Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 123. Tempat Favorit


__ADS_3

Sehabis Isya' Rangga baru sampai di rumah, karena dia sholat magrib dan isya di jalan.


Setelah memencet bel beberapa kali, akhirnya pintu di depannya terbuka.


"Assalamu'alaikum boy!" Sapa Ali saat melihat sang ponakan yang membuka pintu.


"Walaikumsalam," jawab Ali dengan wajah murungnya.


"Hey kamu kenapa?" Rangga jongkok di depan sang ponakan. Menjejerkan tinggi mereka. Mengelus pipi bocah itu dengan jarinya.


Ali mengeleng, "gak ada. Hanya om pulangnya lama jadi aku gak ada teman bermain."


Rangga mengamati ruang tamu apartemen. Menemukan Lego di atas karpet. Mungkin tadi bocah itu main sendiri tanpa di temani Adam, karena itu wajahnya murung.


"Papa kemana?"


"Ada di dalam,"Jawab Ali.


"Ya sudah, kamu main sendiri dulu ya? Om mandi dulu nanti baru kita main bersama."


Rangga mengusap kepala Ali penuh sayang. Ali mengaguk, kemudian memutar tubuhnya berjalan kembali menuju dimana legonya berada. Begitupun Rangga bangkit berdiri, menuju ruang dalam mencari keberadaan Adam.


Tampak Adam sedang duduk di meja makan. Dengan sebelah tangannya menyangga dagu. Tatapannya begitu sayu, wajah tampan itu terlihat mendung dan tidak semangat. Adam melamun, hingga kedatangan Rangga saja tidak di sadarinya.


"Udah lihat rekamannya?" Rangga mengambil gelas di depan Adam. Menuang minum dari teko diatas meja dan menarik kursi di sebarang sang kakak.


"Astaghfirullah hal azhim!"


Adam yang tiba-tiba melihat Rangga di dekatnya memegang dada, jantungnya hampir melompat keluar, saking kagetnya.


"Ngagetin aja sih jadi orang. Gak bisa apa kalau datang kasih aba-aba dulu? Bukan kayak setan. Tiba-tiba nongol," omel Adam sambil menatap tajam. Kesal.


Rangga yang sedang meminum air dari gelas di tangannya hanya melirik sekilas Adam lewat ekor matanya. Tersenyum mengejek. Meletakkan kembali gelas ke meja.


"Salah sendiri bengong. kayak orang patah hati. Kenapa merasa bersalah sama Rara?"


"Bersalah apanya. Lihat video juga kagak."


Wajah Adam nampak kesal. Pria itu mendegus. Kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi. Melipat kedua tangannya di dada.


Rangga menaikan alisnya, "kok bisa."


"Gak tahu, katanya sudah di hapus."


"Di hapus?" Rangga membeo, matanya membulat. Kaget, "kok bisa di hapus? Siapa yang ngapus? Gimana ceritanya?"

__ADS_1


Adam pun menjelaskan cerita yang dia dapat dari pihak hotel kepada Rangga kalau video itu sudah di hapus atas permintaan tamu hotel dan juga demi kebaikan bersama karena takut video itu sampai ke tangan kewartawan yang berujung merusak reputasi hotel jadinya dan sang adik mendengarkan dengan seksama.


Rangga mendegus, "Makanya jadi cowok itu kalau apa-apa makai otak, jangan ngedepankan ego doang. Kalau seperti ini kan yang rugi kamu sendiri."


Rangga berdiri meninggalkan Adam yang hanya diam. Tidak membalas ucapannya. Mungkin dia merasa apa yang Rangga ucapakan benar kalau dirinya kelewat bodoh. Tidak berfikir sampai ke sana.


****


"Nih!" Rangga meletakkan sebuah benda hitam di depan Adam.


"Ini apa?" Tanya Adam sambil mengalihkan tatapannya dari flashdisk hitam di depannya pada wajah Rangga.


"Flashdisk," jawab Rangga cuek. Memutar tubuhnya berbalik pergi berjalan keluar ruangan makan.


"Iya tahu, bego. Tapi kenapa elo ngasih flashdisk ke aku?" Geram Adam dengan sikap gak jelas adiknya. Di remasnya flashdisk itu kuat-kuat.


Rangga mengentikan langkahnya, menoleh pada Adam, "katanya mau lihat video Rara. Nah itu di dalam."


Seketika Adam tahu maksud Rangga, "jadi kamu punya video itu?"


Rangga diam.


"Kalau punya kenapa kamu nyuruh aku ke hotel buat tanya kesana. Kenapa gak langsung kamu kasih aja!" Marah Adam yang merasa di kerjain adiknya. Jangan-jangan tamu yang nyuruh pihak hotel menghapus video itu juga Rangga, pikir Adam.


"Biar kamu ada usaha! Biar gak keenakan," Jawab Rangga enteng. Senyum mencibir terbit di bibirnya.


