintunya Bu! Rara di kunci di sini oleh mas Adam!"
Teriak Rara sambil mengedor-gedor pintu menandakan jika dia ada di dalam kamar.
Ratna memutar anak kunci yang masih tergantung di pintu sebanyak dua kali Sehingga pintu bisa terbuka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ratna pada sang anak begitu melihat wajah Rara.
Namun seketika dia mendapatkan Jawaban dari pertanyaan tersebut saat matanya terbentur pada kotak barang milik Rara yang isinya sudah berserakan di kasur.
__ADS_1
Akhirnya apa yang selama ini Ratna takutkan terjadi. Bom waktu yang Rara sembunyikan meledak sudah, menghancurkan segalanya bahkan mungkin rumah tangga putrinya juga.
"Mas Adam marah sama aku Bu. Dia nuduh aku selingkuh di belakangnya gara-gara lihat barang-barang ini," aku Rara jujur.
Tidak menjawab pertanyaan putri, Ratna malah bertanya balik dengan nada cemas dan khawatir.
"Kamu gak apa-apa kan Ra? Adam gak mukulin kamu kan?"
Ratna memegang dagu Rara dan menolehkan wajah putih itu ke kiri dan ke kanan, mengamati dengan seksama, siapa tahu ada luka atau bekas penganiayaan yang dilakukan Adam pada anaknya.
Bagaimanapun juga melihat kamar Rara yang mirip kapal pecah membuat Ratna khawatir kalau Adam melampiaskan kemarahannya pada sang istri.
Ratna juga melihat lengan dan pergelangan tangan Rara, dan semua aman. Tidak ada bekas KDRT di tubuh putrinya.
Bagi Ratna tak masalah jika semua barang harus hancur berantakan untuk pelampiasan kemarahan Adam karena bagaimanapun juga semua itu terjadi karena kesalahan putrinya juga, yang penting pria itu tidak sampai memukul anaknya.
Jika barang rusak bisa di beli lagi. Tapi jika anaknya yang hancur siapa yang akan menggantinya?
"Aku baik-baik saja Bu!"
Ucap Rara menjawab rasa gundah di hati sang ibu.
"Adam tidak menyakitimu bukan?"
"Tidak Bu. Mas Adam tidak menyakiti fisik ku, tapi dia menyakiti hati ku. Dia menuduh ku berkhianat dibelakangnya. Dia menuduhku selingkuhan dengan Rangga saat dia tidak ada di rumah," ulang Rara.
Ratna memeluk Rara yang menangis sambil menepuk-nepuk punggung anaknya menenangkan ibunda Ali.
"Sebelumnya kan ibu sudah kasih tahu kamu. Buang semua barang-barang pemberian Rangga supaya Adam tidak cemburu dengan hubungan kalian. Kalau memang mau kamu simpan, sekalian taruh di bufet ruang tengah, dipajang di sana biar semua orang tahu sehingga Adam tidak curiga dan tidak merasa semua itu istimewa. Atau lebih baik jika kamu ceritakan semua pada suami mu," ucap Ratna. "Tapi kamu gak perduli, gak percaya dengan apa yang ibu katakan."
"Maaf Bu. Harusnya Rara tidak mengacuhkan nasehat ibu. Rara menyesal Bu! Jika saja saat itu Rara menuruti saran ibu mungkin hal ini tidak akan terjadi. Mas Adam tidak akan cemburu dan marah pada ku sampai seperti ini."
Rara memeluk erat Ratna sambil sesenggukan. Meremas bagian punggung gamis sang ibu sebagai ekspresi menyesali kebodohannya yang kelewat batas karena sudah menyepelekan suaminya.
Rara pikir Adam tidak akan cemburu dengan barang-barang yang menjadi cerita di masa lalu Rara, karena sikap cuek dan tidak perduli suaminya selama ini.
"Sudah jangan menangis. Tidak usah menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu yang sabar, kita terima semua keputusan Adam dengan berlapang dada."
