
Kegalauan membuat Adam lebih pendiam, engan melakukan apa-apa, bahkan gak semangat untuk bekerja.
Jika tidak ingat dirinya seorang adalah CEO, dengan banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya di bahu Adam makan papa Ali lebih memilih me time di apartemennya ketimbang pergi ke kantor menghadapi setumpuk pekerjaan saat suasana hati sedang tidak sehat begini.
Namun nyatanya profesionalismenya membuat dia tidak bisa menjadi pria lemah yang hanya mengurangi diri di kamar seraya meratapi nasibnya yang kurang beruntung.
Selain itu, kedatangan Maelin membuat sikap Adam pada Rara kembali dingin. Seolah gunung es yang telah mencair beberapa bulan terakhir ini kembali beku lagi. Cuek dan tidak menghubungi Rara hingga berhari-hari. meski begitu Adam juga tidak membalas pesan Maelin bahkan mengacuhkan panggil telpon gadis itu beberapa kali.
Adam hanya ingin sendiri, menenangkan diri, tidak ingin di ganggu oleh siapa pun juga, baik itu Rara maupun Maelin. Seenggaknya sampai dia mengambil keputusan yang tepat untuk melangkah. Apakah dia akan pergi dengan Maelin atau bertahan bersama Rara, karena bagaimanapun juga apa yang dia lakukan akan mempengaruhi masa depannya dan Adam tidak ingin membuat pilihan yang salah yang berujung kecewa di kemudian hari.
****
Adam merebahkan tubuhnya di kasur, tidur miring memeluk guling. Sedari tadi handphonenya berbunyi, menampilkan nama Maelin disana dalam hati dia ingin mengangkat tapi takut salah bicara yang berujung menyakiti lagi, sampai akhir telpon itu berhenti dan mati sendiri.
Tak seberapa lama setelah Maelin, handphone Adam kembali berbunyi, nada dering khusus yang dia pasang membuat suami Rara itu tahu jika yang menelpon adalah Rara. Adam mengangkat panggilan itu karena tak ingin sang istri salah paham.
"Hallo assalamu'alaikum!" Sapa Adam saat sudah menempel benda pipih panjang itu di telinga.
"Hallo papa, Walaikumsalam!" Suara Ali langsung terdengar di telinga Adam.
"Papa apa kabar? Papa sehat kan?"
"Alhamdulillah papa sehat. Ali sendiri sehat kan?"
"Iya Ali sehat."
"Mama?"
"Mama juga sehat. Ini aku dan mama lagi makan Basko. Papa mau?"
"Tidak, trimakasih. Ali saja yang makan."
"Pa, kapan pulang? Besok papa pulang kan?" Tanya Ali.
"Belum tahu sayang, pekerjaan papa masih banyak. Nanti kalau sudah tidak sibuk lagi papa pasti pulang."
"Jangan lama-lama ya pa? Ali kangen sama papa."
"Papa juga kangen sama kamu kok!"
Saat berkata itu terdengar bisikan dari seberang sana dari Rara pada Ali.
__ADS_1
"Kalau sama mama papa kangen tidak?" Tanya anaknya.
"Kangen lah. Kangen banget malah," bohong Adam yang dia sendiri saat ini tidak tahu hatinya condong kemana. Namun lagi-lagi dia takut Rara kecewa padanya.
Terdengar suara Ali yang samar-samar menyampaikan apa yang Adam ucapkan pada Rara.
"Aku juga kangen banget sama papa. Pengen main sepatu roda sama papa lagi. Malang papa cepat pulang ya pa?!" tutur anak Rara antusias.
"Iya sayang."
Setelah menyampaikan perasaan mereka masing-masing dan Adam juga ngobrol sedikit dengan Rara seputar bertanya kabar dan aktivitas masing-masing sekarang, telpon pun berakhir lantaran hari sudah beranjak malam dan harus pulang ke rumah.
Karena seperti kata Ali tadi jika kedua ibu dan anak itu sedang makan bakso di ujung jalan yang berada di luar kompleks perumahan Rara. Ali pengen bakso jadi mereka makan di luar, tutur Rara memberi tahu Adam.
Kini Adam kembali ke posisi semula galau.
****
Pukul sembilan malam Adam baru pulang kerja. Setelah memarkirkan mobilnya di basment dia naik ke lantai sepuluh dimana apartmentnya berada. Adam berjalan dengan langkah gontai tidak senang sama sekali, padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ulang tahun yang ke tiga puluh lima.
Tadi siang Ali anaknya sudah telpon, meminta Adam untuk pulang ke rumah, tapi karena rapat dengan para di reaksi di undur sehabis magrib maka Adam tidak bisa menuruti permintaan putranya.
