Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 80. Tidak Percaya


__ADS_3

Begitu mobil berhenti di halaman rumah. Rara melihat sosok yang sangat di kenalnya keluar dari rumah sang ibu.


"Mas Alan!" Teriak Rara saat melihat lelaki yang dia rindukan.


Alan yang di panggil pun memindahkan tatapannya pada Rara.


Rara langsung turun dari mobil dan lari menghampiri pria berkaos merah yang berdiri di terasa rumah.


"Aku kangen sama mas!" Jujur Rara manja.


Istri Adam memeluk Alan dengan begitu erat. Begitu pun dengan Alan, dia membalas pelukan Rara dengan sama eratnya.


"Mas juga kangen sama kamu. Kamu apa kabar?"


Alan mengelus puncak kepala Rara yang terbungkus hijab dan mengecupnya beberapa kali.


"Baik. Mas sendiri apa kabar?"


"Baik juga."


Temu kangen mereka terhenti ketika sang ibu yang baru keluar mengingat mereka untuk masuk kedalam. Malu kalau dilihat oleh tetangga.


Menuruti permintaan sang ibu, Alan menuntun adik kecilnya untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Sedangkan Ratna membantu Adam dan Ali menurunkan barang-barang mereka dari dalam mobil.


****


Kini Alan, Rara, Adam dan Ratna sudah duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Ali sudah pergi ke rumah Lani dengan Azam anak ke dua kakaknya.


"Mas sudah di sini hampir seminggu tapi kamu baru datang. Padahal mas sudah nyuruh kamu kesini dari kemarin-kemarin. Apa Adam gak mau nganterin kamu kesini? Karena kata ibu kamu pulang setahun sekali?"


Tanya Alan pada Rara yang masih mengapit lengannya, tapi matanya melirik Adam yang ada di ujung sofa.


"Rara kemarin sakit jadi dia gak bisa kesini."


Adam lebih dulu menjawab pertanyaan Alan sebelum Rara.


"Sakit apa? Apa serius sakitnya?" Tanya Ratna dengan nada cemas.


"Cuma demam biasa Bu. Mungkin kecapean," jawab Rara dengan senyum mengembang.


"ibu gak usah kwatir. Aku gak apa-apa kok," lanjut prempuan itu.


"Syukurlah," sambung Ratna.


Saat mereka sedang asik ngobrol, datang Lani dari arah dapur dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh dan stoples bolu kering.

__ADS_1


"Eh ada tamu agung rupanya. Kapan datang?" Tanya kakak perempuan Rara.


"Baru saja. Belum lama," Rara memberitahu.


Rara berdiri, lalu memeluk Lani yang sudah menaruh nampan di atas meja. Adik dan kakak itu saling berpelukan untuk melepaskan kangen.


"Alan sudah mau pulang kamu baru datang."


"Kalian gak ada yang kasih tahu kalau mas Alan datang sih. Jadi aku gak bisa kesini," Rara cemberut.


"Lagipula kalau di kasih tahu juga kamu belum tentu bisa datang kan? Kan kamu sendiri sibuk kerja? Mesti ngajar?" Ratna mengingatkan putrinya.


"Alan datang hari Senin. Makanya ibu bilang sama Adam suruh ngajak kamu week end di sini biar ketemu sama mas mu itu," sambung Ratna sambil menatap Rara yang duduk di apit dia dan Alan.


Kini Rara tahu, alasan Adam memaksa dia untuk main ke rumah sang ibu Karena ada Alan disana.


Alan adalah kakak kedua Rara, saudara kembar Lani, mereka lahir beda tujuh menit. Lani yang pertama. Usia mereka satu tahun lebih muda dari Adam.


Alan tinggal di Lampung. Dia bekerja sebagai manajer bank swasta di sana. Selain karena pekerjaan, Zaskia istri Alan juga gadis asal Lampung yang bekerja sebagai bidan desa di sana.


Mereka menikah lima tahun yang lalu, tapi sudah punya dua orang anak. Yang pertama berusia empat tahun, namanya Mecca. Merupakan satu-satunya cucu perempuan Ratna yang kebanyakan gennya laki-laki. Yang kedua baru berusia sembilan bulan, namanya Husein.