Ratna menepuk-nepuk punggung anaknya.
__ADS_1
"Terus Rara harus bagaimana Bu? Rara harus apa sekarang?"
Tanya Rara sambil menatap wajah sang ibu, meminta pendapat.
"Tidak usah lakukan apa-apa. Kamu diam saja. Kita tunggu bagaimana reaksi suami mu selanjutnya."
"Kalau mas Adam menceraikan aku gara-gara masalah ini gimana?"
Tanya Rara cemas. Dia memang benci pada Adam namun berpisah karena suatu kesalahan paham yang terjadi pada mereka berdua, Rara tidak ingin hal itu terjadi.
Rara sadar Adam sudah melakukan KDRT padanya, tapi itu semua juga karena kesalahan dia juga. Jika Rara tidak menyimpan semua barang pemberian Rangga mungkin hal ini juga tidak akan terjadi.
Rara tahu jika Adam itu memang lelaki yang egois dan mau menang sendiri. Tapi suaminya buka pria yang ringan tangan dan suka memukul.
Ratna menghela nafas mendengar pertanyaan anaknya. Tidak tahu harus menjawab apa? Meski begitu sebagai ibu dia tetap harus memberikan jawaban yang bisa membuat hati putrinya tenang dan tidak merasa bersalah.
"Ibu gak tahu harus ngomong apa. Tapi kalau dia ingin cerai ya apa boleh buat. Bukankah kamu kemarin juga ingin cerai dari dia, iya kan?
Mungkin menurut dia, cerai adalah jalan terbaik untuk masalah kalian saat ini. Karena bertahan dengan orang yang tidak percaya dengan kita itu juga sulit," Ratna menjelaskan pada putrinya.
"Kamu gak usah sedih, perceraian bukanlah akhir segalanya," ucap Ratna seraya menghapus air mata di pipi Rara, "Meskipun kamu pisah ibu tidak akan menyalahkan kamu ataupun menghakimi kamu. Dan rumah ini juga akan selalu terbuka buat kamu. Kamu boleh datang kapanpun kamu mau."
"Makasih Bu, ibu selalu ada saat Rara dapat masalah. Rara bersyukur banget jadi anak ibu."
Rara memeluk Ratna erat. Begitu pun juga Ratna yang balas memeluk putrinya.
Ratna juga berkata jika dia senang lantaran Rara lebih memilih bercerita masalah rumah tangga yang dia alaminya pada sang ibu ketimbang pada orang lain. Sehingga tidak timbul gosip buruk tentang rumah tangga mereka berdua.
Selain itu Ratna juga memberitahu kan Rara jika akhir-akhir ini Adam curiga dengan masal lalu Rara dan meminta putrinya untuk lebih hati-hati saat dekat dengan Rangga supaya Adam tidak curiga dan cemburu buta lagi. Karena kemarin saat Ratna meminta Adam mengantarkan ke sawah, sang menantu sempat bertanya-tanya pada dia prihal pria di masa lalu Rara.
Meski kata-kata Adam tidak terus terang tetapi Ratna merasa jika menantunya itu menyelidiki secara halus lewat obrolan-obrolan ringan mereka.
Beruntung Ratna orangnya cepat tanggap sehingga dia bisa mengalihkan obrolan Adam pada hal lain yang membuat menantunya tidak bertanya-tanya lagi.
"Kamu hati-hati kedepannya. Kalau kamu belum bisa menjelaskan, bagus jangan bermain api, supaya kamu tidak terbakar!"
"Iya Bu, makasih atas nasehatnya," jawab Rara tulus.
****
__ADS_1
Maaf ya. Semua kejadian ini memang terjadi karena kesalahan Rara sendiri jadi bab ini Rara mengakui jika semua karena sikap dia yang selalu menyepelekan suaminya yang bersikap cuek.
Jika Rara jujur dengan semua barang pemberitahuan Rangga pada Adam, pasti Adam juga tidak akan marah.