
Mengikuti saran dan nasehat Ratna, Rara belajar mengemudi mobil dengan serius, bahkan dia ikut ke les mengemudi yang ada di wilayah sekitar. Tujuannya jelas supaya bisa pergi mengunjungi suami sewaktu-waktu kapan pun dia mau.
Setelah beberapa kali belajar kini Rara mulai mahir, dia sudah berani mengajak Ali pergi ke rumah mertua, berkeliling kota, bahkan Rara berani membawa papa dan mama mertua mereka untuk keluar bersama.
Semakin sering dia mengunakan mobil, semakin lancar dia mengemudinya.
Kini Rara ingin mencoba aksinya untuk mengunjungi Adam secara tiba-tiba. Seperti ucapan sang ibu dia ingin mengecek apakah suaminya sedang bersama prempuan lain di apartemen sana atau setia pada Rara.
"Sayang, mau ketemu papa gak malam ini?" Tanya Rara pada putranya saat mereka sedang makan malam bersama.
"Mama mau ketempat papa?"
Ali yang sedang menyendok nasi mendongak, menatap sang mama yang duduk di depannya.
"Iya, mama mau lihat keadaan papa. Kemarin papa bilang dia kurang enak badan jadi mama mau kesana buat melihat. Ali mau ikut mama kan?"
Anak Rara mengeleng, "gak ah ma, Aku di rumah saja."
"Kalau kamu gak ikut nanti Ali di rumah sama siapa? Nanti mama gak ada kawan di jalan?"
Karena Rara gak mungkin tega meninggalkan anaknya hanya berdua dengan mbok saja. Selain itu, juga tidak pernah.
"Ali kan bisa tidur di tempat nenek, ma? Kalau Ali ikut nanti malah bikin repot mama saat menjaga papa yang lagi sakit. Mama harus jaga Ali dan merawat papa. Nanti mama capek," tutur anak Rara yang kadang kala pemikirannya sudah dewasa sebelum waktunya.
"Gak apa-apa, mama gak akan capek ngurus kalian berdua. Gimana mau?"
Ali kembali mengeleng.
Meski Rara berjanji bakal membelikan bocah itu es krim anaknya tetap tidak mau ikut bersamanya, membuat Rara akhirnya menyerahkan dan tidak memaksa sang buah hati lagi, dan Rara juga berjanji bakal pulang pagi-pagi besok karena dia juga mesti masuk kerja.
*
Sesuai permintaan anaknya Rara mengantarkan Ali ke rumah mertua. Menitipkan putranya disana.
"Kamu mau ketempat Adam sekarang Ra? malam-malam begini? Apa tidak bisa besok saja saat sudah siang?"
Tanya Eka kaget saat menantunya mengatakan hendak mengunjungi Adam.
__ADS_1
"Iya ma, lagi pula belum malam kok ma, masih jam tujuh. Kalau berangkat sekarang jam sepuluh Rara sudah sampai."
Rara merangkul lengan mertuanya meyakinkan prempuan itu, tidak usah cemas karena bahwa dia baik-baik saja.
"Iya, tapi sampai sana kan udah malam. Kalau kamu ngantuk di jalan gimana? Apa gak sebaiknya kamu ajak Rangga saja buat nemenin kamu di jalan? Gantiin kamu nyetir kalau kamu ngantuk?"
"Gak usah ma, Rara bisa pergi sendiri. Lagipula besok pagi bang Rangga kan harus kerja."
Rara mengusap-usap tangan Eka yang duduk di sebelahnya, prempuan yang dia sayangi layaknya ibu sendiri.
"Memang kamu gak kerja?" Eka menoleh menatap sang menantu.
"Kerja juga ma. Rara besok pagi sudah balik lagi ke sini kok. Sekarang cuma mau ngecek ke adaan mas Adam saja, apakah sudah baikan atau belum? Sekalian memperlancar Rara belajar bawa mobilnya."
Melihat keinginan Rara yang begitu kuat membuat Eka tidak tega untuk tidak memberikan izin pada menantunya untuk pergi, terlebih pergi juga demi melihat ke adaan putranya yang kemarin telpon jika dia sedang kurang sehat disana.
Eka hanya berpesan pada Rara untuk hati-hati di jalan dan tidak ngebut saat berkendara. Istirahat dulu jika sekiranya capek.
Rara mengangguk setuju, kemudian memanggil Ali yang tengah bermain di ruang keluarga untuk pamit.
Rara melambaikan tangan kepada anak dan mertuanya, saat mobilnya berangsur keluar dari pekarangan rumah papa Putra.
Malam ini memang Rara hanya izin pada Eka dan Ali, karena papa dan Rangga belum pulang dari musholla.