Rara memang lebih dekat dengan Alan ketimbang dengan Lani. Dan Alan juga lah yang menyarankan Rara untuk kawin lari dengan Rangga ketika dia menolak di jodohkan dengan Adam dulu. Bersyukur Rangga tidak mau Sehingga dia tidak di cap sebagai anak durhaka.


Setelah menyapa dan melepas kangen pada adik bungsunya Lani kembali ke dapur untuk menaruh oleh-oleh yang di bawa Adam dan juga membuat teh untuk Rara dan Adam juga mas Furqon suaminya yang baru datang ikut ngobrol di ruang tamu.


Husen sudah rapi dan wangi. Zaskia memberi bayi pada Alan karena dia mau gantian memandikan Mecca Sang kakak.


Berhubungan hari memang sudah sore, Rara juga bangkit dari duduknya untuk memanggil Ali dan memandikan sang buah hati. Setelah itu baru dia akan membantu sang ibu memasak di dapur untuk menu makan malam mereka nanti.


****


Rara yang dari dapur, berjalan menghampiri Adam yang sedang memakai baju. Suaminya baru saja selesai mandi. Padahal sekarang sudah pukul sembilan pagi. Karena sehabis sholat subuh tadi Adam kembali tidur. Katanya semalam melekan bareng Alan dan Furqon dan paginya dia ngantuk banget.


"Mas aku mau menemani mbak Zaskia ke salon, sekalian shoping. Katanya dia mau beli oleh-oleh buat keluarga yang ada di Lampung sana."


Rara memberitahu sang suami tentang permintaan kakak iparnya yang baru di utarakan pada dirinya beberapa menit lalu.


Adam yang sedang memakai kaos putihnya mengernyitkan dahinya heran, mendengar permintaan sang istri.


"Yang benar saja deh Ra. Di rumah ada banyak anak kecil bagaimana bisa kamu dan Zaskia malah mau pergi ke salon sama shopping segala?"


"Iya, karena mbak Zaskia bilang mumpung aku ada disini. Jadi dia minta aku nemenin dia buat belanja."


Adam yang sedang menyisir rambut menatap kesal kearah Rara yang duduk di tepi ranjang lewat pantulan cermin di depannya.


"Memang di Lampung itu gak ada mall sama salon apa?" Tanya Adam dengan suara mengejek.

__ADS_1


Adam yang sedang kesal dengan Alan menjadi tambahan kesal saat istrinya meminta izin untuk pergi dengan kakak iparnya.


"Bukan gitu?"


"Lalu apa?" Kejar Adam, "Memang kamu gak kasihan lihat ibu jaga Husein dan Ali juga anak-anak yang lain?"


Ratna memang terbiasa menjaga cucunya, Wahid dan Azam saat Lani dan Furqon pergi bekerja.


Tapi kini, saat Alan dan Zaskia datang tugas Ratna semakin berat karena mesti menjaga Mecca dan Husein juga, sedang kedua orang tua mereka ngelayap entah kemana.


Pagi-pagi sekali tadi Furqon dan Alan janjian mau pergi ke pasar hewan. Katanya mau lihat-lihat burung yang di jual disana. Karena Furqon memang paling hobi melihara berbagai macam hewan, tapi tidak mau jika di suruh buat peternakan. Alasannya jika buka peternakan modalnya besar dan harus siaga setiap saat karena yang di urus banyak. Kalau ini kan jika dia bosan bisa di jual terus beli lagi apa yang lagi trend sekarang ujarnya kala itu.


Sebenarnya Adam di ajak pergi bersama, tapi dia tidak mau. Dirinya yang tidak suka hewan memilih tidur di rumah daripada harus keliling pasar yang seumur hidupnya belum pernah dia singgahi.


Dan sekarang istrinya juga mau ikut-ikut jadi anak yang durhaka karena menyuruh orang tua mereka menjaga cucunya.


Para orang tua sudah susah payah menjaga anak-anak saat mereka kecil, kini saat anaknya sudah dewasa dan punya cucu. Mereka orang tua juga yang harus menjaga cucu-cucu demi anak-anak itu. Lalu kapak orang tua itu akan istirahat menilang hari tuanya dengan santai jika setiap hari di sibukkan dengan kegiatan cucunya.