*****


Sehabis sholat subuh Rangga keluar kamar. Keadaan di luar tampak masih gelap dan sepi. Adam juga belum bangun. Setelah mengetuk pintu kamar sang kakak dan memastikan Adam bangun Rangga pergi ke dapur untuk membuat sarapan juga bekal untuk kencan bersama Aisyah.


Rangga mengambil bahan dari kulkas untuk membuat nasi goreng seafood kesukaan Ali karena kemarin Rangga lihat ada seafood di kulkas. Kemudian dia membuat salad untuk Aisyah. Biasanya prempuan selalu menjaga berat badan karena itu dia menyiapkan salat sayur dan buah untuk Aisyah sebagai cemilan menemani bosan saat mereka kencan nanti.


Rangga menyiramkan sedikit air lemon pada potongan buah agar tidak berubah warna, sebelum menutup tiga buah kotak makan siang di depannya.


Setelah mengetuk menyusun semua menu sarapan dia ke atas meja makan, Rangga mengetuk kamar Adam.


"Sarapan, ayo sarapan!" Teriaknya karena selama dia masak Adam dan Ali belum juga nongol keluarga kamar.


"Ya sebentar!" Balas suara dari dalam kamar.


Rangga kembali masuk ke kamar untuk mandi dan berbenah.


*


"Mas aku pinjam mobil mu ya? Aku mau pergi sama Aisyah ke pinggiran, gak mungkin aku pakai Lamborghini." Rangga menatap Adam yang sedang duduk di depannya. Kini mereka bertiga sedang sarapan bersama.

__ADS_1


Adam mengalihkan tatapannya dari piring ke arah Rangga, "mau di pakai apa? Soalnya aku juga mau pakai mobil buat pulang," ucap Adam santai kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.


Rangga kaget mendengar penuturan Adam terkejut meski sekilas, "mas mau pulang ke rumah?" Rangga menatap tajam sang kakak.


Adam mengangguk.


"Kenapa? Merasa bersalah pada Rara? Mau minta maaf?" Rangga terseyum miring. Giliran udah runyam saja baru minta maaf. Guman Rangga. Menunduk. Menyuapkan nasi ke mulutnya.


Tidak menanggapi ucapan Rangga Adam kembali bertanya pada sang adik.


"Memang kamu mau kemana sama Aisyah sampai pakai mobil ku segala?"


"Ada deh. Aku mau ngajak dia pergi ke tempat favorit ku. Letaknya di desa. Jadi gak mungkin aku pergi naik Lamborghini. Kita tukar mobil saja."


"Aku juga pulang ke desa. Gak mungkin pakai Lamborghini."


"Serah deh."


Rangga bangkit. Meletakkan piring kotornya ke tempat cuci piring.


"Mas yang cucu Pring, karena aku dah masak!" Perintah sang adik.


Memutar tubuhnya, Rangga pergi dari ruangan makan. Mengambil tas ransel yang sudah dia siapkan di sofa ruang keluarga.


"Mobilnya aku bawa!" Teriak Rangga dari ruangan keluarga memberitahu. Tangannya membuka laci lemari TV mengambil kunci mobil Adam yang tersimpan di sana.


Tanpa menunggu jawaban sang empunya mobil. Rangga melangkah pergi keluar, setelah sebelumnya mengucap salam perpisahan berjalan menuju basment dimana mobil Adam terparkir.


****


"Kita mau kemana? Kok tempatnya serem gini? Kamu gak bakal perkosa aku terus membunuh dan membuang mayat ku di semak-semak sini kan?" Tanya Aisyah khawatir, menoleh pada Rangga yang sibuk nyetir, fokus pada jalan di depannya. Karena tempat yang mereka datangi kini jauh dari permukiman warga bahkan jalanan di depan mereka juga dari tanah, tidak aspal lagi.


Rangga tergelak mendengar penuturan gadis itu, Apalagi melihat wajah cemar dan takut yang Aisyah tampilkan.


"Tenang saja. Aku gak bakal ngapa-ngapa kamu. Aku masih bisa menahan diri untuk tidak berbuat mesum sama kamu."


Rangga menepuk bahu Aisyah, menenangkan gadis itu.


Asiyah menggeser tubuhnya, menjauhkan dari jangkauan Rangga. "Jangan sentuh-sentuh. Saat berduaan gini yang ketiga itu setan. Kalau setan sudah ikut campur apa pun juga bisa terjadi."


Kembali Rangga tergelak, menatap sekilas pada Aisyah, "nah itu tahu. Tapi kenapa masih maksa pergi kencan ke tempat favorit ku?"


Aisyah menelan salivanya, tidak bisa membalas ucapan Rangga. Tapi sungguh dia memang tidak tahu jika teman favorit pria itu adalah hutan belantara seperti ini. Aisyah pikir suatu tempat seperti pantai, roftoop atau apalah itu. Dan hutan sama sekali tidak masuk dalam daftar list otak Aisyah.


"Kita akan Kencan disini?" Tanya Aisyah tak percaya. Melempar pandangan pada sekeliling tempat itu.

__ADS_1


****


Hayoo... Rangga ngajakin kencan dimana nih??


__ADS_2