Tapi setelah menikah dengan Rara, prempuan itu selalu ingat tanggal kapan Adam lahir ke dunia ini. Kata Rara kala itu, "aku bersyukur karena pada tanggal ini kamu dilahirkan ke dunia, sehingga kamu bisa menjadi suami ku. Karena rasa syukur itu lah makanya aku bikin acara syukuran kecil-kecilan, sebagai ungkapan jika aku berterima kasih pada tahun udah diberi mas Adam dalam hidup ini."
Tapi nyatanya hari ini, seharian Rara tidak menelponnya guna mengucap selamat ulang tahun atau apa, seperti yang biasa di lakukan saat Adam tidak bisa pulang.
Bahkan Maelin saja sudah bilang selamat ulangtahun padanya sejak pagi subuh tadi, tapi Rara? Sampai mau menjelang tengah malam lagi istrinya adem ayem saja, tidak memberi selamat ataupun kabar.
Sebenarnya Adam kecewa dengan perbuatan Rara kali ini, tapi dia diam saja, takut kalau ngomel di bilang ngarep, kan malu jadinya.
Adam menekan saklar lampu ruang tamu apartemennya dan
Byarr...
Lampu menyala dengan terang bersama dengan itu.
Cetak!
Cetak!
Cetak!
__ADS_1
Confetti dua buah di tembakan ke arah Adam secara bersamaan membuat pria itu terkejut seketika akibat suprise yang istri dan anaknya siapkan untuknya.
Adam memang tidak menyangka dan juga tidak menduga jika Rara dan Ali akan datang ke apartemennya malam ini.
"Selamat ulang tahun papa!"
"Selamat ulang tahun mas!"
Rara dan Ali bersamaan mengucapkan selamat ulang tahun, kemudian ibu dan anak itu menghampiri Adam dan mencintaimu pipinya secara bergantian, membuat wajah yang semula sudah ditekuk kini kembali tersenyum lagi.
"Makasih ya sayang, kalian sudah datang di ulang tahun papa!" Ucap Adam tulus, sambil membalas ciuman mereka bergantian.
Kemudian tubuh Adam dia tuntun dan di dudukan pada sofa tamu. Dimana sebuah kue ulang tahun sudah mereka siapkan diatas meja.
Sebagian rutinitas ulang tahun pada umumnya. Di iringi lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh Rara dan Ali Adam meniup lilin dan memotong kue lalu menyuapi kedua orang yang berharga dalam hidupnya secara bergantian. Mereka melaksanakan pesta ulangtahun Adam dengan sederhana, yang di lanjut dengan makan malam bersama, karena Rara sudah menyiapkan banyak menu makan malam kali ini.
***
Sesuai janji tadi malam, sebagai ucapan terimakasih Adam pada anak dan istrinya, Adam mengajak Rara dan Ali jalan-jalan. Kebetulan hari ini week end jadi mereka bisa bebas main seharian.
Adam mengajak Ali dan Rara ke sky ice yang ada di MP mall. Adam menyewa tiga buah sepatu es untuk mereka bermain.
Puas main di ice sky. Adam membawa Ali ke taman bermain yang baru di resmikan beberapa bulan lalu. Wahana yang baru buka itu memiliki banyak pengunjungnya yang datang. Apalagi sekarang week end. Dimana hari biasa saja sudah rame, maka sekarang tentu makin tambah sesak. Meski begitu tetap tidak menyurutkan niat mereka untuk bermain disana.
Adam menuruti semua permintaan putranya. Mainan apa yang di mau Ali pasti di coba selagi itu aman untuk anak berusia enam tahun.
Empat jam mereka disana hingga Ali kelelahan dan tertidur saat dalam perjalanan pulang.
"Sebenarnya aku mau ngajakin kamu lihat sun rise dari danau buatan yang baru. Disana view-nya bagus kalau sore gini, sayang Ali udah tidur duluan," ujar Adam seraya mengambil jemari Rara yang nganggur diatas paha sang istri.
"Gak apa-apa mas, kan bisa besok-besok lagi. Sekarang kita sudah pergi seharian, aku pun sudah capek."
"Tapi kapan? Kamu dan Ali kan jarang datang ke sini," kesedihan tampak jelas di waja Adam.
"Tenang saja, aku bakal sering-sering datang ke sini kok buat jenguk mas kalau pas mas Adam gak bisa pulang. Lagi pula aku kan juga mau pindah kerja disini, jadi kita akan punya banyak waktu untuk bersama besok," Rara menenangkan Adam, meminta suami agar tidak gundah.
"Makasih ya Ra! Kamu udah mau ngertiin aku."
Adam mengecup punggung tangan Rara beberapa kali, dan Rara mengangguk sebagai jawaban ucapan Adam.
****
__ADS_1