Adam tidak suka dengan prinsip anak yang seperti itu. Jika dia sudah punya anak ya harus orang tuanya yang menjaga, buka kakek nenek mereka. Sesekali saat orang tua sang anak sibuk boleh lah menitipkannya cucu mereka pada sang nenek. Tapi tidak tiap hari dengan menjadikan nenek kakek baby sister geratis untuk anak mereka.


Hal itu juga yang selalu Adam tanaman di benak Rara selama ini. Adam melarang keras menjadikannya mama Eka sebagai baby sister Ali meski jujur mamanya seneng banget menjaga buah hatinya itu bahka Eka bilang kalau sehari tidak bertemu Ali saja rasanya sudah kangen. Meski begitu tetep saja Adam tidak memperbolehkan Rara menitipkan Ali terus-menerus pada mamanya. Jika sekiranya Rara tidak mampu menjaga dan mengurung Ali maka Adam siap memperkerjakan babysister untuk anaknya. Beruntung Rara jenis ini siaga untuk Ali sehingga Adam tidak harus mengeluarkan uang untuk seorang babysister.


"Mbak Zaskia sudah izin sama ibu dan katanya boleh. Kalau masalah Ali aku nitip sama mas bentar. Selama aku pergi. Mas bisa kan?" Tanya Rara harap-harap cemas.


Jujur sebenarnya Rara ragu dengan permintaan Zaskia. Karena dia pikir ibu pasti repot kalau Jagan banyak anak-anak. Tapi Zaskia maksa dan kakak iparnya itu juga bilang kalau benar lagi mbak Lani bakal pulang jadi dia bisa bantu ibu jaga anak mereka.


Sebelum Lani pulang Zaskia meminta Rara untuk ngomong pada Adam buat jagain Ali dan yang lain dulu. Karena sifat Rara yang memang tipe orang susah menolak permintaan orang lain maka Rara menuruti permintaan Zaskia meski itu tidak sesuai dengan hati kecilnya.


"Enak saja kalau ngomong. Mikir kenapa sih kamu itu jadi prempuan. Kalau cuma jaga Ali saja aku masih bisa terima, tapi kalau harus jaga Mecca, Azam dan yang lain aku gak mau. Lagipula Bisa-bisa kalian para perempuan malah nyuruh aku yang jaga anak-anak.


Kamu kalau mau menjatuhkan harga diri ku terus terang saja. Gak usah pakai modus mau ke salon segala."


Tukas Adam yang jadi emosi gara-gara Rara.


"Kalau kamu gak mau ya udah loh mas, gak usah nge-gas gitu. Lagi pula aku kan cuma minta tolong. Itu kalau kamu mau, kalau gak ya gak apa-apa."


Rara cemberut mendengar penuturan Adam yang malah marah pada dirinya.


"Aku gak mau, dan aku juga gak izinkan kamu pergi kemanapun juga. Baik itu sama Zaskia ataupun dengan yang lain kecuali sama aku!" Tegas Adam.


"Lagipula kamu juga aneh, sudah tahu kakak mu bakal pulang nanti sore, bukanya kamu bantuin dia berbenah, beresin barang-barangnya tapi malah ngajak shopping sama ke salon. Ngelayap gak karuan."


Mendengar tuduhan Adam, Rara mengepalkan tangannya menahan emosi. Padahal jelas tadi Rara mengatakan jika Zaskia mengajaknya ke salon dan shopping, bukan kah di situ jelas jika yang memberi ide itu kakak iparnya bukan dia, tapi kenapa Adam malah menuduhnya begitu. Tidak percayakah Adam itu padanya? Monolog Rara dalam hati.


Adam yang tidak mau perdebatan mereka bakal menjadi lebih panjang memilih meninggalkan kamar Rara untuk pergi keluar. Berdua-duaan dengan Rara membuat ubun-ubunnya berasap.


Begitupun Rara, dia memandang Adam penuh dengan kekesalan yang nyata.

__ADS_1


*****


__ADS_2