****
Rara memang ingin bertemu dengan Adam, selain karena suaminya kemarin memberi kabar kalau dia sedang sakit, Rara juga merasa rindu dengan ayah dari anaknya.
Sebagai wanita dewasa yang normal, tentu Rara juga punya hasrat terhadap sentuhan suaminya. Adakalanya ibu satu anak itu begitu rindu terhadap apa yang Adam lakukan pada tubuhnya dan saat ini lah Rara merasakan hal seperti itu.
Entah itu hanya dirinya saja atau semua wanita dewasa juga mengalami apa yang dia rasakan sekarang Rara juga tidak tahu. Namun satu Minggu sebelum datang bulan atau Minggu pertama setelah dia datang bulan keinginan Rara untuk melahap suaminya semakin tinggi. Libidonya menjadi naik membuat dia begitu mendambakan sentuhan Adam pada dirinya.
Bagi Rara saat-saat itulah yang paling menyiksa dalam hidupnya selama menjadi istri Adam. Saat dia menginginkan tapi suami tidak pulang ke rumah dengan alasan banyak kerjaan, membuat dia kerap menangisi nasibnya yang menjadi istri kesepian.
Ingin dia pergi mengunjungi Adam dan meminta haknya sebagai istri, tapi situasi tak memungkinkan.
Anak masih kecil tak tega untuk di tinggal di rumah. Sedangkan di bawa perjalanan terlalu jauh, di tempuh dengan naik motor sambil bawa anak tidak mungkin. Meminta orang mengantarkan juga Rara segan jika harus sering merepotkan orang lain. Meminta suami pulang juga seolah Adam tidak perduli. Mau bawa mobil sendiri dia tidak pandai. Terlalu menyakitkan bagi Rara kala itu.
__ADS_1
Mungkin jika Adam tidak berselingkuh dengan Monica dan Rara tidak marah atas perlakuan Adam pada dirinya selama ini, dia masih menjadi istri bodoh. Istri yang hanya menerima tanpa berani menyuarakan pendapat dan haknya.
Sekarang Rara tidak ingin menjadi perempuan lemah lagi. Dia harus lebih nekat demi menjaga kelangsungan rumah tangganya. Dia harus memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Memberitahu Adam apa yang dia inginkan dan dia mau, sebagaimana Adam memberitahu dia apa yang pria itu inginkan, Rara juga sama.
Dia juga tak ingin menahan. Menahan semua yang dia rasakan seperti dulu lagi. Rara ingin mengungkapkan semuanya. Jika dia rindu Rara ingin bilang rindu. Jika cinta maka Rara juga akan bilang cinta. Bukan hanya diam dan menerima, tapi dia juga ingin menjadi pihak yang memberi.
Rara menekan bel apartemen Adam beberapa kali, kemudian berlari ke sisi dinding untuk bersembunyi supaya tidak terlihat oleh kamera pengawas yang terinstall di depan pintu.
Setelah di tunggu beberapa saat tak ada pergerakan dari dalam rumah, Rara kembali menekan bel lagi, kemudian bersembunyi lagi seperti semula.
"Siapa?" Sapa suara yang keluar dari interkom yang berpasangan di depan pintu.
Rara diam tak menjawab, hanya kembali membunyikan bell. Di dalam rumah, Adam yang kesal karena pekerjaannya memeriksa dokumen terganggu berjalan menuju pintu sambil ngomel. Wajah garang sudah terpasang siap melahap siapa orang iseng yang menggangunya.
Melihat pintu terbuka, dengan tubuh Adam berada di pintu, tengak-tengok mencari orang yang hendak dijadikan sasaran amukannya seketika Rara melompat keluar dari balik dinding.
"Surprise!"
Rara berteriak sambil merentangkan tangannya tepat di depan Adam.
"Rara!
Teriak Adam terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba. Reflek Adam memegang jantungnya agar tidak copot.
"Ngagetin aja!" Omel Adam.
Bukanya marah, Rara malah tersenyum lebar kearah sang suami. Berjalan mendekat lalu memeluk tubuh Adam. Menyadarkan kepalanya pada dada peluk able sang suami.
"Kangen!" Bisik Rara.
Perbuatan Rara membuat Adam tidak bisa marah, lelaki itu balas memeluk istrinya dan mengecup puncak kepala Rara yang setinggi dagu Adam beberapa kali.
"Aku juga!" Balas Adam.
Adam mengambil alih tas yang di bawa Rara, kemudian merangkul bahu istrinya menuntun tubuh prempuan itu, mengajak masuk apartemen.
"Kenapa datang tiba-tiba? Gak ngasih kabar dulu? Kalau aku gak ada di apart gimana?"
__ADS_1